<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598</id><updated>2012-02-16T18:21:30.740-08:00</updated><category term='cerpen'/><title type='text'>deni's blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-3823872281673178428</id><published>2010-09-13T05:44:00.001-07:00</published><updated>2010-09-13T05:44:27.567-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://cerpen.net" target="_blank" title="lihat cerpenku di cerpen.net"&gt;&lt;img border="0" alt="lihat cerpenku di cerpen.net" src="http://cerpen.net/images/mata1.gif"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-3823872281673178428?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3823872281673178428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3823872281673178428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/09/lihat-cerpenku-di-cerpennet.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-8931465453666059784</id><published>2010-03-14T05:57:00.000-07:00</published><updated>2011-02-13T05:27:17.579-08:00</updated><title type='text'>I will Say I love You</title><content type='html'>&lt;p class="alert"&gt;Malam semakin larut. Bintang-bintang masih bertebaran dipermadani langit. Sang rembulan dengan setia menyinari dan menerangi seisi alam dengan kesempurnaan parasnya. Angin bertiup perlahan menggerakan ranting-ranting pohon, diiringi dengan suara gemericik air dan nyanyian binatang-binatang malam yang seakan menjadi hiburan untuk hati yang sedang gundah ini.&lt;br /&gt;Betapa tidak esok adalah hari Valentine, hari yang akan membuat setiap pasangan muda-mudi merasa seakan dunia hanya milik mereka berdua. Namun saat ini itu hanya menjadi sebuah angan dan harapanku semata.&lt;br /&gt;Kisah cintaku hanya dan akan selalu berakhir pada sebuah ketakutan untuk mengungkapkannya. Tak ada keberanian secuilpun dalam hati ini untuk mengatakan “I LOVE YOU” kepadanya. Ah ……….. biarlah kisahku berjalan layaknya aliran air sungai yang tenang ini.&lt;br /&gt;“Ah ……….” Akupun menguap. Hari t’lah berganti. Pagi ini sangatlah indah. Pancaran sinar sang mentari terasa menyilaukan mata dan terasa hangat menyentuh kulit. Menghilangkan kegundahan dalam hati ini. Segera ku bersiap diri. Dan tak lama kemudian ku berangkat ke sebuah tempat untuk menghadiri undangan. &lt;br /&gt;“Baiklah teman-teman mari kita mulai acara ini. Dalam acara yang kita beri nama “LOVE, I Will Say it to You” ini, setiap jomblowan and jomblowati diharuskan mengungkapkan perasaan cinta mereka pada orang yang dikaguminya. Buat yang dah ga’ single alias ga’ jomblo lagi kalian masih bisa ‘n kita bolehin deh buat ngungkapin perasaan cinta kalian pada pasangan kalian.”&lt;br /&gt;Sorak sorai dan tepuk tangan penonton membuat acara itu semakin meriah. Dan dibalik kerumunan penonton itu, ku dapat melihat seorang yang s’lama ini kukagumi dan kuharapkan untuk memilikinya. Pandangan matanya, senyumnya, suara gelak tawanya dan entahlah masih terlalu banyak lagi hal yang membuatku mengaguminya.&lt;br /&gt;Tak sepenuhnya aku mengikuti acara yang sebenarnya penuh kelucuan dan rasa kasihan itu, karena aku lebih suka dan lebih tertarik untuk memandang wajahnya yang manis. Hingga beberapa temanku, memaksa aku untuk naik keatas panggung kecil untuk mengatakan suatu hal.&lt;br /&gt;Suasanapun hening sejenak. Semua penonton mengarahkan pandangan matanya padaku. Akupun bingung apa yang harus kukatakan. Saat itu aku kehilangan dia. Aku tak bisa menemukannya dibalik kerumunan penonton.&lt;br /&gt;“Selamat siang semuanya …..” sapaku mengawali ceritaku. “Disini aku ……… ingin ….. mengatakan kalau saat ini, aku sedang mengagumi seseorang yang mungkin s’lama ini kita sudah sama-sama kenal dia. Dan mungkin juga sekarang dia ada dianrata kita ….. Namun sepertinya …….. “ku hentikan kata-kataku, entah kenapa rasa malu dan takut kembali hadir dalam hatiku. Dia memandangku aneh.&lt;br /&gt;“Hei ! ayo terusin kenapa berhenti, “teriak penonton.&lt;br /&gt;Akupun tersadar dan melanjutkan kata-kataku. “Maaf, itu saja yang ingin kukatakan. Terima kasih.”&lt;br /&gt;“Hu ………………”&lt;br /&gt;Kuturun dari panggung dan berjalan lewat didepannya. “Sebuah ungkapan perasaan yang sulit untuk dipahami, ” ucapnya lirih padaku.&lt;br /&gt;Aku menoleh padanya dan iapun segera meninggalkanku, naik keatas panggung.”&lt;br /&gt;“Hai temen-temen ! sebelumnya &lt;strong&gt;happy valentine &lt;/strong&gt;ya ……………. Buat yang udah punya pasangan. And …………..yang masih &lt;em&gt;jomblo&lt;/em&gt;, jangan khawatir. Dalam satu hari ini aku yakin kalian pasti deh …….. dapet gebetan tul ga’ ? Biar bener-bener dapat gebetan kalian harus semangat oke ! Jangan lemes, buktiin kalau kalian bisa jadi yang terbaik buat calon pasangan kalian, setuju ! ?”&lt;br /&gt;“Ye………setuju……….!!”&lt;br /&gt;Alunan musik t’lah dirubah menjadi lebih lembut dan santai. Pasangan muda-mudi saling berpegangan tangan, menggoyangkan badan kekiri dan kekanan. Bahkan jomblowan dan jomblowati yang baru saja mendapat pasangan ada diantara mereka dan melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;Saat itulah aku merasa sendiri lagi. Perlahan kuberjalan meninggalkan tempat itu. Air mata inipun ingin sekali menetes, tapi tak kubiarkan ia keluar dengan sia-sia hanya untuk cinta.&lt;br /&gt;“Mau kenapa kamu, acarakan belum selesai.”&lt;br /&gt;Tuhan apa yang terjadi denganku, suaranya yang lembut membuatku ………………….&lt;br /&gt;“Mau berdansa denganku ?”&lt;br /&gt;“Ha……..” perasaanku semakin tak menentu.”&lt;br /&gt;Dia mengulurkan tangannya sambil menaikkan kedua alisnya berharap segera ku ulurkan tanganku sebagai tanda setuju.&lt;br /&gt;Dan aku menyetujuinya. Bahagia sekali rasa hati ini, ketika ia mendekatkan kepalanya ke telingaku dan berucap “I LOVE YOU”.&lt;br /&gt;Aku menatapnya dalam. “A……”belum sempat ku katakan sesuatu padanya, ia mengisyaratkan agar aku tak berkata apapun dengan menempelkan jari telunjuknya dibibirku.&lt;br /&gt;“Jangan berkata apapun aku tahu dia yang kamu maksud itu aku. Dan aku juga tahu s’lama ini kamu memandangku dengan diam-diam. Andai kamu tahu aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan sekarang. Jadi…………..biarlah aku mewujudkan harapanmu untuk memilikiku dan biarkan aku mencoba untuk menjadi yang terbaik, yang kan s’lalu ada untukmu, yang kan s’lalu menyayangimu.”&lt;br /&gt;Dia mendekap erat tubuhku. Dalam dekapannya, aku merasakan ketenangan dan kedamaian. Inikah cinta…………benarkah ? mimpikah aku ini ? Tidak, ini nyata. Ini benar-benar nyata.&lt;br /&gt;“Nda, I Will Say, I LOVE YOU too.”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-8931465453666059784?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8931465453666059784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8931465453666059784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/i-will-say-i-love-you.html' title='I will Say I love You'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-7509232659865185956</id><published>2010-03-14T05:56:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T05:57:20.977-07:00</updated><title type='text'>Senja Di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>Disuatu senja di bulan Ramadhan, aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku menunggu adzan maghrib berkumandang, dengan berjalan menyusuri pantai yang tak jauh dari desaku.&lt;br /&gt;Meski ini bukan kali pertama aku meihatnya, namun hari itu kurasakan ada yang berbeda. Mungkin hanya perasaanku saja karena aku sedang merasa bahagia. Aku melihat keindahan alam yang selalu membuat penikmatnya berdecak kagum.&lt;br /&gt;Hamparan air laut yang bergelombang tertiup angin, ikan-ikan yang bermunculan untuk sekedar mengambil nafas diatasnya terbentang luas langit kemerah-merahan karena pancaran sinar sang mentari, burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Pasir pantai yang lembut dan angin yang berhembus, sejuk membelai kuit, membuat aku tak ingin beranjak dari tempatku berdiri sekarang. &lt;br /&gt;Kurentangkan kedua tanganku, ku pejamkan mataku, menikmati setiap tarikan nafas dan sentuhan udara pantai yang sejuk. Tak berapa lama kudengar seseorang memanggilku.&lt;br /&gt;”Aris !”&lt;br /&gt;Akupun menoleh kearah sumber suara. Tapi tak seorangpun yang kulihat. Aku berusaha mencari sumber suara itu, tapi tetap saja tak kutemui. Dan saat aku berajak pergi, seseorang menarik tanganku. Entah kenapa aku jadi merinding. Dan perlahan kucoba memalingkan wajahku.&lt;br /&gt;Seorang gadis yang seumuran denganku, tersenyum tipis padaku. Mtanya begitu indah, sorot mata yang tajam hingga memenuhi ruang di otakku. Jantungku berdebar-debar. Ia meraih tangan kananku. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Seorang gadis yang membiarkan rambutnya terurai sebahu dengan pita berwarna putih yang melingkar di kepalanya. Wajahnya indah. Sorot matanya, senyum bibirnya. Dan kulit pipinya yang halus membuatku tak dapat berucap sepatah katapun.&lt;br /&gt;Ia mendekatkan tubuhnya padaku. Wajahnya mendekat, mendekat dan semakin dekat. Bibirku bergetar, aku takut, aku gugup aku.........aku grogi. ”Apa yang akan dia lakukan padaku ? ya Allah ampuni aku, lindungi aku,” doaku dalam hati.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh, pantai seperti bergetar, nampaknya ada gempa bumi. Gelombang air laut semakin besar dan .......... byuuur ......... bajuku basah, dan akupun tersadar.&lt;br /&gt;”Ah..........ibu, apa-apaan sich.”&lt;br /&gt;“Kamu yang apa-apaan, lihat tuch, jam berapa sekarang. Kamu mau sekolah pa ga’ ?” bentak ibuku.&lt;br /&gt;”Iya.........iya...........ah,” jawabku asal-asalan. Ternyata aku hanya mimpi. Tapi gadis tadi siapa ya ? Aduh..........ah, udahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;”Pagi sob, ” sapaku pada sahabat-sahabatku.&lt;br /&gt;”Hey, Ris ! ceria banget kayak e hari ini.”&lt;br /&gt;”Palingan juga abiz mimpi dicium cewek.”&lt;br /&gt;”Eh kok tahu sich. Baru aja aku mau cerita.”&lt;br /&gt;”Ris, Ris, kita ini sahabat lo.......... kalo masalah mimpi dicium cewek, kita udah kenyang ama cerita-ceritamu itu.”&lt;br /&gt;”Masa sich ........ emang kapan aku cerita gituan ?”&lt;br /&gt;”Yah........”nada suara mereka melemas tapi mengejek.”&lt;br /&gt;”Kok gitu sich........”&lt;br /&gt;”Ya udah dech, kita bakal dengerin cerita kamu, tapi ntar aja ya, soalnya hari ini ulangan sejarah, oke.”&lt;br /&gt;”Oke dech, tapi janji ’kan mau denger ?”&lt;br /&gt;”Iya.......iya.......sana, duduk di kursi lo, aku mau blajar nich.”&lt;br /&gt;Bel berbunyi, tandanya pelajaran hari itu akan segera dimulai. Jam pertama ulangan sejarah. Lirik kanan, lirik kiri, tengok belakang bersiul-siul kecil, gigit polpen, pegang kepala, garuk-garuk kepala meski tidak terasa gatal, ada saja tingkah mereka. Ku-akui pelajaran sejarah memang sulit banget. Kalo diumpamakan belajar sejarah tuch satu buku paling nggak harus hafal tiga perempat isinya.&lt;br /&gt;Satu jam berlalu, waktunya habis. Yach........tau dech berapa soal yang bener ku kerjain. Tak satupun teman-temanku yang berwjah ceria setelah ulangan.&lt;br /&gt;”Hai sob, gimana ?”&lt;br /&gt;”Apanya ?”&lt;br /&gt;”Itu tadi.”&lt;br /&gt;”Brengsek lo !”&lt;br /&gt;”Ye..........kenapa ?”&lt;br /&gt;”Ye..........kenapa ?” ucap Didin mengikuti kata-kataku. ”Dipanggilin ampe monyong ga’ mau noleh.”&lt;br /&gt;”Ya sorry, aku ndiri ’kan juga ga bisa.”&lt;br /&gt;”Ga bisa pa ga mau ?” Egi membela Didin.&lt;br /&gt;”Iya.....iya maaf.”&lt;br /&gt;Di jam istirahat, aku, Didin dan Egi pergi ke kantin untuk mengisi perut yang mulai bernyanyi.&lt;br /&gt;”Ris, hari ini traktir ya ?”&lt;br /&gt;”Tumben Din, mau nraktir.”&lt;br /&gt;”Maksudmu kamu yang traktir kita ?”&lt;br /&gt;”Loh kok ?”&lt;br /&gt;”Iya, kamu kan mau cerita soa mimpi kamu itu. Ya anggap aja ongkos mendengar. He..........he.........”&lt;br /&gt;”Ga mau .........”&lt;br /&gt;”Ya udah kita juga ga mau denger.”&lt;br /&gt;”Ya udah aku ga jadi cerita.”&lt;br /&gt;”Ya udah langsung pesen makanan aja. Jangan pada debat gitu. Malu tahu......” Egi menengahi.&lt;br /&gt;Akhirnya aku dan Didin mengikuti saran Egi. Diantara kami bertiga, Egi emang yang paling metral dan realistis. Dan selalu jadi penengah kalau aku dan Didin adu mulut.&lt;br /&gt;Tak lama makanan yang kami pesanpun datang. Baru aja sesuap yang berpindah ke dalam perut, Didin memintaku untuk bercerita.&lt;br /&gt;”Ayo dech Ris, ceritain mimpi lo itu ! kayak ada yang kurang makan gue kali ini.”&lt;br /&gt;”Tuch kan........gini ceritanya. Semalem tuch aku mimpi jalan-jalan dipinggir pantai. Pas lagi nungguin adzan maghrib buat buka puasa. E.........tiba-tiba ada yang manggil aku gitu.........” Belum sempat aku melanjutkan ceritaku, Didin menyela.&lt;br /&gt;”Terus apa gadis itu pake pita putih lagi kayak kemaren itu ?” tanya Didin yang kemudian memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;Aku ambil kesempatan untuk menghabiskan gado-gado diatas piringku.” Yupz bener banget...........” aku hampir tersedk karna kaget, Didin tau jalan ceritanya. Segera ke teguk es teh di depanku.&lt;br /&gt;”Kamu selalu bilang dia pke pita berwarna putih. Tapi kamu ga bilang dia pake baju apa ? atau dia ............” tanya Egi menggoda.&lt;br /&gt;”Apa ya ? aku juga ga tahu ......... aku ga liat bajunya sich ?”&lt;br /&gt;”Masa dari kemaren-kemaren, ceritamu ga ada yang berkembang sich.”&lt;br /&gt;”Coba dech .......... ntar malem aku lihat bajunya.”&lt;br /&gt;”Emang bisa ?”&lt;br /&gt;”Ya ga tahu sich.”&lt;br /&gt;”Udah, ntar kalo udah tidur trus mimpi ketemu dia, kenalin ke aku, Oke........”&lt;br /&gt;”Sarap lo......”&lt;br /&gt;Didin dan Egi ketawa, akupun jadi ikut ketawa. Dan akhirnya, makan siang hari itu aku juga yang bayar. Emang pada ga modal.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;”Gimana Ris semalem ? dapet ga” tanya Didin tiba-tiba sat aku baru masuk ke dalam kelas.&lt;br /&gt;”Apanya ?”&lt;br /&gt;”Itu warna baju gadis itu ?”&lt;br /&gt;”Semalem aku ga bisa tidur, gara-gara mikirin mau lihat baju gadis itu ?”&lt;br /&gt;”Ha ha..........,” Didin menertawakan aku. ”Udah lupain aja masalah mimpi kamu itu.”&lt;br /&gt;”Brengsek lo.............”&lt;br /&gt;”Iya Din, kamu tuch jangan ngeremehin mimpinya Aris. Dia kan udah tiga kali cerita mimpi yang sama. Sapa tahu bisa jadi kenyataan...........”&lt;br /&gt;”Iya Egi............tapi cerita itu dari sejak kita naik kelas 3, sekarang udah bulan apa ? udah mau puasa ’kan ?”&lt;br /&gt;”Kamu kayak e ga seneng gitu sich Din.”&lt;br /&gt;”Enggak kok Ris, bukan gitu maksudku. Aku ’kan emang kayak gini orangnya. Asal keluar aja. Masa kamu ga ngerti-ngerti sich .........”&lt;br /&gt;”Udah dech..........aku ga ngerti ma kalian. Kalian nich kayak anak cewek, berantem, adu mulut, gampang ngambek.”&lt;br /&gt;”Maksudmu apa ngomong kayak gitu, Egi !”&lt;br /&gt;Egi kaget, karna aku dan Didin membentaknya. ”Eh........eh.........aku Cuma bercanda sob, kalian kompak and cowok banget kok ? he he........” Egi meringis ketakutan.&lt;br /&gt;”Ga usah takut gitu aja kale Gi,” ucap Didin.&lt;br /&gt;”Bye the way, ga terasa banget ya lus kita udah puasa..........kayak e kita harus banyak intropeksi diri dech biar kita ga banyak marah-marah and emosian kayak anak kecil lagi. Kita kan udah gedhe, udah kelas 3 SMA gitu.”&lt;br /&gt;”Bentar dech, kayak e ada yang perlu di koreksi kata-katamu tadi.”&lt;br /&gt;”Apa ?”&lt;br /&gt;”Bukan intropeksi tapi introspeksi.”&lt;br /&gt;”Oh........sorry............manusia kan tempatnya salah dan khilaf, jadi ya harap maklum dan dimaafkan.”&lt;br /&gt;”Ya udah maaf diterima.”&lt;br /&gt;”Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;”Bu, Aris pergi dulu ya ?”&lt;br /&gt;”Mau kemana Ris, bentar lagi kan buka ?”&lt;br /&gt;”Bentar aja kok bu ?”&lt;br /&gt;”Tapi kamu buka dirumah ’kan ?”&lt;br /&gt;”Iya tenang aja. Sebelum adzan maghrib, Aris pasti udah pulang ya, Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;”Wa’alaikum salam.....”&lt;br /&gt;Hari ini kita bulatkan tekad untuk mencoba keberuntunganku dari mimpi-mimpi beberapa hari terakhir. Dan tak terasa sudah hampir dua minggu, aku menyusuri pantai ini, tak sejengkal tanahpun yang tak terlewati. Entah berapa ratus menit waktu yang aku buang untuk merenung, melamun memandngi lukisan alam murni oleh sang pencipta, menunggu kehadiran gadis dimimpi itu.&lt;br /&gt;”Hah.........dasar Aris bodoh........kok ya bisa tho ris, kamu ngelakui ini semua. Kamu ya percaya-percaya aja gitu ama mimpi. Mimpi itu bunga tidur,” ucapku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;”Aku janji, ini terakhir kalinya aku datang kesini untuk menunggu dan menemui dia.” Aku bergegas untuk pulang.&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai dan berjalan menuju rumah, semua kosong. Mungkin benar kata Didin, aku hrus melupakannya. &lt;br /&gt;Aris, lupain gadis itu. &lt;br /&gt;Aris, jangan Ingat dia lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari menjelang lebaran, teman-teman satu kelasku mengadakan acara buka bersama. Kebetulan salah seorang teman kami berulang tahun dan dia juga baru pulang dari Inggris dalam pertukaran pelajar setahun yang lalu. Dan dia memilih pantai sebagai tempat acaranya.&lt;br /&gt;”Kenapa harus kembali ke pantai ini lagi,” bisikku pada Egi.&lt;br /&gt;”Udah, jangan campur adukkan masalah pribadi dengan profesi, oke.........nikmatin aja acaranya,” sahut Egi.&lt;br /&gt;”Iya ......sapa tahu cewek itu ada disini,” tambah Didin. &lt;br /&gt;Acara demi acara dalam susunan acara telah berlangsung, tapi si pembuat acara masih belum juga kelihatan. Kalau tidak salah ada 15 orang siswa siswi yang ikut pertukaran pelajar. 6 diantaranya dari kelasku. Tapi siapa yang mengadakan acara ini, aku masih belum tahu. &lt;br /&gt;Diantara kerumunan teman-temanku, aku melihat gadis dalam mimpiku itu berjlan membelakangiku. Aku ga mau kehilangan jejaknya, aku berlari mengejar dan mengikuti langkahnya. Saat ia berjalan sendiri, aku memberanikan diri mendekatinya.&lt;br /&gt;”Hai !” sapaku padanya.&lt;br /&gt;”Hai,” jawabnya ramah.&lt;br /&gt;”Apa........kita pernah bertemu sebelumnya ?”&lt;br /&gt;”Emm..........aku rasa tidak.”&lt;br /&gt;”Aris !” kudengar seseorang memanggilku.” Ya Allah, aku mohon jangan mimpi. Aku mohon, ”doaku dalam hati.&lt;br /&gt;Akupun perlahan menoleh ke sumber suara. Dan aku melihat Didin dan Egi berdiri disana. Tapi mereka tidak melihat kearahku.&lt;br /&gt;”Sorry, bentar ya .........” aku beranjak pergi.&lt;br /&gt;Gadis itu menahan langkahku. Sama seperti apa yang ada dimimpiku. Tanpa diminta, aku memposisikan diriku hingga aku dapat menatap wajahnya. Wajah yang sama, senyum yang sama dan tatapan yang sama pula.&lt;br /&gt;”Aris, kamu udah lupa ma aku ?”&lt;br /&gt;”Aku ........”&lt;br /&gt;”Aku tahu, ini mungkin pasti ......... ” gadis itu meletakkan tangannya didadaku. Dia pasti dapat merasakan dengan jelas detak jantungku yang berdegup lebih kencang dari biasanya. &lt;br /&gt;”Kamu masih menyimpan perasaan itu ’kan Ris.” Apa yang kamu ingat dari gadis yang hampir terserempet sepeda motor kakak kelas, seorang gadis yang hampir nangis karna dimarahi kakak kelas waktu MOS, gadis yang gara-gara dia kamu harus rela terluka, malu dan ............&lt;br /&gt;”Melinda .......” tiba-tiba ku teringat nama itu, ingatanku kembali pada kejadian-kejadian masa lalu. Kenangan mengenai seorang gadis berkacamata tebal dan selalu mengucir rambutnya di dua bagian kiri dan kanan. &lt;br /&gt;Dulu, saat masih sama-sama menjadi murid baru di SMA Merah Putih, aku sering membantunya, aku kasihan melihatnya diejek dan dijadikan bahan tertawaan. Hingga akhirnya, sebelum ujian kenaikan kelas, ia mengutarakan perasaannya padaku. Saat itu aku tak menjawabnya, aku bingung, apakah perasaanku padanya benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa kasihan.&lt;br /&gt;Tapi sekarang, ia beda. Ia membiarkan rambutnya tergerai indah. Ia tak memakai kacamata tebal itu lagi. Dan perasaan yang dulu pernah ada dan sempat mati terlupakan, kini tumbuh dan bersemi kembali. Bukan. Bukan karena perubahannya saat ini, tapi sekarang karna aku sadar sekarang, selama ini jauh dialam bawah sadarku, aku menginginkan dan mengharapkan kehadirannya kembali dalam hidupku. Hingga berulang kali aku bermimpi tentangnya. Bermimpi tentang perubahan yang aku harapkan darinya.&lt;br /&gt;Dan hari ini, disenja dibulan ramadhan ini, ia berdiri tepat dihadapanku dengan perubahan itu. Perubahan darinya yang selalu menjelma dalam mimpiku.&lt;br /&gt;”Aris ...........”&lt;br /&gt;”Ini Melinda ........... bener ini Melinda. Ini kamu Mel .........?”&lt;br /&gt;”Iya Aris, ini aku Melinda ..........”&lt;br /&gt;”Kamu berubah sekarang ..........”&lt;br /&gt;”Kamu dan Inggris merubahku jadi seperti ini.”&lt;br /&gt;Entah apa yang aku rasakan saat itu. Ada sebuah dorongan yang memaksaku secara perlahan untuk mendekati wajah cantik itu. Apa yang ada didalam mimpi itu seolah akan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;”Hoi............hoi..............hoi ........... inget, eling, nyebut, bulan puasa mas, mbak, ” Teriakan Egi dan Didin membatalkan adegan mesra itu. Aku tersenyum malu dan menggaruk-garuk kepalaku meski tidk terasa gatal. Melindapun ikut tersenyum.&lt;br /&gt;”Bentar lagi bedug maghrib, ayo sini kumpul ! ntar ga kebagian loch, ”ledek Didin.&lt;br /&gt;Akhirnya aku dan Melinda hanya bisa bergandengan tangan dengan sesekali tersenyum, berjalan kearah kerumunan teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-7509232659865185956?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7509232659865185956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7509232659865185956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/senja-di-bulan-ramadhan.html' title='Senja Di Bulan Ramadhan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-8315971277897803550</id><published>2010-03-14T05:55:00.002-07:00</published><updated>2011-02-13T04:43:41.961-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>tanpa Judul</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZifSvi--PUQ/TVfR6B_NcXI/AAAAAAAAADY/GYs-5WhMba0/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 318px; height: 159px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZifSvi--PUQ/TVfR6B_NcXI/AAAAAAAAADY/GYs-5WhMba0/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573153858790453618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Asmara Anak Jalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas, berdebu, bising dan macet begitulah cirri khas jalan-jalan raya dikota-kota besar seperti kota Jakarta. Namun kemacetan itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang oleh pemerintah dijuluki sebagai Gepeng (Gelandangan dan Pengemis). Meskipun begitu mereka tak merasa malu ataupun rendah diri. Keadaan memaksa mereka untuk melakukan hal itu. Daripada mereka harus merasa gengsi lalu tidak makan. Lebih baik malu asal dapat sesuap nasi untuk mengisi perut.&lt;br /&gt;Sama seperti tiga sekawan ini, meski sebenarnya mereka masih muda tapi mereka belum layak bekerja lagi pula mereka juga belum memiliki ketrampilan yang memadai. Maklumlah mereka baru lulus SMP. Masalah biaya selalu menjadi faktor utama kandasnya keinginan mereka melanjutkan pendidikan.&lt;br /&gt;”Capek Wan, istirahat dulu.”&lt;br /&gt;”Iya Wan, istirahat dulu kasihan Rara.”&lt;br /&gt;”Ya udah kita istirahat disini saja. Fer, beli minum, haus nih.”&lt;br /&gt;”Kok aku sih. Kamu aja.”&lt;br /&gt;”Sini biar aku yang beli.”&lt;br /&gt;”Biar aku aja yang beli. Kamu capek ’kan .”&lt;br /&gt;”Tadi katanya nggak mau.”&lt;br /&gt;Meski sedikit malu pada Rara, Ferdi pergi membeli minum. Dari kejauhan ia memperhatikan Rara dan Irwan. Mereka semakin akrab saja. Padahal sejak kecil mereka selalu bersama-sama tapi Rara lebih dekat dengan Irwan daripada Ferdi.&lt;br /&gt;”Ini minumnya.”&lt;br /&gt;”Makasih Fer.”&lt;br /&gt;”Habis ini kita ngamen lagi ’kan ?” tanya Ferdi&lt;br /&gt;”Kayaknya nggak usah deh.”&lt;br /&gt;”Kenapa nggak Wan ?”&lt;br /&gt;”Kamu capek sekali sepertinya hari ini Ra.”&lt;br /&gt;”Rara apa pernah capek.”&lt;br /&gt;”Ferdi benar, aku belum capek kok.”&lt;br /&gt;”Udah hari ini cukup. Kalau kamu nggak capek, kamu nggak mungkin minta istirahat.”&lt;br /&gt;Ferdi yang merasa sudah salah hanya diam.&lt;br /&gt;”Ayo Ra kita pulang.” ajak Irwan sambil memegang tangan Rara. Rara menoleh ke Ferdi.&lt;br /&gt;”Ayo Fer, loe nggak pulang ?”&lt;br /&gt;“Nggak aku disini aja dulu.”&lt;br /&gt;”Ya sudah sampai jumpa nanti malam.”&lt;br /&gt;Ferdi merasa iri melihat kebahagiaan mereka. Ia selalu melamun. Hari-hari berlalu, Rara dan Irwan semakin akrab sedangkan Ferdi merasa diacuhkan.&lt;br /&gt;Siang itu Ferdi melihat Rara duduk melamun. Tak biasanya Rara sedih. Ia selalu tampak ceria. Irwan juga tak bersamanya hari itu.&lt;br /&gt;”Hai Ra, Irwan kemana kok sendirian ?” &lt;br /&gt;Rara tak menjawab ia menangis dan meninggalkan Ferdi.&lt;br /&gt;”Ra ........ Rara. Ada apa Ra, tunggu Ra.”&lt;br /&gt;Rara tak mempedulikan Ferdi. Ia terus berlari dan sebuah motor menabraknya.&lt;br /&gt;”Rara ........!”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Rara sudah berada dirumah sakit.&lt;br /&gt;”Bagaimana dok.”&lt;br /&gt;”Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Untunglah janinnya selamat.”&lt;br /&gt;”Janin ? maksud dokter Rara hamil.”&lt;br /&gt;”Benar, usianya sudah satu bulan.”&lt;br /&gt;”Terima kasih dok.”&lt;br /&gt;Karna sudah tidak apa-apa Ferdi mengajak Rara pulang ke rumah. Ia harus banyak istirahat.&lt;br /&gt;”Kenapa kamu nggak cerita sama aku Ra ?”&lt;br /&gt;Rara tak menjawab, ia menangis.&lt;br /&gt;”Siapa yang melakukannya Ra ?”&lt;br /&gt;Rara tetap saja tak menjawab.&lt;br /&gt;”Sudahlah kalau kamu nggak mau jawab. Aku nggak maksa. Aku tunggu sampai kamu mau cerita.”&lt;br /&gt;Ferdi mengantarkan Rara sampai kerumahnya. Kemudian ia kembali mengamen. Sepulang mengamen, ia kerumah Rara. Tapi Rara masih belum mau bercerita.&lt;br /&gt;Melihat ketulusan dan kebaikan Ferdi, Rara akhirnya bercerita.&lt;br /&gt;”Waktu itu Irwan mengatakan kalau ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Sampai ditempat itu Irwan mengatakan kalau ia mencintaiku. Karna waktu itu sudah larut malam kami memutuskan untuk pulang esok paginya. Tapi ketika bangun aku .....................Rara tak melanjutkan kata-katanya, ia menangis.&lt;br /&gt;”Tega-teganya Irwan berbuat seperti itu padamu. Sekarang dia dimana Ra, biar aku hajar dia.”&lt;br /&gt;”Jangan Fer, jangan sakitin dia sebenarnya aku juga mencintainya. Ia bilang akan pergi ke luar negeri mau jadi TKI agar punya modal untuk pernikahan kami.”&lt;br /&gt;”Tapi Ra, berapa lama ? sedangkan perut kamu dari hari ke hari semakin membesar. Apa kata orang tuamu dan para tetangga nanti.”&lt;br /&gt;”Kamu jangan bilang pada bapak/ibuku. Aku tidak mau mereka cemas.”&lt;br /&gt;Tiga bulan berlalu, perut Rara semakin membesar. Iapun belum juga mendapat kabar dari Irwan. Sedangkan orang tuanya terus memaksanya untuk menggugurkan kandungan Rara. &lt;br /&gt;”Sekarang apa yang harus aku lakukan Fer, orang tuaku terus memaksa menggugurkan kandunganku.”&lt;br /&gt;”Ayo, kita pulang biar aku yang menanggung semua perbuatan Irwan.”&lt;br /&gt;”Jangan Fer, aku .........”&lt;br /&gt;”Kamu mau berbuat dosa untuk kedua kalinya.”&lt;br /&gt;”Tidak Fer, cukup sekali saja.”&lt;br /&gt;”Ya sudah, sekarang ikut aku.”&lt;br /&gt;Dengan terpaka Rara mengikuti Ferdi. Sampai dirumah, Ferdi mengaku pada orang tua Rara kalau ia yang menghamili Rara. Spontan Ferdi mendapat pukulan dari orang tua Rara.&lt;br /&gt;”Jangan pak, Ferdi nggak bersalah.”&lt;br /&gt;”Ampun om aku akanbertanggung jawab.”&lt;br /&gt;”Bagus. Tapi mau kamu kasih makan apa anakku. Buat makan sendiri aja masih sulit mau kasih makan anak orang. Lagian kalian ini masih anak kemarin sore.”&lt;br /&gt;”Saya janji om, saya tidak akan menyengsarakan Rara.”&lt;br /&gt;”Saya pegang janji kamu. Om akan menikahkan kalian karna om tahu kalian sudah berteman sejak kecil.”&lt;br /&gt;”Terima kasih om, saya permisi pulang dulu.”&lt;br /&gt;”Besok kamu kemari lagi, karna besok kita ke penghulu.”&lt;br /&gt;Keesokan harinya mereka sudah resmi menikah, meskipun hanya ijab qobul tapi mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Hari-hari mereka lalui dengan kehidupan yang sederhana walaupun Rara kadang-kadang masih suka melamun memikirkan Irwan.&lt;br /&gt;Ferdi tidak bekerja sebagai pengamen lagi. Sekarang ia mempunyai tanggung jawab yang cukup berat. Orang tua Rara hanya membantu sesekali saja. Mereka menjalani hidup dengan tenang dan bahagia ditambah lagi ketika bayi mereka lahir. Bayi itu diberi nama Nia.&lt;br /&gt;Tahun demi tahun berlalu, Nia yang dulunya gadis mungil yang manis kini sudah berubah menjadi gadis dewa yang  cantik.&lt;br /&gt;Siang itu Nia pulang dengan wajah yang ceria.&lt;br /&gt;”Ada apa Nia, ceria sekali hari ini.”&lt;br /&gt;”Ibu, ibu mau tahu aja. Hari ini Firman bilang mau ngenalin aku pada orang tuanya.”&lt;br /&gt;”Firman ? siapa Firman, pacar kamu.”&lt;br /&gt;”Iya donk bu. Sore ini Firman mau jemput Nia, bolh ’kan bu ?”&lt;br /&gt;”Boleh-boleh aja tapi kamu harus hati-hati jangan pulang larut malam.”&lt;br /&gt;”Iya bu, Nia tahu kok. Makasih ya bu ?”&lt;br /&gt;”Sudah sana mandi. Terus bantuin ibu didapur.”&lt;br /&gt;”Ya bu.”&lt;br /&gt;”Semoga kamu tidak mengalami nasib yang sama dengan ibu, Nia.” Pikir Rara dalam hati.&lt;br /&gt;Hubungan Firman dan Nia makin lama makin sulit dipisahkan. Bahkan mereka berencana untuk menikah. Ayah Firman mendatangi rumah Nia. Ibu Firman sudah lama meninggal.&lt;br /&gt;Ibu Nia dan ayah Firman bertemu, mereka terdiam sesaat dan saling berpandangan. Nia dan Firman pergi mencari Ferdi, ayah Nia ditempat kerjanya.&lt;br /&gt;”Mas Irwan, ini kamu mas.”&lt;br /&gt;”Ya Ra, ini aku Irwan. Bagaimana kabarmu.”&lt;br /&gt;”Aku baik ma. Kamu sendiri ?”&lt;br /&gt;”Aku juga baik. Mana suamimu ?”&lt;br /&gt;”Ferdi maksud mas.”&lt;br /&gt;”Jadi kamu menikah dengan Ferdi. Anak kalian cantik.”&lt;br /&gt;”Itu bukan anak Ferdi, tapi dia anak kita mas. Anakku dan anakmu.”&lt;br /&gt;”Apa maksudmu Ra !”&lt;br /&gt;”Saat kamu pergi aku sedang hamil satu bulan. Dan Ferdi menikahiku, karna ia tidak ingin melihat aku jadi bahan ejekan dan hinaan orang-orang. Tapi meskipun aku sudah menikah dengannya, aku masih mencintaimu aku tidak bisa melupakanmu.” Rara memeluk Irwan.&lt;br /&gt;Ferdi datang dan mendengarkan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;”Aku sama sekali tidak mencintai Ferdi.”&lt;br /&gt;Bungkusan makanan yang dibawa Ferdi terjatuh. Ia tertunduk lemas. Rara dan Irwan terkejut.&lt;br /&gt;”Mas Ferdi, ” ucap Rara. ”Ferdi, ”sahut Irwan.&lt;br /&gt;Rara mendatangi Ferdi. Ia menyentuh pundak Ferdi, tapi Nia menghalanginya.&lt;br /&gt;“Jangan sentuh  ayah bu, ibu sudah tidak pantas lagi untuk menyentuh ayah. Aku kira selama ini ibu sangat mencintai ayah, tapi apa nyatanya. Padahal ayah sangat mencintai ibu. Ayah rel mengorbankan masa mudanya hanya untuk ibu, tapi apa balasannya.”&lt;br /&gt;Rara hanya menangis. Ia membenarkan apa kata Nia.&lt;br /&gt;”Sudah Nia cukup, ayah tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;”Tidak yah, biar wanita ini tahu walaupun dia yang melahirkan dan membesarkanku, tapi kalau wanita yang aku panggil ibu ini yang aku anggap wnita paling baik, paling berjasa dalam hidupku adalah hanya seorang wanita yang telah melakukan dosa besar dan tidak tahu balas budi.”&lt;br /&gt;”Nia ! ” bentak Ferdi, sedangkan Rara terus menangis.&lt;br /&gt;”Ibu anggap apa ayah selama ini, patung atau boneka yang bisa ibu peralat untuk kepentingan ibu sendiri. Selama ini senyuman ibu, tawa ibu, kasih sayang ibu hanya sebuah sandiwara semata padahal ayah sangat bahagia mendapatkannya.”&lt;br /&gt;”Itu tidak benarNia, ibu .........”&lt;br /&gt;”Dan sekarang ibu kembali dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab ini. Ibu egois, ibu tidak punya perasaan. Ayo yah kita pergi dari sini, Nia tidak mau bersama wanita seperti dia.” Nia menggandeng tangan ayahnya, tapi Ferdi melepaskan genggaman tangan Nia.&lt;br /&gt;”Tidak Nia, biar ayah yang pergi. Walau bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kandungmu.” ferdi pergi.&lt;br /&gt;”Orang tuaku hanya ayah. Aku iku ayah,” Nia mengejar ayahnya, Ferdi.&lt;br /&gt;”Nia ! Jangan pergi, ibu sangat enyayangimu.”&lt;br /&gt;Nia hanya menoleh.&lt;br /&gt;”Nia ! Nia tunggu, ” Firman mengejar Nia.” Bagaimana denganku, bagaimana dengan pernikahan kita ?”&lt;br /&gt;”Firman kamu sudah dengar sendiri dan tahu semuanya. Hubungan kita sampai disini saja. Lupakan aku dan aku akan melupaknmu.”&lt;br /&gt;”Nia, aku ikut denganmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu, Nia.”&lt;br /&gt;”Jangan Firman. Taxi !”&lt;br /&gt;”Nia, Nia, Nia ..............”&lt;br /&gt;Nia dan ayahnya berlalu bersama taxi yang ditumpnginya. Sedangkan Rara, terus menerus menangis dan memanggil nama Nia. Hingga akhirnya Rara menjadi gila. Firmn dan Irwan tidak terlalu mempedulikan Rara.&lt;br /&gt;Nia dan Ferdi kini tinggal disebuah rumah yang sederhana didaerah Kalimantan Barat. Mereka ikut dengan rombongan transmigran. Hidup mereka sangat bahagia. Mereka tidak mengetahui dan mempedulikan keadaan Rara lagi.&lt;br /&gt;”Nia, besok kamu jenguk ibumu. Kasihan dia.”&lt;br /&gt;”Nggak. Palingan ibu sedang bersenang-senang dengan lelaki itu.”&lt;br /&gt;”Walau bagaimanapun juga dia ibumu. Ayah tidak mau kamu jadi anak durhaka.”&lt;br /&gt;Keesokan harinya Nia berangkat, sesampainya di Jakarta ia sungguh-sungguh terkejut mengetahui ibunya berada dirumah sakit jiwa. Ia merasa sangat sedih dan bersalah melihat kondisi ibunya. Dengan setia Nia merawat ibunya, hingga tak terasa setahun sudah ia meninggalkan ayahnya. Nia mengajak ibunya pulang ke Kalimantan, tapi sesampainya disana Ferdi ayah Nia meninggal dunia karna kecelakaan. Nia dan ibunya langsung kemakam Ferdi. Disana mereka menangis. Rara minta maaf pada Ferdi dan Nia berjanji akan menjadi anak yang berbakti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-8315971277897803550?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8315971277897803550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8315971277897803550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/tanpa-judul.html' title='tanpa Judul'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZifSvi--PUQ/TVfR6B_NcXI/AAAAAAAAADY/GYs-5WhMba0/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-576484520491145273</id><published>2010-03-14T05:55:00.001-07:00</published><updated>2010-03-14T05:55:27.344-07:00</updated><title type='text'>Ah....Cinta</title><content type='html'>”Kenapa Gar, dari tadi aku perhatikan kamu nglamun aja.”&lt;br /&gt;”Gue baru putus sama Mona, Raf.”&lt;br /&gt;”Udah jangan dipikirkan. Cewek emang kayak gitu.”&lt;br /&gt;”Padahal gue sangat mencintainya, tapi tapi dengan seenak hatinya dia mesra-mesraan dengan cowok lain.”&lt;br /&gt;”Gue ngerti perasaan loe. Tapi sekarang lebih baik loe tenangin diri dulu. Lupain semuanya. Ok.”&lt;br /&gt;Akhirnya mereka pergi ke kafe. Disana mereka biasa menennangkan diri. Mereka pulang sudah larut malam. Malam itu hujan, jalan-jalan banyak yang tergenang air. Tak sengaja mobil Tegar melewati genangan air dan air itu mengenai beberapa ank kecil dan seorang gadis. Mobil Tegar berhenti dan mundur ke belakang.&lt;br /&gt;”Basah ya. Kasihan nih uang buat beli baju yang baru.”&lt;br /&gt;”Maaf ya mbak, Adik-adik. Teman saya ini lagi mabuk.”&lt;br /&gt;”Mas, klau lewat jalan itu lihat-lihat, pasang itu mata.”&lt;br /&gt;”Ya sekai lagi maaf ya mbak.”&lt;br /&gt;Mobil Tegar yang dikemudikan Raffi meninggalkan Ria dan teman-temannya. Mereka mengambil uang yang diberikan Tegar, tapi untuk dikembalikan bukan dipakai untuk beli baju baru.&lt;br /&gt;Keeokan harinya Tegar dan Raffi pergi ke sebuah rumah makan dan disana mereka bertemu dengan Ria.&lt;br /&gt;”Itu bukannya cewek yang semalam.”&lt;br /&gt;”Ya bener. Ternyata dia kerja disini.”&lt;br /&gt;”Kira-kira di marah nggak ya soal semalam.”&lt;br /&gt;”Tau deh, tapi lebih baik kamu minta maaf.”&lt;br /&gt;”Tapi nanti kalau ..........”&lt;br /&gt;”Asalkan kamu ngomongnya baik-baik, lagi pula selama inikan kamu baik sama orang. Sana minta maaf.”&lt;br /&gt;”Tegar menghampiri Ria yang sedang membersihkan meja.”&lt;br /&gt;”Hai,” sapa Tegar.&lt;br /&gt;Ria menoleh. ”Iya ada yang bis saya bantu ?”&lt;br /&gt;”Saya ....... saya Cuma mau minta maaf soal semalam.”&lt;br /&gt;”Semalam ?”&lt;br /&gt;”Iya yang waktu dijalan itu.”&lt;br /&gt;”O ........ mas yang mabuk dan menghina saya dan adik-adik saya,” sahut Ria dengan sedikit acuh&lt;br /&gt;”Tapi uang ini ’kan ..........”&lt;br /&gt;”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa beli baju dengan uang kami sendiri. Lagipula sebenarnya kami tak perlu baju baru untuk mengganti baju yang semalam. Kami cukup mencuciny tak perlu hambur-hamburkan uang,” ucap Ria tetap acuh sambil melakukan pekerjaannya.&lt;br /&gt;”Ok. Aku ngerti, sekarang kamu mau maafkan aku atau nggak ?” tanya Tegar mulai kesal tapi coba ia tahan.&lt;br /&gt;”Maaf mas saya sedang banyak pekerjaan, Permisi.”&lt;br /&gt;Tegar kembali kemejanya bersama Raffi.&lt;br /&gt;”Gimana Gar ?”&lt;br /&gt;”Entahlah.”&lt;br /&gt;”Lho kok gitu.”&lt;br /&gt;”Tau deh pulang aja yuk.”&lt;br /&gt;”Ada apa sich sebenarnya ?”&lt;br /&gt;”Cewek nyebelin, cewek sombong.”&lt;br /&gt;”Gue nggak ngerti, apa sich maksudmu.”&lt;br /&gt;”Gue harus kasih pelajaran tuh cewek.”&lt;br /&gt;”Lho mau kemana ?”&lt;br /&gt;”Loe tunggu disini aja sampai gue balik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;”Ria, dipanggil bu Sum tuh.”&lt;br /&gt;”Ada apa Sil ?”&lt;br /&gt;”Nggak tau, tapi kayaknya bu Sum marah banget.”&lt;br /&gt;”Aku temuin bu Sum dulu ya.”&lt;br /&gt;”Cepetan sana.”&lt;br /&gt;Didepan pintu ruangan bu Sum, dengan sedikit takut Ria mengetuk pintu.&lt;br /&gt;”Masuk.”&lt;br /&gt;”Permisi bu.”&lt;br /&gt;”Duduk.”&lt;br /&gt;”Ibu panggil saya, ada apa bu ?”&lt;br /&gt;”Kamu saya pecat.”&lt;br /&gt;”Pecat bu ?” tanya Ria memastikan.&lt;br /&gt;”Tapi apa salah saya bu.”&lt;br /&gt;”Kamu mengecewakan palanggan. Kamu tidak melayani mereka dengan baik dan sopan. Mereka mengaku kecewa.”&lt;br /&gt;”Tapi bu saya ......... ”sahut Ria ambil menangis.&lt;br /&gt;”Maaf Ria, ini gaji kamu yang tiga minggu.”&lt;br /&gt;”Tolong bu, jangan pecat saya.”&lt;br /&gt;”Silahkan keluar.”&lt;br /&gt;”Tolong bu, jangan pecat saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong saya bu.”&lt;br /&gt;”Saya bilang keluar !”&lt;br /&gt;”Baik bu, permisi.” Dengan perasaan sedih bercampur bingung ia keluar dari ruangan bu Sum. Ia tak mengerti dengan apa yang dilakukan bu Sum. Ia merasa selalu bersikap baik dan sopan pada para pengunjung.&lt;br /&gt;”Hei ! tunggu.”&lt;br /&gt;Ria yang merasa dipanggil berhenti dan menoleh.&lt;br /&gt;”Tolong trima uang ini sebagai permohonan maaf saya.”&lt;br /&gt;”Maaf mas, bukannya tadi sudah saya bilang saya tidak perlu uang mas, Permisi.”&lt;br /&gt;”Tunggu dulu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang kalau kamu tidak punya pekerjaan.”&lt;br /&gt;”O ...... jadi mas yang ........ mau mas apa sih, apa sekarang mas sudah puas. Apa mas belum puas menghina saya dan adik-adik saya semalam. Sebenarnya apa salah kami sama mas. Saya tahu mas orang kaya tapi bukan berarti mas bisa menghina orang-orang kecil seperti kami. Saya ingatkan ya mas uang yang mas hambur-hamburkn itu bukan uang mas sendiri tapi uang orang tua mas yang sudah bekerja keras siang malam.”&lt;br /&gt;Tegar hanya diam tak berkutik mendengar ucapan Ria.&lt;br /&gt;”Masih lebih baik kami yang meskipun tak punya orang tua, kami masih bisa bertahan hidup dengan uang hasil keringat sendiri tanpa harus selalu menengadahkan tangan pada orang tua. Ria pergi berlalu dari hadapan Tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Dengan peraaan bersalah dan sedih, Ria pulang kerumah gubuknya. Dirumah itu, empat rang adiknya sudah menunggunya.&lt;br /&gt;”Itu kak Ria pulang.”&lt;br /&gt;”Kak Ria, hari ini kok pulang cepat.”&lt;br /&gt;”O ......... tadi bos kakak mau menghadiri pesta.”&lt;br /&gt;”Kakak bawa makanan apa ?”&lt;br /&gt;”Hari ini kita masak mie instant saja ya.”&lt;br /&gt;”Ya ........ kak bosan tiap hari makan mie.”&lt;br /&gt;”Hai adik-adik ini kakak bawakan pizza buat kalian.”&lt;br /&gt;”Dia ! ” Ria tak percaya kalau tegar mengikutinya.&lt;br /&gt;”Kakak yang ketemu dijalan itu ’kan.”&lt;br /&gt;”Iya. Kakak mau minta maaf makanya kakak bawakan makanan untuk kalian, kalian lapar ’kan.”&lt;br /&gt;”Iya kak kami lapar. Kak Ria nggak ikut makan.”&lt;br /&gt;”O ........ namanya kak Ria.”&lt;br /&gt;”Iya kakak belum kenalan. Kakak namanya siapa ?”&lt;br /&gt;”Nama kakak Tegar.”&lt;br /&gt;”O ......... kak Tegar. Trima kasih ya kak.”&lt;br /&gt;”Sama-sama.”&lt;br /&gt;Ria hanya diam saja. Ia hanya memberikan segelas air putih pada Tegar. Saat Tegar berpamitan, Ria memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Tegar.&lt;br /&gt;”Untuk apa ini ?”&lt;br /&gt;”Untuk bayar pizza yang udah kamu bawa.”&lt;br /&gt;”Nggak usah aku ikhlas kok.”&lt;br /&gt;”Maaf, tapi kami tidak terbiasa menerima pemberian dari orang yng kami belum kenal.”&lt;br /&gt;”Lho tadi buknnya udah kenalan ya nggak adik-adik ?”&lt;br /&gt;”Ya kak, namanya kak Tegar.”&lt;br /&gt;”Diam kalian. Kakak kan udah bilang, kita tidak boleh menerima barang apapun dri orang lain.”&lt;br /&gt;”Tapi kak ..........”&lt;br /&gt;”Udah jangan ikut-ikutan. Nih ambil uangnya dan saya mohon mas cepat pergi dari sini.”&lt;br /&gt;”Ok. Uang ini aku ambil tapi kamu masih punya hutang 100.000,-.”&lt;br /&gt;”Apa maksud kamu ?”&lt;br /&gt;”Pizza itu haranya 200.000,- karn waktu itu aku udah buat salah sama kamu, jadi bayar 150.000,- dan aku boleh datang kapn saja aku mau.”&lt;br /&gt;”Aku akan tetap bayar 200.000,-. Itu berarti hutangku masih 150.000,-.”&lt;br /&gt;”Terserah kamu. Aku permisi pulng dulu. Adik-adik kakak pulang dulu.”&lt;br /&gt;”Ya kak. Makasih ya pizznya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Keesokan harinya Tegr datng lagi kerumh Ria.&lt;br /&gt;”Maaf, hari ini aku belum punya uang.”&lt;br /&gt;”Aku kesini bukan untuk nagih hutang tapi mu ngajak adik kamu jalan-jalan.”&lt;br /&gt;”Tolong mas jangan kesini lagi. Saya tidak mau mendapatkan belas kasihan dari mas. Semakin sering mas kesini dan semakin sering mas memberikn kami sesuatu membuat hutang saya kepada mas semakin menumpuk. Dan itu membuat saya semakin susah. Apalagi sekarang saya tidak punya pekerjaan.”&lt;br /&gt;”Aku nggak pernah minta kamu buat bayar semua yang sudah saya berikan. Lagi pula aku ikhlas mau nolong kamu.”&lt;br /&gt;”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa hidup tanpa bantuan mas. Sebaiknya mas konsentrasi saja pada kuliah mas. Didunia ini banyak anak yang ingin sekolah jadi mas jangan sia-siakan kesempatan ini, Permisi.”&lt;br /&gt;”Ria, tunggu dulu. Adik-adik kamu ada dirumah ’kan.”&lt;br /&gt;”Mereka tidak ada dirumah. Mereka sedang ngamen.”&lt;br /&gt;”Ngamen ? terus kmu sendiri mau kemana ?”&lt;br /&gt;”Saya mau kerja.”&lt;br /&gt;”Kerja apa ?” tanya Tegar. Ria tak menjawab ia pergi begitu saja.&lt;br /&gt;”Ria tunggu !” dengan setengah berlari Tegar mengejar Ria. Tapi Ria terus saja berjalan.&lt;br /&gt;”Ria, kenapa kamu biarin adik kamu ngamen, bukankah itu sangat berbahaya. Kamu sendiri ’kan yang bilang kita tidak boleh hanya menengadahkan tangan, kita harus berusaha.”&lt;br /&gt;”Apa menurut mas mereka ngemis ? tidak mas, mereka juga nerusaha. Mereka menyanyi, menghibur orang. Dan sebaiknya mas jangan ganggu mereka atau saya laporkan polisi dengan tuduhan penculikan.”&lt;br /&gt;”Ria, mereka masih kecil tidak seharusnya mereka bekerja. Mereka butuh pendidikan !”&lt;br /&gt;Ria berhenti berjalan, ia kembali menghmpiri Tegar.&lt;br /&gt;”Pendidikan ? mas sebenarnya paham dan tahu tau tidk soh dengan keadaan kami. Makan saja sulit plgi mau sekolah. Siapa yang membiayai, pemerintah ? omong kosong. Atau mas yang mau membiayai sekolah adik-adik saya.”&lt;br /&gt;”Kenapa tidak.”&lt;br /&gt;”Dengan uang orang tua mas itu, tidak mas kami tidak mau jadi bahan hinaan orng tu ms jika mereka tahu.”&lt;br /&gt;Ria berjalan meninggalkan Tegar. Tegar mengejarnya, tapi Ria sudah naik angkutan.&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Siang itu dikampus, Tegar dan Raffi sedang membicarakan soal Ria. Tapi kemudian datang Mona, Raffi segera pergi tahu kalau mereka akan membicrakan masalah hubungan mereka.&lt;br /&gt;”Hai Gar, Raf.”&lt;br /&gt;”Hai, gue pergi dulu Gar.”&lt;br /&gt;“Sampai nanti. Jangan lupa jam lima sore.”&lt;br /&gt;”Ok.”&lt;br /&gt;”Mau ada acara apa ini.”&lt;br /&gt;”Bukan urusanmu,” sahut Tegar acuh hendak pergi.&lt;br /&gt;”Gar, aku mu ngomongin soal hubungan kita, kenapa sih, apa salhku kenapa kamu mutusin aku waktu itu.”&lt;br /&gt;Tegar tak menjawab.&lt;br /&gt;”Sekarang kamu juga sulit dihubungi, ada pa sih Gar ?”&lt;br /&gt;”Tegar tetap tak menyahut.”&lt;br /&gt;”Tegar jawab, aku sedang ngomong sama kamu.”&lt;br /&gt;”Mau tahu jawabannya, tanya pada diri loe sendiri.”&lt;br /&gt;”Tegar ! apa maksudmu ? Tegar !”&lt;br /&gt;Tegar msuk kedalam kelas. Sekitar empat jam ia kuliah.&lt;br /&gt;”Tegar,” sapa Mona ketika Tegar keluar kelas.&lt;br /&gt;”Ada apa Mon ?”&lt;br /&gt;”Kamu belum jawab pertanyaanku tadi.”&lt;br /&gt;”Bukankah aku sudah bilang tanya sendiri pada diri loe.”&lt;br /&gt;”Tegar !”&lt;br /&gt;”Hai Raf, kita berangkat sekarang yuk.”&lt;br /&gt;”Hai Gar, yuk.”&lt;br /&gt;”Tegar ! kamu mau kemana ?” teriak Mona.&lt;br /&gt;”Aku harus mengikuti mereka,” pikir Mona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;”Loe sudah yakin mau ketempat Ria.”&lt;br /&gt;”Ya iyalah. Gue ’kan udah sering kerumahnya.”&lt;br /&gt;”Loe itu aneh, waktu direstaurant aja kamu marah-marah bahkan dia sampai dipecat gara-gara kamu. Tapi sekarang .”&lt;br /&gt;”Entahlah. Aku merasa dia memberikan banyak perubahan dalam hidupku.”&lt;br /&gt;”Loe suka sama Ria ?”&lt;br /&gt;”Kadang-kadang aku sering sebel sama dia, tapi yang paling aku suka dia tetep pada pendiriannya dan lagi dia sering kasih aku nasehat-nasehat.”&lt;br /&gt;”Jadi intinya loe suka ’kan.”&lt;br /&gt;”Bahkan mungkin lebih dari suka.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka sudah sampai dirumah Ria. Mereka tak sadar kalau Mona mengikuti dari belakang.&lt;br /&gt;”Kak Ria, ada kak Tegar nih ?”&lt;br /&gt;”Mau apa lagi. Oh ya ini uang untuk bayar hutang kami yang kemarin.”&lt;br /&gt;”O ....... ya makasih.”&lt;br /&gt;”Sekarang sebaiknya mas-mas pulang saja.”&lt;br /&gt;”Biarin aja kak, kita ’kan mau main sama kak Tegar.”&lt;br /&gt;”Susi, kakak mau kerja kamu dan adik-adik, kamu harus beres-beres rumah.”&lt;br /&gt;”Tapi kak, kasiha kak Tegar dan temannya sudah jauh-jauh datang kesini.”&lt;br /&gt;”Terserah kalian, kakak nggak mau tahu lagi sama kalian. Sekarang kalian sudah nggak mau dengerin kata kakak.”&lt;br /&gt;Ria pergi bekerja. Tegar dan Raffi tetap dirumah Ria.&lt;br /&gt;”Kakak kaian kerja apa ?”&lt;br /&gt;”Kalau pagi kakak kerja ditempatnya bu Isna kirim katering. Terus kalau sore, nyuci baju atau ngerjain pekerjaan rumah tangga yang lain dirumah tingkat diujung jalan. Pulangnya sekitar jam delapan malam. Paginya jam lima kesana lagi sampai jam sembilan terus berangkat kirim katering.”&lt;br /&gt;”Kakakmu kerja keras ya Sus.”&lt;br /&gt;”Iya kak, buat bayar hutang ke kakak. Dari dulu kakak nggak pernah mau menerima bantuan orang lain.”&lt;br /&gt;”Aku punya ide Gar.”&lt;br /&gt;”Ide apa maksudmu Raf.”&lt;br /&gt;”Gimana kalau kita buat Ria mau menerima bantuan dari orang lain.”&lt;br /&gt;Mereka berenam membicarakan suatu hal yang sangat rahasia dan serius. Tetapi mereka juga bercanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Jam delapan malam, seperti biasa Ria pulang dari bekerja. Sesampainya dirumah ia tak menjumpai adik-adiknya. Ia bertanya pada tetangganya.&lt;br /&gt;”Maaf bu, ibu lihat adik-adik saya ?”&lt;br /&gt;”Oh iya tadi dibawa dua anak muda, katanya adik kamu yang paling kecil itu pingsan.”&lt;br /&gt;”Sekarang mereka dimana bu ?”&lt;br /&gt;”Katanya mau diantar kerumah sakit umum.”&lt;br /&gt;”Trima kasih bu.”&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang lagi, ia segera kerumah sakit. Sesampainya disana ia bertanya pada suster dimana adiknya dirawat. Setelah tahu, Ria segera menuju kamar adiknya.&lt;br /&gt;”Tika !” Ria mendekap adiknya yang terbaring,” kenapa dia sus, kenapa adikmu. Jawab !”&lt;br /&gt;”Kata dokter Tika terkena kanker,” jawab Tegar.&lt;br /&gt;”Kanker ?” ucap Ria lemas.&lt;br /&gt;”Tika harus segera dioperasi, kalau tidak ........”&lt;br /&gt;”Tidak mungkin ! Tidak mungkin, Tika bangun, ini kakak Tik.” Air mata Tika mengalir membasahi pipinya.&lt;br /&gt;”Sudahlah kamu tenang dulu.”&lt;br /&gt;”Bagaimana aku bisa tenang. Sedangkan aku harus membiayai adikku operasi. Dan pasti biayanya bisa puluhan juta. Dari mana aku bisa mendapatkannya.”&lt;br /&gt;”Kamu tidak perlu kuatir, aku yang akan membiayai operasi adikmu.”&lt;br /&gt;”Tidak perlu, saya masih bisa membiayainya.”&lt;br /&gt;”Kamu jangan keras kepala. Sekarang adikmu dalam keadaan antara hidup dan mati. Sampai berapa lama kamu bisa mendapatkan uang itu. Kamu mau adikmu mati.”&lt;br /&gt;Ria terus saja menangis. Ia keluar dari kamar tempat adiknya dirawat. Tampaknya ia sangat sedih, ia merasa kalau ia sudah gagal menjadi kaka yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Ria terus saja bekerja, bahkan kini ia semakin rajin. Tapi ia juga tak lupa menjenguk dan menemani adik-adiknya. Hari itu setelah pulang mengantar katering, Ria didatangi seorang wanita.&lt;br /&gt;”Apa kamu yang namanya Ria ?”&lt;br /&gt;”Ya. Ada apa mbak, ada yang bisa saya bantu ?”&lt;br /&gt;”Saya peringatkan sama kamu. Kamu jangan coba-coba deketin Tegar. Dia itu milik gue.”&lt;br /&gt;”Apa maksud mbak.”&lt;br /&gt;”Kalau kamu berani ngrebut dia dari saya, saya tidak akan segan-segan menyakiti adikmu.”&lt;br /&gt;”Asal mbak tahu saja, saya juga tidak mau deketin mas Tegar ? dan jangan coba-coba mbak menykiti adik-adik saya. Kalau tidak ............”&lt;br /&gt;”Kalau tidak apa ?”&lt;br /&gt;”Jaga saja mas Tegar. Jangan biarkan dia menemuiku dan saya akan sangat berterima kasih. Permisi.” ria mencoba untuk berkata sedikit keras. Ria segera menuju kerumah sakit.&lt;br /&gt;”Kak Tegar, sampai kapan kita harus terus bersandiwara. Kasihan kak Ria. Ia pasti bekerja sangat keras.’&lt;br /&gt;”Besok rencananya kita akan operasi, mungkin dua atau tiga hari lagi kamu sabar ya ?”&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, Ria mendengar semua pembicaraan mereka. Makanan yang dibawanya terjatuh.&lt;br /&gt;”Kak Ria,” ucap Tika.” Ria,” ucap Tegar.&lt;br /&gt;”Apa ini yang disebut kanker, kenapa kalian tega bohongin kakak ? apa begini kakak mendidik kalian, apa kakak mengajari kalian untuk berbohong ? sekarang kalian sudah pandai berbohong. Apa kalian suka melihat kakak menderita dan sedih. Kalian sudah mempermainkan kakak.” Butiran air jernih mengalir dari pelupuk mata Ria. Adik-adiknyapun juga menangis.&lt;br /&gt;”Ria, mereka tidak salah. Aku yang salah.”&lt;br /&gt;”Sudah aku duga memang kamu yang mengajari mereka. Kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku. Sekarang kalian ikut saja dengan kak Tegar. Biar setiap hari bisa hidup enak. Kakak tidak akan mengganggu kalian.”&lt;br /&gt;”Kakak, kak Ria kami ikut kakak.”&lt;br /&gt;”Jika kalian ikut kakak, kalian harus nurut apa kata kakak.”&lt;br /&gt;Ria dan adik-adiknya pulang kerumah. Susi dan adik-adiknya tidak mau menyakiti kakak mereka lagi. Mereka tahu betapa kerasnya kak Ria berusaha keras agar mereka dapat bertahan hidup sampai sekarang tanpa kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari ini Tegar tak kerumah Ria. Ria merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia merasa gelisah dan sering duduk melamun didepan pintu.&lt;br /&gt;”Kakak, kenapa ?”&lt;br /&gt;”Susi, kamu belum tidur.”&lt;br /&gt;”Belum kak, kakak kenapa ?”&lt;br /&gt;”Enggak. Kakak Cuma sedikit capek.”&lt;br /&gt;”Ayo kak masuk, nanti kakak masuk angin.”&lt;br /&gt;”Kamu duluan aja. Kakak masih mau disini.”&lt;br /&gt;Keesokan harinya ia mendapat kabar dari Raffi kalau Tegar kecelakaan dan dirawat dirumah sakit.&lt;br /&gt;”Ria, aku mohon temui Tegar. Ia terus menerus memanggil nama kamu.”&lt;br /&gt;”Maaf mas, saya tidak bisa. Itu paling Cuma akal-akalan dia saja. Saya tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya.”&lt;br /&gt;”Tapi ini benar saya tidak bohong.”&lt;br /&gt;”Kakak coba lihat saja.”&lt;br /&gt;”Tika, kamu jangan ikut-ikutan.”&lt;br /&gt;”Saya mohon, temui Tegar.”&lt;br /&gt;”Maaf mas. Saya harus bekerja. Permisi !”&lt;br /&gt;Ria berangkat bekerja. Meski ia merasa sangat sedih.&lt;br /&gt;”Kak Raffi. Kami yang akan kesana.”&lt;br /&gt;”Boleh. Ayo ikut kakak.”&lt;br /&gt;Tak lama mereka sudah sampai dirumah sakit. Tegar memang benar-benar kecelakaan meski lukanya tidak terlalu parah.&lt;br /&gt;Malam harinya Susi menceritakan keadaan Tegar pada kakaknya, Ria. Ria tak begitu menanggapinya. Meski didalam hatinya ia merasakan suatu kesedihan yang sangat mendalam.&lt;br /&gt;”Kak, kakak harus jenguk kak Tegar. Setidaknya untuk menyenangkan hatinya, karna dulu kak Tegar juga pernah menyenangkan hati kami.”&lt;br /&gt;”Tapi, Sus.”&lt;br /&gt;”Kami mohon kak. Lagipula apa kakak tidak suka dengan kak Tegar. Tidak pernah ada orang yang memperhatikan kakak seperti ini bahkan dia sampai mau di maki-maki oleh kakak.”&lt;br /&gt;”Iya. Nanti kakak kesana.”&lt;br /&gt;”Trima kasih ya kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;”Pagi Gar, gimana sudah baikan,” sapa Mona.&lt;br /&gt;Tegar tak menjawab, ia hanya mengangguk&lt;br /&gt;”Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu.”&lt;br /&gt;”Trima kasih. Taruh saja disitu.”&lt;br /&gt;”Aku mau kita teruskan pembicaraan yang wktu itu.”&lt;br /&gt;”Kamu belum puas dengan jawabanku. Ok, aku akan bikin kamu puas. Siapa Ivan ?”&lt;br /&gt;”Dia ........ dia .......”&lt;br /&gt;”Dia pacarmu ’kan. Sudah ngaku aja, aku sudah tahu kalau selama ini kamu hanya memanfaatkan aku. Kamu berpura-pura senang, cinta sama aku. Padahal kamu mencintai orang lain dan menggunakan uangku untuk kesenangan kalian.”&lt;br /&gt;”Tidak, itu bohong aku ..........”&lt;br /&gt;”Sudah tidak perlu banyak alasan lagi. Pergi kamu dari sini. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi !”&lt;br /&gt;”Ok. Aku pergi. Lagi pula aku sudah capek harus pura-pura senang, pacaran sama kamu. Aku disini juga mau memberikan undangan jika kamu bersedia, datanglah. Kami ucapkan banyak terima kasih atas uang yang sudah kamu berikan.”&lt;br /&gt;Setelah menyerahkan undangan pernikahannya dengan Ivan, Mona pergi meninggalkan Tegar.&lt;br /&gt;Malamnya Ria datang. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu. Tapi ia merasa lega karna saat itu Tegar sedang tidur. Ia duduk dikursi didekat tempat tidur Tegar.&lt;br /&gt;”Aku kesini karna permohonan adik-adikku. Aku juga mau minta maaf karna aku sudah terlalu acuh pada mas Tegar. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin nantinya kami jadi bahan hinaan orang lain.” ”Ria menggenggam tangan Tegar.” Seandainya mas tahu, aku sangat sedih ketika mendengar mas kecelakaan. Dan aku berusaha menghilangkan perasaan itu karna aku takut mas akan membohongiku lagi. Tapi bagaimanapun aku tetap tidak bisa menghilangkannya.” Ria memandang kearah Tegar.&lt;br /&gt;Tegar masih menutup matanya.&lt;br /&gt;”Terkadang aku merasakan kenyamanan dan ketenangan bila ada didekat mas. Apa perasaan seperti ini yang orang-orang sebut dengan cinta. Tapi meskipun ini benar-benar perasaan cinta, aku tidak mungkin bisa mendapatkan dan bersama orang yang aku cinta. Karna mas sudah punya orang yang sangat mencintai mas dan mas pun juga mencintainya. Sudahlah mas, aku hanya akan mengganggu tidur mas. ” Ria mengambil sesuatu didalam tasnya. Ia meletakkan barang itu diatas meja.&lt;br /&gt;”Didalam amplop itu ada uang tiga ratus ribu rupiah. Itu uang untuk mengganti biaya jalan-jalan dan pizza yang sudah mas berikn pada adik-adik saya. Semoga mas cepat sembuh dan mendapatkan kebahagiaan yang mas inginkan.”&lt;br /&gt;Ria menempelkan bibirnya didahi Tegar,” trimakasih atas segala yang sudah mas berikan. Kami tidak akan melupakan kebaikan mas. Saya sadar bahwa hidup didunia ini kita harus bisa menerima bantuan dari orang lain. Karna kita tidak mungkin bisa hidup tanpa bantuan orang lain,” Ria mengambil tasnya, ia hendak pergi.&lt;br /&gt;Tapi tangan kanannya dipegang oleh Tegar. Ria berhenti karna tanagnnya tertahan, ia menoleh. Ia sedikit terkejut dan gugup.&lt;br /&gt;”Jangan pergi, aku mohon kamu jangan pergi.”&lt;br /&gt;”Tapi ku ........”&lt;br /&gt;”Aku sudah mendengar semuanya. Aku juga sangat mencintaimu. Aku salut dengan kesabaran dan keteguhanmu dalam menghadapi cobaan hidup.”&lt;br /&gt;”Tapi .......”&lt;br /&gt;”Duduklah. Kamu tidak perlu bicara lagi. Biar ku yang bicara. Kita pasti akan selau bersama.” Tegar menggenggam tangan Ria.” Karna Mona yang kamu anggap pacarku itu kini sudah bertunangan dan akan segera menikah.”&lt;br /&gt;”Maafkan aku mas Tegar.” Mereka berpelukan.&lt;br /&gt;”Trima kasih. Dan sekarang biarkan aku.” Tegar melepaskan pelukannya dan menempelkan bibirnya didahi Ria.&lt;br /&gt;”Horree .........!!” Adik-adik Ria dan Raffi memberikan sorakan dan tepuk tangan. Ria dan Tegar merasa malu dan tersenyum. Kemudian mereka tertawa bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-576484520491145273?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/576484520491145273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/576484520491145273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/ahcinta.html' title='Ah....Cinta'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-8883809413785092958</id><published>2010-03-14T05:52:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T05:53:10.440-07:00</updated><title type='text'>Cinta Sebatas Impian</title><content type='html'>“Kak capek, istirahat dulu ya.”&lt;br /&gt;“Ya sudah kita istirahat dulu disini.”&lt;br /&gt;“Kak, cari sumbangan sulit juga ya.”&lt;br /&gt;”Ya jelas. Sekarang ini ’kan cari uang sulit ditambah lagi biaya kebutuhan hidup semakin tinggi. Sedangkan kita dengan mudahnya datang ke rumah mereka minta sumbangan.”&lt;br /&gt;”Tapi ada juga yang kasih.”&lt;br /&gt;”Itu orang-orang yang memang baik. Mau berbagi dengan kita.”&lt;br /&gt;Saat sedang asyik ngobrol, datang sebuah mobil sedan. Mobil itu berhenti didepan mereka.&lt;br /&gt;”Eh, ada yang minta sumbangan deh kayaknya.”&lt;br /&gt;Kedua kakak beradik itu bangkit dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;”Kasih aja kak.”&lt;br /&gt;Pemuda yang dipanggil kakak oleh pemuda yang lain itu mengeluarkan dompet dari dalam sakunya. Ia menghitung-hitung uang kertas yang ada didalam dompetnya. Ia mengambil selembar uang kertas dari dalam dompet. Kakak beradik pencari sumbangan itu saling berpandangan dan tersenyum. Tapi kemudian muka mereka berubah masam. Uang yang diambil bukannya uang kertas seratus ribuan melainkan uang seribuan. Dengan menahan sedikit marah dan rendah hati adik dari pencari sumbangan itu mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;”Alhamdulillah, terima kasih. Ayo kak.”&lt;br /&gt;”Tunggu dulu dik. Maaf mas, dari tampang anda ini sepertinya anda seorang artis. Tapi sayang meskipun mas seorang artis dengan wajah yang lebih dari lumayan dan mobil yang ngejreng, mengkilap, menyumbang saja hanya seribu perak.”&lt;br /&gt;”Udah kak, kita pulang aja.”&lt;br /&gt;”Eh, tunggu.” Pemuda itu keluar dari mobilnya. ”Kamu itu tahu terima kasih nggak, udah untung diberi.”&lt;br /&gt;”Lho saya nggak minta diberi kok.”&lt;br /&gt;”Ngapain kamu didepan rumahku sambil baw map ?”&lt;br /&gt;”Kami Cuma numpang istirahat kok.”&lt;br /&gt;”Sudah dikasih nggak berterima kasih, eh malah sok menaehati. Pakai alasan istirahat lagi. Padahal minta sumbangan.”&lt;br /&gt;”Saya ’kan sudah bilang saya nggak minta diberi, mas sendiri yang mau memberi.”&lt;br /&gt;”Udah kak, kita pergi aja.”&lt;br /&gt;”Tunggu, terus kamu mintanya berapa ?”&lt;br /&gt;”Trima kasih mas, lebih baik seribu perak ikhlas daripada seratus ribu tapi tidak ikhlas. Permisi.”&lt;br /&gt;”Dasar cewek blagu, sombong.”&lt;br /&gt;”Udah kak, masuk.”&lt;br /&gt;Dua kakak beradik perempuan yang mencri sumbangan itu bernama Arin dan Frida. Mereka tinggal disebuah panti asuhan. Mereka adalah anak yang tertua, sehingga mereka merasa bertnggung jawab atas adik-adiknya. Sedangkan dua pemuda kakak beradik yang berada didalam mobil itu bernama Ryan dan Fiko. Mereka memang seorang artis tapi belum begitu terkenal. Mereka memang suka jahil dan tidak terlalu senang pada orang minta sumbangan.&lt;br /&gt;”Dasar orang sombong, baru jadi artis saja sudah kayak gitu. Bagaimana kalau jadi presiden lebih parah.”&lt;br /&gt;”Udahlah kak, jangan diributkan terus. Hari ini sudah ya kita pulang saja.”&lt;br /&gt;Sedangkan dirumah Ryan dan Fiko.&lt;br /&gt;”Kakak dari tadi ngomel terus, nggak capek ?”&lt;br /&gt;”Gimana nggak ngomel Fik, masih muda sudah minta-minta sumbangan. Apa nggak malu, mereka ’kan masih punya tenaga, kemampuan.”&lt;br /&gt;”Udah dech kak. Nggak ada gunanya, lebih baik kita ke kafe. Disana kakak bisa nglupain masalah cewek itu.”&lt;br /&gt;”Tapi kita ’kan baru sampai masa udah mau pergi lagi.”&lt;br /&gt;”Biar aku saja yang nyetir, kalau kakak capek.”&lt;br /&gt;”Ya sudah kakak mau mandi dulu.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka berangkat ke kafe. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Arin dan Frida.&lt;br /&gt;”Itu bukannya cewek yang tadi.”&lt;br /&gt;”Yang mana kak.”&lt;br /&gt;”Itu yang pakai baju putih dan pink.”&lt;br /&gt;”Ya kak benar. Kenapa ?”&lt;br /&gt;”Kamu diam saja, nanti juga tahu.” Saat mobil Ryan berada disamping, ia membuk kaca jendelanya. ”Duh, kasihan jalan kaki. Makanya kerja, jangan bisanya hanya minta sumbangan.”&lt;br /&gt;Arin merasa geram tapi ia mencoba menahan emosinya.&lt;br /&gt;”Mau marah ya.”&lt;br /&gt;Emosi Arin sudah tidak bisa ditahan. Tapi Frida segera menarik tangan kakaknya dan pergi.&lt;br /&gt;”Kenapa sih hrus ketemu dia lagi.”&lt;br /&gt;”Kakak jangan terpancing. Coba kalau kakak tadi marah-marah ntar bisa malu dilihat banyak orang.”&lt;br /&gt;”Sekali lagi bertemu, aku akan benar-benar marah.”&lt;br /&gt;Mereka sampai dipanti asuhan, betapa terkejutnya mereka dua orang paro baya yang tampaknya pasangan suami istri hendak mengambil salah satu adik mereka. Disatu pihak mereka merasa senang karna beban mereka sedikit berkurang, tapi dipihak lain mereka merasa sangat kehilangan karna harus kehilngan salah satu anggota keluarga mereka.&lt;br /&gt;”Bagimana nak Arin.”&lt;br /&gt;”Saya terserah anaknya saja bu.”&lt;br /&gt;”Gimana Lessy, kamu mau ?”&lt;br /&gt;”Saya ............”&lt;br /&gt;“Lessy, ini kesempatan baik. Mungkin dengan bersama mereka kamu bisa hidup lebih baik.”&lt;br /&gt;”Tapi kak, saya ingin tetap disini.”&lt;br /&gt;”Maaf bu, pak. Anda dengar sendiri. Lessy tidak mau.”&lt;br /&gt;”Saya mohon dan saya sangat berharap anda bisa membujuk Lessy.”&lt;br /&gt;”Maaf bu, kami tidak bisa memaksa mereka. Mungkin akan lebih baik jika ibu dan bapak menjadi donatur kami. Dan bapak ibu bisa datang kemari kapan saja untuk menjenguk Lessy.”&lt;br /&gt;”Jika itu yang terbaik saya setuju.”&lt;br /&gt;”Benarkah bu, terima kasih banyak.”&lt;br /&gt;”Kalau begitu kami permisi dulu. Mari.”&lt;br /&gt;”Mari.”&lt;br /&gt;Setelah pasangan suami istri itu pergi. Mereka mulai bersih-bersih rumah dan ada sebagian yang memasak.&lt;br /&gt;”Kak Arin !”&lt;br /&gt;”Ada apa Da ?”&lt;br /&gt;”Hari ini kita belum belanja. Semua bumbu dapur habis.”&lt;br /&gt;”Ya sudah. Biar kakak yang belanja.”&lt;br /&gt;”Aku ikut ya kak.”&lt;br /&gt;Mereka berangkat belanja. Sampai dijalan mereka bertemu Ryan dan Fiko lagi, sepertinya baru keluar dari diskotik.&lt;br /&gt;”Kak itu ’kan orang yang ngasih sumbangan seribu perak.”&lt;br /&gt;”Iya. Lihat aja tuh gayanya, bisanya Cuma menghambur-hamburkan uang. Keluar masuk diskotik, minum-minuman keras yang kayak gitu kok digemari. Coba fans mereka tahu.”&lt;br /&gt;”Kita pergi ya kak daripada nanti ribut lagi.”&lt;br /&gt;”Tunggu sebentar.” Arin menghampiri Ryan dan Fiko.&lt;br /&gt;”Cewek ini lagi. Mau minta sumbangan lagi.”&lt;br /&gt;”Hei denger ya, kami kesini bukan mau minta sumbangan lagi tapi mau kasih tahu kalian, kalau kalian ini seorang artis yang menjadi publik figur, banyak anak-anak remaja yang mencontoh kalian. Kalau contohnya saja seperti ini mau jadi apa negara kita.”&lt;br /&gt;”Eh, apa urusanmu, ini uang-uangku sendiri. Hasil keringatku sendiri. Ngapain kamu ikut campur. Daripada kamu bisanya minta sumbangan, kerja donk kerja !”&lt;br /&gt;”Kamu .......”ucap Arin sedikit geram.&lt;br /&gt;”Apa ?”&lt;br /&gt;”Udah kak kita pulang aja.”&lt;br /&gt;”Awas kamu ya.”&lt;br /&gt;”Permisi,” ucap Frida sambil tersenyum pada Fiko. Fiko membalasnya dengan senyuman. ”Udah kak.”&lt;br /&gt;”Kenapa sih harus ketemu dia lagi.”&lt;br /&gt;Ryan dan Fiko masuk kedalam mobil. Mereka hendak pulang kerumah. Tapi ditengah jalan mereka mengalami kecelakaan. Untunglah mereka bertemu dengan Arin dn Frida yang pulang dari belanja. Karna temapt kecelakaan tidak jauh dari panti asuhan mereka. Fiko dan Ryan dibawa ke panti asuhan. Meski tidak sempat setuju, tapi akhirnya Arin setuju juga.&lt;br /&gt;Ryan dibawa kedalam kamar Arin. Sedangkan Fiko tidak apa-apa, lukanya tidk terlalu parah. Dengan sedikit canggung Arin membersihkan luka Ryan. Ryan masih pingsan mungkin karna benturan dikepalanya. Tak lama kemudian dokter datang, setelah memeriksa Ryan, dokter berkata kalau Ryan tidak apa-apa hanya sok dan tidak ada luka dalam. Dan tidak perlu dirawat dirumah sakit.&lt;br /&gt;”Kalau begitu saya permisi dulu.”&lt;br /&gt;”Trima kasih dok. Mari saya antar.” Fiko dan Frida mengantar dokter sampai kedepan pintu. Kemudian mereka masuk kembali. Fiko membantu Frida dan adik-adiknya didapur. Sedangkan Arin masih dikamar bersama Ryan.&lt;br /&gt;”Kalau-dipikir-pikir memang benar apa kata dia, aku harus bekerja. Tapi aku bisa apa aku ’kan Cuma lulusan SMP,” kata Arin dalam hati sambil memandang Ryan. ”Dia mungkin memang beruntung dengan modal tampang dan sedikit kemampuan berakting ia sudah bisa jadi artis. Sedangkan aku, tampang pas-pasan ditambah nggak punya keahlian. Mau jadi apa ?”&lt;br /&gt;”Kak, makanannya sudah siap. Yuk makan.”&lt;br /&gt;”Iya. Kalian dulu aja.”&lt;br /&gt;”Mulai besok aku harus cari kerja.” Arin menarik selimut sampai menutupi dada Ryan. Ia pergi meninggalkan Ryan sambil membawa air hangat bekas kompresan.&lt;br /&gt;Sampai saat makan malam selesai, Ryan belum juga sadar. Setelah makan malam, Arin memanaskan air dan membuat bubur. Kemudian membawa buburnya kekamar Ryan. Perlahan-lahan ia membangunkan Ryan. Ryanpun mulai membuka matanya.&lt;br /&gt;”Ini aku buatkan bubur, kamu makan dulu. Ini juga ada teh manis untuk minum obat. Aku mau sholat dulu.”&lt;br /&gt;”Tunggu dulu.” Ryan memegang tangan Arin.&lt;br /&gt;Arin berhenti dan memandang kearah Ryan.&lt;br /&gt;”Maaf.: Ryan melepaskan tangan Arin. ”Aku Cuma mau mengucapkan trim kasih.”&lt;br /&gt;”Kita bicarakan nanti saja. Saya mau sholat dulu.” Arin keluar dari kamar. Ryan hanya memandang kepergian Arin.&lt;br /&gt;Diteras depan Fiko dan Frida duduk berdua sambil ngobrol. Mereka membicarakan mengenai kakak-kakaknya.&lt;br /&gt;”Memangnya kalian sudah sering ya minta-minta sumbangan kayak tadi siang.”&lt;br /&gt;”Nggak sich, baru dua hari kami menjalani kegiatan itu. Sebenarnya dulu di panti asuhan ani ada ibu Ajeng tapi sekarang beliau sudah meninggal. Ya ...... terpaksa kami yang bertanggung jawab atas anak panti. Kami ’kan yang tertua.”&lt;br /&gt;”Memangnya ada berapa anak.”&lt;br /&gt;”Kalau tidak salah ada 15 orang.”&lt;br /&gt;”Kak Arin nggak coba cari kerja.”&lt;br /&gt;”Sudah pernah sekali tapi ditolak. Kak Arin jadi takut nyoba lagi. Jaman sekarang lulus SMP bisa kerja apa ? plingan juga pembantu rumah tangga.”&lt;br /&gt;”Kenapa enggak, selama itu pekerjaan baik dan halal.”&lt;br /&gt;”Tapi ...........”&lt;br /&gt;”Kamu nggak usah khawatir, nanti biar aku bicara sama kak Ryan. Kak Arin biar kerja dirumah kami.”&lt;br /&gt;Mereka terus asyik ngobrol. Sedangkan Arin yang sudah selesai sholat masuk lagi kekamar Ryan.&lt;br /&gt;”Kalau sudah selesai makannya, kamu bisa langsung mandi. Aku udah siapin air hangat,” ucap Arin sambil membereskan piring dan gelas hendak dibawa kedapur.&lt;br /&gt;”Kita bisa bicara sebentar.”&lt;br /&gt;”Boleh. Silahkan !”&lt;br /&gt;”Aku mau minta maaf soal yang pagi tadi.”&lt;br /&gt;”Aku udah maafin. Aku juga salah minta maaf.”&lt;br /&gt;”Aku juga mau ngucapin trima kasih.”&lt;br /&gt;”Sama-sama. Trima kasih juga atas saranmu.”&lt;br /&gt;”Maksudmu ?”&lt;br /&gt;”Aku sadar, seharusnya aku berusaha untuk mencari kerja. Tapi ......... aku tak punya keahlian yang bisa dibanggakan.”&lt;br /&gt;”Kak Arin nggak perlu khawatir. Saya dan kak Ryan mau kok mempekerjakan kak Arin,” kata Fiko dari balik pintu.&lt;br /&gt;”Maksudnya apa ?”&lt;br /&gt;”Begini kak, Fiko dan kak Ryan mengizinkan kakak bekerja dirumah mereka sebagai pembantu rumah tangga.”&lt;br /&gt;”Apa ? maaf tapi saya menolak pekerjaan itu.”&lt;br /&gt;”Kenapa kak, itu ’kan pekerjaan halal ?”&lt;br /&gt;”Da, tolong ngertiin kakak. Kakak memang membutuhkan pekerjaan tapi .........”&lt;br /&gt;”Mungkin maksud Fiko tidak begitu.”&lt;br /&gt;”Udah bicaranya diteruskan nanti saja. Sebaiknya kamu mandi dulu. Saya harus ngajar adik-adik ngaji.”&lt;br /&gt;”Rin, tunggu.” Ryan turun dari temapt tidur.” Jika kamu nggak kerja dirumahku. Aku bisa carikan kerja buat kamu atau mungkin kamu dan adik-adikmu bisa tinggal dirumah kami dan bantu-bantu bibi.”&lt;br /&gt;”Maaf, tapi saya tetap tidak bisa. Permisi.”&lt;br /&gt;”Rin tunggu. Aku belum selesai bicara.”&lt;br /&gt;”Udah kak, jangan dikejar.”&lt;br /&gt;”Mungkin kak Arin akan lebih setuju kalau kak Ryan dan Fiko jadi donatur dipanti asuhan ini.”&lt;br /&gt;”Iya kak. Itu ide bagus.”&lt;br /&gt;”Boleh juga.”&lt;br /&gt;Keesokan harinya Fiko dan Ryan pulang kerumah mereka. Saat Ryan pulang, Arin tidak tahu karna saat itu ia sedang melamar pekerjaan. Ia berhasil dan diterima disebuah restoran sebagai pelayan.&lt;br /&gt;Sejak saat itu Ryan dan Fiko menjadi donatur dipanti asuhan yang dikelola Arin dan Frida. Setiap kali datang kepanti untuk memberikan sumbangan Ryan tidak pernah bertemu Arin karna saat itu Arin sedang bekerja. Tapi sebaliknya hubungan Frid dan Fiko semakin dekat. &lt;br /&gt;Sepulang dari syuting, Fiko dan Ryan berhenti di sebuah retoran. Disana mereka bertemu dengan Arin.&lt;br /&gt;”Lho kak, bukannya itu kak Arin.”&lt;br /&gt;”Mana ? Iya benar itu memang Arin.”&lt;br /&gt;”Kak Arin !” panggil Fiko. Arin menoleh dan mendatngi orang yang memanggilnya. Ia merasa bingung.&lt;br /&gt;”Kak Arin lupa. Ini saya Fiko dan ini kak Ryan.”&lt;br /&gt;”Fiko dan Ryan ? Oh ya saya ingat. Yang waktu itu pernah berantem soal sumbangan.”&lt;br /&gt;”Iya. Maklumlah dua tahun nggak ketemu.”&lt;br /&gt;”Mau bagaimana lagi setiap kali keanti nggak pernah ketemu, sambung Ryan.&lt;br /&gt;”Ya......aku ’kan ikutin saranmu, oh ya gimana kabarnya gekarang.”&lt;br /&gt;”Kak Ryan udah tunangan, rencananya minggu depan nikah.”&lt;br /&gt;”Oh ya! Terus Fiko sendiri.”&lt;br /&gt;”Kalau Fiko sich, masih minta restu dulu sama kamu.”&lt;br /&gt;”Maksudnya?”&lt;br /&gt;”Kamu belum tahu, Fiko sama Frida sudah lama...............”&lt;br /&gt;”Sssssssstt.........................”&lt;br /&gt;”Kamu mau nikah sama Frida?”&lt;br /&gt;Fiko hanya mengangguk sambil tersenyum malu.&lt;br /&gt;”Kamu sendiri gimana Rin?”&lt;br /&gt;”Aku ............ aku belum ada calon.”&lt;br /&gt;”Kak, sekarang ’kan aku udah dapet restu dari kak Arin. Gimana kalau pestanya gabung sama kak Ryan.”&lt;br /&gt;”Boleh juga.”&lt;br /&gt;Seminggu kemudian persiapan pesta pernikahan Ryan, Frida dan Fiko selesai. Para Mempelai tampak begitu bahagia. Arin pun ikut bahagia. Meski ia sudah keduluan adiknya. Tapi Arin memang belum punya pikiran sampai kesitu, karena ia masih memiliki tanggungan yang sangat berat. Ia masih harus mengurusi adik-adiknya. Lagipula memang belum ada yng bisa menyentuh hati Arin. Meski sempat ia suka dengan Ryan, tapi sekarang ia sudah menjadi milik orang lain. Banyak yang harus dilakukannya bukan harus terlena dalam kesedihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-8883809413785092958?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8883809413785092958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8883809413785092958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/cinta-sebatas-impian.html' title='Cinta Sebatas Impian'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-7676726854117016208</id><published>2010-03-14T05:51:00.002-07:00</published><updated>2010-03-14T05:52:14.226-07:00</updated><title type='text'>If I didn't love you</title><content type='html'>Bandara Juanda hari itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa petugas kebersihan sibuk berlalu lalang. Kereta dorong berjajar rapi. Beberapa taksipun berbaris memanjang diluar pagar. Tak banyak orang yang menjemput tak banyak pula yang datang.&lt;br /&gt;Sebuah tas ransel hitam bersandar dipunggungku. Tanganku menenteng dua buah tas plastik yang berisi barang-barang kecil dan hadiah untuk yang dirumah. Langkahku terasa ringan seolah tak ada beban yang menggelandang diotakku. Hatiku bahagia. Senyumanpun tersungging dibibirku.&lt;br /&gt;Aku berjalan keluar pagar, memanggil sebuah taxi. Dan bersamanya aku dibawa menuju tujuanku, kampung halamanku. Rumahku. Istanaku. Begitu lelah badan terasa, akupun tak kuasa menahan kantuk hingga aku tertidur didalam taxi. Entah berapa lamanya. Aku terbangun, saat aku mendengar keramaian jalan yang tak biasanya. Ku coba mencari penyebabnya. Dan ternyata seorang wanita muda, yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri di atap gedung.&lt;br /&gt;”Apa yang akan ia lakukan disana ” pikirku. Ku hentikan gerakan sopir yang mengemudikan taxi. Taxipun berhenti, aku tertarik dengan kejadian menegangkan ini. Bahkan jalananpun sempat macet beberapa saat karenanya.&lt;br /&gt;Seorang pria paruh baya juga terlihat diatas sana. Tepat dibelakang wanita muda itu. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tak berapa lama, wanita muda itu memeluk pria paruh baya. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak soraipun membahana.&lt;br /&gt;”Hah ........ akhirnya. Dasar, orang-orang yang tak berpendidikan,” keluhku.&lt;br /&gt;”Itulah hidup, mas. Mereka ga pernah bisa berfikir jauh tentang masa depan.” &lt;br /&gt;Aku tak mengerti apa yang dimksudkan sopir itu. Taxi terus berjalan, menyusuri jalan raya. Tiba-tiba saja bayangan itu muncul dalam benakku. Gadis berambut panjang, berkulit putih dan yang memiliki senyuman manis. Ya .............. dia kekasihku, kekasihku yang hampir 3 bulan kutinggalkan untuk merantau ke kota.&lt;br /&gt;”Ah seperti apa dia sekarang. Pasti ia tampak lebih cantik.”&lt;br /&gt;”Mas, mau berhenti dimana ?”&lt;br /&gt;Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;”Saya berhenti disini saja ,” ucapku.&lt;br /&gt;Setelah kubayar tagihan argo, taxi itu meninggalkn aku. Tak lama aku menunggu, sebuah angkutan lewat dihadapanku. Akupun masuk kedalamnya dan meminta sopir angkutan mini bus mengantarkanku ke depan rumahku.&lt;br /&gt;Bayangan itu terus menghantuiku, membuatku bersemangat melewati setiap jengkal tanah meski merasa badan masih terasa lelah. Lagi-lagi kupandangi dua buah tas plastik yang ada ditanganku. Satu,akan aku berikan padanya, dan yang satu untuk adikku. &lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Emaaa ............k ! kakak pulang,” teriak adikku menghambur ke dalam rumah.&lt;br /&gt;”Assalamu’alaiku,” ucapku, menyapa orang-orang yang ada didalam rumah.&lt;br /&gt;”Waalaikusalam,” balas emak dan yang lain.&lt;br /&gt;Emak langsung saja memeluk dan menciumiku. Terlihat sekali kebahagiaan dan keharuan karena kedatanganku.&lt;br /&gt;” Gimana kabarmu le,” tanya emak dengan logat jawanya.&lt;br /&gt;”Baik-baik, emak sendiri pripun kabare.”&lt;br /&gt;”Apik, semuanya baik.”&lt;br /&gt;Orang-orang yang ada dirumahku itu menyalamiku satu persatu. Mereka membiarkanku untuk beristirahat sejenak. Terdengar seorang diantara mereka menyesalkan karena tidak bisa menjemputku.&lt;br /&gt;Ah rasanya sudah tak sabar,aku ingin bertemu dengan Putri, seperti apa dia sekarang. Ah ......... iya, besok dia ’kan ulang tahun. Pasti dia kaget banget waktu lihat aku.&lt;br /&gt;Hari telah berganti petang, keinginanku semakin besar untuk menemuinya. Aku sudah rindu sekali padanya. Tapi perasaan ini harus ku tahan sampai esok hari.&lt;br /&gt;Malam itu, aku berbagi cerita tentang kehidupanku di rantauan dengan antusias dan seksama meraka mendengarkannya setiap alur ceritaku. Bahkan sesekali mereka merasa kasihan dengan kehidupankuyang sulit, tapi seger berubah suasana kesedihan itu dengan cerita-cerita lucu yang kualami.&lt;br /&gt;Malam semakin larut, mereka sadar diri untuk memberikanku waktu istirahat. Setelah mendengarkan ceritaku mereka mohon pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Fajar telah menyingsing, semburat merah menghiasi cakrawala. Para petani memulai pekerjaan mereka di sawah. Anak-anak sekolah, berangkat menuntut ilmu bergerombol dan bersama.&lt;br /&gt;Secerah pagi hari itu, hatiku bahagia, berbunga. Semangat dalam diriku memaksaku untuk segera bangun. Melupakan kelelahan dan keletihan karna perjalananku jauh. Hanya demi dia, Putri, kekasih hatiku yang telah lama kutinggalkan. Rindu yang bergejolak dalam relung hati akan segera terobati.&lt;br /&gt;Jam dinding rumahku menunjukkan angka delapan dan dua belas. Masih pagi, itu berarti masih jam delapan. Saat yang tepat untuk memberinya sebuah kejutan dan mengajaknya jalan-jalan.&lt;br /&gt;Dengan mengendarai sepeda motor milik kakakku, akupun meluncur kerumah Putri. Tak lupa ku bawa sebuah bungkusan yang berpita merah untuknya sebagai kado ulang tahun. Tentunya kado itu tak seberapa dengan kedatanganku yang pastinya adalah kado terindahnya,&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, aku tiba dirumah Putri. Sepi, tak ada keramaian seperti orang-orang yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Perlahan kulewati setiap jejak langkahku. Tak asing bagiku keadaan seperti ini. Dulu, aku sering melewtinya setiap pagi, siang, sore bahkan malam.&lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba didepan rumah Putri. Belum sempat aku mengetuk pintu, terdengar derap langkah dari dalam rumah. Pintupun terbuka. Entah apa yang aku lihat saat itu, aku tak percaya. Badanku lemas, bungkusan berpita merah itu lepas dari tanganku. Sebuah halilintar menyambar tubuhku saat itu.&lt;br /&gt;Seorang wanita tengah bergelayut manja dipundak seorang pria. Merek sama-sama ke kenal. Putri adalah wanita itu kekasihku dan Dino, adalah pria itu, teman baikku bahkan terbaikku. Sesaat lamanya, tak ada yang berbicara. Kami hanya berpandangan.&lt;br /&gt;”Hai Didi, kapan pulang ?”&lt;br /&gt;Meski hatiku merasa sakit, aku berusaha tetap terlihat baik didepannya. ”Ah  .......... kemarin.”&lt;br /&gt;”Oh .......... ya ! kenapa nggak bilang ?”&lt;br /&gt;”Aku mau kasih surprise, eh ............ malah aku yang dapat surprise.”&lt;br /&gt;”Ah bisa aja.”&lt;br /&gt;Dino hanya diam. Mungkin ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, atau justru ia merasa kesal atas kedatanganku. Putri masih dengan sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah merasa bersalah.&lt;br /&gt;”Oh ya .......... aku mau keluar ma Dino, kamu mau ikut ?”&lt;br /&gt;”Ah .......... enggak. Entar malah ganggu lagi.”&lt;br /&gt;”Ya, udah kita duluan ya.”&lt;br /&gt;”Ati-ati.”&lt;br /&gt;Mereka meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dalam kehancuran. Semua usahaku, semua perjuanganku sia-sia. Harapanku tak terwujud kuambil kembali bungkusan berpita merah itu yang telah lepas dari genggaman.&lt;br /&gt;”Andaikan aku bisa melakukan ini pada Putri. Andaikan aku bisa mengambil Putri yang lepas dari genggamanku,” ucapku lirih.&lt;br /&gt;Tapi, aku berpikir tak akan pernah itu terjadi lagi. Andaipun itu bisa aku akan melakukannya. Kulihat seorang gadis kecil berjalan mendekati motorku. Aku dekati gadis kecil itu dan kuberikan bungkusan berpita merah itu padanya. Ia tersenyum bahagia dan berlari meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih padaku.&lt;br /&gt;”Jika aku tidak mencintaimu, pasti sakit ini tak kurasakan. Jika aku tak mencintaimu hatiku tak akan hancur. Aku takkan pernah meneteskan air mata ini untukmu, untuk cintamu, pengkhianatanmu dan semua tentangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By &lt;br /&gt;D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-7676726854117016208?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7676726854117016208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7676726854117016208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/if-i-didnt-love-you_14.html' title='If I didn&apos;t love you'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-6170450008086058812</id><published>2010-03-14T05:51:00.001-07:00</published><updated>2010-03-14T05:52:12.309-07:00</updated><title type='text'>If I didn't love you</title><content type='html'>Bandara Juanda hari itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa petugas kebersihan sibuk berlalu lalang. Kereta dorong berjajar rapi. Beberapa taksipun berbaris memanjang diluar pagar. Tak banyak orang yang menjemput tak banyak pula yang datang.&lt;br /&gt;Sebuah tas ransel hitam bersandar dipunggungku. Tanganku menenteng dua buah tas plastik yang berisi barang-barang kecil dan hadiah untuk yang dirumah. Langkahku terasa ringan seolah tak ada beban yang menggelandang diotakku. Hatiku bahagia. Senyumanpun tersungging dibibirku.&lt;br /&gt;Aku berjalan keluar pagar, memanggil sebuah taxi. Dan bersamanya aku dibawa menuju tujuanku, kampung halamanku. Rumahku. Istanaku. Begitu lelah badan terasa, akupun tak kuasa menahan kantuk hingga aku tertidur didalam taxi. Entah berapa lamanya. Aku terbangun, saat aku mendengar keramaian jalan yang tak biasanya. Ku coba mencari penyebabnya. Dan ternyata seorang wanita muda, yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri di atap gedung.&lt;br /&gt;”Apa yang akan ia lakukan disana ” pikirku. Ku hentikan gerakan sopir yang mengemudikan taxi. Taxipun berhenti, aku tertarik dengan kejadian menegangkan ini. Bahkan jalananpun sempat macet beberapa saat karenanya.&lt;br /&gt;Seorang pria paruh baya juga terlihat diatas sana. Tepat dibelakang wanita muda itu. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tak berapa lama, wanita muda itu memeluk pria paruh baya. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak soraipun membahana.&lt;br /&gt;”Hah ........ akhirnya. Dasar, orang-orang yang tak berpendidikan,” keluhku.&lt;br /&gt;”Itulah hidup, mas. Mereka ga pernah bisa berfikir jauh tentang masa depan.” &lt;br /&gt;Aku tak mengerti apa yang dimksudkan sopir itu. Taxi terus berjalan, menyusuri jalan raya. Tiba-tiba saja bayangan itu muncul dalam benakku. Gadis berambut panjang, berkulit putih dan yang memiliki senyuman manis. Ya .............. dia kekasihku, kekasihku yang hampir 3 bulan kutinggalkan untuk merantau ke kota.&lt;br /&gt;”Ah seperti apa dia sekarang. Pasti ia tampak lebih cantik.”&lt;br /&gt;”Mas, mau berhenti dimana ?”&lt;br /&gt;Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;”Saya berhenti disini saja ,” ucapku.&lt;br /&gt;Setelah kubayar tagihan argo, taxi itu meninggalkn aku. Tak lama aku menunggu, sebuah angkutan lewat dihadapanku. Akupun masuk kedalamnya dan meminta sopir angkutan mini bus mengantarkanku ke depan rumahku.&lt;br /&gt;Bayangan itu terus menghantuiku, membuatku bersemangat melewati setiap jengkal tanah meski merasa badan masih terasa lelah. Lagi-lagi kupandangi dua buah tas plastik yang ada ditanganku. Satu,akan aku berikan padanya, dan yang satu untuk adikku. &lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Emaaa ............k ! kakak pulang,” teriak adikku menghambur ke dalam rumah.&lt;br /&gt;”Assalamu’alaiku,” ucapku, menyapa orang-orang yang ada didalam rumah.&lt;br /&gt;”Waalaikusalam,” balas emak dan yang lain.&lt;br /&gt;Emak langsung saja memeluk dan menciumiku. Terlihat sekali kebahagiaan dan keharuan karena kedatanganku.&lt;br /&gt;” Gimana kabarmu le,” tanya emak dengan logat jawanya.&lt;br /&gt;”Baik-baik, emak sendiri pripun kabare.”&lt;br /&gt;”Apik, semuanya baik.”&lt;br /&gt;Orang-orang yang ada dirumahku itu menyalamiku satu persatu. Mereka membiarkanku untuk beristirahat sejenak. Terdengar seorang diantara mereka menyesalkan karena tidak bisa menjemputku.&lt;br /&gt;Ah rasanya sudah tak sabar,aku ingin bertemu dengan Putri, seperti apa dia sekarang. Ah ......... iya, besok dia ’kan ulang tahun. Pasti dia kaget banget waktu lihat aku.&lt;br /&gt;Hari telah berganti petang, keinginanku semakin besar untuk menemuinya. Aku sudah rindu sekali padanya. Tapi perasaan ini harus ku tahan sampai esok hari.&lt;br /&gt;Malam itu, aku berbagi cerita tentang kehidupanku di rantauan dengan antusias dan seksama meraka mendengarkannya setiap alur ceritaku. Bahkan sesekali mereka merasa kasihan dengan kehidupankuyang sulit, tapi seger berubah suasana kesedihan itu dengan cerita-cerita lucu yang kualami.&lt;br /&gt;Malam semakin larut, mereka sadar diri untuk memberikanku waktu istirahat. Setelah mendengarkan ceritaku mereka mohon pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.&lt;br /&gt;*                  *                *&lt;br /&gt;Fajar telah menyingsing, semburat merah menghiasi cakrawala. Para petani memulai pekerjaan mereka di sawah. Anak-anak sekolah, berangkat menuntut ilmu bergerombol dan bersama.&lt;br /&gt;Secerah pagi hari itu, hatiku bahagia, berbunga. Semangat dalam diriku memaksaku untuk segera bangun. Melupakan kelelahan dan keletihan karna perjalananku jauh. Hanya demi dia, Putri, kekasih hatiku yang telah lama kutinggalkan. Rindu yang bergejolak dalam relung hati akan segera terobati.&lt;br /&gt;Jam dinding rumahku menunjukkan angka delapan dan dua belas. Masih pagi, itu berarti masih jam delapan. Saat yang tepat untuk memberinya sebuah kejutan dan mengajaknya jalan-jalan.&lt;br /&gt;Dengan mengendarai sepeda motor milik kakakku, akupun meluncur kerumah Putri. Tak lupa ku bawa sebuah bungkusan yang berpita merah untuknya sebagai kado ulang tahun. Tentunya kado itu tak seberapa dengan kedatanganku yang pastinya adalah kado terindahnya,&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, aku tiba dirumah Putri. Sepi, tak ada keramaian seperti orang-orang yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Perlahan kulewati setiap jejak langkahku. Tak asing bagiku keadaan seperti ini. Dulu, aku sering melewtinya setiap pagi, siang, sore bahkan malam.&lt;br /&gt;Akhirnya aku tiba didepan rumah Putri. Belum sempat aku mengetuk pintu, terdengar derap langkah dari dalam rumah. Pintupun terbuka. Entah apa yang aku lihat saat itu, aku tak percaya. Badanku lemas, bungkusan berpita merah itu lepas dari tanganku. Sebuah halilintar menyambar tubuhku saat itu.&lt;br /&gt;Seorang wanita tengah bergelayut manja dipundak seorang pria. Merek sama-sama ke kenal. Putri adalah wanita itu kekasihku dan Dino, adalah pria itu, teman baikku bahkan terbaikku. Sesaat lamanya, tak ada yang berbicara. Kami hanya berpandangan.&lt;br /&gt;”Hai Didi, kapan pulang ?”&lt;br /&gt;Meski hatiku merasa sakit, aku berusaha tetap terlihat baik didepannya. ”Ah  .......... kemarin.”&lt;br /&gt;”Oh .......... ya ! kenapa nggak bilang ?”&lt;br /&gt;”Aku mau kasih surprise, eh ............ malah aku yang dapat surprise.”&lt;br /&gt;”Ah bisa aja.”&lt;br /&gt;Dino hanya diam. Mungkin ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, atau justru ia merasa kesal atas kedatanganku. Putri masih dengan sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah merasa bersalah.&lt;br /&gt;”Oh ya .......... aku mau keluar ma Dino, kamu mau ikut ?”&lt;br /&gt;”Ah .......... enggak. Entar malah ganggu lagi.”&lt;br /&gt;”Ya, udah kita duluan ya.”&lt;br /&gt;”Ati-ati.”&lt;br /&gt;Mereka meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dalam kehancuran. Semua usahaku, semua perjuanganku sia-sia. Harapanku tak terwujud kuambil kembali bungkusan berpita merah itu yang telah lepas dari genggaman.&lt;br /&gt;”Andaikan aku bisa melakukan ini pada Putri. Andaikan aku bisa mengambil Putri yang lepas dari genggamanku,” ucapku lirih.&lt;br /&gt;Tapi, aku berpikir tak akan pernah itu terjadi lagi. Andaipun itu bisa aku akan melakukannya. Kulihat seorang gadis kecil berjalan mendekati motorku. Aku dekati gadis kecil itu dan kuberikan bungkusan berpita merah itu padanya. Ia tersenyum bahagia dan berlari meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih padaku.&lt;br /&gt;”Jika aku tidak mencintaimu, pasti sakit ini tak kurasakan. Jika aku tak mencintaimu hatiku tak akan hancur. Aku takkan pernah meneteskan air mata ini untukmu, untuk cintamu, pengkhianatanmu dan semua tentangmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By &lt;br /&gt;D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-6170450008086058812?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6170450008086058812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6170450008086058812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/03/if-i-didnt-love-you.html' title='If I didn&apos;t love you'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-8375547006052703618</id><published>2010-02-20T16:45:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T16:46:00.304-08:00</updated><title type='text'>pacar atau saudara</title><content type='html'>Pacar atau Saudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari pengajian, Fira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia takut kemalaman sampai dirumah. Tak jauh dari masjid tempat pengajiannya, ia menabrak seseorang. Tempat itu cukup sepi, Fira melihat orang yang ditabraknya. Kemudian ia mengangkatnya kedalam mobil.&lt;br /&gt;“ Alhamdulillah, tidak apa-apa.” Fira mencari dompet pemuda yang ditabraknya. Setelah menemukan alamatnya, Fira mengantarkan pemuda itu kesebuah rumah kontrakannya yang ada dikartu nama pemuda itu.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Pintu tak terkunci, dengan mudah Fira masuk dan membawanya ke dalam kamar pemuda itu.&lt;br /&gt;“ Ya Tuhan, kotor sekali rumah ini.” Fira membaringkan pemuda itu diranjang. Ia kemudian kedapur memanaskan air.&lt;br /&gt;“ Lebih baik aku bersihkan dulu rumah ini, baru aku pulang. Aku harus telephon rumah, agar mereka tak khawatir.”&lt;br /&gt;Setelah menelephon rumahnya, Fira merapikan rumah kontrakan pemuda itu. Ia mengambil baju-baju kotor dan merapikan barang-barang yang berserakan.&lt;br /&gt;Karena kecapaian iapun tertidur disamping pemuda itu. Tak lama kemudian ia terbangun. Saat melihat jam dinding ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Fira mengambil air bekas kompresan. Ia kedapur untuk memasak, tapi tak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Hanya ada satu kardus mie instant.&lt;br /&gt;“ Dasar anak mandiri makannya mie tiap hari.”&lt;br /&gt;Fira keluar rumah. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian yang ditunggu datang.&lt;br /&gt;“ Sayur Neng ?”&lt;br /&gt;“ Iya Bang.” Fira mengambil daging, sayur, tempe, tahu dan kangkung.&lt;br /&gt;“ Berapa bang semuanya ?”&lt;br /&gt;“ Enam ribu lima ratus.”&lt;br /&gt;“ Ini bang, kembaliannya kasih bumbu-bumbu dapur.”&lt;br /&gt;“ Iya. Ini neng, makasih.” &lt;br /&gt;Fira melihat kewarung sebelah, sudah buka. Ia membeli beras 1 kilo. Sampai dirumah kontrakan, ia mulai memasak. Sambil memasak ia membereskan dan bersih-bersih termasuk kamar pemuda itu. Saat masakannya sudah matang, ia ia mencucikan baju dan menjemurnya.&lt;br /&gt;Kini rumah kontrakan pemuda itu sudah bersih dan rapi. Ia menghidangkan masakan diatas meja makan. Ketika masuk kekamar pemuda itu masih juga tidur. Ia menuliskan beberapa kalimat disehelai kertas.&lt;br /&gt;Maaf  tadi malam aku hampir saja menabrakmu.&lt;br /&gt;Untungnya kamu tidak apa-apa. Tapi sepertinya &lt;br /&gt;kamu mabuk dan semalaman kamu terus saja mengigau.&lt;br /&gt;Sebagai permohonan maaf aku sudah menyelesaikan&lt;br /&gt;Semua pekerjaan rumahmu. Dan hariini kamu tidak perlu&lt;br /&gt;makan mie lagi, karena sudah ada nasi dan lauk dimeja makan.&lt;br /&gt;Aku juga mau minta maaf kalau barang-barang aku pindahkan&lt;br /&gt;tidak sesuai dengan seleramu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai menulis, Fira meninggalkan rumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Tapi tanpa sepengetahuannya, kalung liontinnya terjatuh.&lt;br /&gt;Tak lama setelah Fira pergi pemuda itu terbangun. Ia turun dari ranjangnya. Dan tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ia melihat dan mengambilnya. Setelah mengambil kalung itu ia melihat sebuah syrat dimeja. Iapun membaca dan sesekali memperhatikan keadaan kamarnya.&lt;br /&gt;Selesai membaca surat itu ia bergegas kekamar mandi dan menuju meja makan. Pas sekali, tumis kangkung makanan kesukaan pemuda itu. Dengan lahap ia menyantap hidangan dimeja makan. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya tumis kangkung, makanan favoritnya.&lt;br /&gt;“ Fin, Fino ! udah siap belum.”&lt;br /&gt;“ Iya sebentar lagi. Masuk aja.”&lt;br /&gt;“ Wah, tumben-tumbenan nih makan nasi.”&lt;br /&gt;“ Habisnya bosan makan mie terus.”&lt;br /&gt;“ Loe masak sendiri.”&lt;br /&gt;“ Enggak !”&lt;br /&gt;“ Terus.”&lt;br /&gt;“ Tau deh, baca aja tuh surat.” &lt;br /&gt;“ Gila. Loe enak bener.”&lt;br /&gt;“ Iya donk, gue gitu loh.”&lt;br /&gt;“ Udah ah berangkat yuk.”&lt;br /&gt;“ Loe nggak sarapan dulu, enak kok.”&lt;br /&gt;“ Nggak deh makasih.”&lt;br /&gt;“ Ya udah, gue ambil tas dulu.”&lt;br /&gt;“ Cepetan ! Eh Fin, kalung siapa ini.”&lt;br /&gt;“ Miliknya yang buat surat kali.” &lt;br /&gt;“ Yuk. berangkat.” Mereka berboncengan naik motor.&lt;br /&gt;“ O … anak muda itu. Ya …masih gitu-gitu aja. Nggak ada banyak perubahan.”&lt;br /&gt;“ Dia udah tau belum sama kamu.”&lt;br /&gt;“ Belum.”&lt;br /&gt;“ Loe gimana sih setahun lagi kan wisuda. Kalau nggak cepet-cepet ntar keburu hilang disamber orang.”&lt;br /&gt;“ Bisa aja loe.”&lt;br /&gt;“ Eh ……kalau dibilangin. Ngomong-ngomong kapan loe mau ngenalin ama gue.”&lt;br /&gt;“ Gue aja belum kenalan suruh ngenalin kamu.” &lt;br /&gt;“ Maksud gue tunjukin anaknya yang mana.”&lt;br /&gt;“ Soal itu gampang. Ntar kalau gue udah dapetin dia. Takutnya kalau loe juga naksir dia.”&lt;br /&gt;“ Sorry ya gue udah punya lagi.”&lt;br /&gt;“ Siapa ?”&lt;br /&gt;“ Ada deh. Ntar loe juga naksir.”&lt;br /&gt;“ Bisa aja.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka sampai dikampus.&lt;br /&gt;“ Fad, Fadli.”&lt;br /&gt;“ Eh ya, ada apa ?” &lt;br /&gt;“ Katanya loe mau tau cewek idaman gue.”&lt;br /&gt;“ Loe mau kasih tau sekarang ?”&lt;br /&gt;“ Itu lihat.”&lt;br /&gt;Dari arah berlawanan Fira dan seorang temen ceweknya berjalan kearah Fino dan Fadli.&lt;br /&gt;“ Wina maksudmu.”&lt;br /&gt;“ Emangnya namanya Wina.”&lt;br /&gt;“ Kamu belum kenal namanya.”&lt;br /&gt;“ Hai Fad, Wina menyapa Fadli.” Sepertinya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ?” kata Fira dan Fino.&lt;br /&gt; “ Jelas aja kita ‘kan satu kampus.” &lt;br /&gt;“ Oh iya ya.” “Aku permisi dulu. Fadli sampai ketemu dikelas. Aku duluan.”&lt;br /&gt;“ Ya.” Fadli menyahut.” Itu Fin cewek yng loe maksud. Di memang sangat manis.”&lt;br /&gt;“ Bukan, bukan dia.”&lt;br /&gt;“ Terus yang mana kalau begitu ?”&lt;br /&gt;“ Yang satunya. Temennya, bukan dia.”&lt;br /&gt;“ O ……..Fira maksudmu.”&lt;br /&gt;“ Ya ……... tepat sekali.Tak piker kamu naksir Wina.”&lt;br /&gt;“ O ……sekarang aku tahu kamu naksir Wina ya ?” &lt;br /&gt;“ Ah sudahlah, aku masuk kelas dulu.”&lt;br /&gt;“ Eh …….Fadli jawab dulu benar ‘kan?”&lt;br /&gt;Pulang dari kuliah mereka bertenu. Mereka membicarakan soal orang yang membereskan rumah dan memasak untuk Fino.&lt;br /&gt;“ Fin, pinjam kalung liontin itu dong ?”&lt;br /&gt;“ Buat apa ?”&lt;br /&gt;“ Siapa tahu ada informasi pemiliknya.”&lt;br /&gt;“ Nih.”Fino menyerahkan kalung liontin itu.&lt;br /&gt;Fadli membuk aliontinnya. “ Bukannya ini foto bokap loe ?”&lt;br /&gt;“ Coba lihat. Benar, tapi ini bukan nyokap gue.”&lt;br /&gt;“ Jangan-jangan bokap gue kawin lagi.” &lt;br /&gt;“ Nggak mungkin, bokap dan nyokap gue belum bercerai.”&lt;br /&gt;“ Kalau nggak ia selingkuh atau ……….”&lt;br /&gt;“ Ah sudahlah bokap gue nggak mungkin nglakuin hal-hal yang seperti loe omongin.”&lt;br /&gt;“ Maaf Fin, aku nggak bermaksud gitu.”&lt;br /&gt;Saat sedang asyik ngobrol, Fira dan Wina datang.&lt;br /&gt;“ Hai Fad, asyik bener ngobrolnya gabung donk.”&lt;br /&gt;“ Boleh, “jawab Fadli. Fira dan Fino hanya tersenyum dan saling berpandangan.&lt;br /&gt;“ Ehm……….” Fadli mendehem.&lt;br /&gt;“ Oh ya kenalin ini Fira temen gue.” &lt;br /&gt;“ Fino.” Fino mengulurkan tangan. “Fira.”&lt;br /&gt;“ Fadli.” Fadlipun mengulurkan tangan.”Fira.”&lt;br /&gt;“ Nah sekarang gimana kalau kita ke mall.”&lt;br /&gt;“ Mau ngapain ?”&lt;br /&gt;“ Ya ngapain kek, makan-makan atau apalah.”&lt;br /&gt;“ Boleh, yuk.”&lt;br /&gt;Mereka berangkat pergi ke mall dengan mengendarai motor. Wina membonceng Fadli dan Fira membonceng Fino. Dengan sedikit canggung Fira berpegangan pada Fino. Fino pun tersenyum-senyum sendiri. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Fino, cewek yang selama ini ia idam-idamkan berboncengan dengannya dan berpegangan. Fino sedikit ngebut hingga Fira terpaksa berpegangan erat mendekap Fino. Fira tak banyak berkomentar, ia sedikit takut.&lt;br /&gt;Mereka semakin dekat, hampir setiap hari mereka jalan bareng. Suatu hari Fino ngajak Fira ke rumah kontrakannya.&lt;br /&gt;“ Sepertinya aku pernah kesini deh ?”&lt;br /&gt;“ Benarkah, kapan ?” &lt;br /&gt;“ Kapan ya. Aku lupa.”&lt;br /&gt;“ Ya udah masuk yuk. Mungkin kamu hanya lewat.”&lt;br /&gt;“ Nggak aku yakin pernah kesini.”&lt;br /&gt;“ Duduk dulu biar aku ambilin minum.”&lt;br /&gt;“ Sekarang aku ingat, beberapa hari yamg lalu akuseorang pemuda mabuk. Dan kalau tidak salah ia tinggal disini.”&lt;br /&gt;“ Masa sih. Apa kamu memasak untuk pemuda itu, mencuci pakaian dan membereskan pekerjaan rumah yang lainnya.”&lt;br /&gt;“ Ya benar, kok kamu tahu ?”&lt;br /&gt;“ Soalnya pemuda itu aku.” &lt;br /&gt;“ Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja. Lagian waktu itu kamu ‘kan sedang mabuk.”&lt;br /&gt;“ Ya. Waktu itu aku sedang punya masalah.”&lt;br /&gt;“ Memangnya kamu selalu melarikan masalah ke minuman keras. Masalah berat apa yang kamu alami ?”&lt;br /&gt;“ Sebenarnya enggak juga. Waktu itu aku belum mendapat kiriman uang dari orang tua, padahal biaya kuliah sudah menumpuk.”&lt;br /&gt;“ Kenapa kamu lebih memilih kontrak daripada tinggal sama orang tua ?”&lt;br /&gt;“ Suasana rumah nggak enak semenjak adikku, menghilang. Entah kami dikatakan kembar atau kakak adik karena adikku lahir tujuh hari setelah aku lahir, itupun dengan operasi caesar.”&lt;br /&gt;“ Kok bisa begitu ya. Ah sudahlah, kamu mau aku masakin nasi dan lauk seperti waktu itu ?”&lt;br /&gt;“ Nggak usah. Kita makan diluar aja.” &lt;br /&gt;“ Kenapa masakanku nggak enak ya.”&lt;br /&gt;“ Bukannya begitu. Aku seneng banget sama masakanmu, enak. Apalagi tumis kangkung itu makanan favorit aku.”&lt;br /&gt;“ O…….ya sudah kita berangkat sekarang aja.”&lt;br /&gt;Mereka menuju warung dekat rumah kontrakan Fino.&lt;br /&gt;“ Oh ya Fir, apa ini kalungmu ?”&lt;br /&gt;“ Ya Tuham akhirnya ketemu juga. Aku mencarinya kemana-mana. Ternyata ada sama kamu.”&lt;br /&gt;“ Itu aku temuin dikontrakan aku. Mungkin jatuh malam itu saat kamu nolong aku.”&lt;br /&gt;“ Makasih ya. Ini berharga banget bagiku.”&lt;br /&gt;“ Apa foto itu…………..” belum sempet Fino selesai bicara handphone Fira berbunyi.” &lt;br /&gt;“ Sebentar ya Fin. Hallo……..”&lt;br /&gt;“ Apa mungkin dia adikku. Itu tidak mungkin terjadi aku ………aku sangat mencintainya, tapi dikalung itu ada foto papa. Lebih baik aku Tanya pada papa.” Kata Fino pada dirinya.&lt;br /&gt;“ Fin, sorry ya aku lupa kalau hari ini ada janji sama Wina. Apa kamu mau ikut ?”&lt;br /&gt;“ Nggak usah, aku juga mau pergi ke suatu tempat.”&lt;br /&gt;“ Ya sudah aku duluan ya ?”&lt;br /&gt;Mereka tak jadi makan, Fira pergi mengantar Wina kepemakaman sedang Fino menemui ayahnya untuk minta penjelasan.&lt;br /&gt;“ Fino, kamu kok sudah pulang ini ‘kan masih hari Rabu ? Ada apa nggak biasanya.”&lt;br /&gt;“ Mama nggak seneng ya Fino pulang ?”&lt;br /&gt;“ Bukannya begitu.”&lt;br /&gt;“ Oh ya ma, papa mana ?”&lt;br /&gt;“ Ada dikamar, kamu temenin papa duluya, mama mau ke apotik.”&lt;br /&gt;Fino segera kekamar ayahnya.&lt;br /&gt;“ Fi…Fino ! …ini ka……kamu nak!”&lt;br /&gt;“ Iya pa ini Fino. Fino datang kesini karena Fino ingin minta penjelasan dari papa.”&lt;br /&gt;“ Penjelasan apa Fin ?” Tanya papa Fino agak terbata-bata.&lt;br /&gt;“ Siapa wanita ini pa ? apa dia simpanan papa ?”&lt;br /&gt;“ Dari mana kamu dapat foto ini.”&lt;br /&gt;“ Papa nggak perlu tahu. Sekarang jawab pa, siapa wanita ini.” &lt;br /&gt;“ Wanita itu bernama Aprilia.”&lt;br /&gt;“ Apa ? kenapa papa tega sekali mengkhianati mama, padahal selama ini mama selalu setia menemani dan merawat papa.”&lt;br /&gt;“ Tunggu dulu Fin, dia bukan simpanan papa.”&lt;br /&gt;“ Lalu siapa dia Pa ? katakan.”&lt;br /&gt;“ Dia kekasih papa sebelum papa kenal dengan mamamu.&lt;br /&gt;Kami berdua telah melakukan dosa besar. Papa sebenarnya mau bertanggung jawab. Tapi kakek dan nenekmu menjodohkan papa dengan mamamu. Saat Aprilia tahu dengan perjodohan ini ia datang dan memohon pada kakek dan nenekmu, tapi sayang mereka tetap tak mengizinkan.”&lt;br /&gt;“ Tanpa sepengetahuan kakek, nenek dan mamamu aku menemuinya. Dan dia bisa mengerti. Akhirnya sampai saat mereka melahirkan. Mereka melahirkan dirumah sakit yang sama, anak pertama mamamu……….”&lt;br /&gt;“ Kenapa pa, anak pertama mama itu aku ‘kan ?”&lt;br /&gt;“ Bukan Fin, bukan kamu. Anak pertama mamamu meninggal, ia lahir tanpa kaki. Dan saat itu pula Aprilia melahirkan bayi mungil. Ia merelakan bayinya kami ambil, tapi setelah ia tahu kalau mamamu melahirkan seorang bayi ia meminta agar anaknya dikembalikan. Tanpa sepengetahuan mamamu, papa mengembalikan bayi mungil itu, tapi ia bersikeras bahwa bayinya adalah perempuan padahal sebenarnya adalah laki-laki yaitu kamu.” &lt;br /&gt;Fino merasa seluruh badannya lemas. Ia tak bisa membayangkan betapa marah dan bencinya Fira pada dirinya.&lt;br /&gt;“ Maafkan papa Fin, papa tidk bermaksud………….”&lt;br /&gt;“ Terima kasih atas penjelasannya pa. salam buat mama.”&lt;br /&gt;“ Fin, Fino ! Tunggu Fin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*          *           *          *           *          *         *           *                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kita kesini mau cari makam siapa Win ?”&lt;br /&gt;“ Makam nyokap gue.”&lt;br /&gt;Setelah cukup lama mencari akhirnya ketemu juga.&lt;br /&gt;“ Sebelum nyokap gue meninggal, beliau berpesan agar aku mencari saudaraku dan ayahku dan jangan sampai aku membenci mereka.”&lt;br /&gt;“ Tapi yang aku tahu selama iini kamu tidak punya saudara. Bukankah kamu sendiri yang bilang dulu, kalau ibu kamu tidak melahirkan lagi dan dan kamu tidak punya kakak.”&lt;br /&gt;“ Itu benar tapi kata ibu, bukan saudara kandung tapi saudara seayah beda ibu.”&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian, Wina berdo’a dan menabur bunga dimakam ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *          *           *          *           *          *         *           *                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar penjelasan dari ayahnya, Fino mulai menjauhi Fira. Ia merasa sangat bersalah. Setiap kali diajak jalan, Fino selalu menolak bahkan ia selalu menghindar dari Fira.&lt;br /&gt;“ Fin, Fino !” &lt;br /&gt;Meski Fira terus memanggilnya, Fino tak menghiraukan. Ia pura-pura tak mendengar. Mulanya Fira tak marah atau curiga pada Fino, tapi itu sudah terjadi beberapa kali. Akhirnya Fira sudah tidak kuat, ia merasa gelisah. Firapun menemui Fino. Fira menunggu Fino didepan kelasnya.&lt;br /&gt;“ Fin, “panggil Fira.” Fira, “sahut Fino.&lt;br /&gt;“ Ya, sini aku bicara sebentar.” Fira menarik tangan Fino.”&lt;br /&gt;“ Mau bicara apa lagi ?” &lt;br /&gt;“ Pokoknya aku mau bicara ini penting sekali.”&lt;br /&gt;“ Iya. Tapi lepasin jangan kayak gini.”&lt;br /&gt;Mereka pergi ke taman disamping kampus.&lt;br /&gt;“ Kamu mau bicara apa Fir ?” Tanya Fino sedikit acuh.&lt;br /&gt;“ Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu Fin. Apa kamu nggak ngerasa bersalah sedikitpun setelah apa yang kamu lakukan selama ini ?”&lt;br /&gt;“ Fira hanya diam dan tertunduk.”&lt;br /&gt;“ Fin, kenapa sih kamu sulit sekali ditemuin, aku resah dan gelisah aku takut kehilanganmu, kamu tak menyapa tak menghubungi bahkan kau menghindar dariku.” &lt;br /&gt;“ Apa maksudmu Fir ?”&lt;br /&gt;“ Kenapa kamu belum mnegerti juga. Aku mencintaimu Fin, apakah kau tak mencintaiku. Katakana Fin, kamu jangan hanya diam saja, jawab Fin, Fino !”&lt;br /&gt;“ Fino berdiri.” Aku juga mencintaimu Fir. Tapi………”&lt;br /&gt;“ Tapi kenapa ?”&lt;br /&gt;“ Karna ……..karna kamu adikku.”&lt;br /&gt;“ Apa maksudmu.” &lt;br /&gt;“ Maafkan aku Fir, seharusnya aku tidak merebut, tidak menggantikan posisimu untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungmu.”&lt;br /&gt;“ Aku nggak ngerti apa maksudmu Fin.”&lt;br /&gt;“ Kalung yang kamu pakai ini adalah bukti kalau kamu itu adalah saudaraku. Didalam liontin kalung ini ada foto orang tuamu ‘kan dan ayahmu ini adalah ayahku juga.” &lt;br /&gt;“ Kalung ini bukan milikku Fin.”&lt;br /&gt;“ Kamu jangan bohong Fir, kalau bukan kalungmu kenapa kamu merasa sangat kebingungan kehilangan kalung ini.”&lt;br /&gt;“ Duduk dulu Fin. Kalung ini sebenarnya adalah kalung Wina. Wina memberikannya padaku. Dan soal foto yang didalam liontin ini aku nggak tahu karna aku nggak pernah buka liontin ini.” &lt;br /&gt;“ Itu benar kak Fino. Aku memberikannya karna aku merasa dekat dengan Fira. Ia sudah kuanggap seperti saudara, ”ucap Wina yang sudah mendengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;“ Wina !” ucap Fira dan Fino serempak.&lt;br /&gt;“ Wina, maafkan aku. Sekarang pulanglah tinggallah bersama kami, ayah, ibu sudah menunggu.” Fino memeluk Wina.&lt;br /&gt;“ Tidak kak, aku tidak pantas tinggal bersama kalian.”&lt;br /&gt;“ Kakaklah yang tidak pantas tinggal disana. Kakak telah merebut posisimu dikeluarga itu. Kembalilah Win, biar kakak yang pergi,” Fino melepaskan pelukannya dan membalikan badan.&lt;br /&gt;“ Tidak kak, kita akan kembali bersama-sama.” &lt;br /&gt;“ Wina, kamu tidak membenci kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kak Fino adalah saudaraku, aku tidak akan membenci saudara sendiri,” mereka berpelukan kembali.&lt;br /&gt;“ Nah sekarang kamu tetep mau jadikan aku saudaramu atau mau jadikan pacarmu.”&lt;br /&gt;“ Ya pacar dong.” Fino melepaskan pelukan dari Wina.&lt;br /&gt;“ Teerus bagaimana nasibku.” Fadli yang dari tadi merasa diacuhkan, angkat bicara.&lt;br /&gt;“ Karna mereka sudah jadian, kita jadian aja.” &lt;br /&gt;Saking bahagianya, Fadli menggandeng Wina. Fira dan Fino tertawa melihat tingkah laku Fadli dan Wina.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-8375547006052703618?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8375547006052703618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8375547006052703618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/pacar-atau-saudara.html' title='pacar atau saudara'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-3387985453842533431</id><published>2010-02-20T16:44:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:44:29.235-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB SATU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari mulai muncul di ufuk timur. Burung – burung bertengger di atas pohon, bernyanyi menyambut datangnya pagi. Angin segar berhembus perlahan menggoyangkan dedaunan dan rumput – rumput hijau yang masih basah karena guyuran air hujan semalam.&lt;br /&gt;Meski dingin merasuk sampai ke tulang, semangat menghadapi UAN membuat semua terasa segar dan menyenangkan. Keceriaanpun terpancar dari wajah Dastya, siswi SMP Negeri 2 Ponorogo. Tak terbersit kecemasan ataupun kepanikan dari wajahnya. Telah tiga kali ujian semacam ini ia lakukan dan hasilnya selalu memuaskan.&lt;br /&gt;Satu yang selalu jadi penyemangat belajarnya, Elga. Juga siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Ponorogo teman sekelas Dastya. Sudah hampir 2 tahun ini dia menyukainya. Dia selalu ingin terlihat baik di depan Elga. Bahkan ia sering menyembunyikan ketakutan dalam mengerjakan ujian try out.&lt;br /&gt;Namun sayang semua itu hanya dipendamnya dalam hati. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;Dan, hari ini dia akan kembali bertemu dengannya dalam keadaan yang berbeda. Dalam keadaan yang cukup menegangkan&lt;br /&gt;”Hallo Tya, kamu tenang amat sich.”&lt;br /&gt;”Ya aku harus kenapa?”&lt;br /&gt;”Kamu kok ga’ panik, takut apa cemas lah minimal.”&lt;br /&gt;”Ya....klo aku Cuma nurutin perasaan, aku ga’ bakalan berhasil ngerjain soal, kan pikirannya jadi terganggu.”&lt;br /&gt;”Bener juga sich.”&lt;br /&gt;”Ya udahlah, masih da cukup waktu untuk belajar.”&lt;br /&gt;”Yah....kalau gini mah ga’ bakalan masuk otak.”&lt;br /&gt;”Kenapa enggak. Ya buat ngefresin lagi yang semalam. Pasti ada yang lupa kan.”&lt;br /&gt;Bel berdenting. Waktu ujian pun dimulai. Hening. Semua cermat dan berkonsentrasi pada soal mereka. Meski sesekali menoleh ke kanan, kiri dan belakang untuk mencari jawaban.&lt;br /&gt;Dan begitulah terjadi selama tiga hari. Rasa tenang pun hadir dalam tiap hati siswa siswi. Walaupun mereka masih cemas dan takut akan hasil yang diperoleh.&lt;br /&gt;Hari – hari pun berlalu, menunggu kepastian kelulusan. Dastya nampaknya tidak lagi memikirkan Elga. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya masuk ke sekolah menengah atas.&lt;br /&gt;Dan akhirnya hari yang ditunggu pun datang. Halaman depan SMP Negeri 2 Ponorogo dipenuhi oelh siswa – siswinya. Papan bercat biru yang berdiri tegak menjadi pusat perhatian. Mereka berdesak – desakan mendekati papan yang akan menjadi saksi bisu hasil belajar mereka selama tiga tahun terakhir. Dengan langkah tenang dan santai diimbangi gejolak dalam hatinya ia mencoba menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh tubuh – tubuh manusia di depan papan pengumuman itu. Diletakkannya jari telunjuk di papan dan menariknya perlahan ke bawah. Namun wajahnya tampak tak secerah sebelumnya. Entah apa yang membuatnya begitu. Padahal namanya tertulis jelas berada di baris teratas.&lt;br /&gt;”Ga ! yo cepetan........ lama banget sich.”&lt;br /&gt;”Iya.....iya sebentar tho tak parkirin motorku dulu”&lt;br /&gt;Elga dan Wahyu, temannya . bergabung bersama yang lain untuk melihat pengumuman. Disana ia berpapasan dengan Dastya.&lt;br /&gt;Dastya yang mendengar suara Elga, menoleh. Saat itu Elga dan Dastya berpandangan sejenak. Merasa ada sesuatu yang aneh, Dastya segera memalingkan mukanya . ”Permisi.” ucapnya sambil meninggalkan Elga. Elga hanya diam melihat kepergian Dastya.&lt;br /&gt;”Ga !”&lt;br /&gt;”Eh ...... napa Yu ?”&lt;br /&gt;”Namamu mana ? kok ga’ da.”&lt;br /&gt;”Masa sich. Jangan bercanda.”&lt;br /&gt;”Coba cari kalau ada.”&lt;br /&gt;Dengan ketakutan, Elga maulai mencoba mancari. Tak lama kemudian. ”Beneran Yu, ga’ ada . gimana nich aku ga’ lulus dong.”&lt;br /&gt;”Ya aku juga ga’ tau. Kalaupun ga’ lulus pastinya kan juga ditempel disini. Kamu kelas 3D kan ?”&lt;br /&gt;”Iya bener, tapi ....ini kan cuma......”&lt;br /&gt;  ”Berarti ........”&lt;br /&gt;”Pasti ada yang nyobek.” ucap mereka bersamaan.”&lt;br /&gt;  Elga dan Wahyu mencoba mencari anak kelas 3D. Dan benar saja satu lembar kertas HVS ada ditangan mereka.&lt;br /&gt;”Sini aku lihat. Gila ya kalian, kalau ketahuan guru pasti dimarahi. Tinggal berapa hari lagi aja, masih suka bikin kesalahan. Tinggalin dong kesan baik baik anak 3D.”&lt;br /&gt;”Alah gaya loe, Ga ...Ga.... Hebat juga loe, bisa ada dibaris pertama.”&lt;br /&gt;”Ye .... nomor absen gue kan emang nomor satu.”&lt;br /&gt;”Bukan itu, ni lihat peringkatnya.”&lt;br /&gt;”Ya ...... emang satu sich, tapi kan kalu dibanding ma kelas yang lain nilaiku paling bawah.”&lt;br /&gt;”Yo wislah ...... ke kantin yuk.”&lt;br /&gt;”Kamu yang bayarin ya.”&lt;br /&gt;”Enak aja ya bayar sendiri dong, lha wong makannya aja sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;”Tya lagi ngelamunin apaan sich.”&lt;br /&gt;”Ha ...... enggak. Sapa yang nglamun.”&lt;br /&gt;”O ...... aku tahu, kamu pasti lagi ngelamunin Elga ya, jangan bohong dech. Dari tadikan kamu ngeliatin bangkunya Elga.”&lt;br /&gt;”Enggak ...... ah .... ”&lt;br /&gt;”Aku saranin ya, kalau kamu suka ma dia burun diomongin ntar keburu ga’ ketemu lagi lho. Ntar nyesel lho.”&lt;br /&gt;”Enggak ! apaan sich.”&lt;br /&gt;”Ye ...... jangan marah gitu dong.”&lt;br /&gt;”Tya, selamat ya kamu yang jadi peringkat pertama. By the way mu ngelanjutin ke mana ?” ucap Elga&lt;br /&gt;“Ha …. Makasih. Nggak tau masih pilih – pilih.”&lt;br /&gt;”Ya udah. Duluan ya.”&lt;br /&gt;”Ya.”&lt;br /&gt;”Tu kan, pasti dia diam – diam juga suka ma kamu coba kalau ga’ mana mungkin dia perhatian kayak gitu.”&lt;br /&gt;”Udahlah Nin, ga’ usah dibahas. Kamu mau pulang ga’.”&lt;br /&gt;”Biar aku yang omongin ya. Kalau diem – dieman kayak gini ga’ bakalan ketahuan Ga ......! Elga !”&lt;br /&gt;”Ssst .....apaan sich.”&lt;br /&gt;”Ya ..... iya gitu az.”&lt;br /&gt;”Emang kenapa sich Tya, kamu susah banget tinggal ngomong gitu aza. Toh sepertinya dia juga da rasa ma kamu.”&lt;br /&gt;”Ya nggak semudah itu kali Ras. Aku emang suka ma dia, tapi perasaanku mengatakan kalau aku cuma bakalan sakit hati aja.”&lt;br /&gt;”Kok gitu.”&lt;br /&gt;”Iya, Tya kok bisa gitu, kamu kan belum coba.”&lt;br /&gt;”Ya sekarang mana ada sich yang suka ma cewek kayak aku. Lagian banyak kan cewek-cewek yang lebih cantik dan lebih segalanya yang juga suka sama Elga. Pasti dong dia bakalan milih mereka.”&lt;br /&gt;”Kamu kok mikirnya gitu. Emangnya kamu bisa baca pikiran orang .... ya .... kalaupun kamu ga’ secantik mereka, tapi mereka ga’ sepandai dan sebaik kamu. Ya ga’ Nin.”&lt;br /&gt;”100% betul banget.”&lt;br /&gt;”Alah udah ga’ usah ngomongin itu. Gimana ni kalian mau ngelanjutin ke SMA mana ?”&lt;br /&gt;”Kamu sndiri ?”&lt;br /&gt;”Ye ..... ditanya balik nanya. Kalau aku sich maunya ke SMA Negeri 2 yang deket taman kota itu.”&lt;br /&gt;”Kalau kita dah sepakat buat ngelanjutin ke SMKN !, tapi kelihatannya bakalan coba dulu ke SMAN 2 juga.”&lt;br /&gt;”Yap ..... bener banget.”&lt;br /&gt;”Ngomong-ngomong Elga kemana ya ?”&lt;br /&gt;”Iya .... ya kalau ntar sato skul lagi kan pasti bakalan seru. Cinta kan tetap bersemi dihati bila dekat dengan pujaan hati yang selalu hadir dalam mimpi.”&lt;br /&gt;”Cie ..... puitis banget.”&lt;br /&gt;”Udah .... udah. Aku pulang duluan ya.”&lt;br /&gt;”Tya, besok kalau mau daftar kita ikutan ya.”&lt;br /&gt;”Pasti.”&lt;br /&gt;Hanya berselang beberapa hari, mereka bertiga mencalonkan diri sebagai siswa SMAN 2 Ponorogo. Namun sayangnya pada hari pengumuman, ternyata Dastya tidak diterima di SMA favoritnya itu. Dan akhirnya ia harus menuruti orang tuanya. Setelah lulus nanti pastilah Dastya akan memperoleh keterampilan dan kemampuan berusaha, bekerja dan berwirausaha tanpa harus kuliah.&lt;br /&gt;Tanpa ia duga ternyata banyak juga peminat sekolah kejuruan. Anggapannya selama ini bahwa sekolah kejuruan hanya sebuah sekolah yang tidak bergengsi adalah salah. Sebaliknya dari sekolah kejuruan inilah banyak terlahir embrio-embrio pengusaha sukses.&lt;br /&gt;Karena terlalu banyaknya pendaftar, untuk mendapatkan selembar stofmap berisi formulir haruslh berdesak-desakan dan sabar menunggu. Disaat itulah pandangan Dastya beradu dengan salah satu kakak kelasnya oh ..... tidak masih calon kakak kelasnya, yang saat itu bertugas menjual formulir.&lt;br /&gt;Ia pun segera tersadar saat formulir didalam stopmap merah berpindah ketangannya. Dan segeralah ia mengikuti prosedur proses penerimaan siswa baru di sekolah itu.&lt;br /&gt;Dan ...... akhirnya diterimalah dia sebagai salah satu siswi SMKN 1 Ponorogo. Masa Orientasi Siswa (MOS) harus ia jalani sebelum ia benar-benar menjadi murid sekolah kejuruan itu.&lt;br /&gt;Selama seminggu penuh ia mengikutinya. Gertakan, cacian, perintah, larangan dan semuanya yang telah diatur oleh pengurus OSIS haruslah ditaati. Namun semuanya itu nampaknya tak membuat Dasty tertekan. Ia justru tenang-tenang saja menghadapi semuanya, apalagi kakak kelas yang waktu itu dilihatnyaselalu tampil di lapangan.&lt;br /&gt;Perasaannya pun berpindah ke lain hati, bila ia dulu menambatkan hatinya pada Elga, kini berubah arah. Ketenangan dan sifat pendiam kakak kelasnya itu membuat Dastya perlahan melupakan Elga. Diam-diam dia suka memperhatikan kakak kelasnya itu. Pernah suatu kali ia berpapasan dengan kakak kelasnya itu.&lt;br /&gt;”Siang kak.”&lt;br /&gt;”Siang. Kamu nak kelas satu apa ? ngga’ penting jawabannya. Ini kak bisa minta tolong ga’. Bilangin ke kak Aprilia di tunggu kak Bantoro di kantin ya ..... makasih.”&lt;br /&gt;”Eh .... kak, kak Aprilia kelas berapa ?&lt;br /&gt;”Udah kamu cari aja di ruang OSIS pasti ada.”&lt;br /&gt;Bantoro, kakak kelas Dastya itu meninggalkannya dan menuju ke kantin. Dastya pun menyampaikan pesan kakak kelasnya itu.                 &lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;BAB DUA&lt;br /&gt;Hari semakin cerah saja. Semangatpun terus bertambah. Meski lemas badan terasa, menahan amarah. Karena perut yang terus berontak dan berteriak minta diisi. Namun bila teringat akan hadirnya hari kemenangan yang tinggal menghitung waktu, lupalah semua perasaan itu.&lt;br /&gt;Satu hal yang membuatnya bahagia hari itu. Ayah Dastya memberinya sebuah teman mungil. Banyak diantara temannya yang telah memiliki, tapi sepertinya tak ada rasa ’greget’ dalam hatinya untuk memilikinya juga. Karena ia berfikir pastilah akan ada dampak buruk yang akan diterima bila teman mungilnya itu ada bersamanya&lt;br /&gt;”Tya, kamu mau pegang handphone ?”&lt;br /&gt;”Ngga’ usahlah pak, aku kan ga’ bisa pake. Lagian juga kan Cuma satu ntar kalau temennya bapak mau apa-apa trus hpnya tk pegang kan pasti repot.”&lt;br /&gt;”Ya ... ntar kan bisa minta bantuan mbak Sri atau kalau ngga’ bapak ajarin. Beberapa hari yang lalu bapak nemuin hp dijalan. Nih ..... juga udah bapak service bisa dipake.”&lt;br /&gt;”Terus caranya ?”&lt;br /&gt;Akhirnya mau ga’ mau diterima juga hp itu. Seneng juga sebenarnya ketia ia mendapatkannya.&lt;br /&gt;”Awas aja nanti kalau nilainya turun.”&lt;br /&gt;”Insya Allah enggak dech bu.”&lt;br /&gt;”Ya udah kamu coba, beneran dah bisa belum.”&lt;br /&gt;Dastya pun masuk ke dalam kamarnya. Mencoba mengoperasikan dan bermain dengan teman mungilnya itu. Karena tak tau nomor siapa yang akan pertama kali ia hubungi, akhirnya ditekan saja asal-asalan nomor yang ada di handphonenya.&lt;br /&gt;Serangkaian nomor cantik yang mudah dihafalpun, berulang kali ia coba. Lama tak ada tanggapan ia pun berhenti.&lt;br /&gt;”Hah ..... males amat kalau kayak gini mending juga baca buku.”&lt;br /&gt;Malamnya ia coba lagi dan terus hingga esok dan esok harinya lagi. Hingga akhirnya saat ia mulai jenuh. Bernyanyilah teman mungilnya itu.&lt;br /&gt;”Halo ...” Terdengar suara dari seberang&lt;br /&gt;”Halo juga.” Sahut Dastya yang kemudian dimatikan.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, terdengar lagi bunyi handphonenya. Sebuah pesan singkat muncul dilayar kacanya. &lt;br /&gt;”Hai cewek, ni sapa ya. Blz&lt;br /&gt;Dastya pun membalasnya :&lt;br /&gt;Hai juga ni sapa ya. Blz&lt;br /&gt;Cowok ganteng + cakep. Kamu ditanya kok balik nanya. Blz&lt;br /&gt;Masa sich jangan bohong. Cakepnya kayak apa? Lez&lt;br /&gt;Ya udah kalau ga’ percaya, kamu pasti bakalan naksir aku kalau kamu dah tau aku  &lt;br /&gt;Ye ..... GR kalau kamu cowok ganteng + cakep pasti punya nama dong&lt;br /&gt;Namaq Roger. Kamu itu lho ditanya dari tadi ga’ mau jawab. Nanya melulu.&lt;br /&gt;He .... he ... namaq Novi. Eh … kamu beneran Roger ya Roger Danuarta bukan ? Aku fans berat kamu lho. Kenapa ko’ kemarin Q telp ga’ diangkat sich.&lt;br /&gt;Sorry, kemarin Q lagi jumpa fans di Surabaya. Jadi ga’ sempet sms juga.&lt;br /&gt;Dastya :&lt;br /&gt;Surabaya sebelah mana ? Q ko’ ga’ tau. Cz Q kan lagi di Surabaya juga di rumah nenek aq. Q kan ga’ pernah ketinggalan gosip tentang km lho. Film kamu juga aku pasti lihat.&lt;br /&gt;Lama tak ada balasan dari si Roger. Dastya pun pergi ke dapur membantu ibunya. Dan sorenya terdengar lagi nyanyian si mungil.&lt;br /&gt;”Hallo”&lt;br /&gt;”Hallo juga, ni dengan siapa ya.”&lt;br /&gt;”Kan aku dah bilang namaq Novi.”&lt;br /&gt;Novi, kamu lagi dimana ?”&lt;br /&gt;”Yah .... kamu ini punya daya ingatan yang lemah ya.”&lt;br /&gt;”Ya .... ga’ pa-pa dong ku kan pengen denger suaramu.”&lt;br /&gt;”Eh ..... maaf ya, aku harus siap-siap soalnya mau pulang ke Ponorogo. Tu dah dipanggil ma ibu. Dah dulu ya.”&lt;br /&gt;Dastya meninggalkan hpnya dan ke kamar mandi. Bersiap untuk takbiran keliling nanti malam.&lt;br /&gt;”Dastya !”&lt;br /&gt;”Ya bu. Ada apa ?”&lt;br /&gt;”Kamu rapikan mejanya ya nanti kalau dah selesai mandi, trus sekalian di seterika bajunya buat besok.”&lt;br /&gt;”Ya bu !”&lt;br /&gt;Selesai mandipun Dastya segera menyelesaikan tugas dari ibunya. Dan semuanya selesai sebelum adzan maghrib berkumandang. Teman mungil Dastya kembali bernyanyi.&lt;br /&gt;”Halo Nov.”&lt;br /&gt;”Halo juga. Da pa, belum juga selesai adzan maghrib.”&lt;br /&gt;”Enggak Cuma mau nanya dah sampai mana.”&lt;br /&gt;”Baru sampai depn pagar.”&lt;br /&gt;”O .... ya udah, ati-ati ya di jalan.”&lt;br /&gt;”Iya ....  makasih.”&lt;br /&gt;Selang beberapa jam kemudian, hp Dastya bergetar. Pesan singkat kembali memenuhi layar. Ternyata dari Roger lagi&lt;br /&gt;Met malam Nov, lagi di jalan ya. Mau kan perjalanannya ditemenin, pasti mau dong, mana ada sich yang mau nolak ajakan cowok cakep. Ya ga’. Blz.&lt;br /&gt;I dih .... tapi ga’ pa-pa juga sich. Eh .... coba dong lihat atap rumahnya ada yang bolong ga’. He .... he .... 100x&lt;br /&gt;Kamu masih sekolah atau kuliah atau kerja. Blz&lt;br /&gt;Aku masih sekolah kelas 1 SMA. Ada lagi yang mau di tanyakan&lt;br /&gt;Untuk hari ini cukup itu az. Sekli lagi aku pesenin jangan tidur malam-malam n hati-hati di jalan.&lt;br /&gt;Iya mas Roger. Perhatian amat kayak cowok aq az. &lt;br /&gt;Btw ngomong soal cowok dah punya cowok pa blm. Blz.&lt;br /&gt;Emang kenapa. Q masih terlalu kecil buat pacaran. Belum boleh juga ma ortu. Btw kapan lagi main film. Sekarang ko’ dh jarang masuk tv. Atau lagu kuliah ya.&lt;br /&gt;Ga’ juga, Cuma belum ada job z. Beneran ni, Q juga lagi jomblo lho. Kamu mau ga’ jadi cewek aq.&lt;br /&gt;Yang bener az. Km kan belum kenal ma aq. Kalau bercanda yang bagusan dikit dong.&lt;br /&gt;Siapa yang bercanda. Nah .... karena kita belum saling kenal kita ketemuan yuk.&lt;br /&gt;Boleh sich, tapi lihat ntar az.&lt;br /&gt;Ya udah up to you. Aq tidur dulu ya, dah malam bgt. Besok kan harus bangun pagi buat sholat id.&lt;br /&gt;Karena tak ada balasan dari Roger, Dastya segera menyelimuti dirinya. Memejamkan mata, berkelana ke dunia impian&lt;br /&gt;Keesokan harinya sebelum adzan subuh, Dastya sudah bangun. Seperti biasa ia harus membantu ibunya mempersiapkan semua. Sayangnya kali ini dia tidak bisa mengikuti sholat id yang hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun itu.&lt;br /&gt;Disaat semua sedang ke masjid, Dastya dirumah sendiri. Menyiapkan makan pagi untuk orang tua dan adiknya jika mereka pulang dari masjid nanti. Dan berselang beberapa waktu kemudian mereka pulang. Sebagai mana kebiasaan umt islam, merekapun bersilaturrahmi ke rumah nenek dan kakek terlebih dahulu barulah ke rumah tetangga.&lt;br /&gt;Sepertinya kebahagiaan Dastya hari itu masih kurang. Karena ia tak bisa bersilaturrahmi ke rumah kakek dan neneknya yang ada di luar kota.&lt;br /&gt;Malamya, teman mungil Dastya kembali bernyanyi. Nampaknya dari Roger lagi.&lt;br /&gt;”Hallo...”&lt;br /&gt;”Halo Novi, minal ’aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Maafin kesalahan-kesalahanku ya.”&lt;br /&gt;“Minal aidzin wal faizin juga. Sama-sama kita saling memaafkan.”&lt;br /&gt;”Nov. Gimana kamu jadi ketemu ga’ ma aku.”&lt;br /&gt;”Ha .... gimana ya. Lagian ini juga dah malem, mana boleh aku keluar pa lagi ni lagi ramai-ramainya.”&lt;br /&gt;”Ya terus gimana dong. Masa kamu mau aku penasaran.”&lt;br /&gt;”Gimana kalau kita ketemunya di scol az. Sekalian kan ntar pasti banyak juga fans-fans kamu di scol aq.”&lt;br /&gt;”Aq ga’ mau ketemu di scol, aku maunya sekarang.”&lt;br /&gt;”Ya aku beneran ga bisa. Udah dulu ya ada tamu.”&lt;br /&gt;”Nov ......”&lt;br /&gt;  Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya Dastya keburu menutup telephonnya. Ia pun lebih memilih mengirim pesan singkat karena rasa bersalahnya.&lt;br /&gt;Maaf, Q dah bikin kamu kecewa. Tapi sejujurnya ku takut klo ntar gimana-gimana. Q juga mau jujur satu hal ma kamu klo kemarin tu sebenarnya ku ga’ da di Surabaya. Q juga bukan penggemar berat km tp Q ngefans ma kamu. Maaf ya, Q ga’ da maksud buat ngebohongin kamu. Moga kamu mau maafin aq. &lt;br /&gt;Tak ada balasan dari Roger dan itu membuat Dastya merasa sangat bersalah.&lt;br /&gt;Aq tau pasti gimana rasanya dibohongin karna aku juga ga’ mau dibohongin tapi beneran Q ga da maksud buat ngebohongin kamu. Please maafin q.&lt;br /&gt;Tetep saja tak ada balasan darinya.&lt;br /&gt;Please, setidaknya balas smsku. Biar aku tahu kamu mau maafin aq pa ga’. Kamu boleh marah-marah atau apa.&lt;br /&gt;Hingga malam mulai larut Roger tak juga kunjung membalas sms Dastya. Hati Dastya mulai dipenuhi rasa takut dan bersalah.&lt;br /&gt;Dikirimnya sebuah puisi karyanya sendiri.&lt;br /&gt;Maafin Aku&lt;br /&gt;Betapa hati ini tak bahagia&lt;br /&gt;Mendengar suara merdunya&lt;br /&gt;Benda mungil nan mewah ini&lt;br /&gt;T’lah membantuku&lt;br /&gt;Berkomunikasi dengannya&lt;br /&gt;Dia yang s’lama ini ku idolakan&lt;br /&gt;Yang s’lama ini hadir dalam anganku&lt;br /&gt;Kini menyapaku&lt;br /&gt;Namun karna dustaku&lt;br /&gt;Karna kebodohanku&lt;br /&gt;Ia pergi meninggalkanku&lt;br /&gt;Tak lagi kudengar kesantunan suaranya&lt;br /&gt;Tak lagi kubaca kata-kata manis darinya&lt;br /&gt;Maaf ...................&lt;br /&gt;Maafkan aku&lt;br /&gt;Masih kunantikan maaf darimu&lt;br /&gt;Ku tahu kau bukanlah pendendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga keesokan harinyapun tak juga ada balasan. Dastya pun akhirnya mencoba berbicara pada Roger dengan menelfonnya&lt;br /&gt;”Halo ....”&lt;br /&gt;”Halo ....”&lt;br /&gt;”Maafin yang kemarin ya, Q dah bohong ma kamu tapi beneran Q ga’ da maksud buat bohong.”&lt;br /&gt;Kenapa kamu bohong.”&lt;br /&gt;”Karna ku ga’ tau harus ngomong apa. Tapi kan sekarang Q dah minta maaf, masa kamu ga’ mau maafin aq.”&lt;br /&gt;”Ya udah tak maafin, tapi jangan di ulang lagi ya.”&lt;br /&gt;”Iya .....”&lt;br /&gt;”Bener ....”&lt;br /&gt;”Iya.”&lt;br /&gt;”Janji.”&lt;br /&gt;”Ya janji. Udah dulu ya, makasih ya dah mau maafin aq. Insya Allah ga’ kan Q ulangin.”&lt;br /&gt;Selesai berkata dan mengucapkan terima kasih. Dastya memutuskan hubungan telefonnya.&lt;br /&gt;”Hah ..... lega juga kalau udah gini.”&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Mentari t’lah berganti rembulan. Siangpun t’lah berganti malam. Bintang bertaburan bak permata berkerlipan di hamparan permadani hitam. Katak-katak bernyanyi bersahutan, kunang-kunang berterbangan pengganti cahaya lampu sebagai penerang malam.&lt;br /&gt;Teman mungil Dastya pun mulai bernyanyi lagi. Ternyata pesan singkat dari Roger memenuhi layar.&lt;br /&gt;Met mlm cwek, Gi ngp ? keluar yuk. Masa sich kamu ga’ mau ketemu ma cwok cakep &lt;br /&gt;Pokoknya keluar az ke aloon-aloon kek ntar kita pasti bisa ketemuan ya. Jangan bikin aku penasaran&lt;br /&gt;Aq jadi ragu dech km beneran RD bukan sich.&lt;br /&gt;Btw tawaranq yang kemarin masih berlaku . aq pengen ngenl kamu lebih dekat.&lt;br /&gt;Sekali lagi bukannya apa-apa tapi q ga’ mau ntar kamu kecewa. Lagian kenapa ga’ balik lagi az ma Agnes.&lt;br /&gt;Maksud kamu apa sich. Aq ga’ bakalan kecewa kok. Ya udah klo kamu ga’ mau. Q ga’ maksa.&lt;br /&gt;Kamu marah ya. Maaf, aq bener-bener ga’ mau kamu kecewa klo ntar ketemu ma aq.&lt;br /&gt;Tak ada balasan dari si Roger, kegiatan sms-an mereka berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        bersambung ..........................   (1)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-3387985453842533431?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3387985453842533431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3387985453842533431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_7075.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-5379073664619944488</id><published>2010-02-20T16:42:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:42:55.875-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB SEPULUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dastya masih bergulat dengan perasaannya. Entah siapa yang akan menang nantinya. Siapapun yang menang, itulah yang akan mendasari segala keputusannya.&lt;br /&gt;Seiring bergantinya hari, semakin dekat waktu itu datang, semakin besar pula gejolak perasaan dalam hati Dastya. Dari raut wajahnya, terlihat sekali dia begitu cemas, bingung dan berbagai macam rasa yang lain. Dia masih duduk termenung didepan jendela kamarnya, semilir angin membelai helai-helai rambutnya yang hitam panjang sebahu. Pandangan matanya menerawang jauh ke jalanan.&lt;br /&gt;Saat sedang asyik dalam lamunannya, Dastya dikejutkan dengan deringan handphonenya. Ia meraih teman mungilnya itu.&lt;br /&gt;”Hallo .....” sapanya dengan ragu.”&lt;br /&gt;”Hallo ..... Dastya, ni aku Dewi.”&lt;br /&gt;”Oh ........ aku kira siapa. Nomor baru ya ?”&lt;br /&gt;”Enggak, ini nomernya kakakku.”&lt;br /&gt;”Ada perlu apa ?”&lt;br /&gt;”Ini, Cuma mau ngingetin jadi ’kan buka bersamanya ?”&lt;br /&gt;”Ga’ tau dech.”&lt;br /&gt;”Kok gitu ?”&lt;br /&gt;”Ya kemarin sich aku dah bilang kedia.”&lt;br /&gt;”Terus...........”&lt;br /&gt;”Ya .......... terus suruh aku yang ngatur aza.”&lt;br /&gt;”Bagus dong.”&lt;br /&gt;”Bagus gimana ?! Sekarang aku malah bingung mau digimanain ntar acaranya ?”&lt;br /&gt;”Bingung gimana ?”&lt;br /&gt;”Ya ......... ntar mau ditaruh dimana coba ? aku ’kan ga’ tau mana tempat yang baik, plus makanannya yang enak. Apalagi sebenarnya aku masih belum berani.”&lt;br /&gt;”Kamu ini masih kayak dulu aja sifatnya. Lupain dong, hilangin perasaan kamu yang satu itu. Tinggal berapa hari lagi. Pa kamu mau jadi orang egois, yang cuman mikirin perasaan kamu aja sementara dia ...........”&lt;br /&gt;”Ya sich, kamu emang bener. Tapi aku masih belum bisa. Aku deg-degan banget.”&lt;br /&gt;”Terdengar dari seberang, Dewi tertawa.”&lt;br /&gt;”Kamu kok malah ketawa sich, Wi ?”&lt;br /&gt;”Ya abis kamu sampe segitunya.”&lt;br /&gt;”Bener juga ya.”&lt;br /&gt;”Lha iya, makanya tenang aja kale.”&lt;br /&gt;”Ya udah dech, aku tenang.”&lt;br /&gt;Dewi masih tertawa.&lt;br /&gt;”Kamu kenapa masih tertawa ?”&lt;br /&gt;”Kamu ga’ bisa bilang kalau kamu itu tenang lha wong dari suaranya za masih ..........”&lt;br /&gt;”Ya iya ........... udah ah .........”&lt;br /&gt;”Ye ......... ngambek nich. Ya udah dech .......... gitu aja, da .......”&lt;br /&gt;”Da ..........”&lt;br /&gt;Setelah telephone terputus, Dastya beranjak dari kamarnya. Adzan maghrib telah berkumandang. Saatnya menikmati kebahagiaan dan kenikmatan berbuka puasa.&lt;br /&gt;Hari itu ia menikmati hidangan berbuka seorang diri. Kedua orang tuanya dan adik kesayangannya itu sudah meninggalkan rumh sejak senja. Mereka sedang mempersiapkan atau lebih tepatnya berbelanja untuk menyambut lebaran yang hanya tinggal menghitung hari.&lt;br /&gt;Saat-saat sedang sendiri seperti ini, biasanya Dastya dimanjakan dengan kenangan-kenangan masa kecilnya dulu. Waktu itu, ketika sedang duduk di kels 5 SD, seorang anak laki-laki teman sekelasnya menghampirinya.&lt;br /&gt;”Hai Tya !”&lt;br /&gt;”Hai Rai.”&lt;br /&gt;”Sendirian aja. Mana yang laen ?”&lt;br /&gt;”Ga’ tau, tadi aku ditinggal gitu aza. Kamu juga sendirian ?”&lt;br /&gt;”Ya gitu dech. Lagi males maem.”&lt;br /&gt;”Oh .......”&lt;br /&gt;Mereka terdiam sejenak.&lt;br /&gt;”Tya.”&lt;br /&gt;”Ehm .......”&lt;br /&gt;”Kamu kok ga’ pernah lepas dari senyuman.”&lt;br /&gt;”Ha ........”&lt;br /&gt;”Iya .......... maksudku, tiap saat kamu itu pasti tersenyum.”&lt;br /&gt;”Ya ........ emangnya ga’ boleh.”&lt;br /&gt;”Ya enggak gitu, rasanya aku pengen beli senyum kamu.”&lt;br /&gt;”Ha ........ ha ...........”&lt;br /&gt;”Abisnya senyum kamu itu murah banget.”&lt;br /&gt;”Ha ....... ha ......”&lt;br /&gt;”Kamu kok malah ketawa.”&lt;br /&gt;”Rasanya kakiku nggak nginjek tanah dech.”&lt;br /&gt;”Ha .....?”&lt;br /&gt;”Ha ........ ha .........” mereka ketawa bersama.&lt;br /&gt;”Eh ......... tapi aku serius lho.”&lt;br /&gt;”Aku dua rius malah.”&lt;br /&gt;”Tya, kamu itu orangnya nyenengin banget ya.”&lt;br /&gt;”Maksudnya ?”&lt;br /&gt;”Iya ......... kamu tuh orangnya baek, pinter, ramah, sopan dah gitu murah senyum lagi.”&lt;br /&gt;”Terus .........”&lt;br /&gt;”Terus .......... apa ya .......? banyak banget dech.”&lt;br /&gt;”Makasih .........”&lt;br /&gt;Saat itu sebenarnya Rai mau bilang pada Dastya kalau dia menyukainya tapi entah kenapa ia urungkan niatnya. Ya ...... memang ga’ seharusnya itu ia ucapkan karena mereka memang masih terlalu kecil. Orang bilang itu CIMON alias Cinta Monyet. Tapi Rai tak menyesal menyembunyikan perasaannya. Dalam hatinya ia berjanji, kalau dia belum bisa sepandai dan merasa cocok untuk mendapatkannya dia nggak akan pernah mengungkapkan perasaannya pada Dastya. &lt;br /&gt;Dastya masih tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Seumur hidupnya dia baru dipuji-puji seperti itu. Senyum manis dibibirnya berubah menjadi senyuman hambar antara marah dan geram pada dirinya sendiri. Ia segera memuntahkan makanan dalam mulutnya dan meraih segelas air dingin didekatnya.&lt;br /&gt;Mulutnya menganga, seolah ada asap yang keluar dirongga mulutnya. Bagaimana hal itu tak ia lakukan. Ia baru saja mengunyah beberapa potong cabai. &lt;br /&gt;”Hah ........ hah .......... pedes ......... ah” Dastya marah-marah.&lt;br /&gt;”Sipa sich yang naruh cabai dimasakan gue. Ah ....... pedes banget lagi.” Dastya masih saja ngomel-ngomel. Tak lama kemudian ia senyum-senyum sendiri lagi.    ”Eh ...... bukannya tadi yang masak aku sendiri ya .......... ! Untung tadi aku belum ngeluarin sumpah serapahku. Bisa-bisa senjata makan tuan dong.”&lt;br /&gt;Dastya menghentikan penjelajahannya dalam kenangan-kenangan masa lalunya. Ia segera menyelesaikan berbukanya dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;                            ”Hallo Wi,” sapa Dastya lewat teman mungilnya.”&lt;br /&gt; ”Hallo juga Tya. Ada apa nich.”&lt;br /&gt;”Enggak, kayaknya ga jadi dech bubernya.”&lt;br /&gt;Soalnya dia belum juga SMS aku buat ngabarin dah nyampe belum. Sorry banget ya ........ ”&lt;br /&gt;”Nggak pa-pa kok. Kan bisa ketemu laen waktu lagi ntar.”&lt;br /&gt;”Sekali lagi sorry banget ya ........ ”&lt;br /&gt;”Nggak pa-pa, nyantai aja ma aku.”&lt;br /&gt;”Ya ........ udah ......... met sahur ya ......”&lt;br /&gt;”Iya ........ met sahur juga.”&lt;br /&gt;Meski kelihatannya ia sangat menyesalkan batalnya acara yang udah direncanakan untuk menyambut Roger, namun sebenarnya ada setitik kesenangan dan rasa bahagia karna ia tak jadi bertemu Roger.&lt;br /&gt;Tanpa Dastya sadari, pada dasarnya cepat atau lambat ia juga akan bertemu dengan Roger. Dan ia juga tak seharusnya terus-menerus menghindari pertemuan itu karena itu justru membuat Dastya akan semakin merasa tersiksa dengan perasaannya. Ia akan terus bergulat dengan ketakutannya dan rasa tak percaya dirinya.&lt;br /&gt;Penyakit hatinya itu tak akan pernah sembuh sebelum ia menjalani dan menghilangkan kemungkinan-kemungkinan yang selalu mengganggu pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB SEBELAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan itu semakin nyata. Perlahan, waktu membuktikan keberadaan bayangan itu. Benar-benar hanya tinggal beberapa hari lagi. Rasanya sudah tak sabar ingin melihat seperti apakah bayangan cinta Dastya. Seperti apakah orang yang selama ini dibangga-banggakan Dastya. &lt;br /&gt;Bila waktu dapat diputar lebih cepat, pasti sekarang ini sudah kulakukan agar segera nyata, segera hilang kabut hitam yang menyelimuti keberadaan Roger. Tapi sepertinya Dastya berpikir sebaliknya. Ia ingin waktu berjalan sangat lambat. Sepertinya ia masih belum siap untuk bertemu Roger.&lt;br /&gt;Dan waktu memang berjalan sangat cepat. Hari ini dia akan bertemu ”Roger” nya itu. Semalam mereka sudah saling berkirim sms untuk membuat janji bertemu.&lt;br /&gt;Nov, kapan kita bisa bertemu&lt;br /&gt;Mas maunya kapan ? aku dah ngikut aza&lt;br /&gt;Gimana kalau besok malam aza&lt;br /&gt;Ya udah terserah, jam berapa n dimana ?&lt;br /&gt;Besok aku kasih kabar lagi ya ?&lt;br /&gt;Soale motorku masih dipakai kakakq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah aku tunggu kabarnya besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Malamnya, Dastya mengajak Airin ketempat yang sudah ia sepakati dengan Roger. Dia berfikir kalau ia akan datang lebih awal agar Roger tidak terlalu lama menunggu seperti yang pernah ia lakukan dulu.&lt;br /&gt;Satu jam ia menunggu. Airin mulai ngomel-ngomel. Karena capek mendengar omelan Airin, Dastya akhirnya mengirim pean singkat pada Roger.&lt;br /&gt;Mas jadi ga’ ketemunya. Aq dah nyampe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh kamu ga’bilang dari tadi. Aku ga bisa soalnya motor q dipake kakak q sekarang, kamu kok ga’ bilang tadi.&lt;br /&gt;Ya udah ga pa-pa. Kalo gitu aku pulang aza&lt;br /&gt;Kalau besok siang aku kerumah kamu gimana ?&lt;br /&gt;Terserah mas, tapi mas dah tau rumah q kan ?&lt;br /&gt;Belum, kamu kasih tau alamatnya ya.&lt;br /&gt;Mas tau per4an deket sekolahan itu’kan ? ntar ketemu az. Diutara jalan ada gapura yang tulisannya ”Makam Gujat”. Rumahq timurnya pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada balasan dari Roger, Dastya dan Airin mampir sebentar ke rumah makan. Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Sifat usil Airin kambuh, dia mulai menginterogasi Dastya.&lt;br /&gt;”Ga’ jadi ketemu lagi. Trus kapan dong ?”&lt;br /&gt;”Kamu kenapa sich, uring-uringn gitu. Aku aja tenang-tenang gini.”&lt;br /&gt;”Alah .......... dimulut sich emang bilang tenang tapi dalam hati mbak deg-degan kan ?”&lt;br /&gt;”Bsok siang dia mau kerumah ?”&lt;br /&gt;“What ?”&lt;br /&gt;“Biasa aja dong ga usah pake bahasa Inggris gitu.”&lt;br /&gt;”Apa ?”&lt;br /&gt;”Ye ......... diulangin lagi.”&lt;br /&gt;”Jadi besok siang ? Trus ?”&lt;br /&gt;”Trus apanya ?”&lt;br /&gt;“Ya trus gimana ma ibu ?”&lt;br /&gt;”Ya mau gimana lagi. Aku ga mau ngecewain dia lagi. Yang kemarin-kemarin itu aku dah sangat keterlaluan, makanya sekarang aq bener-bener bakalan ngebelain dia buat ketemu.”&lt;br /&gt;”Yakin ? dah brani ntar ma ibu.”&lt;br /&gt;”Ya ......... palingan ’kan ma ibu Cuma bakalan dikasih nasehat-nasehat aja.”&lt;br /&gt;”Ya ......... ya udah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Sudah sejak pagi tadi, Dastya bersiap-siap. Ia tak mengenakan pakaian baru yang mewah atau memakai make up. Ia justru terliht tak ingin berdandan. Asalkan baginya terlihat pantas.&lt;br /&gt;Sampai menjelang siang, yang ditunggu masih juga belum datang. Akhirnya ia putuskan untuk tidur. Belum sempat memejamkan mata, nyanyian khas terdengar dari siteman mungilnya.&lt;br /&gt;”Hallo .........”&lt;br /&gt;”Ya .......... hallo ......... Nov, sekarang aku dah ada di dekat rumah kamu. Kamu keluar ya ?”&lt;br /&gt;”Ha ........” Dastya berlari keluar rumah. Ia melihat sekeliling rumahnya. ”Mas matikan dulu ya telephonenya.”&lt;br /&gt;”Ya.”&lt;br /&gt;Telephone terputus dan tak lama kemudian Dastya melihat dua pemuda diseberang jalan.&lt;br /&gt;Mas dah bisa lihat ’kan gapura yang aku kasih tau kemarin, mas kesini aza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu keluar aza, temenin aku. Kamu kesini dulu. Cepetan ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah aku kesana tapi tunggu bentar aza ya aku mau ngajakin Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dastya menemui Rina yang ada dibelakang rumahnya. Saat itu dia juga sedang tidur. Dastya membangunkannya dan memaksanya untuk menemaninya menemui Roger.&lt;br /&gt;Dengan malas-malasan Rina bangun dan mencuci muka. Mereka berdua akhirnya menemui Roger yang sudah menunggu bersama seorang temannya. Tapi anehnya mereka masih tetap tidak segera menemui Roger dan temannya. Mereka berkeliling mencari jalan agar tidak terliht secara langsung oleh Roger dan temannya. Dan jalan itu mengantarkan mereka untuk tiba dibelakang tempat Roger dan temannya menunggu.&lt;br /&gt;Mereka berdua masih juga belum menyapa karna saat mereka tiba, Roger sedang menerima sebuah telephone dri seseorang. Justru temannyalah yang terlebih dulu tau.&lt;br /&gt;”Nov ....... Novi ........ sapa Roger setelah selesai menerima telephone.”&lt;br /&gt;Dastya menoleh dan menghampiri mereka. Mereka berjabat tangan dan berbincang-bincang.&lt;br /&gt;”Mas mampir kerumah dulu ya ?”&lt;br /&gt;”Ga’ usahlah Nov.”&lt;br /&gt;”Lho kenapa ? dirumah dah ditunggu ibu.”&lt;br /&gt;”Ga’ usah dech. Tapi dirumah ada siapa ?”&lt;br /&gt;”Cuman ibu sama nenek ya ?”&lt;br /&gt;”Gimana Put, mampir ga’ !”&lt;br /&gt;Yang ditanya tak mengeluarkan suara.&lt;br /&gt;”Mas ’kan dah jauh-jauh dari rumah, masa ga’ mau mampir dulu.”&lt;br /&gt;”Ga’ jauh kok. Deket sini aja.”&lt;br /&gt;”Ayolah mas, ya ....... mampir dulu bentar aza.”&lt;br /&gt;”Gimana ya ? kita langsung pulang aja dech.”&lt;br /&gt;”Rumah kamu yang mana tho ?”&lt;br /&gt;”Itu yang ada pohon mangganya.”&lt;br /&gt;”Kamu duluan kesana ya ?”&lt;br /&gt;”Tapi janji ’kan ntar nyusul ?”&lt;br /&gt;Dastya dan Airin berjalan di depan dan diikuti Roger bersama temannya. Setibanya dirumah, Dastya mempersilahkan mereka untuk masuk. Mereka meneruskan perbincangan yang sempat tertunda.&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian ibuDastya keluar membawa minuman. Neneknya Dastya juga. Mereka berjabat tangan dan berbincang-bincang sejenak.&lt;br /&gt;Sesuai dengan permintaan ibunya, Dastya mengajak Roger dan temannya itu untuk makan. Meski sempat menolak, akhirnya mau ga’ mau mereka makan juga.&lt;br /&gt;”Nov ......” sapa Roger setelah selesai makan.&lt;br /&gt;”Ya .......”&lt;br /&gt;”Apa ini baru pertama klinya kamu dapet tamu cowok.”&lt;br /&gt;”Iya.”&lt;br /&gt;”Bener ? ga’ bohong ’kan ?”&lt;br /&gt;”Enggak. Demi Allah. Emangnya kenapa ?”&lt;br /&gt;”Ya ga’ pa-pa sich.”&lt;br /&gt;”Mas ga’ pengen  ketemu Dewi dulu ?”&lt;br /&gt;”Dewi ?”&lt;br /&gt;”Emm ......... maksudku Ela.”&lt;br /&gt;”Oh ......... aku minta nomornya. Ini ’kan nomor baru jadi ga ada disini. Biar aku telephone dia.”&lt;br /&gt;”Bentar ya.” Dastya masuk kedalam kamarnya. Ini Dastya memberikan  handphonenya.&lt;br /&gt;”Roger mendial nomor Dewi. Mereka terlibat pembicaraan. Terlihat dari arah pembicaraannya, Dewi masih ragu kalau yang menelephonenya adalah Roger.”&lt;br /&gt;”Kok diputus sich.”&lt;br /&gt;”Kenapa mas ?”&lt;br /&gt;”Ga’ tau tiba-tiba diputus.”&lt;br /&gt;”Mas kapan balik lagi ke Jakarta?”&lt;br /&gt;”Senin depan ?”&lt;br /&gt;”Lusa ?”&lt;br /&gt;”Ya .......... sebenarnya aku masuk kerja lagi tanggal 6 tapi aku ambil cuti 2 hari.”&lt;br /&gt;”Jadi cuman seminggu doank ? mas tahun baru pung ga ?”&lt;br /&gt;”Cuman libur 4 hari, capek diperjalanan Nov.”&lt;br /&gt;”Ya sich. Mas Jakartanya sebelah mana ?”&lt;br /&gt;”Jakarta Timur, Pulogadung.”&lt;br /&gt;Saat Roger sedng asyik ngobrol dengan temannya itu, Dastya mendapat sms dari Dewi.&lt;br /&gt;Hai Tya, wah dah ketemuan nich.&lt;br /&gt;Gimana oh ga’ sorry aku ga bia nemenin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar kamu padahl aku pengen ketemu &lt;br /&gt;dia ma kamu. Ok banget Wi. Tadi dy telp&lt;br /&gt;kamu tapi katanya kamu matiin gimana siich ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya ndak pa-pa. Tanpa aq juga dah berjalan ’kan&lt;br /&gt;aku ga matiin loe. Soale nich aq lagi di gunung&lt;br /&gt;dy masih disitu. Suruh telp lagi donk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dastya senyum-senyum sendiri membaca sms dari Dewi&lt;br /&gt;”Nov ..........”&lt;br /&gt;”Aku pulang ya.”&lt;br /&gt;”Ha ....... ? tapi ....... mas masih mau ngobrol nggak ma Dewi, aku dapat sms nich dari dia. Dia bilang, suruh telephone lagi.” Dastya menyerah bukti sms dari Dewi.&lt;br /&gt;”Aku coba ya.”&lt;br /&gt;”Setidaknya ini bisa membuat lebih lama disini,” pikir Dastya.&lt;br /&gt;”Dia ga’ mau angkat. Aku sms aja.”&lt;br /&gt;Dastya kembali menuangkan minuman kedalam gelas Roger dan temannya.&lt;br /&gt;”Ga’ usah Nov, dah cukup.”&lt;br /&gt;“Nggak pa-pa ?”&lt;br /&gt;“Nov, kalau liburan atau hari minggu kemana ?”&lt;br /&gt;”Dirumah ?”&lt;br /&gt;”Dirumah ? ga’ maen.”&lt;br /&gt;”Enggak.”&lt;br /&gt;”Ngapain dirumah.”&lt;br /&gt;”Ya bersih-bersih atau beres-beres.”&lt;br /&gt;”Ga’ kepengen main ?”&lt;br /&gt;”Dirumah udah rame sama adek.”&lt;br /&gt;”Iya iya keponakanmu banyak.”&lt;br /&gt;”Mas, aku ga bisa kasih apa-apa.”&lt;br /&gt;”Kasih apa ?”&lt;br /&gt;”Itu yang kemarin aku bilang mau aku kasih ke mas.”&lt;br /&gt;”Apa sich.”&lt;br /&gt;”Nggak usah dech.”&lt;br /&gt;”Apa sich, kamu mau kasih apa ?”&lt;br /&gt;”Nggak usah dibahas dech, aku malu.”&lt;br /&gt;” Ya udah Nov, kemarin ganti nomor baru kok ga bilang malahan ngirimin sms yang gituan.”&lt;br /&gt;Dastya hanya terdiam. Ia tak berani menatap Roger.&lt;br /&gt;”Nov, kok diem.”&lt;br /&gt;”Kemarin itu, .......... aku .........”&lt;br /&gt;”Waktu itu juga, kamu sulit banget buat diajakin ketemuan. Aku dah nunggu lama banget tapi kamu nggak datang.”&lt;br /&gt;”Waktu itu aku masih belum berani. Aku masih pertama kali kenal sama cowok. Dan aku takut banget kalau ntar ada apa-apa kayak yang di TV-TV itu. Aku juga masih takut ma ibu. Pastinya beliau mikir masih kecil kok pikirannya dah sampe ........... ” Dastya menjelaskannya sambil menundukkan kepala.&lt;br /&gt;” Lha kenapa kita ’kan Cuma temenan.”&lt;br /&gt;Saat mendengar kata ’temen’, Dastya mengangkat kepalanya. Mungkin ia merasakan ada sebuah pisau yang menancap diperutnya.&lt;br /&gt;”Temen ?” tanya Dastya pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;”Tapi bener Nov, aku cowok pertama  yang maen kerumahmu ?”&lt;br /&gt;”Beneran, mas yang pertama.” Nada bicara Dastya mulai malas dan tanpa semangat tidak seperti sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;Meski tadi di awal perjumpaan, mereka sepakat untuk mengatakan kalau Roger hanya temannya saja. Teman satu sekolah dan juga satu kelas. Dia tidak menampakkan kekecewaannya. Ia tetap berusaha bersikap manis, bahkan ia berusaha menahan air matanya saat Roger berbicara lirih, walaupun apa yang dikatakannya tidak terlalu penting ataupun mengharukan.&lt;br /&gt;”Mas, kemarin itu gimana, rumahnya kebanjiran ga’ ?”&lt;br /&gt;”Oh ..... ga’ dech ya kayaknya. Ga parah, gimana Put ?”&lt;br /&gt;Roger meminta tanggapan temannya yang sejak tadi diam&lt;br /&gt;”Ga’ juga. Kemarin itu ga’ parah tapi ga bisa sekolah. Soalnya ya ........ ga bisa lewat.”&lt;br /&gt;”Iya ......... aku dapat kabar dari kamu itu juga lihat di TV. Kalau ada apa-apa kamu sms aku aja ya.”&lt;br /&gt;”Ya.” Suara Dastya tertahan ditenggorokan.&lt;br /&gt;”Ya ? kalau ada apa-apa kamu sms aku.”&lt;br /&gt;Dastya hanya mengangguk. Air matanya sudah menerobos ingin keluar, tapi masih bisa ia tahan.&lt;br /&gt;”Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya.”&lt;br /&gt;”Bentar lagi ya mas, kan masih panas.”&lt;br /&gt;”Aku SMS Dewi dulu kalau gitu siapa tahu dia bisa kesini.”&lt;br /&gt;Sesekali Dastya melihat kearah temn yang dibawa Roger tadi. Pandangannya sinis dan acuh.&lt;br /&gt;”Gimana mas ?”&lt;br /&gt;”Enggak dibales.”&lt;br /&gt;”Oh ya Nov, kemarin kesana sama siapa ?”&lt;br /&gt;”Sama Rina.”&lt;br /&gt;”Naek apa ?”&lt;br /&gt;”Tuh ......... sepeda.”&lt;br /&gt;”Kan jauh Nov, trus kalau sekolah ?” &lt;br /&gt;”Ya sama ..........”&lt;br /&gt;”Kamu ga’ capek. Jauh banget ’kan.”&lt;br /&gt;Dastya hanya tersenyum. &lt;br /&gt;”Itu motor kamu ’kan ?”&lt;br /&gt;Dastya hanya mengangguk.&lt;br /&gt;”Kenapa ga dipakai ?”&lt;br /&gt;”Nggak brani.”&lt;br /&gt;”Lho .......... kalau Dewi kesekolah naik .............”&lt;br /&gt;”Dia naik motor.”&lt;br /&gt;”Nov, .......... kamu mau kasih apa sich sebenere ?”&lt;br /&gt;Dastya hanya tersenyum.&lt;br /&gt;”Nov ........”&lt;br /&gt;” Aku mau ksih mas novel ?”&lt;br /&gt;”Belum jadi ? Trus kapan dong jadinya ?”&lt;br /&gt;”Ga’ tau, mungkin satu bulanan lagi.”&lt;br /&gt;”Setahun lagi dong. Aku ’kan ketemu kamu satu tahun lagi.”&lt;br /&gt;”Ya ......... kalau masih dipertemukan,” ucap Dastya lirih.&lt;br /&gt;”Nov, kok belum selesei sich, kamu kan jarang maen kalau hari libur ?” tapi kamu emang suka ya, hobby bikin kayak gituan hobby baca juga ya.”&lt;br /&gt;Dastya lagi-lagi hanya tersenyum.&lt;br /&gt;”Bagus, aku pikir hobby kamu. Aku tunggu ya novelnya.”&lt;br /&gt;”Ya ......... soalnya butuh inspirasi jadi kadang nulis kadang nggak.”&lt;br /&gt;”Aku sabar menanti kok.”&lt;br /&gt;”Kenapa mas nggak nanya, apa isi novelku. Mas tau, ini novel kita. Sayangnya ternyata semua berakhir pada sebuah pertemanan, ” katanya dalam hati.&lt;br /&gt;”Nov, aku pulang ya. Aku ’kan dah lama disini. Dewi juga ga mau datang. Kalau dia mau kesini aku pasti mu tunggu dia.”&lt;br /&gt;Dastya enggan menganggukkan kepalanya. Ia juga tak mampu mengeluarkan kata ”iya”.&lt;br /&gt;”Nov, ....... aku pulang ya ?”&lt;br /&gt;Kata-kata itu terus terulang dari bibir Roger dan lagi-lagi Dastya tak mampu mengiyakannya.&lt;br /&gt;”Nov, ....... aku pulang ya ? ntar kalau ada apa-apa kamu sms aja ya.”&lt;br /&gt;”Iya udah. Bentar aku panggilkan ibu.”&lt;br /&gt;Roger dan temannya berpamitan pada ibu dan neneknya Dastya. Mereka berjabat tangan lagi, kepada Dastya juga. Dastya mengantarkannya sampai kedepan pagar.&lt;br /&gt;”Nov, maen kerumahku ya. Ntar kamu sms aku kalau dah nyampe biar aku jemput kamu. Sekarang aku pulang dulu ya.”&lt;br /&gt;”Insya allah.”&lt;br /&gt;Roger menyalakan mesin motornya. Sebelum ia pergi ia menyapa Dastya.&lt;br /&gt;”Mari Nov ......”&lt;br /&gt;”Iya.”&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB DUA BELAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu telah berakhir. Penantian selama satu tahun, rasa penasaran, sakit, cinta, sayang dan semuanya terjawab oleh hanya pertemuan hari itu. Begitu singkat, bahkan hanya untuk sekedar berucap, melepaskan segala rasa yang terpendam selama waktu lalu.&lt;br /&gt;Sekarang Roger itu kini telah kembali ke tempatnya semula, kembali pada aktifitasnya sehari-hari. Bekerja disebuah perusahaan di Jakarta. Jauh, jauh sekali. Kesempatan untuk bersama hanya akan terjadi setahun sekali. Dan sayangnya kesempatan yang langka itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Dastya. Semua berjalan sangat cepat.&lt;br /&gt;Sepeninggal Roger, Dastya jjadi seperti orang yang bingung. Ia lebih suka melamun. Mungkin ia menyesali pertemuan singkat itu. Ia menyesal, kenapa dalam waktu yang singkat itu dia tidak mampu menciptakan suasana dan kenangan yang mengesankan. Justru yang ada Dastya dibingungkan oleh perkataan Roger yang ingin meminta penjelasan atas sikap Dastya yang berubah akhir-akhir ini. Dan Dastya sama sekali tak mampu mengeluarkan suaranya. Hanya air matanya yang mencoba untuk menerobos, membelai dan membasahi pipinya.&lt;br /&gt;Satu kebodohan lagi yang ia lakukan, ia tak mengambil gambar Roger, mengabadikannya sebagai kenangan. Ya ....... mungkin ini bisa dimaklumi, karna gugup, panik atau nervous. Kali ini pertamanya ia berdekatan dengan seorang cowok. Apalagi yang menurutnya cowok itu terlalu perfect buat dia.&lt;br /&gt;”Nov, aku pulang ya.”&lt;br /&gt;Kata-kata itu sellu terngiang di telinganya. Dan tanpa ia sadari air matanya kembali menetes. Dan siang itu, di hari pertama dia ditinggalkan Roger. Ia mencoba menghapus kenangan saat pertemuannya, dengan beristirahat siang.&lt;br /&gt;Pertemuan itu terulang kembali dan disaat yang bersamaan Dastya juga melihat Roger menyandang tas ransel dibahunya. Ia dibonceng seorang lelaki paruh baya. Saat itu Dastya ingin sekali mencegah Roger untuk tidak pergi meninggalkannya, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Seperti ada kekuatan yang membuatnya hanya diam terpaku.&lt;br /&gt;Air mata Dastya kembali berlinang, mengalir deras membentuk sungai kecil dipipinya, ketika Roger kenoleh kearahnya dan memberikan senyuman manis sebagai tanda perpisahan. Ia juga tak lupa melambaikan tangan kearah dastya.&lt;br /&gt;”Mas !” Dastya menjerit.&lt;br /&gt;Saat ia membuka matanya, ia sadar bahwa ia ada ditempat tidur. Tak ada Roger, tak ada pula lelaki paruh baya yang membonceng Roger. Semua hanya mimpi, semuanya hanya sebuah bunga tidur untuk Dastya.&lt;br /&gt;”Astaghfirullah. Ya allah, cuman mimpi. Kenapa begitu nyata. Dia meninggalkanku ............ sendiri.” Air mata Dastya terus mengalir. Mimpinya itu selalu membayanginya, mengganggu pikirannya, memacu detak jantungnya. Dan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Ini hari kedua setelah pertemuan itu. Dan Dastya masih juga belum mampu menguasai emosinya. Sekarang ia malahan tak suka berlama-lama didalam kamarnya. Bila dulu ia sering menghabiskan waktunya didalam kamarnya untuk sekedar menyelesaikan novelnya tau mengerjakan PR sekolahnya, kini ia justru enggan untuk masuk kesarangnya sendiri. Mungkin ini semua karna pengaruh mimpinya kemarin.&lt;br /&gt;Dastya juga suka tidur larut malam, ia tidak akan sebelum dan ia juga mulai jarang tidur siang. Ia takut memejamkan matanya walau hanya untuk satu menit saja. Ia selalu berusaha mencari-cari kesibukan agar mampu segera melupakannya.&lt;br /&gt;”Mbak Tya ?”&lt;br /&gt;”Hemm .......”&lt;br /&gt;”Gimana ?”&lt;br /&gt;”Apanya ?”&lt;br /&gt;”Itu lho ......... yang kemarin.”&lt;br /&gt;”Ya gitu.”&lt;br /&gt;”Gitu gimana ? Critain dong.”&lt;br /&gt;”Ga’ mau ah. Salah sendiri kemarin nggak nemenin aku.”&lt;br /&gt;”Ya ............. kok gitu.”&lt;br /&gt;”Tau ah ........... aku pusing.”&lt;br /&gt;”Pasti mikirin dia dech ya ’kan ? ayo ngaku.”&lt;br /&gt;”Aku takut kehilangan  dia Rin. Kamu kemarin lihat sendiri ’kan gimana dia orangnya. Kamu juga pasti dah tau kalau aku ma dia jauh banget. Bagiku dia terlalu perfect. Aku ...........”&lt;br /&gt;”Kambuh lagi ’kan penyakitnya. Kemaren mau ketemu bingung juga.”&lt;br /&gt;”Kamu nggak tau sich Rin, gimana perasaanku.”&lt;br /&gt;”Ya jelas aku nggak tau, semua orang juga ga’ ’kan pernah tau gimana perasaan mbak. Mbak ’kan orangnya terlalu .......... gimana ya ?”&lt;br /&gt;”Aku boleh ’kan berfikir realistis. Berfikir ke masa depan. Berfikir tentang fakta.”&lt;br /&gt;”Ya udahlah terserah.”&lt;br /&gt;”Ibu juga, selalu aja bilang kalau aku ga’ boleh sms duluan. Ntar dikiranya aku yang ngejar-ngejar dia. Padahal dari awal kenalan emang aku yang udah ngejar dia.”&lt;br /&gt;”Ya udah sekarang coba sms aja. Gampang ’kan ?”&lt;br /&gt;”Tapi ........ kalau difikir-fikir ibu emang bener. Kalau dia emang beneran sayang dan serius ma aku, dia pasti hubungi aku duluan. Ah ......... aku bingung, pusing.”&lt;br /&gt;”Emang mbak mau sms apa ? sayang-sayangan, mesra-mesraan gitu ?”&lt;br /&gt;”Aku dari dulu nggak pernah mau kalau diajakin sms yang gituan.”&lt;br /&gt;”Kenapa mbak ga’ coba tanyain dia dah nyampe belum ke tujuan ? atau mbak ingetin dia buat makan, atau apalah.”&lt;br /&gt;”Ntar dia mikirnya mbak perhatian banget setelah tau kalau dia itu ..........”&lt;br /&gt;”Mbak bukannya emang dari dulu, ebelum kalian ketemu selalu perhatian ma dia.”&lt;br /&gt;”Bener juga sich. Tapi .........”&lt;br /&gt;”Udah sini, biar aku aja yang sms. Ntar kalau dibahas, dia emang orang baik.”&lt;br /&gt;”Tapi kalau enggak ?”&lt;br /&gt;”Iya mungkin mbak harus coba buat lupain dia.”&lt;br /&gt;Jari jemari Airin lincah menekan tombol-tombol dan berhasil merangkai kata-kata. Tak lama kemudian mengirimkannya pada nomor Roger.&lt;br /&gt;Mas lagi ngapa ? udah makan belum ?&lt;br /&gt;Oh ya ........ udah nyampe Tujuan ’kan&lt;br /&gt;                                                            Send&lt;br /&gt;Pesan terkirim.&lt;br /&gt;Cukup lama mereka menunggu, tapi balasan belum juga datang. Bip ...... Bip......&lt;br /&gt;Iya ........ aku dah makan. Makasih ya &lt;br /&gt;Ati-ati dirumah, belajar yang rajin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ye ..........” Dastya tampak begitu senang.&lt;br /&gt;”Tu ’kan aku bilang.”&lt;br /&gt;”Aku nggak percaya dibalas smsnya.”&lt;br /&gt;”Nah ......... sekarang dah lega ’kan ?”&lt;br /&gt;”Tapi .........”&lt;br /&gt;”Kenapa lagi ?”&lt;br /&gt;”Apa sms itu bisa jadi bukti kalau dia sungguh-sungguh ma aku ?”&lt;br /&gt;”Ya udah kalau gitu kita telephone aja dia. Minta penjelasan. Diselesaikan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik.”&lt;br /&gt;”Tapi ntar kamu yang ngomong ya.”&lt;br /&gt;”Lho kok ?”&lt;br /&gt;”Aku ga’ brani ?”&lt;br /&gt;”Ntar aku ajarin. Udah cepetan !”&lt;br /&gt;Dastya mendial nomor handphone Roger. Masih seperti dulu suara mbak tut ....... tut ....... tak pernah ia ganti sebgai NSPnya. Ia menghargainya, mungkin ?? lama belum ada juga jawaban.&lt;br /&gt;”Hallo ........” suara dari seberang.&lt;br /&gt;”Rin, dijawab. Aku harus ngomong apa dong ?”&lt;br /&gt;”Hallo ............ Nov ?”&lt;br /&gt;”I .......... iya hallo ......... mas.”&lt;br /&gt;”Ada apa kok tumben telephone.”&lt;br /&gt;“Eng ………. Enggak ………. Aku ……… “&lt;br /&gt;“Kmu mau ngomong apa ?”&lt;br /&gt;“Mas ……… ja …….. jangan marah ........ ya ?”&lt;br /&gt;”Emangnya kamu mau ngomong apa ?”&lt;br /&gt;”Aku ........ a......... aku mau ta .......... tanya ??”&lt;br /&gt;”Iya tanya apa ?”&lt;br /&gt;”Mas ?”&lt;br /&gt;”Iya ........ aku dengerin.”&lt;br /&gt;”Mas aku mau tanya.”&lt;br /&gt;”Iya tanya apa ? emangnya ada apa sich. Gini dech kamu coba tarik nafas dalem-dalem terus keluarin abis itu baca bismillah trus ngomong.”&lt;br /&gt;Dastya melakukan apa yang disarankan Roger.&lt;br /&gt;”Udah ?”&lt;br /&gt;”Udah.”&lt;br /&gt;”Sekarang ngomong, ada apa ?”&lt;br /&gt;”Mas dah tau ’kan gimana keadaanku. Sekrang mas masih pengen seperti dulu atau kita ganti acara ?”&lt;br /&gt;”Maksud kamu ganti acara gimana ?”&lt;br /&gt;”Maksudku kita ganti temenan atau ganti kakak adik aja.”&lt;br /&gt;”Kamu kok gitu ngomongnya ?”&lt;br /&gt;”Bukan gitu .......... aku ...........”&lt;br /&gt;”Kamu ga’ suka sama aku. Kamu ga’ percaya lagi atau kamu udah punya yang laen ?’&lt;br /&gt;”Enggak ......... enggak bukan gitu maksudku.”&lt;br /&gt;”Terus ?”&lt;br /&gt;”Aku ......... aku ngrasa ga pantes aja buat mas. Aku juga nggak mau kalau tanggapanku ke mas seperti tanggapan mas ke aku.”&lt;br /&gt;”Aku nganggep kamu sebagai cewek aku. Sekarang tanggapanmu ke aku gimana ?”&lt;br /&gt;”Maaf sebelumnya, tapi dari awal aku udah nganggap mas sebagai cowok aku.”&lt;br /&gt;”Ya udah sekarang udah jelas ’kan ?”&lt;br /&gt;”Iya ........ aku udah lega.”&lt;br /&gt;”Kamu masih mau nunggu aku ’kan untuk satu tahun lagi kedepan ? kamu masih bisa bertahan ’kan ?”&lt;br /&gt;”Insya allah.”&lt;br /&gt;”Ya udah. Makasih ya.”&lt;br /&gt;”Makasih juga mas.”&lt;br /&gt;”Udah dulu ya ngobrolnya, aku masih capek.”&lt;br /&gt;”Ya udah ........ maaf kalau ngganggu waktu istirahatnya.”&lt;br /&gt;”Nggak pa ..........pa .......”&lt;br /&gt;”Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;”Wa’alaikum salam.”&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;T H E      E N D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-5379073664619944488?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5379073664619944488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5379073664619944488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_3190.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-7877180833927156436</id><published>2010-02-20T16:41:00.002-08:00</published><updated>2010-02-20T16:42:11.702-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB DELAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ayo ........ ayo ........ cepetan dikejar bolanya.”&lt;br /&gt;”Ayo ....... Tika jangan mau kalah.”&lt;br /&gt;Sorak sorai anak-anak SMK tempat Dastya menuntut ilmu, menggema ke seluruh lapangan. Mereka mendukung jagoan-jagoan mereka. Hari itu giliran tim dari jurusan Akuntansi dan Penjualan yang bertanding. Perlombaan sepak boal sarung ini memang banyak merebut perhatian penghuni sekolah itu. Banyak adegan-adegan lucu juga. Beberapa kali sarung mereka terlepas, ada juga yang menendang bola tapi meleset. Uh ..... seru banget.&lt;br /&gt;Peringatan hari kemerdekaan RI, berlangsung meriah di sekolah itu. Berbagai macam perlombaan disiapkan, dari internal dan eksternal sekolah. Hadiahpun mengalir dari para wakil dan peserta lomba.&lt;br /&gt;Waktu itu, perlombaan baru aja selesai. Para gurupun masih belum masuk kelas. Seperti biasa, kodrat seorang cewek tak pernah membuang-buang waktu, walaupun hanya sekedar untuk ngrumpi.&lt;br /&gt;”Tya, masih sama dia ?”&lt;br /&gt;”Siapa ?”&lt;br /&gt;”Itu lho yang kamu bilang nak Jakarta.”&lt;br /&gt;”Oh ...... masih ...... kok.”&lt;br /&gt;”Gimana ? Crita dong.”&lt;br /&gt;”Apa yang mau dicritain.”&lt;br /&gt;“Ya, apa kek, masa ga ada sich.”&lt;br /&gt;”Males.”&lt;br /&gt;”Kok males ....... ya kabar terakhir dech.”&lt;br /&gt;”Ehm ........ kemarin aku mau putusin dia.”&lt;br /&gt;”Emang kenapa ?”&lt;br /&gt;”Ya ....... males aja. Dia ga da perhatian sich ma aku.”&lt;br /&gt;”Terus sekarang ?”&lt;br /&gt;”Ngga’ jadi putus. Abis dianya baik-baikin gitu.”&lt;br /&gt;”Baik-baikin gimana ?”&lt;br /&gt;”Ya pokoknya gitu dech.”&lt;br /&gt;”Critanya yang lengkap dong.”&lt;br /&gt;”Kemarin tuh aku dah mau putusin dia. Ga tau kenapa rasanya hubunganku ma dia digantung. Masa dia dah nggak pernah sms atau telphone. Kan aku juga pengen kayak yang lain ?”&lt;br /&gt;”Terus .......”&lt;br /&gt;”Ya udah gitu. Dia mau coba buat klasifikasi masalahnya. Tapi aku nggak pernah mau angkat telphone dia.”&lt;br /&gt;”Terus ...... terus .......”&lt;br /&gt;”Terus ...... terus ....... aja. Emangnya parkir mobil apa ?”&lt;br /&gt;”Ya ....... dia telphone dech ke nomornya bapakku. Ya udah mau g mau aku jawab telephonenya.”&lt;br /&gt;Ngomong apa aja ?”&lt;br /&gt;“Ya itu, dia minta kita ga usah putus.”&lt;br /&gt;”Ya, iyalah Tya, secara ’kan ya kalian udah pacaran satu tahun, sayang-sayangan, muah-muahan. Kok enak bener belum ketemu dah putus. Emangnya kamu pikir dia apaan. Kamu ’kan juga pasti pengen banget ’kan ketemu dia ?”&lt;br /&gt;”Ya ........ maksudku kan ga gitu. Aku Cuma malu aja kalau ketemu dia ntar.”&lt;br /&gt;” Kamu ga kasihan pa ma dia ?”&lt;br /&gt;”Iya lho Tya. Udah temuin aja. Dah dibela-belain gitu juga.”&lt;br /&gt;”Kalian ga ngerti sich gimana perasaanku.”&lt;br /&gt;”Gini lho Tya, yang penting kamu tuh temuin dia dulu. Kalau urusan jadi pa ga ’kan bisa ntar-ntar aja.”&lt;br /&gt;”Heeeh .........” Dastya menghela nafas. Ia dech ntar kalau dia minta ketemuan lagi aku brani-braniin.”&lt;br /&gt;”Ya ......... kamu suruh aja dia kesekolah. Kalau kamu mau nemuin dia pa ga, ’kan ga pa-pa yang penting kita itu pengen tau kayak apa tho cowok kamu itu.”&lt;br /&gt;”Tet .......... tet ........... tet ........ ” Bel panjang telah dibunyikan, pertanda pintu gerbang telah dibuka. Dastya dan teman-temannya yang lain segera berhamburan keluar.”&lt;br /&gt;”Markitpul, markitpul .........”&lt;br /&gt;Dastya menaikkan alisnya seolah meminta penjelasan.&lt;br /&gt;”Mari kita pulang, Dastya ..........”&lt;br /&gt;”Oh ......... let’s go home.”&lt;br /&gt;Perasaan Dastya semakin nggak karuan. Perkataan teman-temannya ia pikirkan baik-baik dan ia membenarkannya. Sedangkan ia sendiri juga ga bisa memungkiri perasaannya selama ini.&lt;br /&gt;Gimana ya ntar acara pertemuannya Dastya dan cowoknya itu. Kayaknya bakalan seru. Tapi ......... ehmmm emang butuh ekstra energi lagi nich buat membujuk dan merayu Dastya biar ketemu ma Roger.”&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;”Ehm ......... ehm ......... Airin mendehem.”&lt;br /&gt;”Kenapa rin, lagi batuk ya ?”&lt;br /&gt;”Enggak.” jawagnya singkat sambil senyum-senyum.&lt;br /&gt;”Knapa sich senyum-senyum gitu ?”&lt;br /&gt;”Enggak. Ga’ da apa-apa.”&lt;br /&gt;”Knapa ? ayo bilang-ayo bilang.”&lt;br /&gt;”Ye ......... enggak ! kok maksa sich.”&lt;br /&gt;”Beneran ga’ mau kasih tau ?”&lt;br /&gt;”Enggak.”&lt;br /&gt;”Ya udah.” Dastya meninggalkan Airin. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa buku catatan.” Nich, kayaknya aku ga’ bisa ngerjain dech. Aku bakalan sibuk banget.”&lt;br /&gt;”Yah ......... kok gitu kemarinkan dah janji.”&lt;br /&gt;”Aku berubah pikiran, kecuali .........”&lt;br /&gt;”Kecuali apa ?”&lt;br /&gt;”Kecuali ......... kalo kamu mau cerita.”&lt;br /&gt;”Crita apa ?”&lt;br /&gt;Dastya hanya melirik kearah Airin.&lt;br /&gt;”Iya ........ iya .......... aku tuh lagi seneng-seneng yang gimana gitu.”&lt;br /&gt;”Seneng-seneng gimana ?”&lt;br /&gt;”Alah ........ mbak Tya pake pura-pura lagi.”&lt;br /&gt;”Emangnya ada apa ?”&lt;br /&gt;Airin masih saja terus tersenyum. ”Enggak, ’kan bentar lagi lebaran.”&lt;br /&gt;”Terus .......”&lt;br /&gt;”Masa ga tau sich.”&lt;br /&gt;”Apa sich ? jangan bikin aku penasaran gini.”&lt;br /&gt;Dastya berfikir sejenak dan Airin masih belum mau membuka mulutnya.&lt;br /&gt;”Oh ......... masalah itu maksud kamu ?”&lt;br /&gt;”Iya itu tahu ?”&lt;br /&gt;”Masih satu bulan lagi kale, Rin.”&lt;br /&gt;”Tapi kan waktu itu berjalan cepet banget.”&lt;br /&gt;”Maksudnya ?”&lt;br /&gt;”Coba dech mbak Tya pikir, ga’ sadar ’n ga’ nyangka ’kan dah setahun hubungan ma dia. Padahal kayaknya baru kemaren dech kenalan.”&lt;br /&gt;”Bener juga sich. Pinter lho kamu.”&lt;br /&gt;”Ya iyalah Airin githu.”&lt;br /&gt;”Tapi, kalo pinter kok ga’ bisa ngerjain PR ndiri ya ?”&lt;br /&gt;”Ah .......... mulai ’kan.”&lt;br /&gt;Mereka tertawa. Airin dan Dastya emang ga’ pernah bisa dipisahkan. Kalau ketemu ada saja yang selalu membuat mereka ketawa.&lt;br /&gt;”Mbak Tya !”&lt;br /&gt;”Ngapain lagi ?”&lt;br /&gt;”Enggak. Cuma pengen nanya nich. Mbak emang dah brani ?”&lt;br /&gt;”Tu ’kan knapa ngingetin mbak soal itu.”&lt;br /&gt;”Jadi, masih belum brani ? capek dech. ’kan tinggal sebulan lagi masa belum brani sich.”&lt;br /&gt;”Lagian kamu knapa bahas masalah itu.”&lt;br /&gt;”Ya aku masih bingung lho sama mbak. Dengan sifat mbak ini. Aku sama sekali ga ngerti dech.”&lt;br /&gt;”Aku ndiri juga ga tau.”&lt;br /&gt;”Kok gitu. Aku ’kan serius mbak.”&lt;br /&gt;”Udah dech ga’ usah dibahas.”&lt;br /&gt;”Iya ......... iya ......... ya udah maaf.”&lt;br /&gt;Dastya hanya tersenyum menanggapi ucapan Airin. Dibelainya rambut Airin. Sulit mengartikan pandangan mata Dastya pada Airin.&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB SEMBILAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah, kini datang kembali. Ini menandakan bahwa hubungan Dastya dan cowoknya itu sudah memasuki bulan ke – 11. Wuih ........ lama juga ya. Kayak e perlu di masukin rekor muri dech. Gimana enggak, satu tahun kurang 1 bulan hubungan tanpa tatap muka, gimana tuh rasanya ? yah cobain dech biar tahu rasanya. Eh ......... kembali ke topik dech.&lt;br /&gt;Meski nampaknya Dastya tenang-tenang saja tapi dalam hatinya ia merasakan gejolak ketakutan. Tapi apa yang membuatnya takut. Apakah sebuah perkenalan dan perjumpaan dengan seorang lawan jenis itu, sama halnya ketika kita bertemu syetan ?&lt;br /&gt;Dastya masih duduk termenung di dalam kamarnya. Menatap kalender yang terletak diatas meja belajarnya.&lt;br /&gt;”Ya Tuhan, sebentar lagi waktu itu akan datang. Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Kenapa perasaanku kayak gini. Kenapa jantungku berdetak ga’ karuan.”&lt;br /&gt;”Hayo ........!!” Airin mengagetkan Dastya.”&lt;br /&gt;”Hah ....... Airin, kaget tau.”&lt;br /&gt;”Abisnya ngelamun sich. Ngelamunin apaan sich ? oh ......... aku tau, pasti lagi ngelamunin dia nich yang mau pulang !” Airin tersenyum masih meledek Dastya. ”Ehm ....... ehm.&lt;br /&gt;”Apaan sich kamu Rin ?”&lt;br /&gt;”Udahlah mbak Tya, biasa aja kok ma Airin.”&lt;br /&gt;”Hah .......... pikiranku lagi kacau nich Rin.”&lt;br /&gt;”Emangnya da apa ?”&lt;br /&gt;”Tau nich. Aku jadi bingung kayak orang stress. Ah ......... sulit dech nggambarinnya.”&lt;br /&gt;”Karna dia pulang.”&lt;br /&gt;”Mungkin juga.”&lt;br /&gt;”Mbak Tya nich, orang paling aneh yang pernah aku temuin dalam permasalahan percintaan.”&lt;br /&gt;”Maksud kamu ?”&lt;br /&gt;”Ya iya ........ coba lihat mbak Tya. Aneh banget ’kan. Disaat orang-orang lagi seneng-senengnya mau ketemu ma pasangannya. E ............ ini malahan ...........”&lt;br /&gt;”Tau dech. Aku juga ngrasa gitu sich sebenarnya. Tapi ya mau gimana lagi ......”&lt;br /&gt;”Sebenere alasan mbak tu apa ?”&lt;br /&gt;”Alasan apa ?”&lt;br /&gt;”Ya alasan kenapa mbak sulit banget di ajakin ketemu atau keluar ma cowok?”&lt;br /&gt;”Itu lagi ’kan yang dibahas.”&lt;br /&gt;”Ya enggak, bukannya gitu mbak, tapi ’kan ya aneh. Apa mbak Tya pernah ada masalah dengan cowok sebelumnya sampai mbak Tya ga’ mau .........”&lt;br /&gt;”Ga juga.” potong Dastya&lt;br /&gt;”Terus ........”&lt;br /&gt;”Aku kan dah pernah bilang kalau aku ga’ mau sakit hati. Ntar kalau ternyata abis ketemu terus abis itu malahan putus gimana ? aku ’kan takut, aku pasti bakalan trauma.”&lt;br /&gt;”Ya ampun mbak. Mbak ’kan belum tau apa yang akan terjadi ntar, besok dan waktu yang akan datang. Mbak Cuma nebak-nebak aja. Dan itu semua cuman kemungkinan bukan kenyataan.”&lt;br /&gt;”Tapi ntar ibu gimana ?”&lt;br /&gt;”Emang ada apa ma bulik ?”&lt;br /&gt;”Aku masih takut kalau ntar ibu ga setuju ’n ga suka kalau aku jalan ma dia. Ibu kan selalu aja nyinggung-nyinggung masalah ini kalau aku lagi nglakuin kesalahan. Lagian ntar jadi omongan tetangga.”&lt;br /&gt;”Aduh ......... gimana aku ngejelasinnya lagi ma mbak Tya. Aku bingung dengan jalan pikiran mbak Tya. Gini aja dech mbak, mbak ga’ usah mikir yang enggak-enggak. Positive thingking aja. Kalau mbak mikirnya gitu, ntar cuman malahan nyiksa diri aja.”&lt;br /&gt;”Kamu emang bener Rin, tapi ..........”&lt;br /&gt;”Udah dech percaya ma Airin, mungkin karna ini pertama kalinya, ntar kalau dah ada penyesuaian, pasti mbak ga’ kan ngomong gini.”&lt;br /&gt;”Mungkin emang kayak gitu. Makasih ya Rin. Aku jadi punya rasa percaya diri lagi.”&lt;br /&gt;”Tapi ada imbalannya.”&lt;br /&gt;”Hemm ............ jadi ada udang dibalik batu. Aku emang udah bisa nebak, pasti ada apa-apanya.”&lt;br /&gt;”Enggak kok mbak, yang tadi emang bener.”&lt;br /&gt;”Iya ........ iya ......... sini pasti PR lagi ’kan ?”&lt;br /&gt;”Hehe .......”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Hari-hari memang berjalan begitu cepat. Dan tanpa terasa waktu pertemuan itu semakin dekat. Terasa sekali detak jantung Dastya yang tak seperti biasanya. Pikirannyapun menerawang jauh kedepan, seolah ingin membuat planning dan skenario pertemuannya dengan Roger.&lt;br /&gt;Saat sedang asyik dengan lamunannya, handphone Dastya berdering. Segera saja diraihnya hp yang ada di atas meja itu. Sebuah pesan singkat memenuhi layar, ternyata dari Dewi.&lt;br /&gt;Malem menjelang pagi, Tya. Gimana dah sahur blm. Oh ya ........ gimana ma cowok km dah pasti pulg ’kan ?&lt;br /&gt;Iya sich, dy bilang bklan pulg. Eh ...... met shur juga ya.&lt;br /&gt;Gimana kalau qta buber ma dia&lt;br /&gt;Sekalian jumpa pertama. Gimana Tya ?&lt;br /&gt;Aku sich iya ........ iya aza. Ntar tak coba ngomongin ma dia&lt;br /&gt;Oke. Aku tunggu ya kabarnya. Segera !&lt;br /&gt;Tapi ntar kamu temenin aku ’kan ?&lt;br /&gt;Iya, tenang aja. Aku juga penasaran lho.&lt;br /&gt;Thanks ya.&lt;br /&gt;Sama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debar jantung Dastya tersa semakin kuat. Mungkin kalau dia mempunyai penyakit jantung pasti sekarang dia sudah ada di ruang ICU atau UGD. Tak berselang lama setelah dia mendapat balasan dari Dewi, temannya. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat pada Roger.&lt;br /&gt;Malem mas, dah buka puasa ’kan ? kapan mas mau pulang ? oh ya ........ dapat salam dari Dewi, dia mau ngajakin buber, mas bisa nggak ? Lz.&lt;br /&gt;Pesan terkirim dan tak lama kemudian balasan datang .&lt;br /&gt;Malem juga. Kamu gimana kabarnya ? baik2 aza ’kan. Mas pulang tanggal 27. Ya .......... terserah kamu aja. Mas ngikut ..........&lt;br /&gt;Kok gitu. Aku ’kan nanya mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah kamu atur aza.&lt;br /&gt;Sebuah komunikasi yang cukup singkat. Padahal dalam hatinya Dastya berharap bisa ber – sms – an lebih lama dengan Roger, si usil datang lagi.&lt;br /&gt;”Mbak Tya, ayo berangkat.”&lt;br /&gt;”Iya bentar lagi, tak ambil mukena dlu !”&lt;br /&gt;”Mbak Tya ?!”&lt;br /&gt;”Hemm ............ ”&lt;br /&gt;”Dia bilang mau pulang kapan ?”&lt;br /&gt;”Tanggal 27.”&lt;br /&gt;”Lho berarti bentar lagi donk.”&lt;br /&gt;”Ya ....... gitu dech.”&lt;br /&gt;”Terus mau ketemunya tanggal berapa ?”&lt;br /&gt;”Tau ! udah stop jangan bahas itu terus.”&lt;br /&gt;”Iya ......... iya kok jadi sensi gini.”&lt;br /&gt;Masih dengan seribu macam kata ledekannya, Airin menggoda Dastya sepanjang perjalanan ke masjid.&lt;br /&gt;”Eh ......... mbak trus mas Adit ama mas Eko gimana ?”&lt;br /&gt;”Gimana apanya ?”&lt;br /&gt;”Ya mereka patah hati dong.”&lt;br /&gt;”Kok bisa gitu ?”&lt;br /&gt;”Ya iya ........ mbak Tya ’kan udah ama mas Roger itu.”&lt;br /&gt;”Emangnya aku seberuntung itu disukai ma mereka ? bukannya kita yang selalu ngomongin mereka ? lagian mas Eko ’kan dah beristri, ye ........”&lt;br /&gt;”Tapi ’kan masih ada mas Adit.”&lt;br /&gt;”Ye .......... masih dia lagi. Apalagi yang satu ini udah pasti jauh dari harapan. Lha wong nglirik aja ga’ pernah, mau suka dari mana ?”&lt;br /&gt;”Tapi ’kan hati manusia ga’da yang tahu.”&lt;br /&gt;”Gini lho ......... kita ketemu mereka ’kan cuman setahun sekali, cuman waktu puasa aja. Kesehariannya ’kan jarang banget. Kalau aku sich nanggapinya Cuma sebagai penyemangat. Ntar kalau ketahuan, pasti bakalan ribut lagi.”&lt;br /&gt;”Hah ......... mbak Tya takut banget sich. Kalau di omelin ya di dengerin gitu aja kok repot.”&lt;br /&gt;”Kamu ini emang dasar syetan penghasut.”&lt;br /&gt;”Eh ...... jangan salah ga’da syetan yang cantik kayak aku lho.”&lt;br /&gt;”Ye .........”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-7877180833927156436?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7877180833927156436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7877180833927156436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_7547.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-6011720780476103420</id><published>2010-02-20T16:41:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:41:38.544-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB ENAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Dastya mulai menarik untuk diamati,tapi terkadang membisankan bila harus melihat kebodohan dan kepolosan Dastya. Waktu terus berjalan tak terasa empat bulan telah berlalu. Dan hubungannya dengan Roger masih belum banyak berubah.&lt;br /&gt;Tanpa sepengetahuannya, banyak teman-temannya yang memberikan nomor handphone Dastya ke teman-teman cowok mereka. Perlahan, Dastya mulai bertemanan dengan mereka. Kini ia tak lagi berharap Roger akan benar-benar menjadi miliknya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya.&lt;br /&gt;Dastya justru lebih mendapat banyak perhatian dari teman-teman barunya. Mereka yang selalu menjadi tempat curhat, hiburan dan juga sebagai tempat bertanya.&lt;br /&gt;Banyak pula diantara mereka yang mengaku sangat senang bisa berkenalan dengan gadis seperti Dastya.&lt;br /&gt;”Gimana, Ndy. Dastya orangnya ?”&lt;br /&gt;”Asyik, pinter, ramah, sopan dan juga alim.”&lt;br /&gt;”Dah dapat apa aja dari Dastya ?”&lt;br /&gt;”Makudnya ? hmm ........ apa ya palingan juga aku sekarang jadi suka puasa Senin-Kamis, bisa mikir tentang ilmu-ilmu politik, sosial, budaya. Terus apa ya ....... banyak banget dech.”&lt;br /&gt;”Hebat dong ya. Tapi kok bisa, emang kalian belajar bareng kok sampe bisa tentang sospol dan budaya ?”&lt;br /&gt;”Nggak juga. Tapi dia suka bikin artikel dan pembahasannya pasti soal itu. Aku jadi narasumber gitu. Padahal aku juga nggak tau apa-apa ?”&lt;br /&gt;”Ya iyalah palingan jawabanmu juga ngawur. Emang kamu bisa apa ? Palingan ngebuang-buang waktu dan uang.”&lt;br /&gt;”Persis seperti yang diomongin Dastya. Dia suka nasehatin aku gitu. Makanya sekarang ya ....... aku dah da perubahan dikit-dikit.”&lt;br /&gt;”Ye ...... ye .......... ntar kalo jatuh cinta gimana ?”&lt;br /&gt;”Jujur aja, aku mau-mau aja ya tapi dianya gimana ?”&lt;br /&gt;”Ya kamu tanya dong ?”&lt;br /&gt;”Kemarin sempat aku singgung kalo malem minggu acaranya kemana trus dah diapelin belum.”&lt;br /&gt;”Terus jawabnya ?”&lt;br /&gt;”Dia bilang ga kemana-mana, ya aku tanya lagi emang ga punya cowok ?”&lt;br /&gt;”Jawabnya ?”&lt;br /&gt;”Udah, tapi lagi keluar kota gitu.”&lt;br /&gt;”Ya udah kalo gitu ya temenan aja.”&lt;br /&gt;”Gimana, kemarin katanya dia lagi single ?”&lt;br /&gt;”Ya ........ aku nggak tau ya.”&lt;br /&gt;”Ah ..........”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Beda lagi kisah Dastya hari itu. Di layar handphonenya muncul sederetan nomor yang tak dikenalnya. Sekali ia biarkan. Mungkin Cuma orang iseng, pikirnya. Tapi nomor itu kembali muncul sejenak lalu menghilang diikuti sebuah pesan singkat.&lt;br /&gt;”Hai angkat dong. Aq mau kenalan nich.”&lt;br /&gt;Sesaat setelah menutup handphonenya, Dastya kembali mendengar nyanyian lagu selalu mengalah dari seventeen band. Dastya menerima panggilan itu.&lt;br /&gt;”Hallo.”&lt;br /&gt;”Hallo, siapa ini ?” spa Dastya dengan lembut.&lt;br /&gt;”Aku Haris, kamu siapa ?”&lt;br /&gt;”Aku Dastya.”&lt;br /&gt;”Oh ......... Dastya. Salam kenal aja ya.”&lt;br /&gt;”Salam kenal juga. Kamu dapet nomorku dari mana ?”&lt;br /&gt;”Dari Dani.”&lt;br /&gt;”Apa yang kamu maksud dani yang sekolahnya SMA 1 yang rumahnya Sambit. Kamu siapanya dia, temennya ya ?”&lt;br /&gt;”Iya. Kok tahu. Eh .... rumah kamu mana ?”&lt;br /&gt;”Tanya Dian aja. Dia tahu, kalo nggak tanya ceweknya.”&lt;br /&gt;”Emang Dian masih sama ceweknya itu ?”&lt;br /&gt;”Setahuku sich mereka belum pisah. Emang kenapa ? Kamu juga naksir ya ma dia.”&lt;br /&gt;”Namanya siapa dan juga dia sekolah dimana, rumahnya ?”&lt;br /&gt;”Gimana sich nanya tuh satu-satu aja. Lagian kamu ngebet bangat. Kenapa ga tanya Dani aja katanya kalian temenan.”&lt;br /&gt;”Dia nggak mau cerita.”&lt;br /&gt;”Namanya Eci, dia sekolah di SMK Negeri 1 dan rumahnya Tonatan.”&lt;br /&gt;”Rumah kamu juga Tonatan ya ? Deket nggak sama rumahnya Eci ?”&lt;br /&gt;”Rumahku memang daerah situ. Tapi jauh dari Eci.”&lt;br /&gt;”Oh .......... ya udah thanks ya.”&lt;br /&gt;“Udah gitu aja.”&lt;br /&gt;Tut. Tut. Tut. Haris menutup telephonenya. Dastya segera saja menyiapkan buku pelajaran untuk besok. Sekalian meminta penjelasan dari Eci.&lt;br /&gt;Dastya membaringkan tubuhnya diatas kasur. Mengambil guling dan menarik selimutnya sampai batas lehernya. Tak lama kemudian ia telah berada di dunia khayal, dunia mimpinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Nyanyian koor ayam-ayam jago miliknya dan milik tetangganya telah membangunkannya, memanggil dari dunia lain, dunia mimpinya semalam. Pancaran sinar mentari yang menembus kaca jendela kamarnya membuat ia harus menjauh dari singgasana mimpinya.&lt;br /&gt;Masih dengan teman setianya, sejak ia duduk di kelas 4 SD, ia berangkat kesekolah. Setelah sebelumnya berpamitan pada ibunya.&lt;br /&gt;”Bu, Tya berangkat.”&lt;br /&gt;”Hati-hati dijalan.”&lt;br /&gt;”Ya bu.”&lt;br /&gt;”Let’s go.” Katanya pada teman setianya itu.&lt;br /&gt;”Mbak Tya ! tungguin aku ikut.”&lt;br /&gt;”Cepetan, aku dah kesiangan nich.”&lt;br /&gt;Dastya dan Airin berangkat kesekolah bersama. Masing-masing dengan ’si teman’ setianya. Sekolah mereka memang berbeda, tapi mereka melalui jalan yang sama.&lt;br /&gt;Dastya tak lagi berangkat bersama Wina, ia mulai bosan menunggunya. Ia menyusuri, melewati jalan menuju ke sekolahnya hanya dengan si teman setianya. Terkadang bila ia secara kebetulan bertemu dengan teman sekolahnya, mereka berangkat bersama walau belum begitu kenal dekat.&lt;br /&gt;Bajupun basah oleh keringat. Andaipun pake make up, pastilah sudah luntur diperjalanan, sebelum sampai disekolah. Tapi sayangnya Dastya tak mengenakannya, jadi berangkat dan sampai disekolahpun wajahnya takkan berubah. Palingan juga lembab karna keringat.&lt;br /&gt;Jarum jam berjalan seperti biasa. Waktu-waktu disekolah masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Yang terkadang membuat Dastya merasa bosan. Meski ’batereinya’ hari itu sedang ga’ full, Dastya masih sempat memanis-maniskan mukanya didepan teman-temannya dan para guru-guru yangberpapasan dengannya.&lt;br /&gt;Tapi, sepertinya ada yang lupa hari itu. Dastya segera saja berlari kearah halte bus, tempat Eci biasa menunggu bus jemputannya, ketika ia ingat sesuatu yang hampir dilupakannya. Tapi sayangnya, Eci sudah keburu naik bus. Dengan wajah letih dan semakin berkurang ’batereinya’ ia kembali kesekolah mengambil ’si teman setianya.”&lt;br /&gt;”Darimana, Tya ?”&lt;br /&gt;”Nyari Eci, ke halte.”&lt;br /&gt;”Ketemu !”&lt;br /&gt;”Nggak, dia udah keburu naik bus.”&lt;br /&gt;”Emangnya ada apaan sich. Segitu pentingnya.”&lt;br /&gt;”Enggak juga. Cuma mau nanya sesuatu.”&lt;br /&gt;”Oh ......... pulang sekarang aja yuk.”&lt;br /&gt;Masih dengan ’si teman setianya’ Dastya pulang sekolah. Ditengah perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang cowok yang sebaya dengannya. Dia yang mengendarai sepeda motor sengaja mengemudikan motornya agar seirama dengan gerakan ’si teman setia’ Dastya.&lt;br /&gt;”Hai, kamu Dastya ya ?”&lt;br /&gt;”Hah ....... kamu siapa ?”&lt;br /&gt;”Aku Andy.”&lt;br /&gt;”Oh ....... bukan, aku bukan Dastya aku Tasya.”&lt;br /&gt;”Masa sich, kamu ga bohong ’kan ?”&lt;br /&gt;”Nggak, ngapain aku bohong.”&lt;br /&gt;”Ya udah kalo gitu, aku duluan ya. Makasih.”&lt;br /&gt;”Ya.”&lt;br /&gt;Cowok yang mengaku Andy itu akhirnya memilih untuk meninggalkan Dastya dengan memacu motornya.&lt;br /&gt;”Hah ........ ya Tuhan, semoga dia percaya kata-kataku.”&lt;br /&gt;”Emang dia siapa Tya ?” tanya Nur yang sejak tadi diam&lt;br /&gt;”Andy, temennya Rino mungkin.”&lt;br /&gt;”Terus siapa Rino ?”&lt;br /&gt;”Rino itu temen sekelasnya temen Wina.”&lt;br /&gt;”Gimana sich.”&lt;br /&gt;”Eh ga, salah bukan gitu. Maksud aku, Wina punya temen sekelas, namanya siapa aku ga tau, terus temennya itu punya temen lagi, ga tau dech temen pa tetangganya, ya pokoknya gitulah. Terus ’kan Wina pake handphoneku buat sms dia. Paham ga ?”&lt;br /&gt;”Enggak.”&lt;br /&gt;”Ya udahlah ga penting kok. Tapi yang aku bingungin sekarang, dia kok bisa nebak kalo aku Dastya, dari mana coba.”&lt;br /&gt;Nur hanya mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Dastya. Dia emang satu-satunya temen yang Dastya anggap sangat baik, bahkan Dastya ngrasa dia lebih baik dari Wina.&lt;br /&gt;Akhirnya diperempatan jalan mereka berpisah. Rumah mereka berjarak cukup jauh. Mereka hanya akan melewati jalan yang sama, bersama-sama ketika pulang sekolah.&lt;br /&gt;Diperjalanan pulang, Dastya terus saja memikirkan persoalan tadi. Dia emang paling sulit kalo diajakin keluar sama cowok. Jangankan untuk keluar, bertemu bahkan buat ngobrol ditelephone aja dia ogah-ogahan. Sulitnya minta ampun. Dia emang gak bisa ngerti gimana berteman yang baik. Apalagi gara-gara Airin, setiap kali tau kalo Dastya lagi smsan atau abis kenal sama cowok, huh ......... pasti dech langsung diinterogasi sama dia.&lt;br /&gt;Hai, met malem. Cowok barunya mbak Dastya ya ! sebuah pesan singkat dikirimkannya pada sederetan number.&lt;br /&gt;Bukan kok, ini siapa ? Emang mbak Dastya bilang ga ya, blasan dari nomor itu.&lt;br /&gt;Iya dia bila ga kok. Aku adeknya. Namaq Airin&lt;br /&gt;Eh ........ iya ......... tapi jangan bilang ya kalo aq sms, balas Airin lagi.&lt;br /&gt;Oh ....... Airin. Airin kelas berapa ?&lt;br /&gt;Kembali dibalasnya.&lt;br /&gt;Aku masih SMP&lt;br /&gt;Balas Airin.&lt;br /&gt;Entah apa lgi yang mereka bicarakan tentang Dastya. Dan karna kata-kata dalam sms Airin itulah, Dastya nggak berani lagi untuk membalas setiap sms yang datang dari nomor itu. Seperti sms ini :&lt;br /&gt;Dastya, emang kamu bener suka ma aku. Aku sebenarnya juga suka tapi aku dah ada yang punya, maaf ya.&lt;br /&gt;Ia biarkan sms itu hingga beberapa hari tanpa ia balas.&lt;br /&gt;BAB TUJUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone Dastya kembali berdering, ketikaia baru saja tiba dirumah. Sebuah pesan singkat memenuhi layar handphonenya. Dan masih dari nomor yang kemarin.&lt;br /&gt;Tya, kamu marah ya ma aku. Aku bener-bener minta maaf aku harap kamu nggak kecewa dengan kata-kataku kemarin dan semoga kita bisa jadi temen yang baik. Please lez.&lt;br /&gt;Dastya bingung, dalam hatinya ia geram sekali pada Airin, tapi dia juga harus meluruskan masalah ini. Ketika ia berniat membalas sms dari nomor itu, ternyata gagal dan pesan tak terkirim karna persediaan pulsa Dastya tidak mencukupi.&lt;br /&gt;Sementara pemilik ’nomor itu’ semakin merasa bersalah dan mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya ia putuskan untuk menelphone Dastya. Dastya yang mendengar nyanyian dari handphonenya segera meraihnya.&lt;br /&gt;”Hallo ?”&lt;br /&gt;”Hallo, Dastya.”&lt;br /&gt;”Iya.”&lt;br /&gt;”Kamu kenapa nggak balas smsku ? Kamu marah ya ! Aku minta maaf ya !”&lt;br /&gt;”Enggak, bukannya gitu. Kemarin itu aku ga balas karna aku pikir ya kamu Cuma, apa ya ...........”&lt;br /&gt;”Terus kenapa tadi juga nggak balas ?”&lt;br /&gt;”Kalau tadi tuh karna pulsaku dah abis.”&lt;br /&gt;”Berarti kamu nggak marah ’kan ?”&lt;br /&gt;”Ya enggaklah, ngapain aku marah. Apa alasanku coba, buat marah. Aku justru senang kalau kamu ternyata udah punya gebetan. Lagian siapa yang bilang kalau aku suka sama kamu ?”&lt;br /&gt;”Adek kamu yang bilang.”&lt;br /&gt;”Adek ? Airin maksud kamu.”&lt;br /&gt;”Ups ........” pemilik ’namor itu’ sepertinya merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt;”Ya ampun, Airin aja kamu percaya. Dia itu anaknya emang iseng banget. Dia juga lagi marahan ma aku makanya dia balas dendamnya gitu. Lagi pula aku juga dah punya gebetan kok.”&lt;br /&gt;”Oh ....... gitu ya. Ya udah.”&lt;br /&gt;”Ya udah, semuanya dah jelas kan. Aku dah terlalu banyak ngomong ya. Cepetan dech ditutup telephone ’ntar pulsa kamu abis lagi.”&lt;br /&gt;”Gimana mau ditutup kamu ngomong terus.”&lt;br /&gt;”Ups, sorry. Ya udah ni yang terakhir.”&lt;br /&gt;”Bye.”&lt;br /&gt;”Bye.”&lt;br /&gt;Dastya merasa lega. Akhirnya masalahnya udah selesai. Dan sekarang nampaknya ia harus bikin sidang dengan terdakwa Airin.&lt;br /&gt;Malam itu saat rembulan hanya menunjukkan sebelah rupanya, di temani bintang-bintang bak permata yang bertaburan. Diiringi dengan belaian lembut angin malam, Dastya menghampiri Airin yang sedang menonton televisi dirumahnya yang terletak tan jauh dari rumah Dastya.&lt;br /&gt;”Permisi budhe, Airin ada ?”&lt;br /&gt;”Rin, dicari mbak Tya nich.”&lt;br /&gt;”Ada apa mbak ?”&lt;br /&gt;”Sini aku mau ngomong sebentar.”&lt;br /&gt;”Ada apa tho ?” tanya Airin tanpa rasa bersalah.&lt;br /&gt;Dastya menggandeng tangan Airin, mereka keluar rumah. Dan duduk diteras. Airin masih tenang-tenang saja.&lt;br /&gt;”Rin, kamu ngomong apa sama temen mbak.”&lt;br /&gt;”Aku ?”&lt;br /&gt;”Gara-gara kamu, mbak jadi malu tau nggak. Dikiranya mbak naksir dia. Dan parahnya dia bilang nggak suka, mau ditaruh dimana coba muka mbak.”&lt;br /&gt;”Ya ditaruh ditempatnya.”&lt;br /&gt;”Hmh .......... ”ucap Dastya geram.&lt;br /&gt;”Iya ........ iya, maaf. Abisnya aku gemes sich, mbak Tya.”&lt;br /&gt;”Gemes gimana ?"&lt;br /&gt;”Ya abis mbak Tya, gitu-gitu aja.”&lt;br /&gt;”Maksudmu itu gimana ?”&lt;br /&gt;”Ya gitu.”&lt;br /&gt;”Alah ...... udah ....... ga penting, pokoknya jangan sampe terulang lagi dech. Malu mbak, emang mbak apaan.”&lt;br /&gt;”Iya ........ iya.......... ”&lt;br /&gt;”Ya udah sana tidur, besok sekolah ’kan ?”&lt;br /&gt;”Oke dech.”&lt;br /&gt;Airin pun kembali kedalam rumah, meski ia tidak segera tidur seperti apa yang dikatakan Dastya. Sementara Dastya pulang kerumah menyelesaikan tugas rumahnya.&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Waktu memang berjalan begitu cepat. Hari kini tlah berganti. Malam yang dingin dan indah, kini berubah menjadi pagi yang cerah dan segar.  Sinar sang mentaripun terasa hangat menyentuh kulit, menghilangkan kesan dingin semalam yang masih meninggalkan kabut pagi dan tetesan embun yang jatuh melewati ujung daun.&lt;br /&gt;Hari-hari yang membosankan. Waktu yang sama, aktivitas, jalan, makanan semuanya tak ada yang banyak berubah. Dastya masih dengan aktivitas hariannya.&lt;br /&gt;Sepertinya ia harus merelakan waktu-waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan para orang tua. Saat itu, ketika ia sedang merasa sangat letih dan pusing, sebuah pesan singkat memenuhi layar ’teman mungilnya’.&lt;br /&gt;Malem Novi, lagi ngapain kok dah lama ga mz mas kangen nich. Oh ya ..... kamu da uang saku lebih ga ?&lt;br /&gt; Kalo mau mas beliin plz donk ?&lt;br /&gt;Benar-benar hari yang menyebalkan bagi Dastya. Perasaan sayang dan cintanya pada Roger menjadi sebuah kebencian. Sepertinya Dastya mulai sadar kalo selama ini dia hanya dibodohi. Bisa dibayangkan dong gimana perasaan Dastya, udah capek e ......... malahan dapet sms gitu. Iya mending kalo perhatian, sering telephone atau sms, Dastya pasti juga ga akan keberatan. Tapi sayangnya untuk mengucapkan selamat malam atau selamat pagipun tak pernah.&lt;br /&gt;Tapi ya ........... yang namanya Dastya, dasar aneh. Karena kesalnya ia, akhirnya diputuskan untuk menelephone Roger dan meminta untuk mengakhiri hubungannya.&lt;br /&gt;”Hallo.”&lt;br /&gt;”Hallo Nov, ada apa ? tumben nelphone. Oh ya ……… gimana kamu bisa nggak ngisiin nomor aku. Soalnya aku lagi ga ada uang.”&lt;br /&gt;Dastya masih diam mendengarkan Roger ngomong dengan nadanya yang sok ngatur dan ga da rasa bersalah.&lt;br /&gt;”Hallo, Nov .......... kamu denger aku kan ?”&lt;br /&gt;”Iya aku denger kok.”&lt;br /&gt;”Trus kenapa kamu diam ?”&lt;br /&gt;”Aku ........... aku ........ aku ........ mau minta .......... kalo ..........”&lt;br /&gt;”Kamu ngomong apa Nov, jujur aja kamu ada apa ?”&lt;br /&gt;”Aku ......... ”Dastya mengambil nafas dalam-dalam, kemudian ”aku ........... mau minta kita akhiri aja semuanya.”&lt;br /&gt;”Maksud kamu apa ?”&lt;br /&gt;”Jujur aja semuanya aku tuh sayaaaaang banget ma kamu mas, tapi satu hal yang paling aku ga suka, justru mas lakuin. Aku dah capek dengan semua ini. Mungkin aku bakalan merindukan mas. Mungkin aku juga bkalan minta balikan lagi ma mas. Tapi ku juga bakalan mengusahakan buat biar kejadian itu nggak kan terjadi. Makasih ya mas buat waktu dan segalanya, ini bakalan jadi pelajaran buat aku, kalau suatu saat aku dalam keadaan kayak gini.”&lt;br /&gt;”Nov, kamu ngomong apa ?”&lt;br /&gt;”Mas tau, selama ini aku coba buat ngertiin mas, mas ga pernah bisa terbuka ma aku, mas juga ga bisa ngehargain aku sebagai yang mas bilang cewek mas. Mas tahu sekarang aku dah jadian ma ..........”&lt;br /&gt;”Oh ............ jadi sekarang gitu ya. Aku nggak sangka kalo kamu ternyata seorang pembohong. Kamu tahu orang kayak gitu dalam Islam dilaknat oleh Allah, karna kamu munafik.”&lt;br /&gt;Air mata Dastya perlahan mulai membasahi pipinya. Namun ia mencoba untuk tetap menyembunyikannya.&lt;br /&gt;”Kamu disekolahin buat apa ?” kamu bejat. Kamu tuh punya otak buat berfikir. Ga’ kayak binatang. Kamu mau jadi apa ?&lt;br /&gt;”Terserah aku mau jadi apa ! Yang jelas aku mau hubungan kita sampai sini aja. Lagian mas apa sekolahin aku ? ga’ kan. Ya udahlah jangan ngomong yang sok baik ma aku.”&lt;br /&gt;”Nov, kamu sadar dong kamu dah bikin dosa. Aku juga ga mau kalo orang yang aku cintai masuk neraka.”&lt;br /&gt;Dastya hanya diam menahan tangisnya.&lt;br /&gt;”Apa yang jadi alasan kamu buat putus dari aku ?”&lt;br /&gt;”Udah aku bilang, aku dah ga mau lagi terus-terusan kayak gini. Mas dah sering banget bikin aku kesel.”&lt;br /&gt;”Tapi aku ga mau putus ma kamu ?”&lt;br /&gt;”Udahlah mas, jangan bikin aku sedih dan ngrasa bersalah karna dah nyakitin mas. Sekarang gini aza dech, mas dah tau kan, kalo aku sering nyakitin ’n kecewain mas, mas juga tau kalo aku ga pernah bisa ngelakuin apa yang mas pengenin, aku juga dah sering banget ingkar janji. Terus apa yang bikin mas suka dan sayang ma aku ?”&lt;br /&gt;”Aku suka ma kamu karna kamu tuh orangnya baik, rajin sholat, rajin bantu orang tua. Kamu ngertikan Nov, mas tuh sangat sayaaaang banget ma kamu. Mas ga mau putus ma kamu.”&lt;br /&gt;”Darimana mas tahu kalo aku rajin sholat dan rajin bantu orang tua. Mas ga ngerti ’kan kalo selama ini aku Cuma bohongin mas. Biar aku terlihat baek didepan mas. Satu lagi, aku mohon kita nggak usah ketemu, aku nggak mau kesedihanku bertambah karna aku harus tau mas. Aku takut ga kan bisa ngelupain mas.”&lt;br /&gt;”Nov, mas dah janji ma kamu, orang tua mas slalu ngajarin buat bisa neptin janji karna janji itu ..................”&lt;br /&gt;”Karna janji itu adalah hutang ya ’kan ? Aku juga tau mas. Tapi mas tahu sendiri ’kan, aku paling ga’ bisa neptin janji yang satu itu ...............”&lt;br /&gt;”Tapi aku tulus cinta ’n sayang ma kmu.”&lt;br /&gt;”Berhenti bilang cinta karna aku gak pernah tau apa makna cinta itu. Yang aku tahu sekarang aku mau mengakhiri hubungan ini. Aku nggak mau lebih dekat lagi berhubungan dengan mas.”&lt;br /&gt;”Nov, kalau km nggak mau ketemu mas, mas akan jemput kamu disekolah. Mas nekat demi cinta.”&lt;br /&gt;”Terserah mas, aku nggak akan ada disekolah atau dirumah karna aku ada di Malang buat prakerin.”&lt;br /&gt;”Nov ........... kamu akan slalu ada dihati mas.”&lt;br /&gt;”Benarkah ! masih ada dihatimu seorang pembohong dan seorang yang disekolahkan hanya untuk sebuah kesia-siaan, seorang yang bejat, seorang yang punya otak tapi tak bisa berfikir ? Bodoh sekali.”&lt;br /&gt;”Nov .................”&lt;br /&gt;Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya, hubungan telephone mereka terputus. Roger berulangkali mencoba untuk kembali menghubungi Dastya. Tapi tak satupun panggilan dari Roger yang diterimanya.&lt;br /&gt;Dastya terlanjur sakit hati. Ia tak menyangka kalo kata-kata kasar itu akan muncul dan keluar dari mulut orang yang selama ini dianggapnya baik. Dalam hatinya ia juga tak ingin mengakhiri hubungannya denganRoger.&lt;br /&gt;Sang ibu yang tahu perubahan pada putrinya itu, mulai merasa khawatir. Namun hanya diamatinya dan diawasi saja Dastya. Mungkin karna sifat Dastya yang pendiam dan jarang berbagi cerita dengan keluarganya itu, ibunya Dastya hanya membiarkan sifat Dastya yang nampak tak bersemangat dan yang terlihat sedang ada masalah. Sedangkan Dastya sendiri labih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi ia tahu kalau ibunya sangat melarang dia untuk berpacaran. Meskipun sekarang ibunya sudah tahu hubungannya dengan Roger, dan tak mempermasalahkannya, ia masih takut untuk menceritakan semua kepada ibunya. &lt;br /&gt;Malam itu, seperti biasa Dastya membuka buku pelajarannya untuk mengerjakan PR atau sekedar membaca saja. Mungkin karna masih penasaran dengan status hubungannya dengan Dastya. Rogerpun kembali mencoba menghubungi Dastya. Beberapa kali dicoba tak ada tanggapan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi Dastya dengan privat number.&lt;br /&gt;” Hallo ................ assamu’alaikum ?”&lt;br /&gt;”Wa’alaikumsalam.”&lt;br /&gt;”Maaf, saya bicara dengan siapa ?”&lt;br /&gt;”Ini Heri.”&lt;br /&gt;”Heri ? Heri iapa ? saya nggak merasa kenal nomor kamu. Mungkin kamu salah sambung.”&lt;br /&gt;”Nov, kemarin kenapa kamu ngomong gitu ma kamu ?”&lt;br /&gt;Dastya yang tahu kalau sebenarnya itu Roger memilih memutuskan hubungan telephonenya. Ia masih belum bisa dan belum siap untuk berbicara dengannya.&lt;br /&gt;Rogerpun tak kehabisan akal untuk dapat berbicara dengan Dastya. Kali ini ia menghubungi ayah Dastya.&lt;br /&gt;”Malem Oom.”&lt;br /&gt;”Malem. Ini siapa ?”&lt;br /&gt;”Saya temennya Novi. Novinya ada ?”&lt;br /&gt;”Oh ............ sebentar ya.”&lt;br /&gt;Ayah Dastya mendatangi kamar Dastya untuk meminta pendapatnya apakah dia mau menerima telephone itu atau tidak.&lt;br /&gt;”Anaknya sudah tidur” kata ayah Dastya kemudian.&lt;br /&gt;”Bisa minta tolong dibangunin ga’ Oom ?”&lt;br /&gt;”Sebentar ya.”&lt;br /&gt;”Hallo.”&lt;br /&gt;”Hallo Nov.”&lt;br /&gt;“Mas kenapa telephone bapak.”&lt;br /&gt;“Abis mau gimana lagi, kamu ga’ mau jawab telephoneku. Nov, aku ga’ mau putus ma kamu.”&lt;br /&gt;”Mas, pake kartu apa lagi.”&lt;br /&gt;”Ini mas telephone dari wartel.”&lt;br /&gt;“Mas udah makan ?”&lt;br /&gt;“Belum, ini tadi abis pulang kerja langsung telephone kamu. Nov, kamu jelasin maksud kamu tuh apa ngomong kayak gitu. Aku nggak suka.”&lt;br /&gt;”Mas, udah ditutup aja ya, ntr habis banyak.”&lt;br /&gt;”Nggak ! Jawab dulu. Nov, aku tu beneran sayang banget ma kamu. Mas dah janjikan kalau ntar lebaran pulang. Mas juga dah siapin kadonya buat kamu. Iya ini CDnya AAC juga udah mas siapin. Masa kamu tega ..........”&lt;br /&gt;”Iya ....... iya aku tahu udah aja ya ntar uang mas kebuang banyak sayang kan?. Besok dech aku ganti yang telephone. Ya ...........”&lt;br /&gt;”Nggak ! kamu jawab dulu, kita nggak jadi putu ’kan, Nov ..........”&lt;br /&gt;”Ya, ya udah anggap aja kemarin salah ngomong.”&lt;br /&gt;”Bener ya, makasih ya Nov, sekarang mas dah lega. Kamu tahu ma kepikiran terus.”&lt;br /&gt;”Ya udah ya mas. Aku tutup telephonenya, kasihan mas ntar, abis banyak uangnya.”&lt;br /&gt;”Ya udah, tapi ntar kita lebaran jadi ketemuan ’kan. Ma akan selalu sayang dan cinta ma kamu Nov.”&lt;br /&gt;”Udah ya mas.”&lt;br /&gt;”Bentar lagi ya Nov, ..........”&lt;br /&gt;”Mas mau ngomong apa lagi.”&lt;br /&gt;”Udah, kamu jangan mikirin. Kamu tenang aja. Toh juga bukan kamu kan yang keluar uang.”&lt;br /&gt;Dastya hanya diam.&lt;br /&gt;”Nov .............. kita jodoh ’kan ya.”&lt;br /&gt;”Aku nggak tau.”&lt;br /&gt;”Kamu kenapa gitu. Ada ibu kamu ya.”&lt;br /&gt;”Iya .......... aku takut dimarahin karna ga belajar.”&lt;br /&gt;”Sini biar aku yang ngomong sama ibu kamu.”&lt;br /&gt;”Ah ...... nggak usah.”&lt;br /&gt;”Nov, ntar aku maen ke rumah ya.”&lt;br /&gt;”Jangan dech. Aku janji, kali ini bener-bener bakalan nemuin ma. Tapi jangan kerumah.”&lt;br /&gt;”Iya .......... iya ........... udah gitu aja ya. Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;”Wassalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;Hubungan telephone itupun terputus. Emang dasar, yang namanya cewek, nggak pernah bia lepas dech dari rayuan gombal cowok. Termasuk cewek yang satu ini. Meski didalam hatinya masih bergejolak rasa marah dan kesal, tapi tetep aja juga luluh dengan kata-kata manis si Roger itu.  &lt;br /&gt;”Siapa, Dastya ?”&lt;br /&gt;”Ehm ............. itu lho bu, yang pernah aku ceritain.”&lt;br /&gt;”Nak Jakarta itu ?”&lt;br /&gt;”He – eh.”&lt;br /&gt;”Emangnya kenapa ?”&lt;br /&gt;”Sebenarnya mau Dastya putusin aja, tapi .......”&lt;br /&gt;”Makanya jangan sembarangan temenan ma cowok.”&lt;br /&gt;Tapi sepatah dua patah kata dijaga. Satu lagi jangan sampe nyakitin perasaan cowok. Mereka bisa ngelakuin apa aja. Bisa aja ’kan kamu diapa-apain ma mereka. Dastya hanya diam mendengarkan ibunya.&lt;br /&gt;”Ibu sich, ga pernah nglarang kamu buat deket atau pacaran ma cowok. Tapi hati-hati, jangan suka ditelephone ma cowok apalagi kamu belum tahu dan kenal sama mereka.”&lt;br /&gt;”Iya bu ..........”&lt;br /&gt;”Kok dia bisa tau nomor telephonenya bapak ?”&lt;br /&gt;”Kemarin itu waktu handphonenya belum diganti, ’kan ga bisa buat telephonan jadi aku kasih dia nomornya bapak, kalau mau telephone ’kan bisa jelas.”&lt;br /&gt;”Ya udah, ibu sich Cuma bisa bilang ati-ati aja maen sama cowok, ntar kalau ga bener bisa-bisa kamu yang dimaenin.”&lt;br /&gt;Sekali lagi Dastya hanya diam mendengarkan nasihat ibunya. Dalam hatinya ia membenarkan apa kata ibunya. Apalagi belakangan terakhir ia merasa telah dipermainkan. Tapi yang namanya Dastya, ya.......... susah sekali mengerti siapa dia sebenarnya. Terkadang ia bisa sangat baik, tapi terkadang ia seperti seorang yang tak pernah mengerti sesuatu hal yang baik.&lt;br /&gt;Tapi mudah sekali menyadarkan Dastya, bila sepertinya dia sudah mulai berbelok dari jalan yang seharusnya ia lewati. Hanya dengan sekali saja ibunya mengatakan sesuatu dengan nada marah atau sekiranya raut muka ibunya mulai memperlihatkan tanda-tanda kemarahan, maka Dastya seperti sebuah siput yang bersembunyi dibalik cangkangnya bila ia merasa ada gangguan dari luar.&lt;br /&gt;Dastya lebih suka menekan perasaannya, mengalah pada keadaan. Pada dasarnya Dastya hanya seorang anak perempuan yang mudh sekali merasa iri terhadap orang lain. Dilihtnya teman-temannya dengan mudah bergaul dengan orang lain, jalan-jalan kesana kemari ketempat yang selalu berbeda tiap kali, berbelanja, membeli makanan dikantin, dan semua saja apa yang ada dan apa yang dilakukan temannya juga ingin dia lakukan.&lt;br /&gt;Tapi Dastya masih bisa mengendalikan dirinya dari keinginan-keinginan itu. Dia selalu ingat apa kata ibunya setiap kali pikirannya berkecamuk ingin melakukan itu semua.&lt;br /&gt;”Mereka melakukan itu semua karna mereka anak orang kaya, mereka bisa melakukannya dengan jerih payah orang tua. Kalau dari kecil mereka terbiasa seperti itu bagaimana besarnya. Zaman sekarang cari uang itu tidak mudah, bahkan hanya untuk 1000 perakpun orang-orang harus bener-bener bekerja keras. Jangan pernah memperbudak orang tuamu sendiri, meski mereka sendiri tidak pernah merasa diperbudak. Mereka, para orang tua menginginkan kebahagiaan anaknya. Tapi sebagian dengan cara yang salah.”&lt;br /&gt;Meski sebenarnya Dastya mampu melakukan apa yang dilakukan teman-temannya, tapi rasa rendah diri dan nasehat dari ibunya itu selalu menjadi penghalangnya. Yang selalu membunuh keinginan-keinginan Dastya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-6011720780476103420?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6011720780476103420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6011720780476103420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_2686.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-6356811950736287922</id><published>2010-02-20T16:40:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:40:59.599-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB LIMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak teraa waktupun berjalan begitu cepat. Tiga bulan t’lah berlalu. Kisah perjalanan cinta Dastya dan kekasihnya itu dihiasi oleh kecemburuan dan pertengkaran kecil. Namun sayangnya, Dastya yang terlalu polos. Ah ....... tidak mungkin lebih tepatnya bodoh. Menganggap semua itu karna kesalahannya. Hingga ia harus rela menahan sakit dihatinya dan setiap kali yang harus minta maaf atas kesalahan yang tak diperbuatnya.&lt;br /&gt;Karena kepolosannya itulah, ia tak ragu untuk memberikan apapun tentang dirinya. Sedangkan ia sendiri tak mendapat apapun dari Roger. Pernah suatu kali, Dastya berkenalan dengan seorng teman kakaknya.&lt;br /&gt;Hubungan mereka nampak sangat akrab sekali. Namun sayangnya, lagi-lagi Dastya tak mau bertemu dengan kenalannya itu. Entah kenapa sepertinya dia trauma dengan laki-laki atau mungkin takut setiap melihat bayangan berita di TV, yang menampilkan pelecehan dan tindakan kriminal terhadap perempuan.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, justru orangtuanya yang tahu labih dulu kak Rudi – nama teman kakaknya. Dan itu membuat Dastya merasa malu, terlebih ketika kak Rudi menceritakan tentang hubungan mereka pada kakak Dastya. Karena rasa malunya itulah, kini Dastya tak lagi berhubungan dengan kak Rudi.&lt;br /&gt;Sialnya, Airin malahan memanas-manasi Roger atas kejadian ini. Mungkin maksudnya dia hanya ingin Roger lebih perhatian lagi pada Dastya karena menurutnya akhir-akhir ini kakak keponakannya itu suka mikirin makhluk yang satu itu.&lt;br /&gt;Dan tak ayal lagi, Roger pun termakan kata-kata Airin. Pertengkaran dan selisih paham kembali terjadi. Dan lagi dengan tutur lembut Dastya dan rasa bersalahnya, mereka kembali berdamai. Ya ...... hubungan mereka kembali tenang.&lt;br /&gt;”Rin, kamu ngomong apa sama dia ?”&lt;br /&gt;”Dia siapa ?”&lt;br /&gt;”Itu cwoknya mbak.”&lt;br /&gt;”Oh ..... aku bilang aja apa adanya. Kalau mbak dapet kenalan cowok baik banget. Dan gitu perhatian, ganteng, dan juga suka beliin mbak pulsa. Sedangkan dia apa hebatnya ?” dah ga pernah sms, telephon jangankan beli pulsa, lha wong dianya yang malahan minta. Cowok apaan tuh. Ngakunya dah kerja. Tapi kok ya minta-minta.”&lt;br /&gt;Dastya terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan adiknya itu. ”Tapi ’kan ya nggak harus gitu tho. Aku jadi berantem lagi ma dia.”&lt;br /&gt;”Ya udah putus aja gampang tho ?”&lt;br /&gt;”Nggak mudah Rin buat cari cowok.”&lt;br /&gt;”Kenapa nggak. Lagian, bukannyambak ndiri pernah bilang kalau kita jangan mengejar cinta. Karna cinta akan datang tanpa kita kejar. Terus utamakan belajar karena adanya cowok justru bikin konsentrasi belajar kita pecah.”&lt;br /&gt;Sekali lagi Dastya hanya terdiam, membenarkan ucapan adiknya yang mengulangi kata-katanya dulu.&lt;br /&gt;”Opss ........ sorry, aku dah sok tahu. Tapi benar ’kan.”&lt;br /&gt;”Nggak pa-pa kok. Tapi sudah terlanjur terjadi, dan aku nggak bisa lepas darinya.”&lt;br /&gt;”Ya udah jalanin aja kalau gitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;Ternyata tak berhenti pada Airin, teman-teman Dastyapun kurang menyetujui juga hubungan Dastya dan cowoknya itu.&lt;br /&gt;”Ya ampun ............ Tya, Tya. Mbok ya kamu cari yang ada disini aja. Yang pasti-pasti aja. Daripada kamu pacaran sama orang yang ga jelas itu. Emangnya kamu dah tau benar alamat rumahnya ?”&lt;br /&gt;”Ya tepatnya, ga tau tapi daerahnya dah tau ?”&lt;br /&gt;”Terus dia dah tau apa aja tentangmu ?”&lt;br /&gt;”Semuanya.”&lt;br /&gt;”Ya.”&lt;br /&gt;”Tya, mau aku kenalin ma seorang ya ?”&lt;br /&gt;”Siapa ? temen cowokmu.”&lt;br /&gt;”Ya, itupun kalau kamu mau.”&lt;br /&gt;”Nggak usah dech.”&lt;br /&gt;”kan Cuma temenan, lagian kenapa sich kamu setia banget ma dia. Dia aja belum tentu setia ma kamu. Kenapa juga kamu nggak mau cari cowok sini aja.”&lt;br /&gt;”Kalau disini ’kan, ntar andai aku selingkuh dia tahu dan kalau aku tahu dia selingkuh, aku juga sakit hati. Jadi enakan jauhan gini.”&lt;br /&gt;”Aku nggak pernah bisa ngerti jalan pikiran kamu ya !”&lt;br /&gt;”Ya sich, aku ndiri juga kadang ngerasa aneh.”&lt;br /&gt;Beda lagi dengan orang tuanya yang terlau mengkhawatirkan Dastya. Ya pastinya mereka juga nggak mau anaknya salah pilih.&lt;br /&gt;”Tya, kamu yakin ma dia. Ntar kalau ternyata dia cacat, jelek atau apa gimana ?”&lt;br /&gt;”Nggak taulah, bu.”&lt;br /&gt;”Ibu Cuma nggak mau, kalau ntar kamu ada apa-apa.”&lt;br /&gt;”Tya tahu kok bu.”&lt;br /&gt;Keraguanpun muncul dalam diri Dastya. Kata-kata Airin, teman-teman dan ibunya, selalu terngiang ditelinganya dan mengganggu pikirannya. Ia membenarkan apa kata mereka, tapi ia juga nggak bisa untuk meninggakan ini semua.&lt;br /&gt;Kegelisahan hatinya itu diutarakan pada kekasihnya ........ ah ....... itu terlalu indah untuk sebutan seorang makhluk aneh, yang tak jelas wujudnya. Tak ingin dianggap buruk, Rogerpun mengeluarkan kata-kata manis dan janji-janji palsu untuk membut Dastya kembali yakin pada dirinya. Dan ........ sudah pasti Dastya pun luluh dan kembali merasa yakin pada cowoknya itu.&lt;br /&gt;”Hah ......... Dastya, kamu terlalu baik dan polos atau kamu ini emang bodoh sich, suara hati Dastya suatu ketika.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-6356811950736287922?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6356811950736287922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/6356811950736287922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_8324.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-181267710717032378</id><published>2010-02-20T16:39:00.002-08:00</published><updated>2010-02-20T16:40:30.958-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>BAB EMPAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih secerah kemarin. Pagi itu Dastya dan Wina berangkat sekolah bersama. Diperjalanan mereka banyak ngobrol.&lt;br /&gt;”Tya, sekarang Elga dimana ya ?”&lt;br /&gt;”Ya mana ku tau.”&lt;br /&gt;”Danemnya berapa sich dulu ?”&lt;br /&gt;”Kata Yani dua puluh delapan tapi yang lainnya bilang dua puluh.”&lt;br /&gt;”Bener ga ya dia di SMABA.”&lt;br /&gt;”Mungkin sich. Ada yang bilang begitu. Tapi gimana ya dengan Prihan. Dia sekarang sekolah dimana ?”&lt;br /&gt;”Tau.”&lt;br /&gt;”Jangan gitu, dulu ’kan kalian .......”&lt;br /&gt;”Ya dulu ’kan gara-gara kamu ma Yani, yang lain juga. Aku kan ga ada apa-apa ma dia.”&lt;br /&gt;”Yang bener.”&lt;br /&gt;”Kamu ndiri gimana ma Elga, hayo .......”&lt;br /&gt;”Elga ? aku dah lupa gimana dia dulu. Sekarang dah ada yang lain.”&lt;br /&gt;”Siapa ?”&lt;br /&gt;”Ga tau.”&lt;br /&gt;”Rumahnya ?”&lt;br /&gt;”Ga tau.”&lt;br /&gt;”Namanya ga tau, rumahnya ga tau. Terus apa yang kamu tau dari di. Terus ......... apa yang bikin kamu tertarik ma dia.”&lt;br /&gt;”Ya aku ’kan kenalnya lewat sms.”&lt;br /&gt;”Lho kamu dah punya hp tho.”&lt;br /&gt;”Iya, kemarin waktu lebaran dapetnya. Cuma barang temuan dijalan. Tapi ga pa-pa juga sich.”&lt;br /&gt;”Aku boleh pinjm ga !”&lt;br /&gt;”Boleh aja.”&lt;br /&gt;Tak terasa mereka telah tiba diekolah. Baju pun basah oleh keringat. Hanya 10 menit saja waktu mereka untuk istirahat.&lt;br /&gt;”Mana, Tya. Boleh kubawa sekarang.”&lt;br /&gt;”Ni, kebetulan juga dah dapet bonusan. Ntar habis pulang sekolah aku minta lagi ya. Satu lagi ntar kalau ada sms ga usah kamu balas ya.”&lt;br /&gt;”Tenang aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*      *     *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan senang dan santai karna bisa berbagi kebahagiaan dengan temannya, Dastyapun masuk kedalam kelasnya untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.&lt;br /&gt;Dan seperti janjinya dengan Wina, pulang sekolahpun handphone itu kembali ketangan Dastya. Sejak saat itu, Wina sering meminjamnya. Hingga suatu saat, entah apa yang Wina katakan pada Roger, membuat Dastya cemburu dan sempat merasa kehilangan kepercayaan dari Roger.&lt;br /&gt;Akhirnya mereka kembali berbaikan setelah sempat ada salah paham. Dengan kepandaian Dastya bermain kata-kata dan juga sedikit kata manis dari Roger akhirnya mereka bisa saling mengerti. Hubungan mereka semakin akrab dan baik. Bahkan kata-kata sayang juga sering terlontar dari keduanya.&lt;br /&gt;Beberapa teman Dastyapun mulai mengupas kisah perjalanan hidup Dastya, terutama soal kejombloannya.&lt;br /&gt;”Dastya, kamu dari tadi diem aja.”&lt;br /&gt;”Ya aku harus ngomongin apa. Denger cerita kalian aja udah enak, lucu, kadang menyedihkan tapi juga romantis.”&lt;br /&gt;”Masa sich. Tapi apa kamu nggak kepengen tu punya pacar ?”&lt;br /&gt;”Aku dah punya kok.”&lt;br /&gt;”Siapa ?”&lt;br /&gt;”Ya ada dech pokoknya.”&lt;br /&gt;”Sekolahnya ?”&lt;br /&gt;”Udah kerja.”&lt;br /&gt;”Enak dong, bisa jajan tiap hari.”&lt;br /&gt;”Biasa aja kok.”&lt;br /&gt;”Anak mana ?”&lt;br /&gt;”Badegan.”&lt;br /&gt;”Kerjanya ?”&lt;br /&gt;”Di Jakarta.”&lt;br /&gt;”Critain dari awal dong.”&lt;br /&gt;”Ya gitu, perkenalan. Ya ..... pokoknya gitu dech.”&lt;br /&gt;”Ah ....... nggak seru. Yo dong Tya.”&lt;br /&gt;”Ya aku bingung gimana mulainya.”&lt;br /&gt;”Ya udah kita tanya-tanya aja.”&lt;br /&gt;”Emang kamu kenal dia kapan ?”&lt;br /&gt;”Lebaran kemarin.”&lt;br /&gt;”Di ........ ?”&lt;br /&gt;”Maksudnya, di rumah.”&lt;br /&gt;”Dirumah ? rumahnya siapa ?”&lt;br /&gt;”Rumah masing-masing.”&lt;br /&gt;”Ah ... bingung aku.”&lt;br /&gt;”ya ....... smsan gitu lho maksudku.”&lt;br /&gt;”O ........”&lt;br /&gt;”Dah ketemu belum. Gimana cakep nggak ?”&lt;br /&gt;”Iya, motornya merk apa ? terus diajakin kemana aza.”&lt;br /&gt;”Ah ....... satu-satu dong nanyanya. Aku belum pernah ketemu ma dia. Jadi aku nggak tau dia naik motor merk apa, dia cakep apa nggak.”&lt;br /&gt;”Yah ...... payah. Terus kok bisa jadian.”&lt;br /&gt;”Udah dech ngomongin yang lain aja ya.”&lt;br /&gt;“Ga bisa, selesaikan dulu satu hal baru yang lain.”&lt;br /&gt;”Ya ...... mungkin dah jodoh kale.”&lt;br /&gt;”Ye ........”&lt;br /&gt;”Terus kapan dong ketemunya ?”&lt;br /&gt;”Ya ....... kemarin waktu lebarn sich mint ktemu, tpi aku nggak bisa .........”&lt;br /&gt;”Kenapa ?”&lt;br /&gt;”Klian kok kompk gitu sich. Ya pokoknya nggak berani aja. Nah ...... kalau aku keluar bisa kena marah.”&lt;br /&gt;”Ya udah sekarang aja.”&lt;br /&gt;”Nggak bisa.”&lt;br /&gt;”Kenapa lagi ?”&lt;br /&gt;”Dia dah balik ke Jakarta.”&lt;br /&gt;”Hah .......”&lt;br /&gt;”Terus kapan mau ketemuannya ?”&lt;br /&gt;”Ya ga tahu.”&lt;br /&gt;”Ya udah dech. Malahan bikin Dastya ngerasa sedih aja ntar. Gimana kalau kita ngantin aja.”&lt;br /&gt;”Oke.”&lt;br /&gt;”Aku disini aja.”&lt;br /&gt;”Ya udah. Yuk teman-teman. Let’s go !”&lt;br /&gt;*             *             *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-181267710717032378?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/feeds/181267710717032378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/bab-empat-masih-secerah-kemarin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/181267710717032378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/181267710717032378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/bab-empat-masih-secerah-kemarin.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-623621664704285110</id><published>2010-02-20T16:39:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:39:41.655-08:00</updated><title type='text'>mencintai sebuah bayangan</title><content type='html'>BAB TIGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya semalam ia tidur terlalu malam karna harus mengajar privat Airin. Hari ini Dastya bangun kesiangan. Segera saja ia mempersiapkan diri berangkat kesekolah. Kalau di sudah bangun kesiangan pikirannya pasti ga karuan. Apalagi ditambah omelan ibunya. Biasalah ibunya selalu mengomel kalau sekiranya Dastya bangun kesiangan dan hanya sedikit membantu ibunya.&lt;br /&gt;Hari itu memang sepertinya hari yang kurang menyenangkan untuk Dastya. Waktu harus mandi, air kran macet, terpaksa dia harus menimba. Belum sampai disitu aja, air yang susah ditimbanya dipakai adik keponakannya yang lain yang masih SD. Tapi untunglah waktu Dastya mandi air kran mengalir.&lt;br /&gt;Waktu pagi itu tak memberi kesempatan Dastya untuk makan pagi. Karna ia takut kalau Wina, teman satu sekolahnya menunggu terlalu lama. Tapi ternyata ketika dia tiba dirumah Wina, justru dia yang harus menunggu lebih dari 10 menit.&lt;br /&gt;Dalam hati Dastya dah bergejolak rasa marahnya. Rasanya dia sudah tidak mampu menahan marahnya. Dia berulang kali menarik nafas panjang dengan sesekali beristighfar. Dan dengan nada ga bersalah Wina keluar.&lt;br /&gt;”Dah lama ya, Tya ?”&lt;br /&gt;”Lumayan.” Jawab Dastya setengah hati.&lt;br /&gt;”Ayo ..... kita dah kesiangan nih.”&lt;br /&gt;Dastya masih meredam emosinya. Dalam perjalanan dia diam saja. Kalaupun ditanya Wina jawabnya singkat saja. Padahal pagi itu dia berniat mengungkapkan kebahagiaannya. Tapi ia urungkan, suasana hatinya belum enak.&lt;br /&gt;Seperti kebiasaannya disekolah waktu SMP, kalau dia sedang marah pastilah abis kerta-kertas yang ada disekitarnya. Itu pertama kali ia lakukan ketika dia harus melawan perasaannya.&lt;br /&gt;Pernah suatu kali ketika SMP, ia dekat dengan seorang mungkin beberapa teman cowoknya. Karna memang mereka suka melakukan kerjasama dalam satu kelompok belajar. Tapi seorang temen ceweknya juga suka dengannya. Makanya ia mencoba untuk mengalah. Ia mencoba bersikap dingin pada cowok itu.&lt;br /&gt;”Tya, pinjam tugas matematika yang kemarin dong ?”&lt;br /&gt;”Kamu belum ngerjain tho.”&lt;br /&gt;”Iya ni …..”&lt;br /&gt;“Kamu pinjam aja punya yani.”&lt;br /&gt;”Emang punya kamu kenapa ?”&lt;br /&gt;”E .... emm ..... anu mau dipinjam Wahyu.”&lt;br /&gt;”O .... ya udah.”&lt;br /&gt;Semakin lama, semakin tertekan batin Dastya, untunglah di semester 4, ada seleksi masuk kelas unggulan. Dan Dastya lulus dalam ujian. Sekarang ia terpaksa harus pindah kelas berpisah dengan Elga, pujaan hatinya. Karna berbeda kelas mereka jarang bertemu, bahkan juga jarang menyapa.&lt;br /&gt;Keadaan semakin parah ketika naik ke kelas tiga, apalagi ketika menjelang UAN. Dastya mulai mencoba untuk tidak bertemu dengan Elga. Namun karna memang satu sekolahan kemungkinan untuk tidak bertemu sangatlah kecil.&lt;br /&gt;Bila kebetulan ia melihat Elga, tak hentinya ia memandang. Tapi bila sekiranya Elga memandang kearahnya ia segera memalingkan mukanya, mengalihkan perhatiannya pada benda lain.&lt;br /&gt;Dan setiap kali ia teringat kalau ia harus melupakan Elga, karna ujiannya semakin dekat dan dia harus konsentrasi pada pelajaran, emosinya selalu muncul, dan saat itulah dia akan menuliskan kalimat-kalimat yang merupakan isi hatinya pada selembar kertas, lantas melalui kedua tangannya hancurlah kertas itu hingga tak dapat lagi disatukan. Dan itu masih terulang sampai sekarang.&lt;br /&gt;”Tya, ngapain kamu nyobekin kertas gitu.”&lt;br /&gt;”Melampiaskan emosi.”&lt;br /&gt;”Kamu sedang marah ma siapa ? Trus kenapa juga harus nyobekin kertas, kan sayang kertasnya.”&lt;br /&gt;”Ada aja deh pokoknya. Ya aku harus nglampiasin marahku ke siapa ? Kamu? Kamu kan ga da sangkut pautnya.”&lt;br /&gt;”Ya kan bisa langsung ke sumbernya.”&lt;br /&gt;”Biarinlah daripada nanti aku ribut ma dia, terus aku kalah ngomong kan aku juga yang sakit hati.”&lt;br /&gt;”Bener juga sich.”&lt;br /&gt;”Siapa sich. Mbok ya biar aku yang marahin.”&lt;br /&gt;”Iya Tya, kamu jadi orang jangan terlalu sabar.”&lt;br /&gt;”Alah .... udah lupain aza. Eh ..... PRnya IPA dah pada ngerjain belum. Soalnya bentar lagi bel masuk.”&lt;br /&gt;”Ya kan kita nungguin kamu.”&lt;br /&gt;”Kok ?”&lt;br /&gt;”Masa ga tau sich.”&lt;br /&gt;”Oh ..... ni, tapi aku juga belum selesai semua.”&lt;br /&gt;Empat jam pelajaran berlalu begitu cepat, bel istirahatpun berbunyi.&lt;br /&gt;”Tya, ngantin yuk !”&lt;br /&gt;”Nggak deh.”&lt;br /&gt;”Kenapa ?”&lt;br /&gt;”Males.”&lt;br /&gt;”Ya udah. Kamu mau nitip apa ?”&lt;br /&gt;”Nggak juga.”&lt;br /&gt;”Kamu hari gini puasa ya ?”&lt;br /&gt;Dastya hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu.&lt;br /&gt;”Ya sudah, kita duluan ya.”&lt;br /&gt;Sepeninggal Ela danNur, kedua temannya. Dastya mengambil novel yang baru dipinjamnya diperpustakaan daerah, dari dalam tasnya. Ketika baru mendapat 3 – 4 lembar, pandangan matanya bersitatap dengan kakak kelasnya yang lewat didepan kelasnya. Wajah kakak kelas yang lumayan menarik membuatnya harus memalingkan mukanya.&lt;br /&gt;Bel kembali berdentang. Teman-temannya yang sebelumnya berkeliaran diluar kelas, berduyun-duyun masuk kelas. Dan hari itu menjadi hari yang cukup menegangkan bagi Dastya dan teman-teman sekelasnya. Bagaimana tidak hari itu ada ulangan matematika dadakan, dan tak ada persiapan sebelumnya.&lt;br /&gt;Memang susah menjadi watak Dastya dan teman-temannya yang suka pelupa. Padahal seminggu sebelumnya sudah ada himbauan belajar untuk ulangan.&lt;br /&gt;”Hah ...... alamat ga baik ni ?”&lt;br /&gt;”Maksudnya ?”&lt;br /&gt;”Nggak ada satupun yang bisa kukerjain.”&lt;br /&gt;”Pengen pinter, makanya belajar.”&lt;br /&gt;”Alah ...... lagak lu, emang bisa tadi ngerjain ?”&lt;br /&gt;”Ya lumayan, mudah kok.”&lt;br /&gt;”Mudah soalnya, jawabannya susah. Palingan juga tadi Cuma nulis soalnya aja, iya ’kan ?”&lt;br /&gt;”Kok tau sich.”&lt;br /&gt;”Ya taulah lah, barusan kamu ngakuin ?”&lt;br /&gt;”Kapan ?”&lt;br /&gt;”Barusan !”&lt;br /&gt;”Udah, nggak usah terlalu dipikiran. Yang lalu biarlah berlalu, sekarang waktunya pulang, terus istirahat.”&lt;br /&gt;”Ya kamu bisa tenang, kamu pasti dah ngerjain semua.”&lt;br /&gt;”Iya, ni Tya curang. Makanan lu apaan sich.”&lt;br /&gt;”Singkong.”&lt;br /&gt;”Kalau gitu besok aku makan singkong aja deh biar seperti kamu, Tya.”&lt;br /&gt;”Ye ...... ga usah gitu juga kale, makan singkong tiap hari nggak menjamin pintar, kalau kamu gak belajar kan percuma.”&lt;br /&gt;”Iya ..... iya Tya, aku belajar.”&lt;br /&gt;”Lho .... gitu ’kan ?”&lt;br /&gt;”Ya gimana dong.”&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan mereka terus saja bercanda. Tapi sayangnya mereka harus berpisah ditempat parkir karena Dastya dan Nur mengendarai sepeda sedangkan Ela naik sepeda motor.&lt;br /&gt;Mengayuh sepeda sepanjang 3 KM, memang sangat melelahkan tapi apa mau dikata Dastya terlalu sayang pada sepedanya yang sudah hampir sembilan tahun bersamanya. Ditambah lagi, ia juga masih senang pulang bersama teman-temannya, bersama-sama naik sepeda. Dan dia juga maunya sepeda motor yang ia pake adalah hasil kerja kerasnya. Makanya kalau Dastya sudah disuruh-suruh naik motor oleh keluarganya, pastilah dia langsung pergi dari obrolan. &lt;br /&gt;”Dastya, kamu dibilangin kok malah pergi! Ga’ sopan.”&lt;br /&gt;”Ya habisnya ibu ma yang lain ngomongin itu aja, bosan bu. Ntar kalau dah waktunya aku pasti naik motor kok.”&lt;br /&gt;”Iya tapi kapan ? Ibu Cuma kasihan ma kamu. Lagian apa kamu nggak malu ma temen kamu. Mereka naik motor ’kan.”&lt;br /&gt;”Tapi banyak juga yang naik sepeda.”&lt;br /&gt;”Kamu itu kalau dibilangin orang tua, bantah terus.”&lt;br /&gt;”Ya udahlah bu, nanti kalau terlalu dipaksa, Tyanya malah semakin ga mau. Biarin aja nanti pasti malu sendiri. Ditunggu aja waktunya. Jangan memperpanjang masalah.”&lt;br /&gt;”Bapak selalu aja gitu, belain Dastya.” &lt;br /&gt;Memang dasar Dastya anak ankal. Habis dimarahin gitu malahan mainan sms dengan Roger.&lt;br /&gt; Mlem, gi ngap. Masih marah ya ma aq&lt;br /&gt;Aq kn cma berusaha bwt ju2r ma kamu&lt;br /&gt;Aq kan juga dah minta maaf ’n janja ga’ kan&lt;br /&gt;Suka lagi ma ka2k kelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aq dah ga’ marah ko’. Tapi aq belum yakin kalau kamu ga ’kan suka lagi dengan ka2k kelasmu itu. Kalian ’kan setiap hari ketemu kalian bisa lebih lama dan lebih suka ....... daripada aq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Km ko’ gitu, aq ’kan beneran. Ya udah ju2r aja aq ga’ mau kehilangan kamu. Aq juga ga maksa kamu bwt percaya ma aq.&lt;br /&gt;Cukup lama tak ada balasan dari Roger, sedih sekali nampaknya Dastya. Tapi sekejab saja kesedihan itu hilang ketika Airin datang.&lt;br /&gt;”Awas, bentar lagi banjing. Eh ....... salah banjir kale benar.”&lt;br /&gt;”Mau ngapain lagi.”&lt;br /&gt;”Ye ...... q kan ga salah ko’ jadi dimarahin juga.”&lt;br /&gt;”Emangnya tadi aq marah.”&lt;br /&gt;”Enggak, nggak marah, cuman ........ ”&lt;br /&gt;” Cuma apa ?”&lt;br /&gt;”Nggak papa. Ngapain sich, sedih gitu. Kalau udah ada mbak Airin, ga ada yang boleh sedih.”&lt;br /&gt;”Ye ....... ”&lt;br /&gt;”Kenapa sich.”&lt;br /&gt;”Dia marah ma aku.”&lt;br /&gt;”Dia siapa ?”&lt;br /&gt;”Ya pokoknya dia.”&lt;br /&gt;”Terus ?”&lt;br /&gt;”Dibilangin dia marah ma aku ko’.”&lt;br /&gt;”Ya .... masalahnya apa gitu lho maksud aq.”&lt;br /&gt;”Dia ’kan bilang kalau dia mau aku jadi ceweknya apa nggak. Terus aku jawab ........ ”&lt;br /&gt;”Bukan bilang, tapi tanya.”&lt;br /&gt;”Ya udah sama aja.”&lt;br /&gt;”Dibilngin beda juga. Terus jawabnya apa ?”&lt;br /&gt;”Aku jawab ya masih pikir-pikir dulu. Maksudnya masih banyak pertimbangan. Ya bukannya sok jual mahal atau apa Cuma nanti kalau dianya ternyata ga suka ya ’kan dia kecewa dong sementara aku ga mau dia kecewa.”&lt;br /&gt;”Kan ya biasa dong kalau jawabnya gitu. Lagian kenapa sich harus yang terlalu mikirin dia, yang ngerasain ’kan dia kenapa mbak yang jadi bingung. Repot-repot mikirin dia.”&lt;br /&gt;”Tapi aku ’kan ........ ”&lt;br /&gt;”Kenapa ? Suka. Ya ampun ketemuan aja belum.”&lt;br /&gt;”Bukan itu masalahnya. Aku tadi sempat bilang kalau aku suka ma ka2k kelasq. Jadinya dia marah.”&lt;br /&gt;”Kenapa juga harus ngomong. Toh dia juga ga tau ’kan ?”&lt;br /&gt;”Ya udah ngomong ma kamu ga da gunanya.”&lt;br /&gt;”Sini dech, biar aku yang sms.”&lt;br /&gt;”Kamu mau ngomong pa ma dia.”&lt;br /&gt;”Udah sini. Ntar juga tau.”&lt;br /&gt;”Jangan macam-macam ya !”&lt;br /&gt;”Beres. Don’t worry.”&lt;br /&gt;Sambil tersenyum ia berikan handphonenya pada Airin. Setelah itu dia pergi untuk menjahitkan bajunya.&lt;br /&gt;”Mau kemana ?”&lt;br /&gt;”Keluar sebentar. Awas ya jangan macam-macam.”&lt;br /&gt;”Palingan juga handphonenya panas dan pulsanya abis.”&lt;br /&gt;Nampaknya masih berat hati, Dastya meninggalkan hpnya pada Airin. Tapi dia pikir kalau ga pa-pa juga. Sepeninggal Dastya, tanpa ragu lagi dikirimkan sms ke hp Roger.&lt;br /&gt;Habis ngomong apa sich km. Sampe-sampe mbak Nov sedih gitu mw nangis lagi. Km beneran suka ga sich ma di. Jngan macam-macam ya sama mbak Nov. Km bakalan nyesel. Orang seperti mbak Nov jarang ditemui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini siapa, mas janji ga ’kan bwt mbak Nov, sedih lagi. Sekarang mbak Novnya dimana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Airin keponakannya. Mbak Nov, lagi keluar. Btw mas orangnya cerewet ga sich. Cz kalau mau jadi cowoknya mbak Nov, paling ga harus bisa mencairkan suasana.&lt;br /&gt;Rin, menurut kamu mbak Nov beneran suka mas ga sich ? Kemarin waktu mas ajakin ketemuan ga mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap kali aq maen kerumah yang dicritain soal mas aja. Mgkin mbak Nov, takut kale. Skrg banyak kejahatan terhadap cewek, makanya dia ga mau ktmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mas cwok baik-baik ko’. Mas juga serius ma mbak Nov. Emg bener Novi suka ma ka2k kelasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah. Tapi mas punya adik cwok ga ? ga tau juga ya tapi tenang 2 az biar ntar aku ksih tau mas klo mbak Nov selingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bner ya Rin, jagain mbak Nov baik-baik. Bilangin mbak Nov, klo mas syang bgt ma dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, tapi ntar jgn bilang-bilang mbk Nov, klo aq sms mas ya. Mksh.&lt;br /&gt;Tak berselang lama, Dastya pulang ke rumah. Airin masih ada di dalam kamarnya.&lt;br /&gt;”Lama banget mbak.”&lt;br /&gt;”Tapi kamu juga suka ’kan kalau aku lama-lama.”&lt;br /&gt;”Aku pulang dulu ya, ngantuk.”&lt;br /&gt;”Eh ..... tunggu dulu. Kamu sms apa tadi ma dia.”&lt;br /&gt;”Nggak, ’kan aku ga tau nomernya yang mana. ’kan ga dikasih tau, ya mana bisa sms. Aku pulang ya.”&lt;br /&gt;”Km ga bohong ’kan ?”&lt;br /&gt;”Ya ampun ...... ”&lt;br /&gt;”Ya ........ ya ....... sudah sana pulang.”&lt;br /&gt;Akhirnya Airin pulang ke rumah. Ia masih heran sampai segitunya kakak keponakannya itu. Tapi ia maklum juga, baru kali ini kakaknya itu merasakan kedekatan dengan seorang cwok, bukan juga sich Cuma bayangan seorng cwok.&lt;br /&gt;Karena memang sudah merasa capek dan masih ragu untuk berkomunikasi dengan Roger, Dastya pun memilih untuk tidur. Tidak seperti biasanya ia tidur lebih awal. Mungkin juga karena ada perbedaan pendapat antara dia dan ibunya.&lt;br /&gt;Beberapa orang laki-laki, berhenti didepn rumahnya dengan dua buah sepeda motor. Dastya menghampiri mereka dengan perasaan takut kalau ketahuan ibunya. Dastya juga sepertinya tidak terlalu mengenal mereka.&lt;br /&gt;”Permisi.”&lt;br /&gt;”Novi ya.”&lt;br /&gt;”A ......”&lt;br /&gt;”Kenalin .......”&lt;br /&gt;Mereka nampaknya membicarakan sesuatu, sebelumnya Dastya dikenalkan seorang diantaranya mereka pada teman-temannya. Mereka juga sempat bercanda. Satu diantaranya merayu Dastya untuk pergi bersama meraka, tapi Dastya menolaknya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja semua menghilang ketika terdengar adzan subuh berkumandang. Ayam-ayam berkokok bersahutan. Dastya pun terbangun dan ternyata semua hanya mimpi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-623621664704285110?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/feeds/623621664704285110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/623621664704285110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/623621664704285110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/mencintai-sebuah-bayangan_20.html' title='mencintai sebuah bayangan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-5438060205038851987</id><published>2010-02-20T16:25:00.002-08:00</published><updated>2010-02-20T16:27:24.657-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>DEWASA SEBELUM WAKTUNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa 1 : Tw g’ sich kalo temen, adex ataupun kakak qta ternyata memaksakan diri mereka untuk “dewasa”.&lt;br /&gt;Siswa 2 : Tapi apa yang salah ? toh mereka udah SMA, dimana salahnya coba ?&lt;br /&gt;Siswa 1 : Bukan kedewasaannya yang salah, tapi........... perilaku kedewasaan yang mereka lakukan !&lt;br /&gt;Siswa 3 : Maksudnya ? Aku ga ngerti dech.”&lt;br /&gt;Siswa 1 : Maksudnya ?! Gimana ngejelasinnya ya !&lt;br /&gt;Siswa 2 : To the point az dech ..........jangan berbelit-belit !&lt;br /&gt;Siswa 1 : Oke dech. Gini lho ……. kalian pasti dah denger kabar dong tentang siswa SMK atau SMA di Ponorogo yang DO ?&lt;br /&gt;Siswa 2 : Trus ?&lt;br /&gt;Siswa 1 : Mereka itu “dewasa” sebelum waktunya. Ya ........ oke mereka emang udah cukup umur ’n dah pantas dibilang dewasa. Tapi apa kalian dah tau apa makna kata ”dewasa” itu sendiri ?&lt;br /&gt;Siswa 3 : Emangnya dewasa itu apa ?&lt;br /&gt;Siswa 1 : Menurut buku yang pernah aku baca (cie ........ sok banget ya ....). Dewasa itu sikap seseorang yang mampu mengendalikan ’n menata, menjaga emosi mereka. Tau mana yang baik dan benar ...... ga bersikap kekanak-kanakan ......&lt;br /&gt;Siswa 2 : Hubungannya sama siswi yang DO apa ?&lt;br /&gt;Siswa 1 : Karena merasa udah dewasa, mereka juga ngrasa boleh dong buat nglakuin apa yang orang dewasa lakuin ?&lt;br /&gt;Siswa 2 : Contohnya ?&lt;br /&gt;Siswa 1 : Ya ......... kalian pasti dah taulah. Ga’ perlu aku jabarin ’kan ? Padahalkan kalo boleh bilang, mereka itu ”penjajah”. Sama seperti waktu penjajahan Belanda atau Jepang yang memaksa orang-orang bangsa Indonesia untuk bekerja dan mereka menikmati hasilnya ....... sama seperti itu mereka mempekerjakan orang tua mereka. Kalo oarng Jawa bilang ”Tak ewangi rekoso, anakku ben pinter lan seneng, nanging kok sing digolekake ga’ ngrumangsani malah seneng-seneng dhewe”.&lt;br /&gt;Siswa 2 : Bener juga sich ........ bapak / Ibu maafin aku .......&lt;br /&gt;Siswa 1 : Orang tua tidak butuh permintaan maaf, yang dibutuhkan adalah perubahan yang lebih baik. Kalo kita ngaku dewasa harusnya kita sabar ’n kit lebih bisa mikir jauh kedepan saat kita akan mengambil keputusan. Umur, fisik qta boleh dewasa tapi kalo pemikiran qta ga’ ? .......... ?!&lt;br /&gt;Siswa 3 : Sama az kita kayak anak kecil yang masih harus dibimbing, ........&lt;br /&gt;Siswa 2 : Ih ........ malu dong, masa badan gedhe tapi masih diperlakukan kayak anak kecil !?!?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-5438060205038851987?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5438060205038851987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5438060205038851987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/dewasa-sebelum-waktunya-siswa-1-tw-g.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-1809757034684858415</id><published>2010-02-20T16:25:00.001-08:00</published><updated>2010-02-20T16:25:34.644-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>SEKOLAHKU MASA DEPANKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman kelulusan tinggal beberapa hari lagi, tapi masih belum da keputusan ke sekolah mana meneruskan study. Seperti yang dialami Rina, siswi MTs. Putri Ma’arif Ponorogo ini. Dia mengaku kebingungan menentukan pilihannya, SMA atau  SMK ? atau bahkan nggak sekolah ? tapi pilihan yang terakhir ini segera ia coret dari pikirannya.&lt;br /&gt;Sekolah memang menjadi batu loncatan untuk menentukan masa depan. Apa lagi sekarang pemerintah telah mengganti kebijakan wajar 9 tahun menjadi wajar 12 tahun dengan harapan para penerus bangsa dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi dan mereaisasikan tujuan utama negara Indonesia ”Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke – empat.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Rina, Herdy siswa kelas XI jurusan mekanik otomotif STM PEMKAB Ponorogo ini mengaku tidak pernah merasakan kebingungan sebelumnya. Setelah mengetahui bahwa dirinya dinyatakan lulus, segera saja ia bersip untuk meluncur ke Niken Gandini street, depan balai desa Setono dimana diarea tersebut berdiri dengan kokoh sebuah gedung STM PEMKAB Ponorogo.&lt;br /&gt;”Gimana ya ............ ya soalnya sekarang tuh yang dibutuhin bukan cuman ilmu dan teori tapi juga ketrampilan. Jadi Ya ........ ga perlu banyak mikir lagi langsung aja aku pilih STM PEMKAB ” ucapnya ketika ditanya apa alasannya memilih STM sebagai tempatnya menuntut ilmu. ”Sebenarnya ada STM-STM yang lain sich tapi pertama kali ngedaftar dan diterima ya udah,”tambahnya.&lt;br /&gt;Laen lagi dengan Rahayu, siswi kelas XI IPA SMAN 2 Ponorogo ini berpendapat kalau setiap sekolah atau instansi pendidikan itu memiliki tujuan dan fungsi yang sama yakni untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. ”Jadi ya nggak perlu bingung-bingung mau sekolah dimana, yang penting kamu merasa akan nyaman dan cocok untuk melakukan Proses Belajar Mengajar (PBM). Jangan ikut-ikutan temen, karna menuruti keinginan orang tua atau karna hal lain. Harus dari hati, pilihan kamu sendiri. Karna itu bakalan mempengaruhi minat dan konsentrasi belajar,” ucapnya bijak.&lt;br /&gt;Kedua pendapat diatas bisa kamu jadikan bahan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu dimana kamu akan melanjutkan studimu. Untuk Rina dan Rina-Rina yang lain jangan pernah bingung lagi. Dimanapun kamu bersekolah, asalkan kamu serius, tekun dan berusaha keras pasti keberhasilan akan menghampirimu.&lt;br /&gt;Berikut, hasil wawancara dengan Herdy, siswa kelas XI jurusan mekanik otomotif STM PEMKAB Ponorogo dan Rahayu, Siswi kelas XI IPA SMA Negeri 2 Ponorogo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kamu memilih SMA / STM sebagai tempatmu untuk menuntut ilmu ?&lt;br /&gt;Herdy :Aku pengen pintar dan terampil dalam jurusan aku (mekanik otomotif) ya &lt;br /&gt;                gimana sekarangkan yang dibutuhin bukan cuman ilmu dan teori doang tapi juga &lt;br /&gt;                keterampilan.&lt;br /&gt;Rahayu : Kenapa ya ? karna dulu sich emang dah mau ke SMAN 2 Ponorogo tapi ya dikit &lt;br /&gt;                 ragu juga. Senengnya waktu denger berita kelulusan, aku lulus dan nilai NUM  &lt;br /&gt;                 ku cukup diatas standart minimal jadi ya udah daftar aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kamu banggakan dari sekolah kamu ?&lt;br /&gt;Rahayu : Kalau  soal  kebanggaan  dari sekolah kayaknya banyak banget dech. Ntar kalau &lt;br /&gt;                 aku sebutin satu persatu takutnya waktunya ga cukup.&lt;br /&gt;Herdy : Kayaknya  ga  bisa  disebutin  dech.  Tapi  salah  satunya  ya  bisa  menyalurkan &lt;br /&gt;                 siswanya untuk bisa langsung bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau seandainya kamu disuruh memilih antara sekolah ditempat kamu sekarang atau kesekolah lain tapi gratis ?&lt;br /&gt;Rahayu : Ya ................ aku pikir-pikir dulu. Soalnya selama yang aku tahu sesuatu yang &lt;br /&gt;                    gratis itu lebih banyak sisi negatifnya.&lt;br /&gt;Herdy : Pada  dasarnya  semuanya  aja pasti suka yang gratis-gratis tapi kalau hasilnya &lt;br /&gt;                    lebih  menjanjikan  yang  ngeluarin biaya ya pasti aku masih tetep pada pilihan &lt;br /&gt;                    awal aku. Jer Basuki Mawa Bea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kamu lakukan di jam-jam kosong ?&lt;br /&gt;Rahayu : Baca  buku  atau  ngerjain  PR,  itu  kalau  lagi  mood  belajarnya tinggi. Kalau &lt;br /&gt;                    nggak ya biasa, ngerumpi.&lt;br /&gt;Herdy : Ya ......... palingan duduk-duduk aja sambil sms-an ma cewekku atau nelphone &lt;br /&gt;                   dia gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah nggak waktu da tugas ”copy paste” punya temen ?&lt;br /&gt;Herdy : Ya ............... pasti enggak dong. Enggak pernah enggak. He ...... he ..... tapi ya &lt;br /&gt;                    nggak  juga  sich,  jarang kok. Palingan kalau lagi da dispensasi, atau lagi sakit &lt;br /&gt;                    atau  juga  waktu  da  kegiatan-kegiatan  diluar sekolah dan ga tau ditambah ga &lt;br /&gt;                    ngerjain baru ”copy paste”&lt;br /&gt;Rahayu : Dibilang pernah sich ya pasti pernah ya. Tapi ga setiap da tugas ”copy paste”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa guru yang paling kamu segani ?&lt;br /&gt;Rahayu : Ga’  usah  sebut nama ya. Yang pasti guru IPS yang superduper ketat abis, tapi &lt;br /&gt;                    kadang  beliau  juga  nyantai  ngajarnya yang penting serius, santai tapi paham &lt;br /&gt;                   dan bisa.&lt;br /&gt;Herdy : ....................  guru matematika.  Wah ............  killer  banget  udah  lebih dari 4 &lt;br /&gt;                   kali aku kena hukuman nggak ngerjain PR. Ya ................... karna alasan diatas &lt;br /&gt;                   tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus nanti, ada niat nggak untuk kuliah ?&lt;br /&gt;Rahayu : Ya kalau niat udah pasti ada. Tapi ya lihat ntar aza dech.&lt;br /&gt;Herdy : Kayaknya nggak dech, soalnya aku dah ngrasa yakin dengan kemampuan dan &lt;br /&gt;                    ketrampilan yang aku dapet dari STM. Jadi langsung terjun ke masyarakat aja &lt;br /&gt;                    tanpa kuliah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-1809757034684858415?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/1809757034684858415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/1809757034684858415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/02/sekolahku-masa-depanku-pengumuman.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-2431621727781804156</id><published>2010-01-02T19:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T19:34:42.007-08:00</updated><title type='text'>hasil penyuluhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0AQOA-CQtI/AAAAAAAAAC4/b6Uao3OtZps/s1600-h/100_9614.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0AQOA-CQtI/AAAAAAAAAC4/b6Uao3OtZps/s320/100_9614.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422351784318485202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;yach,,,aku bohong lagi dech...padahal seseorang pernah bilang kae aku kalo bohong itu capek 'n emang bener sich aku capek ndiri kalo harus mikirin kebohongan" berikutnya untuk menutupi kebohongan yang lalu.&lt;br /&gt;hemmm,,,,tapi terkadang perasaan tuch bisa mengalahkan logika.saat kita ga sadar,marah,benci,kecewa,malu,sedih,kesel,etc.kita akan nglakui hal" yang saat kita merasa tenang kita baru sadar kalo hal" itu ga seharusnya kita lakuin.&lt;br /&gt;sebenere ada beberapa cara buat meredam emosi misalnya:&lt;br /&gt;1)sholat&lt;br /&gt;2)berdoa&lt;br /&gt;3)curhat&lt;br /&gt;4)terapi emosi&lt;br /&gt;tau ga caranya terapi emosi?,,gini nch&lt;br /&gt;1)duduk santai&lt;br /&gt;2)pejamkan mata&lt;br /&gt;3)tarik nafas panjang,tahan sebentar,keluarkan lewat mulut..lakukan berulang" sampai kamu ngrasa tenang&lt;br /&gt;4)disaat kamumemejamkan mata dan melakukan pernafasan coba kamu pikirin masalah kamu..cari akar masalahnya&lt;br /&gt;5)tetap pejamkan mata kamu,,kalo udah ketemu cari alternatif solusinya dan coba dengerin kata hatimu.pilih salah satu yang menurut kamu itu yang terbaek&lt;br /&gt;6)ambil air wudhu trus sholat,,kamu bisa sholat wajib kalo udah tiba waktunya atau sholat sunnah seperti tahajjud atau sholat dhuha etc.&lt;br /&gt;7)kalo kamu beragama nonmuslim maka setelah kamu nemuin jawabannya terusin dengan berdoa kepada Tuhan..bacalah puji"an untuk-Nya agar kamu semakin yakin denga pilihan jawaban kamu&lt;br /&gt;8)selamat mencoba,,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-2431621727781804156?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/2431621727781804156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/2431621727781804156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/01/hasil-penyuluhan.html' title='hasil penyuluhan'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0AQOA-CQtI/AAAAAAAAAC4/b6Uao3OtZps/s72-c/100_9614.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-5293433442009229824</id><published>2010-01-02T18:24:00.000-08:00</published><updated>2010-01-02T19:38:36.029-08:00</updated><title type='text'>Who is the trendsenter of MBA ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0ARL2NYeXI/AAAAAAAAADA/LiAYTr5OHlM/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 95px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0ARL2NYeXI/AAAAAAAAADA/LiAYTr5OHlM/s320/b.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422352846581954930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di era canggihnya tehnologi dan informasi seperti saat ini justru kehidupan remaja jauh merosot dibanding kehidupan remaja di zaman primitif.bahkan jika boleh di kata lebih baek hidup di zaman primitif yang tidak mengenal canggihnya tehnologi dan informasi tetapi remajanya memiliki rasa kebersamaan dan moral yang patut diacungi jempol daripada hidup di zaman modern yang di penuhi fasilitas" tehnologi yang canggih tetapi para remajanya terjangkit virus penyakit moral.&lt;br /&gt;hah...jadi bingung ndiri ngomong yang formal"trus..aku yang nulis za bingung pa lagi yang baca,,,&lt;heehee&gt;tapi emang bener kan ya kalo canggihnya tehnologi dan informasi menjadi salah satu penyebab merosotnya moral bangsa Indonesia,,?&lt;br /&gt;hemmm,,,contohnya aza di koya tempat tinggal aku.disini&lt;gimana ya ,kalo crita buka aib tapi kalo ga udah jadi rahasia umum,,&gt;ya udah dech crita aza.&lt;br /&gt;gini nch critanyua,,,,remaja" di kota aku pada pinter" banget.mereka tumbuh lebih cepat dewasa daripada umurnya.itu disebabkan karna mereka banyak belajar dari tehnologi.fasilitas" elektronik menyediakan berbagai macam materi pembelajaran untuk kehidupan mereka kelak mereka dewasa.ya ga da salahnya n ga di larang juga,,,namanya belajar.tapi kurangnya pengawasan n pembatasan mataeri pembelajaran yang membuat mereka salah mengaplikasikannya di realita kehidupan.&lt;br /&gt;kalo udah gini,,,ujung"nya dan hasilya banyak dari temen" SMA bahkan SMP yang harus rela meninggalkan bangku sekolah dan teman" mereka krna MBA &lt;tau ga pa MBA,,? Married By Accident tuch alias hamil di luar nikah&gt;&lt;br /&gt;jadi serba salah dong sekarang...da fasilitas tehnologi dibilang merusak moral tapi kalo ga da fasilitas tenologi negara kita jauh tertinggal dari negara lain.&lt;br /&gt;eh,,, tapi kalo dipikir" lagi semua tergantung ma individunya ndiri" juga kan? kalo emang udah punya "benteng iman" yang kuat mau di apain juga ga kan ngaruh.gerrr,,,gimana mau punya benteng yang kluat lkalo keluargsa ga ngajaerin caranya,,temen" pada yang suka ngledekin macem",,,da yang bilang sok alim lah,,calon ustadz/ustadzah lah,,etc.yang baiasanya bikin parah klo udah punya yang namanya pacar,,akan lebih sulit lagi buat nguatin benteng nya,,,dengan rayuan maut sang pangeran putri mana sich yang ga kan klepek"..&lt;br /&gt;da yang bilang sebaik"nya cowok kalo udah kenal yang amanya cewek rasanya cuma 1000:1 dech yang ga kan tergoda imannya.pa lagi manusia kan makhluk sosial yang hidup bermasyarakat dan saling membutuhkan walau hanya sekedar sebagai teman curhat,,,&lt;br /&gt;meski secara ga sengaja teman juga bisa mengarahkan kita ke hal" yang negatif lho,,,&lt;kok bisa,,&gt; ya sederhan saja dech contohnya&lt;br /&gt;ada dua orang cowok yang temenan.sebut saja A dan B,,,A ini udah punya cewek sedangkan B belom karna dia bilang belom mau pacaran,di lingkungn teman"nya B di kenal sangat baek n bisa di bilang "calon ustadz" td,,nach maksud hati si A sch cma pengen curhat ke B masalah ceweknya,mulai dari A-Z dari yang (+) ampe yang (-) semua di critain,,lama" si B akhirnya pengen juga dech..&lt;br /&gt;nach singkat crita,,,si B akhirnya punya cewek.sutu ketika si A ngajakin B buat double date...si B yang baru za ngrasain yang anamyanya pacaran yahch,,ngikutin za seniornya,&lt;dalam hal ini si A &gt; udah dech,,dia yang dulu baek sekarang jadi kurang baek bahkan semakin tidak baek.belom lagi kalo udah kumpul sama genk nya ,,saling tukar informasi tempat romantis dech &lt;hii,,,,, ngapain ya mereka?,,&gt;hehe&lt;br /&gt;cinta itu buta kan ya?dan buta itu identik dengan yang namanya gelap,karna gelap jadi ga bisa lihat,,,tapi karna mereka merasa belom buta jadi mereka cari tempat yang gelap biar mereka di bilang saling cinta,,,&lt;hiii,,,,pa ga takut da setan ya,,,?,,&gt;kan setannya udah masuk ke dalam tubuh mereka,,&lt;br /&gt;wach,,,kebanyakan ngomong nch aku....tapi yang jelas intinya cuma satu kok &lt;em&gt;"pikirin lagi apa yang mau kamu lakuin n akibat jangka panjangnya.jangan hanya mau enaknya aja"&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-5293433442009229824?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5293433442009229824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/5293433442009229824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2010/01/who-is-trendsenter-of-mba.html' title='Who is the trendsenter of MBA ?'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/S0ARL2NYeXI/AAAAAAAAADA/LiAYTr5OHlM/s72-c/b.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-7694123429134477463</id><published>2009-12-31T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-12-31T05:47:14.595-08:00</updated><title type='text'>tour de Semarang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SzypCMQN7-I/AAAAAAAAACw/Ut7OCxDbSJk/s1600-h/PC020253.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SzypCMQN7-I/AAAAAAAAACw/Ut7OCxDbSJk/s320/PC020253.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421393906561314786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;pada bulan desember ini(2009,red),,siswa siswi SMKN1 Ponorogo mengadakan kegiatan study banding ke tempat-tempat industri untuk membandigkan pelajaran teori yang ada di kelas dengan kegiatan praktek di lapangan.&lt;br /&gt;untuk mencegah kosongnya kelasatau berhentinya PBM kegiatan studi banding tersebut di bagi menjadi beberapa gelombang.&lt;br /&gt;untuk gelombangpertamapada tanggal 2 desember siswasiswi dari jurusan akuntansi berangkat dengan tujuan kota semarang special to the cocacola company,marina beach n the other dech..hehe bahasanya campur aduk ya kayak negara indonesia yang campur aduk juga suku,kebudayaan n agamanya.&lt;br /&gt;kegiatan ini dimaksudkan agar para siswa siswi SMKN1 Ponorogo tidak hanya mendapatkan pelajaran tori saja tapi juga mengerti agaima aplikasinya di dalam dunia kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenere yach...aku g terlalu menikmatinya,,,ya mau d bilang apa lagi aku kan ga pernah melakukan perjalanan jauh jadi ya gitu deh hehe jadi malu,,,,&lt;br /&gt;tapi asyk juga sich pa lagi waktu udah nyampe tujuan pertama PT.COCACOLA huh paling ga dapet sofdrink gratis lah walau cuma satu botol...ga teu trima kash bgt ya udh dikasih msh ngomel&lt;br /&gt;tujuan kedua nch pantai marina,,,,,ya sebenere juga kurng co2k ma yang di pikirin....knpa???????karna ternyata g seperti pantai2 yang laen...g bisa bebas mw maen2 air jadi ya cuma dpinggiran za atw naek perahu keli2ng2....&lt;br /&gt;masih banyak lgi dech ceritanya,,cuman lagi ga mood nch bwt cerita &lt;br /&gt;to be continou dech ya,,,,,,,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-7694123429134477463?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7694123429134477463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7694123429134477463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/12/tour-de-semarang.html' title='tour de Semarang'/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SzypCMQN7-I/AAAAAAAAACw/Ut7OCxDbSJk/s72-c/PC020253.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-1848612269181709418</id><published>2009-12-17T07:24:00.001-08:00</published><updated>2009-12-17T07:25:20.966-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypNTqVAn_I/AAAAAAAAACI/AmM9YDSEHmo/s1600-h/c.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 104px; height: 104px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypNTqVAn_I/AAAAAAAAACI/AmM9YDSEHmo/s320/c.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416226502041706482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Aku Menangis ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andini berlari menuju ke kamarnya dengan mata yang sembab. Sepertinya ia baru saja menangis, ia menjatuhkan dirinya ke kasur. Diraihnya guling bergambar mickey mouse itu untuk membenamkan wajahnya. Mengurangi volume tangisnya. Seragam sekolahnya yang basah oleh keringat masih melekat dibadannya. Tangisannya semakin menjadi.&lt;br /&gt;Ia bangkit dn duduk diatas kasur. Badannya gemetar. Ia melepas sepatunya dengan kasar dan meletakkannya sembarangan. Air matanya pun seolah tak mau berhenti. Berkali-kali ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.&lt;br /&gt;”Kenapa ? kenapa harus begini ? kenapa aku harus menangis ? kenapa ?” Andini sesenggukan. ”Aku benci nangis, aku nggak mau nangis. Please behentilah, jangan keluar lagi. Aku mohon.”&lt;br /&gt;Sejenak matanya menatap foto yang ada di meja riasnya, segera ia meraih foto itu. Dan untuk beberapa saat tangisnya mereda, ia tak hentinya memandang foto itu. Tapi kemudian tangisnya kembali pecah. Menggema keseluruh penjuru kamarnya.&lt;br /&gt;Seorang pria tanpa sengaja lewat di depan kamar Andini, ia menjulurkan kepalanya diantara celah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat guratan kecemasan di wajahnya saat melihat apa yng sedang terjadi di dalam kamar itu.&lt;br /&gt;”Andini......”&lt;br /&gt;Andini menoleh ke arah pintu, dan tangisnya tak sedikitpun mereda. ”kakak.....” Andini menghambur menymbut kakaknya yang telh masuk ke dalam kamar. Ia memeluk kakaknya itu dan menangis sesenggukan didalam pelukan kakaknya.&lt;br /&gt;”Ei.... kamu kenapa ?&lt;br /&gt;Andini menjawb ia memeluk erat kakaknya yang tk berhenti menangis&lt;br /&gt;”Andini, kamu kenapa ? ada masalah apa ? crita ma kakak ya..... jangan nangis kayak gini.”ucap kakaknya lebih lembut.&lt;br /&gt;”Aku.... aku..... aku g mau nangis kak, aku nggak mau. Kenapa aku harus nangis kayak gini. aku benci nangis”.&lt;br /&gt;”kalau kamu benci nangis, kenapa kamu nangis ?”&lt;br /&gt;”Aku...... aku sakit kak, sakit sekali. Dia menyakitiku...... aku benci dia, aku.... aku....” Andini masih sesenggukan&lt;br /&gt;”Udah.... kamu tenang dulu ya...... kakak ambilin minum buat kamu dulu ya.”&lt;br /&gt;”Enggak kakak jangan tinggalin aku.”&lt;br /&gt;”kalau nggak mau kakak tinggalin, kmu udahan nangisnya.” Dibelainy rambut adiknya itu dengan lembut. Terliht sekali kalau ia sangat menyayangi Andini. ”Tuh lihat..... baju kakak basah Cuma gara-gara air mata kamu. Udah kamu tenang dulu ya.... ntar kalau udah tenang kamu crita ma kakak apa masalahnya, siapa yang nyakitin kamu ya....”&lt;br /&gt;Andini mengangguk manja &lt;br /&gt;”Kamu mandi dulu ya..... ih...... asam banget bau keringat kamu. Kakak juga mau mandi dulu abis itu kita keluar ya..... kakak ajak kamu jalan-jalan, kita cari makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Andini hanya mengangguk&lt;br /&gt;”Udah dong, dihapus dulu air matanya.”&lt;br /&gt;Andini menyeka air matanya.&lt;br /&gt;”Nah gitu dong, sekarang senyum yang manis.”&lt;br /&gt;Andini masih belum mau tersenyum.&lt;br /&gt;”Ayo dong, dikit aja, Ntar biar tambah cantik.”&lt;br /&gt;Meski dengn sedikit dipaksakan, Andini akhirnya mau juga tersenyum.&lt;br /&gt;”Ah.... pelit, lebih lebar lagi dong.”&lt;br /&gt;”Hi......” Andini tersenyum dengan memperlihatkan barisan giginya yang putih.&lt;br /&gt;”Tu ’kan tambah cantik.”&lt;br /&gt;”Ya......” Andrie berhenti dari langkahnya untuk keluar kamar&lt;br /&gt;Andini menatap Andrie manja&lt;br /&gt;”Oh.....” nampaknya Andrie tahu apa yang di inginkan adiknya itu. Ia berjalan mendekati Andini dan mengecup adiknya itu dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;Andini tersenyum, senyum sendiri mendapat kecupan sayang dari kakaknya.&lt;br /&gt;”Dasar, manja, ” Andrie mengacak-acak rambut Andini yang mulai kusut.” udah sana mandi.”&lt;br /&gt;”Ntar jadi kan, jalan-jalannya ?”&lt;br /&gt;”Iya..... udah sana cepetan mandi.”&lt;br /&gt;”Kak.”&lt;br /&gt;”Apalagi ?”&lt;br /&gt;Tanpa menjwab pertnyaan kakaknya itu, Andini mengecup pipi Andrie.&lt;br /&gt;”Huh..... dasar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Andini telah bersiap-siap untuk merealisasikan rencana kakaknya. Dengan wajah yang ceria sekali, Andini berjalan ke kamar Andrie. Andini mengetuk pintu kamar kakaknya.&lt;br /&gt;”kak Andrie....” panggil Andini dengan manja.&lt;br /&gt;”iya.... bentar, ” sahut Andrie dari dlam kamar, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia sedikit terkejut melihat adiknya, beda jauh sekli saat i sedang nangis tadi siang.&lt;br /&gt;”kenapa kak, jelek ya.”&lt;br /&gt;”enggak, kamu malah terlihat cantik banget.”&lt;br /&gt;”jadi ’kan jalan-jalannya?”&lt;br /&gt;”maaf ya Din, kayaknya ga’ bisa sekarang dech.”&lt;br /&gt;Wajah Andini yang tadi terlihat sangat cerah ceria kini berubah masam dan kusut. Ia bersungut. ”ya udah kalo gitu.”&lt;br /&gt;”lho... tu ’kan ngambek, ntar ilang lo cantiknya.”&lt;br /&gt;”bodo.” Andini berjalan melenggang ke kamarnya.&lt;br /&gt;”Andini marah ya ma kak Andrie ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andini tak menjawab pertanyaan kakakny itu.&lt;br /&gt;”Andini..... maafin kakak dong ya ? kak Andrie ’kan cuma bercanda.” Andrie masih mengiba di depan pintu kamar Andini.&lt;br /&gt;”aku..... benci kakak..... kakak dah bohongin aku. Kak Andrie ingkar janji.” Andini mulai terisak lagi.&lt;br /&gt;”Din, kamu nangis ? kok kamu jadi cengeng banget gini sich. Iya.... iya..... kakak salah, kakak minta maaf.”&lt;br /&gt;”Kakak jahat, aku benci !” Andini masih terisak di dalam kama.&lt;br /&gt;Terdengar dari luar kamar, suara barang-barang pecah dan terjatuh.&lt;br /&gt;”Andini, kamu ngapain di dalam ? ayolah maafin kakak ya.”&lt;br /&gt;”Nggak, aku benci kakak, aku nggak mau nangis, aku nggak mau jadi anak cengeng.... tapi ..... tapi kakak dah nyakitin aku, kak Andrie.....”&lt;br /&gt;”Andini, maafin kakak..... kakak janji ga’ akan bohongin kamu lagi, kak Andrie janji ga’ akan ingkar janji lagi. Kakak tadi ’kan cuma bercanda.”&lt;br /&gt;”Enggak, kakak bohong.”&lt;br /&gt;”Ya udah...... kita keluar sekarang ya.” Andrie masih merayu.” kita keluar sekarang, kamu jangan nangis lagi, keluar dulu ya.”&lt;br /&gt;Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Andini keluar kamar.&lt;br /&gt;”Din, maafin kak Andrie ya.” Andrie memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Ia sadar betul, ia harus menjaga adiknya itu dengan sebaik-baiknya. Makanya, sedikit saja adiknya itu sedih, Andrie bingung sekali.&lt;br /&gt;”Maafin Andini juga ya kak.”&lt;br /&gt;”Iya..... sekarang kita keluar yuk, cari makan.”&lt;br /&gt;”Andini, seneng dech.”&lt;br /&gt;Andrie membonceng Andini dengan sepeda motornya. Mereka menuju kesebuah rumah makan yang terdekt dengan rumah mereka. Mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Andini yang sudah kelas 2 SMA itu terlihat serasi dengan kakaknya yang baru semester 2.&lt;br /&gt;”Nah, dah sampai nich. Kamu mau pesan apa ?”&lt;br /&gt;”Apa ya ?” Andini memperhatikan menu yang tertulis rapi di selembar kertas.&lt;br /&gt;”Kalau kamu bingung, biar kakak yang pesan ya.”&lt;br /&gt;”Ya udah, aku ngikut kak Andrie saja.”&lt;br /&gt;Andrie memanggil waitress, untuk memesan makanan.&lt;br /&gt;”Itu saja, pesnnnya ?”&lt;br /&gt;”Iya.”&lt;br /&gt;”Kalau begitu permisi. Pesanannya akan segera datang.”&lt;br /&gt;”Makasih mbak.” Pelayan perempuan itu meningglkan Andini dan Andrie&lt;br /&gt;”Kak ...........”&lt;br /&gt;”Hemm ...........”&lt;br /&gt;”Gimana tadi ?”&lt;br /&gt;”Apanya ?”&lt;br /&gt;”Tadi lho .........”&lt;br /&gt;”Apa sich ........... kakak nggak ngerti.”&lt;br /&gt;”Tadi lho akting nangisku berhasil ’kan ? kakak aja sampai iku-ikutan nangis. Aku lulus dong ............. aku berhasil.”&lt;br /&gt;”Maksud kamu, tadi kamu nangis Cuma pura-pura ?” Andrie tampaknya tidak suka dengan perbuatan Andini, ia kecewa dan marah mungkin.&lt;br /&gt;”Kakak marah ya, Andini ’kan ........”&lt;br /&gt;Andrie masih bersungut.&lt;br /&gt;”Kak .........” Andini berkata, manja.”kak ........”&lt;br /&gt;Andrie masih belum juga mau merubah mimik wajahnya.&lt;br /&gt;”Iya ....... iya Andini salah .......... abisnya kakak gitu sich. Aku ’kan dah kelas 2 SMA masih juga dimanjain. Aku ’kan ngerasa ga enak banget. Dah gitu kalau Andini ada tugas-tugas keluar rumah kan Andrie selalu aja sibuk ma ceweknya.”&lt;br /&gt;Andrie tak menyahut, ia sepertinya mengacuhkan apa yang dikatakan Andini.&lt;br /&gt;”Kak ....... tu ’kan kakak nyebelin. Kak Andrie nggak ngedukung aku buat bisa lolos tes untuk ikutan drama disekolah.”&lt;br /&gt;”Permisi mbak, mas, pesanannya.”&lt;br /&gt;”Makasih ya mbak.”&lt;br /&gt;”Kak ........ maafin Andini dong, kak ......”&lt;br /&gt;”Udah dimakan makanannya, ntar keburu dingin, ga enak. Kamu pasti dah lpar tho seharian nangis melulu.”&lt;br /&gt;”Nggak, Andini ga’ mau makan kalo kakak ga’ mau maafin Andini.”&lt;br /&gt;”Yakin ? nggak mau makan, ya udah sini biar kakak yang makan. Ini ’kan makanan enak, mahal lagi,” ucap Andrie menggoda Andini.&lt;br /&gt;Andini melihat kakaknya itu makan dengan lahap. Nampaknya memang enak sekali. Dan Andrie memang sengaja mengenak-enakan cara makannya. Ternyata rencana Andrie berhasil, Andini mengambil satu porsi makanan yang dipesannya tadi.&lt;br /&gt;”Eh ........”Andrie tersenyum geli melihat tingkah adiknya itu. Ia membelai rambut adiknya dengan lembut. ”Kakak nggak akan pernah bisa marah ma kamu. Makannya pelan-pelan aja.”&lt;br /&gt;”Makasih ya kak.” Mereka tersenyum bahagia dan menikmati makanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-1848612269181709418?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/1848612269181709418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/1848612269181709418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/12/kenapa-aku-menangis-andini-berlari_17.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypNTqVAn_I/AAAAAAAAACI/AmM9YDSEHmo/s72-c/c.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-3401979028468022312</id><published>2009-12-17T07:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T07:07:52.588-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypJPBa4n-I/AAAAAAAAABw/FDc-Zq4RfS8/s1600-h/Kenshin+Himura+22.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 230px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypJPBa4n-I/AAAAAAAAABw/FDc-Zq4RfS8/s320/Kenshin+Himura+22.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416222024294506466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Temani Aku, Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan alangkah senangnya hatiku. Ingin kuucapkan beribu-ribu syukur     pada – Mu. Hari ini, akhirnya kudapatkan seorang pria yang sangat menyayangiku. Diberikannya perhatian yang penuh untukku. Bahkan kadang kurasa seperti seorang anak kecil yang mendapat perhatian dari seorang ibunya.&lt;br /&gt;Grandly, nama yang selalu ada dalam memoriku. Wajahnya tak pernah lepas dari ingatanku. Damai hati ini kala dekat dengannya. Apakah seperti ini rasanya cinta ? Cinta, satukan kami. Birlah dia menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Tak ingin ku kehilangan dia. Grandly, aku sangat mencintaimu. Tuluskah cintamu padaku ?&lt;br /&gt;” Hai ! nglamun aja. Nggak denger apa da telephone juga”.&lt;br /&gt;” Hah ......... Non, ngagetin aja. Emange telephone dari sapa ?”&lt;br /&gt;” Dari mas grandn”, jawbnya dengan nada menggoda.”&lt;br /&gt;Segera saja kuambil handphone ku dari tangan None, adikku yang paling nakal tapi manis dan mengasyikkan.&lt;br /&gt;” Halo ! ” sapaku.&lt;br /&gt;” Halo, kenapa lama sekali ngangkatnya”.&lt;br /&gt;” Ma’af, tadi tu ........”, belum selesai kujawab, None menyahut.&lt;br /&gt;” Mbak Lucia lagi ngelamunin mas tuh”.&lt;br /&gt;” Nggak ah ........”&lt;br /&gt;” Beneran juga ga’ pa-pa. Ntar malam keluar yuk ?”&lt;br /&gt;” Mau kemana ?”&lt;br /&gt;” Ada deh. Ntar ku jemput jam 7, kamu siap-siap ya”.&lt;br /&gt;” Ya udah deh, ku tunggu”.&lt;br /&gt;” Ku ikut ya Mas...... !”&lt;br /&gt;” Boleh .......”&lt;br /&gt;” Nggak usah ntar gangguin aja”.&lt;br /&gt;” Kenapa sih. Lha wong Mas Grandly aja ngebolehin ye .........”&lt;br /&gt;Terdengar dari seberang suara gelak tawa Grandly. Setelah itu disusul dengan suara” tut ........... tut ..........”&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang lagi segera ku berganti baju. Ku sisir rambut yang hitam nan lurus ini. Pita putih melingkar di kepalaku. Sedikit kupoles wajahku agar terlihat menarik. Sesekali None menggodaku dengan siulan nakalnya.&lt;br /&gt;Jarum jam telah menunjukkan pukul 7 lebih, tapi Grandly belum juga datang. Ku mulai jenuh menunggunya. Bahkan None telah terlelap dalam dunia mimpinya. Maklumlah memang sudah larut malam. Berkali-kali kucoba tuk menghubunginya, tapi tidak bisa. &lt;br /&gt;” Mbak Luc, dah pagi ni, ayo bangun !”&lt;br /&gt;” Ah .......” akupun menguap, kugerakkan tubuhku, menggeliat.&lt;br /&gt;Ternyata benar, malam tlah berganti menjadi pagi yang cerah. ” Kemana       Grandly semalam ? tak biasanya ia ingkar janji ”, pikirku dalam hati. Dengan malas                  dan masih bertanya-tanya, ku bersiap berangkat sekolah. ” Kemana Grandly, biasanya              jam segini dia dah ada didepn pintu ”.&lt;br /&gt;” Mbak Luc, aku berangkat dulu ya ”.&lt;br /&gt;” Aku ikut kamu aja. Takut telat ntar ”.&lt;br /&gt;Entahlah, pikiranku benar-benar kacau hari ini. Perasaankupun tak enak seperti ada sesuatu yang mengganggu. Dan ........... ketika kutiba di sekolah, Monic, teman baikku, menghampiriku dengan wajah kesedihan. Teman-teman yang lain memandangku aneh.&lt;br /&gt;Bagai disambar petir, tubuhku terasa lemas. Air mata ini keluar tak          terbendung. Mengalir bebas bagai aliran air sungai yang deras. Dadaku pun terasa sesak.         Tak tahu lagi apa yang kurasakan. Semua tercampur, sedih, duka, marah, takut dan                  rasa tak percaya. Hatiku hancur bagai kaca yang jatuh dari meja. Hancur berkeping-            keping.&lt;br /&gt;Benar-benar tak percaya hati ini, Grandly meninggalkanku selamanya.           Bahkan tak sempat kulihat senyuman dan tatapan matanay untuk yang terakhirkalinya.                Ia membiarkanku menunggu semalaman dan tak terucap kta ma’af darinya. Kini, ia    membuatku sedih dan terpaksa mengeuarkan air mata, dan ......... takkan pernah kudengar   ucapan ma’af darinya. ” Grandly, dimana kamu. Jangan pergi, jangan kau                    tinggalkanku ! ”.&lt;br /&gt;Dengan di antar Monic, aku pulang kerumah. Seharian kerjaku hanya menangis, menangis dan menangis memandang foto Grandly. Perlahan suara merdu Grandly memenuhi ruang kamarku dengan iringan musik yang sendu dan mengharukan. Kenangan terindah yang diberikannya disaat ia mengutarakan perasaannya padaku. Ya ..... lewat lagu ini cinta menyatukan kami. Dan takkan ada yang mampu memisahkannya. &lt;br /&gt;Ditengah kesedihan itu kulihat bayangan Grandly. Ia menuntunku menuju kesuatu tempat. Tanpa ku sadari, malam itu ku berada di atap sebuah gedung perbelanjaan. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku menurut saja ketika ia mengajakku terbang menuruni gedung. Satu kata yang sempat ia bisikkan padaku ” Temani Aku, Cinta ”. Sesaat tubuhku melayang dan kemudian menyentuh tanah dengan kuatnya. Saat itu kurasakan tubuhku menjadi ringan, bergandengan tangan, bersamanya menuju dunia impian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by D30492N&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-3401979028468022312?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3401979028468022312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/3401979028468022312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/12/temani-aku-cinta-tuhan-alangkah.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypJPBa4n-I/AAAAAAAAABw/FDc-Zq4RfS8/s72-c/Kenshin+Himura+22.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-8563301196843671553</id><published>2009-12-17T06:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T06:57:31.287-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypGxa5906I/AAAAAAAAABo/zR4Yqp6elMw/s1600-h/03MEND~1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypGxa5906I/AAAAAAAAABo/zR4Yqp6elMw/s320/03MEND~1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416219316716426146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Golongan darah bisa mencerminkan kepribadian seseorang….! “&lt;br /&gt;Golongan darah A &lt;br /&gt;Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius,&lt;br /&gt;sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu.Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten. Mereka berusaha membuat diri&lt;br /&gt;mereka sewajar dan ideal mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan &lt;br /&gt;jauh dari orang-orang. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber’temperamen’ sama.&lt;br /&gt;Golongan darah B &lt;br /&gt;Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik&lt;br /&gt;terhadap segalanya. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak&lt;br /&gt;kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara&lt;br /&gt;berbarengan. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan&lt;br /&gt;antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan&lt;br /&gt;yang ada didalam diri mereka. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.&lt;br /&gt;Golongan darah O &lt;br /&gt;Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam&lt;br /&gt;menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan&lt;br /&gt;suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang.Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal. Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru. Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV.Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya&lt;br /&gt;tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena&lt;br /&gt;kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan darah AB&lt;br /&gt;Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif,&lt;br /&gt;lembut. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu&lt;br /&gt;menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.&lt;br /&gt;Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan&lt;br /&gt;orang-orang yang dekat dengannya. Mereka jadi cenderung kelihatan&lt;br /&gt;mempunyai dua kepribadian.Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-8563301196843671553?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8563301196843671553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/8563301196843671553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/12/golongan-darah-bisa-mencerminkan.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SypGxa5906I/AAAAAAAAABo/zR4Yqp6elMw/s72-c/03MEND~1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3668138798741876598.post-7041230043763384058</id><published>2009-11-28T05:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T06:50:41.400-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SxEhxu0jS3I/AAAAAAAAAAU/7tA38Aaankc/s1600/e.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409141765714430834" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 143px; CURSOR: hand; HEIGHT: 100px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SxEhxu0jS3I/AAAAAAAAAAU/7tA38Aaankc/s320/e.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;font face="times new roman"&gt;Cinta Sekejab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana siang itu sungguh panas dan berdebu. Para pengguna jalan banyak yang mengeluh, apalagi jika harus berhenti saat lampu merah. Tapi tidak bagi tiga pelajar SMA kelas 2 itu, bukan hanya karena mereka berada didalam mobil yang ber – AC melainkan karena ada seorang cewek berparas menarik yang juga berhenti didekat mobil mereka.&lt;br /&gt;“ Menurut kalian gimana cewek itu ?“ Tanya Rifki yang duduk dikursi kemudi, sekaligus pemilik mobil.&lt;br /&gt;“ Cewek yang mana ?” Fathin balik bertanya.&lt;br /&gt;“ Itu lho Fath yang ada disampingmu,” jawab Rifki&lt;br /&gt;“ Lumayan. Emangnya kamu naksir dia ?” Tanya Ryki&lt;br /&gt;“ Mungkin. Setiap hari aku ketemu dia. Tapi aku belum kenal dan tahu siapa dia”.&lt;br /&gt;“ Kamu sudah pernah menyapanya ?”&lt;br /&gt;“ Belum. Kalau aku sapa disini nanti dikirain aku mau godain dia”.&lt;br /&gt;“ Ya kamu sih yng bodoh.”&lt;br /&gt;“ Kok gitu.”&lt;br /&gt;“ Cari tempat yang cocok dong. Ikutin dia, “usul Ryki.&lt;br /&gt;“ Rif, lampu hijau tuh, “kata Fathin.&lt;br /&gt;Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan perempatan. Mereka sebenarnya berniat mengikuti cewek itu tapi tidak jadi. Rifki ingin bertemu dan menyapa cewek itu sendirian.&lt;br /&gt;Mereka berhenti disebuah restaurant. Disana mereka bertemu dengan cewek diperempatan tadi. Dan ternyata cewek itu adalah seorang pelayan di restaurant tersebut.&lt;br /&gt;“ Rif, itu bukannya cewek tadi”.&lt;br /&gt;“ Mana ?”&lt;br /&gt;“ Iya Rif, itu cewek tadi. Yang berdiri di meja 10”.&lt;br /&gt;“Ya tuhan masa pelayan restaurant sih !”&lt;br /&gt;“ Mau mu dia orang kaya gitu ?”&lt;br /&gt;“ Iya Rif, kamu kan orang udah kaya. Masa cari pacar orang kaya juga. Harta loe mau buat apa nanti”.&lt;br /&gt;“ Ya buat anak-anak gue nanti sampai tujuh turunan.”&lt;br /&gt;“ Dasar serakah loe. Emangnya loe nggak kerja apa.”&lt;br /&gt;“ Ssssst……., dia datang.&lt;br /&gt;“ Permisi, mas mau pesan apa ?&lt;br /&gt;“ Pizza sama orange jus”.&lt;br /&gt;“ Baiklah. Permisi !”&lt;br /&gt;“ Rif ternyata namanya Stevani.&lt;br /&gt;“Ya. Gue juga udah tahu kok dari tanda pengenalnya”.&lt;br /&gt;“ Kalau begitu samperin, nunggu apa lagi”.&lt;br /&gt;“ Kalau disamperin sekarang nanti ketahuan bosnya, ia bisa ditegur, gaji dipotong bahkan dipecat”.&lt;br /&gt;“ Itu bener Rif. Jangan ikutin usulan Ryki bahaya”.&lt;br /&gt;“ Permisi, ini pesanan Anda.”&lt;br /&gt;“ Terima kasih mbak”.&lt;br /&gt;“Silahkan.”&lt;br /&gt;Keesokkan harinya, Rifki mendatangi restaurant itu lagi. Dan menunggu sampai cewek itu pulang.&lt;br /&gt;“ Mbak Stevani ya ?”&lt;br /&gt;“ Iya benar, siapa ya ?”&lt;br /&gt;“ Perkenalkan nama saya Rifki”.&lt;br /&gt;“ Ada apa ? Ada yang bisa saya bantu ?”&lt;br /&gt;“ Begini mbak, besok dirumah saya ada hajatan. Pesta kecil-kecilan, saya mau pesan pizza”.&lt;br /&gt;“ Kok pesannya sama saya. Kamu bisa pesan pada pihak yang harus dihubungi, bukan saya”.&lt;br /&gt;“ Tapi saya nggak tahu.”&lt;br /&gt;“ Ya sudah. Kamu pesan berapa ?”&lt;br /&gt;“ Cuma sedikit kok, hanya untuk tiga orang saja “.&lt;br /&gt;“ Apa tidak salah. Katanya pesta kok Cuma tiga orang ?”&lt;br /&gt;“ Tiga kali sepuluh sama dengan tiga puluh orang”.&lt;br /&gt;“ Kamu bisa saja.”&lt;br /&gt;“ Mbak mau pulang, mau saya antar ?”&lt;br /&gt;“ Nggak usah. Saya naik sepeda saya saja”.&lt;br /&gt;“ Apa nggak capek”.&lt;br /&gt;“ Ya nggak malahan bikin sehat. Kalau naik mobil kamu badan saya bisa pegal-pegal karena nggak biasa.”&lt;br /&gt;“ Ya sudah jangan lupa besok”.&lt;br /&gt;“ Oh ya jam berapa harus diantar ?”&lt;br /&gt;“ Sekitar pukul delapan malam ”.&lt;br /&gt;“ Baiklah akan saya antar sekitar pukul tujuh tiga puluh ”.&lt;br /&gt;“ Terima kasih, “ Rifki meninggalkan Stevani.&lt;br /&gt;Stevani mengambil sepeda dan mengayuhnya. Rifki menuju ketempat mobilnya diparkir. Tak jauh dari halaman restaurant Stevani teringat sesuatu yang mengganjal hatinya.&lt;br /&gt;“ Oh iya. Kemana aku harus mengirim pizza itu. Ya Tuhan bodoh sekali aku ini.” Stevani kembali ke restaurant, tapi ia tak menemukan Rifki. Tapi saat ia berbalik, ia tersentak kaget.&lt;br /&gt;“ Astagfirullah, “ ucap Stevani.&lt;br /&gt;“ Kamu mencari saya khan ? saya sudah tahu lagi pula mau dikirim kemana pizza itu nanti padahal aku belum beri alamat “.&lt;br /&gt;“ Maaf aku tadi kelupaan”.&lt;br /&gt;“ Kalau gitu aku minta nomor HP – nya. Nanti alamatnya biar aku SMS&lt;br /&gt;“ Sekali lagi aku minta maaf, tapi saya nggak punya handphone. Jadi langsung kartu nama saya”.&lt;br /&gt;“Ya boleh, ini.”&lt;br /&gt;“ Terima kasih, permisi.”&lt;br /&gt;“ Tunggu dulu. Kamu kayaknya capek sekali biar saya antar pulang”.&lt;br /&gt;“ Tapi sepedanya mau taruh dimana ?”&lt;br /&gt;“ Tinggalkan saja disini “.&lt;br /&gt;Akhirnya Stevani menuruti ajakan Rifki. Disepanjang jalan Stevani terlelap tidur. Seakan-akan ia merasakan betapa enak duduk didalam mobil. Sedangkan Rifki memandangnya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;Meski merasa sudah sampai dirumah Stevani, Rifki tidak membangunkannya. Satu jam kemudian Stevani terbangun.&lt;br /&gt;“ Udah nyampek ya ”.&lt;br /&gt;“ Ya. Dari satu jam yang lalu ”.&lt;br /&gt;“ Ha…… Maaf saya ketiduran, kenapa saya nggak dibangunkan.”&lt;br /&gt;“ Kamu kayaknya capek sekali, kasihan kalau dibangunkan.”&lt;br /&gt;“ Em…… terima kasih. Saya minta maaf.”&lt;br /&gt;“ Nggak apa-apa.”&lt;br /&gt;Stevani masuk kedalam rumah. Sedangkan Rifki membunyikan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Stevani. Diperjalanan pulang Rifki melihat seorang gadis di halte bis. Rifki menawarkan bantuan untuk mengantar gadis itu. Karena sudah lama menunggu dan hampir terlambat gadis itupun mengikutinya.&lt;br /&gt;“ Perkenalkan aku Rifki.”&lt;br /&gt;“ Vania.”&lt;br /&gt;“ Nama yang bagus sebagus orangnya.”&lt;br /&gt;“ Terima kasih.”&lt;br /&gt;“ Mau kemana ?”&lt;br /&gt;“ Kerumah sakit pusat.”&lt;br /&gt;“ Mau jenguk siapa ?”&lt;br /&gt;“Em…..saya kerja disana.”&lt;br /&gt;“ O…...alamat rumahnya dimana ?”&lt;br /&gt;“ Anda ini mau ngantar saya atau mau interogasi saya.”&lt;br /&gt;“ Maaf saya nggak bermaksud seperti itu.”&lt;br /&gt;“ Saya berhenti disini saja, rumah sakitnya sudah dekat.”&lt;br /&gt;Setelah Vania pergi, Rifki menuliskan nama dan alamat tempat kerja Vania disebuah buku kecil. Begitu juga dengan Stevani.&lt;br /&gt;Beberapa kali Rifki menemukan gadis yang membuat Ia tertarik dan ia tuliskan alamatnya dibuku kecil itu. Satu bulan lamanya sudah Rifki mencari cewek yang menurut ia menarik tapi tak pernah ada yang bisa sampai membuat ia ingin memilikinya.&lt;br /&gt;“ Gila lo Rif, sebanyak ini.”&lt;br /&gt;“ Ya, gimana hebatkan gue.”&lt;br /&gt;“ Stevani, Vania, Maya, Lestari, Endah, Eki, Pretty, satu, dua, …………..lima belas orang cewek Fath !”&lt;br /&gt;“ Ya Tuhan sejak kapan loe jadi playboy Rif ?,”&lt;br /&gt;“ Playboy ? bukan, gue bukan playboy. Itu namanya cinta sekejab. Rasa cinta yang hanya terasa sesaat.”&lt;br /&gt;“ Maksudmu gimana ?”&lt;br /&gt;“ Begini temanku, cinta sekejab itu cinta yang terasa hanya sesaat. Mungkin setelah beberapa hari akan mulai memudar rasa itu. Ya istilahnya cinta monyet gitu.”&lt;br /&gt;“ Kamu pernah pacarin mereka ?”&lt;br /&gt;“ Pernah tapi nggak sampai seminggu.”&lt;br /&gt;“ Gila. Emang sudah gila teman kita ini. Itu bukan pacaran namanya Rifki, dasar sinting.”&lt;br /&gt;“ Terus mau kamu apakan cewek-cewek ini.”&lt;br /&gt;“ Buat koleksi aja kalau lagi bete.”&lt;br /&gt;“ Dari kelima belas cewek ini, mana yang paling kamu cinta ?”&lt;br /&gt;“ Cinta ? Gue nggak benar-benar cinta sama mereka. Hanya saja gue tertarik karena mereka cantik dan berambut panjang.”&lt;br /&gt;“ Ye……. Dimana-mana yang seperti itu namanya playboy.”&lt;br /&gt;“ Terserah kalian mau ngomong apa pokoknya menurutku itu namanya cinta sekejab.”&lt;br /&gt;“ Udah daripada bertengkar, kita makan bakso aja yuk.”&lt;br /&gt;“ Perut aja yang dikasih makan.”&lt;br /&gt;“ kayak iklan aja. Lagi pula sambil ngisi perut cuci mata kan enak tuh. Daripada dikamar Rifki terus sumpek.”&lt;br /&gt;“ Ok. Tapi kamu yang traktir.”&lt;br /&gt;“ Kok aku sih.”&lt;br /&gt;“ Habis kamu yang ngajak.”&lt;br /&gt;“ Tapi aku lagi tipis.”&lt;br /&gt;“ Apa kamu ngompol ? udah gede ngompol dicelana !”&lt;br /&gt;“ Tipis goblok bukan pipis.”&lt;br /&gt;“ O…… tipis ya. Emangnya apa yang tipis, uangkan memang tipis.”&lt;br /&gt;“ Heh……. Fathin jangan bercanda dompet gue yang tipis.”&lt;br /&gt;“ Bilang aja nggak punya duit pakai bilang dompet tipis.”&lt;br /&gt;“ Udah jangan bertengkar ah. Iya gue traktir.”&lt;br /&gt;“ Gitu donk bos. Dari tadi kek.”&lt;br /&gt;Mereka makan bakso diwarung Pak Maman yang ada didekat rumah Rifki. Bakso Pak Maman terkenal paling enak dikomplek.&lt;br /&gt;“ Mau makan apa mas ?” Tanya seorang gadis.&lt;br /&gt;“ Bakso tiga sama es jeruk.”&lt;br /&gt;“ Baik, tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;“ Eh mbak, Pak Mamannya nggak jualan disini lagi ?”&lt;br /&gt;“ Pak Maman sakit, sekarang saya dan adik saya yang menggantikan Pak Maman jualan.”&lt;br /&gt;“ Mbak ini apanya Pak Maman.”&lt;br /&gt;“ Saya anaknya, permisi.”&lt;br /&gt;“ Ya silahkan.”&lt;br /&gt;“ Kenapa loe Rif kayak orang bingung.”&lt;br /&gt;“ Pak Maman punya anak gadis cantik.”&lt;br /&gt;“ Mata kamu nggak beres ya.”&lt;br /&gt;“ Hust. Nanti kalau Rifki marah nggak jadi makan.”&lt;br /&gt;“ Kayak gitu dibilang cantik. Nggak seksi.”&lt;br /&gt;“ Kamu ini Fath ya, sukanya sama cewek yang pakaiannya mini-mini.”&lt;br /&gt;“ Itu baru cewek cantik dan seksi kalau pakai pakaian mini-mini dan rambutnya terurai.”&lt;br /&gt;“ Tapi Rif, lihat deh anak kecil itu siapa ?”&lt;br /&gt;“ Itu adiknya barangkali.”&lt;br /&gt;“ Masa adik umurnya jauh banget.”&lt;br /&gt;“ Nah Rif, jangan-jangan dia itu a………..”&lt;br /&gt;“ Hust. Mana mungkin.”&lt;br /&gt;“ Dan yang ada dibelakang itu suaminya.”&lt;br /&gt;“ Fathin ini lama-lama bikin rese’. Udah sebaiknya tinggalin aja dia. Biar makan tuh bakso.”&lt;br /&gt;“ Lho …..aku jangan ditinggalin. Iya sorry duduk aja lagi ya ?”&lt;br /&gt;“ Makanya jangan bikin rese’.”&lt;br /&gt;“ Permisi, ini pesenannya.”&lt;br /&gt;“ Mbak ini anaknya ya ?” Tanya Fathin.”&lt;br /&gt;“ Hust. Anak ini bikin malu aja, maaf ya mbak.”&lt;br /&gt;“ Nggak apa-apa. Dia ini adik saya, permisi.”&lt;br /&gt;“ Makasih mbak ya.”&lt;br /&gt;“ Rif, jangan-jangan kamu masukin dia kedaftar cewek keenam belas, nih.”&lt;br /&gt;“ Ya. Dari tadi ngeliatin nggak bosan-bosan. Rif !”&lt;br /&gt;“ Eh ya apa ?”&lt;br /&gt;“ Ya nggak apa-apa. Baksonya dimakan nanti dingin.”&lt;br /&gt;“ Dari tadi ngomong nggak didenger, kayak angin lewat.”&lt;br /&gt;“ Sorry, emangnya kalian lagi ngomongin apa ?”&lt;br /&gt;“ Udah Fahhin jangan didenger, makan aja.”&lt;br /&gt;“ Gitu deh, kalau aku yang ngomong aja terus disalahin, kalian aja kalau ngomong selalu aku dengerin.” Fathin beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba saat ia menoleh, ia terbentur tiang.&lt;br /&gt;“ Ha……ha…… makanya Fath, kalau jalan pakai mata.”&lt;br /&gt;“ Fathin tak menghiraukan, ia segera pergi.”&lt;br /&gt;“ Ya Ryk, di marah beneran tuh.”&lt;br /&gt;“ Tenang aja. Nggak ada lima menit pasti ia kembali.”&lt;br /&gt;“ Mau taruhan.”&lt;br /&gt;Dugaan Ryki benar, tak lama kemudian Fathin kembali.&lt;br /&gt;“ Apa gue bilang, ia kembali kan.”&lt;br /&gt;“ Ya. Kamu menang nih lima puluh ribu.”&lt;br /&gt;“ Kenapa lo kembali Fath, katanya marah.”&lt;br /&gt;“ Aku mau ngabisin bakso sama ambil uang lima puluh ribu ini. Enak aja aku kalian jadikan taruhan.”&lt;br /&gt;“ Lho kok gitu.”&lt;br /&gt;“ Biarin ini sebagian bayaran karena kalian udah nyakitin perasaan ku. Sekarang aku benar-benar marah ! ! !”&lt;br /&gt;“ Ciee…… kayak anak perempuan aja.”&lt;br /&gt;“ Iya, masa marah kok ngomong-ngomong.”&lt;br /&gt;Meski mereka kelihatan bertengkar, tapi itu sebenarnya hanya bercanda. Satu jam lagi mereka juga akur.&lt;br /&gt;“ Setelah lima belas kali percobaan, aku sudah mendapatkan cewek yang membuat hatiku tergerak untuk memilikinya.”&lt;br /&gt;“ Siapa ? anak Pak Maman ?”&lt;br /&gt;“ Bukan.”&lt;br /&gt;“ Lalu siapa ?”&lt;br /&gt;“ Anak orang gila kali.”&lt;br /&gt;“ Hust. Bicara ngelantur aja.”&lt;br /&gt;“ Tuh kan aku disalahkan lagi.”&lt;br /&gt;“ Habisnya mulut nggak dijaga, ngomong seenaknya.”&lt;br /&gt;“ Kalian semua salah. Cewek itu guru agama dimasjid yang selalu ngajar anak-anak kecil.”&lt;br /&gt;“ Menurutku bukannya kamu melihat cewek itu yang dari kelima belas itu perilakunya 180 0 berbeda dengan guru agama itu.”&lt;br /&gt;“ Kamu salah, seleraku yang sebenarnya ya dia itu.”&lt;br /&gt;“ Habis lihat anaknya Pak Maman, matanya udah bener-bener nggak normal lagi. Gawat ini.”&lt;br /&gt;“ Coba kalian lihat nanti mengenai kelima belas cewek itu nggak ada satupun yang bener-bener bisa dijadikan pacar.”&lt;br /&gt;“ Sekarang apa rencanamu.”&lt;br /&gt;“ Aku mau belajar ngaji sama dia.”&lt;br /&gt;“ Ha ? belajar ngaji. Wah udah insyaf kali ini anak.”&lt;br /&gt;“ Temannya insyaf bukannya disyukuri malah diejek.”&lt;br /&gt;“ Ya ………. Seorang Rifki gitu loh yang setiap hari keluyuran ke diskotik, dugem dan segala macem mau belajar ngaji.”&lt;br /&gt;“ Lagian gue ke diskotik, dugem kan nggak pernah minum.”&lt;br /&gt;“ Emangnya loe nggak haus nggak minum.”&lt;br /&gt;“ Maksudnya minum miras.”&lt;br /&gt;Rifki benar-benar menjalankan rencananya. Semuanya lancer dan berjalan dengan baik, sampai suatu saat ia mengutarakan isi hatinya.&lt;br /&gt;“ Suci, aku mau ngomong sebentar.”&lt;br /&gt;“ Mau ngomong apa ?”&lt;br /&gt;“ Aku ………aku suka sama kamu.”&lt;br /&gt;“ Apa ? aku nggak salah dengar kan.”&lt;br /&gt;“ Nggak, aku memang menyukaimu.”&lt;br /&gt;“ Maaf, tapi aku sudah menikah.”&lt;br /&gt;“ Kamu bohong kan ?”&lt;br /&gt;“ Ngapain saya bohong, aku permisi pulang dulu.”&lt;br /&gt;“ Wah wah ada yang patah hati nih.”&lt;br /&gt;“ Jambu alas kulite ijo, sing digagas wis duwe bojo.”&lt;br /&gt;“ Kayak lagunya Didi Kempot.”&lt;br /&gt;“ Hah bodoh ! bodoh.”&lt;br /&gt;“ Hei Rif, tunggu Rif !”&lt;br /&gt;Rifki masih kecewa. Suci duduk didalam kamarnya, ia masih bingung dengan perilaku Rifki.&lt;br /&gt;“ Padahal baru seminggu berkenalan sudah ……”&lt;br /&gt;“ Suci !”&lt;br /&gt;“ Hei Van, ada apa ?“&lt;br /&gt;“ Ada ……PR agama !”&lt;br /&gt;“ Kebiasaan deh.”&lt;br /&gt;“ Mau gimana lagi yang pandai agama kan kamu.”&lt;br /&gt;“ Kamunya aja yang nggak mau belajar.”&lt;br /&gt;“ Hari ini kamu beda dari biasanya.”&lt;br /&gt;“ Ya. Hari ini ada cowok ungkapin cinta sama aku.”&lt;br /&gt;“ Terus !”&lt;br /&gt;“ Aku bohongin dia kalau aku sudah punya suami.”&lt;br /&gt;“ Siapa namanya.”&lt;br /&gt;“ Rifki.”&lt;br /&gt;“ Sepertinya aku kenal dia, ya waktu itu aku pernah diantar kerumah sakit olehnya.”&lt;br /&gt;Mereka memperbincangkan Rifki cukup lama. Akhirnya Suci mengetahui keadaan dan kenyataan mengenai Rifki. Ia menyadari kalau selama ini Rifki hanya pura-pura belajar mengaji di masjid.&lt;br /&gt;Keesaokan malamnya, Rifki kembali mengaji. Tapi tak ada yang beda dengan Suci. Rifki merasa Suci menjauhinya.&lt;br /&gt;“ Suci ! Tunggu.”&lt;br /&gt;“ Ada apa ?”&lt;br /&gt;“ Aku mohon kamu jangan menjauhiku karena soal yang kemarin itu, aku minta maaf.”&lt;br /&gt;“ Bukan soal yang kemarin.”&lt;br /&gt;“ Lalu, apa masalahnya ?”&lt;br /&gt;“ Kamu renungkan saja sendiri apa salahmu.”&lt;br /&gt;“ Ci. Suci tunggu !”&lt;br /&gt;“ Ada apa sih sebenarnya ?” seorang wanita menyapa Rifki.&lt;br /&gt;“ Kamu Vania, kan.”&lt;br /&gt;“ masih ingat kamu sama aku.”&lt;br /&gt;“ Ada apa menemuiku ?”&lt;br /&gt;“ Cuma mau kasih tahu, kalau kamu itu sebenarnya adalah seorang playboy dan Suci tahu itu.”&lt;br /&gt;“ Jadi kamu yang …… Apa sih maksud kamu?”&lt;br /&gt;“ Aku mau kamu menderita. Karena kamu udah nyakitin perasaanku. Kamu jalan sama cewek lain saat aku ………..”&lt;br /&gt;“ Kamu salah paham Van, aku tak punya perasaan apa-apa padamu dan pada semua cewek itu. Aku hanya berteman dengan mereka. Lagi pula setiap aku mengatakan cinta pada mereka tak ada satupun yang bersedia menjadi pacarku bahkan aku mendapatkan tamparan dari mereka.”&lt;br /&gt;“ Tapi aku ………. Aku mencintaimu.”&lt;br /&gt;“ Apa ? itu nggak bener kan. Waktu itu kamu juga menamparku sebelum kita sempat dekat.”&lt;br /&gt;“ Setelah saat itu aku mulai merenung dan menyadari kalau aku jatuh cinta sama kamu.”&lt;br /&gt;“ Memang benar sih, aku juga sempat suka sama kamu karna kamu cewek yang paling sulit diajak ngobrol tapi sejak kamu menamparku aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perasaan itu.”&lt;br /&gt;“ Aku mohon Rif, lanjutkan hubungan kita.”&lt;br /&gt;“ Maaf Van, aku nggak bisa.”&lt;br /&gt;“ Karna Suci kan. Dia sudah punya suami.”&lt;br /&gt;“ Suci pasti bohong. Usianya baru 19 tahun.”&lt;br /&gt;“ Suci memang belum bersuami tapi dia sudah bertunangan dengan ……...”&lt;br /&gt;“ Dengan siapa Van, katakan.”&lt;br /&gt;“ Dengan Riky, mereka ditunangkan oleh kedua orang tuanya sejak mereka baru berusia satu tahun.”&lt;br /&gt;“ Apa buktinya ?”&lt;br /&gt;“ Kamu lihat dileher mereka sebuah kalung yang memiliki bandul cincin bertuliskan nama pasangan mereka.”&lt;br /&gt;“ Tapi mana mungkin, mereka belum paham dan mengerti. Lagi pula kalau besar mereka pasti punya pilihan lain.”&lt;br /&gt;“ Mereka sudah tinggal bersama sejak kecil, kemana-mana mereka bersama.”&lt;br /&gt;“ Tapi kenapa Riky tak pernah cerita.”&lt;br /&gt;“ Entahlah. Rif kamu mau kemana ?”&lt;br /&gt;“ Menemui Riky.”&lt;br /&gt;Rifki meninggalkan Vania, ia pergi kerumah Riky.&lt;br /&gt;“ Rik, Riky !”&lt;br /&gt;“ Rif, ada apa ?”&lt;br /&gt;Tanpa menjawab pertanyaan Riky, Rifki membuka kancing baju Riky. Riky tersentak kaget, ia tak mengerti apa yang dilakukan sahabat karibnya.&lt;br /&gt;“ Rif, kamu apa-apaan hei ?”&lt;br /&gt;“ Eh…..eh kalian ngapain, Ya tuhan kalian………”ucap Fathin dari dalam rumah.”&lt;br /&gt;Rifki menarik kalung Riky dan mengamatinya sesaat. Riky dan Fathin hanya diam melihat perilaku Rifki.&lt;br /&gt;“ Apa maksudnya ini Rik, kenapa dicincin ini ada nama Suci ?”&lt;br /&gt;“ Itu……itu…….aku……..”&lt;br /&gt;“ Ini cincin tunanganmu dengan Suci kan ?”&lt;br /&gt;“ Waduh urusannya kok jadi runyam gini.”&lt;br /&gt;“ Diaaamm ! !”Riky dan Rifki serempak.&lt;br /&gt;Fathin langsung tak berkutik, ia diam dan duduk disofa sambil memakan camilan.&lt;br /&gt;“ Kita masuk aja dulu.”&lt;br /&gt;Mereka masuk dan duduk bersama Fathin.&lt;br /&gt;“ Ini kuenya makan, enak lho.”&lt;br /&gt;Riky dan Rifki memandang Fathin. Fathin diam seketika.&lt;br /&gt;“ Rif, aku memang sudah ditunangkan dengan Suci sejak kecil. Tapi sumpah demi Allah aku tidak mencintai Suci.”&lt;br /&gt;“ Lalu kenapa kamu diam saja saat aku memberitahumu tentang keinginanku untuk memiliki Suci.”&lt;br /&gt;“ Itu karena aku…… aku piker Suci akan menerimamu. Aku tidak mau karna kamu tahu soal pertunangan kami, kit jadi bermusuhan. Kamu pasti kecewa kalau tahu kami bertunangan.”&lt;br /&gt;“ Kamu yakin kamu tidak mencintai Suci.”&lt;br /&gt;“ Aku yakin sekali, karena aku lebih menyukai..……Vania.”&lt;br /&gt;“ Ok. Sekarang kita kerumah Suci. Kita buktikan.”&lt;br /&gt;“ Tunggu, aku ikut donk.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka tiba dirumah Suci. Kebetulan Vania juga ada di rumah Suci.&lt;br /&gt;“ Ayo silahkan masuk, ada apa ?”&lt;br /&gt;“ Maaf thank, kami mau cari Suci.”&lt;br /&gt;“ Sebentar tante panggilkan.”&lt;br /&gt;Suci bersama Vania turun dari tangga. Riky memandang kearah Vania. Vania memandang Rifki, Rifki memndang Suci dan Suci memandang Riky. Sedangkan Fathin….&lt;br /&gt;“ ehm…..ehm……ehm.”&lt;br /&gt;Vania dan Suci duduk.&lt;br /&gt;“ Ci, kami kesini ingin membicarakan soal pertunangan.”&lt;br /&gt;“ Pertunangan ?”&lt;br /&gt;“ Ya, apakah kamu mencintai Riky ?”&lt;br /&gt;“ Tentu saja. Aku sudah bertunangan dengannya.”&lt;br /&gt;“ Bagaimana seandainya jika kalian belum bertunangan ?”&lt;br /&gt;“ Aku tetap mencintainya. Kamu juga mencintaiku ‘kan Rik ?”&lt;br /&gt;“ Maaf Ci ………aku mencintai Vania.”&lt;br /&gt;Vani tersentak. “ Rik, aku tidak mencintaimu. Aku mencintai Rifki.”&lt;br /&gt;“ Ya ampun ruwet banget percintaan mereka.”&lt;br /&gt;Tak satupun dari mereka yang berbicara.&lt;br /&gt;“ Ok. Lebih baik kita jalan-jalan, makan-makan.”&lt;br /&gt;Omongan Fathin tak dihiraukan.&lt;br /&gt;“ Rik, kamu jangan bohongin dirimu sendiri. Aku tahu kamu suka denganku. Apa kamu lupa dari kecil sampai sekarang kita selalu bermain dan pergi bersama. Kenapa kamu lebih mencintai Vania, yang hanya beberapa hari kamu kenal.”&lt;br /&gt;“ Itu karena aku …….aku ……..”&lt;br /&gt;“ Kamu tidak bisa jawab ‘kan. Itu karena kamu memang tidak mencintai Vania. Kamu hanya merasa tidak enak dengan Rifki karena kamu tahu kalau Rifki menyukaiku.”&lt;br /&gt;“ Hebat, Suci hebat. Ayo terusin “ ujar Fathin.&lt;br /&gt;“ Dan kamu Rif, kamu nggak bisa nyangkal, kamu masih mencintai Vania ‘kan.”&lt;br /&gt;“ Itu dulu, sekarang ………..”&lt;br /&gt;“ Sekarang kamu tetap mencintai Vania. Vania sudah menceritakan semuanya tentang kamu. Dan aku yakin cintamu hanya sekejab. Kamu suka karena pandangan pertamamu kamu belum benar-benar mengenal diriku.”&lt;br /&gt;“ Sekarang sudah jelas. Riky dan Suci, Vania dengan Rifki. Waktunya dirayakan dengan makan-makan.”&lt;br /&gt;Meski dengan sedikit ragu dan canggung mereka bersandingan. Semua yang dikatakan Suci memang benar.&lt;br /&gt;Keesokan harinya mereka mengadakan acara pertunangan.&lt;br /&gt;Dari kejauhan Fathin melihat Riky, Suci, Vania dan Rifki yang tampak bahagia.&lt;br /&gt;“ Mereka sudah punya pasangan, tapi aku ………...”&lt;br /&gt;“ Aku mau jadi pasangan mas ” ucap seorang perempuan.&lt;br /&gt;Dengan malu-malu Fathin menoleh, ia sungguh kaget. Meski gadis itu cantik tapi giginya hitam dan berlubang. Ia segera berlari.&lt;br /&gt;“ Mas, mas mau kemana ?”&lt;br /&gt;Fathin terus berlari dan bersembunyi dari gadis itu. Saat para pengantin melempar bunga, Fathin amendapatkn satu bunga dari pasangan Riky dan Suci sedangkan bunga dari pasangan Rifki dan Vania ditangkap oleh seorang gadis.&lt;br /&gt;Fathin dan gadis itu dipertemukan, Fathin tertunduk ia mengangkat kepalanya saat berada didepan gadis itu.&lt;br /&gt;“ A…..a….aaa…..”&lt;br /&gt;“ Mas, tunggu.” Ternyata gadis itu gadis yang tadi. Semua yang hadir tertawa melihat tingkah laku Fathin yang dikejar-kejar gadis itu.&lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3668138798741876598-7041230043763384058?l=kagomeinuyasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/feeds/7041230043763384058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/11/cinta-sekejab-suasana-siang-itu-sungguh.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7041230043763384058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3668138798741876598/posts/default/7041230043763384058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kagomeinuyasa.blogspot.com/2009/11/cinta-sekejab-suasana-siang-itu-sungguh.html' title=''/><author><name>kagome</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17086101729099150408</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_kFvOUmygQMU/SxEhxu0jS3I/AAAAAAAAAAU/7tA38Aaankc/s72-c/e.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
