Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS



Cinta Sekejab

Suasana siang itu sungguh panas dan berdebu. Para pengguna jalan banyak yang mengeluh, apalagi jika harus berhenti saat lampu merah. Tapi tidak bagi tiga pelajar SMA kelas 2 itu, bukan hanya karena mereka berada didalam mobil yang ber – AC melainkan karena ada seorang cewek berparas menarik yang juga berhenti didekat mobil mereka.
“ Menurut kalian gimana cewek itu ?“ Tanya Rifki yang duduk dikursi kemudi, sekaligus pemilik mobil.
“ Cewek yang mana ?” Fathin balik bertanya.
“ Itu lho Fath yang ada disampingmu,” jawab Rifki
“ Lumayan. Emangnya kamu naksir dia ?” Tanya Ryki
“ Mungkin. Setiap hari aku ketemu dia. Tapi aku belum kenal dan tahu siapa dia”.
“ Kamu sudah pernah menyapanya ?”
“ Belum. Kalau aku sapa disini nanti dikirain aku mau godain dia”.
“ Ya kamu sih yng bodoh.”
“ Kok gitu.”
“ Cari tempat yang cocok dong. Ikutin dia, “usul Ryki.
“ Rif, lampu hijau tuh, “kata Fathin.
Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan perempatan. Mereka sebenarnya berniat mengikuti cewek itu tapi tidak jadi. Rifki ingin bertemu dan menyapa cewek itu sendirian.
Mereka berhenti disebuah restaurant. Disana mereka bertemu dengan cewek diperempatan tadi. Dan ternyata cewek itu adalah seorang pelayan di restaurant tersebut.
“ Rif, itu bukannya cewek tadi”.
“ Mana ?”
“ Iya Rif, itu cewek tadi. Yang berdiri di meja 10”.
“Ya tuhan masa pelayan restaurant sih !”
“ Mau mu dia orang kaya gitu ?”
“ Iya Rif, kamu kan orang udah kaya. Masa cari pacar orang kaya juga. Harta loe mau buat apa nanti”.
“ Ya buat anak-anak gue nanti sampai tujuh turunan.”
“ Dasar serakah loe. Emangnya loe nggak kerja apa.”
“ Ssssst……., dia datang.
“ Permisi, mas mau pesan apa ?
“ Pizza sama orange jus”.
“ Baiklah. Permisi !”
“ Rif ternyata namanya Stevani.
“Ya. Gue juga udah tahu kok dari tanda pengenalnya”.
“ Kalau begitu samperin, nunggu apa lagi”.
“ Kalau disamperin sekarang nanti ketahuan bosnya, ia bisa ditegur, gaji dipotong bahkan dipecat”.
“ Itu bener Rif. Jangan ikutin usulan Ryki bahaya”.
“ Permisi, ini pesanan Anda.”
“ Terima kasih mbak”.
“Silahkan.”
Keesokkan harinya, Rifki mendatangi restaurant itu lagi. Dan menunggu sampai cewek itu pulang.
“ Mbak Stevani ya ?”
“ Iya benar, siapa ya ?”
“ Perkenalkan nama saya Rifki”.
“ Ada apa ? Ada yang bisa saya bantu ?”
“ Begini mbak, besok dirumah saya ada hajatan. Pesta kecil-kecilan, saya mau pesan pizza”.
“ Kok pesannya sama saya. Kamu bisa pesan pada pihak yang harus dihubungi, bukan saya”.
“ Tapi saya nggak tahu.”
“ Ya sudah. Kamu pesan berapa ?”
“ Cuma sedikit kok, hanya untuk tiga orang saja “.
“ Apa tidak salah. Katanya pesta kok Cuma tiga orang ?”
“ Tiga kali sepuluh sama dengan tiga puluh orang”.
“ Kamu bisa saja.”
“ Mbak mau pulang, mau saya antar ?”
“ Nggak usah. Saya naik sepeda saya saja”.
“ Apa nggak capek”.
“ Ya nggak malahan bikin sehat. Kalau naik mobil kamu badan saya bisa pegal-pegal karena nggak biasa.”
“ Ya sudah jangan lupa besok”.
“ Oh ya jam berapa harus diantar ?”
“ Sekitar pukul delapan malam ”.
“ Baiklah akan saya antar sekitar pukul tujuh tiga puluh ”.
“ Terima kasih, “ Rifki meninggalkan Stevani.
Stevani mengambil sepeda dan mengayuhnya. Rifki menuju ketempat mobilnya diparkir. Tak jauh dari halaman restaurant Stevani teringat sesuatu yang mengganjal hatinya.
“ Oh iya. Kemana aku harus mengirim pizza itu. Ya Tuhan bodoh sekali aku ini.” Stevani kembali ke restaurant, tapi ia tak menemukan Rifki. Tapi saat ia berbalik, ia tersentak kaget.
“ Astagfirullah, “ ucap Stevani.
“ Kamu mencari saya khan ? saya sudah tahu lagi pula mau dikirim kemana pizza itu nanti padahal aku belum beri alamat “.
“ Maaf aku tadi kelupaan”.
“ Kalau gitu aku minta nomor HP – nya. Nanti alamatnya biar aku SMS
“ Sekali lagi aku minta maaf, tapi saya nggak punya handphone. Jadi langsung kartu nama saya”.
“Ya boleh, ini.”
“ Terima kasih, permisi.”
“ Tunggu dulu. Kamu kayaknya capek sekali biar saya antar pulang”.
“ Tapi sepedanya mau taruh dimana ?”
“ Tinggalkan saja disini “.
Akhirnya Stevani menuruti ajakan Rifki. Disepanjang jalan Stevani terlelap tidur. Seakan-akan ia merasakan betapa enak duduk didalam mobil. Sedangkan Rifki memandangnya dengan tersenyum.
Meski merasa sudah sampai dirumah Stevani, Rifki tidak membangunkannya. Satu jam kemudian Stevani terbangun.
“ Udah nyampek ya ”.
“ Ya. Dari satu jam yang lalu ”.
“ Ha…… Maaf saya ketiduran, kenapa saya nggak dibangunkan.”
“ Kamu kayaknya capek sekali, kasihan kalau dibangunkan.”
“ Em…… terima kasih. Saya minta maaf.”
“ Nggak apa-apa.”
Stevani masuk kedalam rumah. Sedangkan Rifki membunyikan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Stevani. Diperjalanan pulang Rifki melihat seorang gadis di halte bis. Rifki menawarkan bantuan untuk mengantar gadis itu. Karena sudah lama menunggu dan hampir terlambat gadis itupun mengikutinya.
“ Perkenalkan aku Rifki.”
“ Vania.”
“ Nama yang bagus sebagus orangnya.”
“ Terima kasih.”
“ Mau kemana ?”
“ Kerumah sakit pusat.”
“ Mau jenguk siapa ?”
“Em…..saya kerja disana.”
“ O…...alamat rumahnya dimana ?”
“ Anda ini mau ngantar saya atau mau interogasi saya.”
“ Maaf saya nggak bermaksud seperti itu.”
“ Saya berhenti disini saja, rumah sakitnya sudah dekat.”
Setelah Vania pergi, Rifki menuliskan nama dan alamat tempat kerja Vania disebuah buku kecil. Begitu juga dengan Stevani.
Beberapa kali Rifki menemukan gadis yang membuat Ia tertarik dan ia tuliskan alamatnya dibuku kecil itu. Satu bulan lamanya sudah Rifki mencari cewek yang menurut ia menarik tapi tak pernah ada yang bisa sampai membuat ia ingin memilikinya.
“ Gila lo Rif, sebanyak ini.”
“ Ya, gimana hebatkan gue.”
“ Stevani, Vania, Maya, Lestari, Endah, Eki, Pretty, satu, dua, …………..lima belas orang cewek Fath !”
“ Ya Tuhan sejak kapan loe jadi playboy Rif ?,”
“ Playboy ? bukan, gue bukan playboy. Itu namanya cinta sekejab. Rasa cinta yang hanya terasa sesaat.”
“ Maksudmu gimana ?”
“ Begini temanku, cinta sekejab itu cinta yang terasa hanya sesaat. Mungkin setelah beberapa hari akan mulai memudar rasa itu. Ya istilahnya cinta monyet gitu.”
“ Kamu pernah pacarin mereka ?”
“ Pernah tapi nggak sampai seminggu.”
“ Gila. Emang sudah gila teman kita ini. Itu bukan pacaran namanya Rifki, dasar sinting.”
“ Terus mau kamu apakan cewek-cewek ini.”
“ Buat koleksi aja kalau lagi bete.”
“ Dari kelima belas cewek ini, mana yang paling kamu cinta ?”
“ Cinta ? Gue nggak benar-benar cinta sama mereka. Hanya saja gue tertarik karena mereka cantik dan berambut panjang.”
“ Ye……. Dimana-mana yang seperti itu namanya playboy.”
“ Terserah kalian mau ngomong apa pokoknya menurutku itu namanya cinta sekejab.”
“ Udah daripada bertengkar, kita makan bakso aja yuk.”
“ Perut aja yang dikasih makan.”
“ kayak iklan aja. Lagi pula sambil ngisi perut cuci mata kan enak tuh. Daripada dikamar Rifki terus sumpek.”
“ Ok. Tapi kamu yang traktir.”
“ Kok aku sih.”
“ Habis kamu yang ngajak.”
“ Tapi aku lagi tipis.”
“ Apa kamu ngompol ? udah gede ngompol dicelana !”
“ Tipis goblok bukan pipis.”
“ O…… tipis ya. Emangnya apa yang tipis, uangkan memang tipis.”
“ Heh……. Fathin jangan bercanda dompet gue yang tipis.”
“ Bilang aja nggak punya duit pakai bilang dompet tipis.”
“ Udah jangan bertengkar ah. Iya gue traktir.”
“ Gitu donk bos. Dari tadi kek.”
Mereka makan bakso diwarung Pak Maman yang ada didekat rumah Rifki. Bakso Pak Maman terkenal paling enak dikomplek.
“ Mau makan apa mas ?” Tanya seorang gadis.
“ Bakso tiga sama es jeruk.”
“ Baik, tunggu sebentar.”
“ Eh mbak, Pak Mamannya nggak jualan disini lagi ?”
“ Pak Maman sakit, sekarang saya dan adik saya yang menggantikan Pak Maman jualan.”
“ Mbak ini apanya Pak Maman.”
“ Saya anaknya, permisi.”
“ Ya silahkan.”
“ Kenapa loe Rif kayak orang bingung.”
“ Pak Maman punya anak gadis cantik.”
“ Mata kamu nggak beres ya.”
“ Hust. Nanti kalau Rifki marah nggak jadi makan.”
“ Kayak gitu dibilang cantik. Nggak seksi.”
“ Kamu ini Fath ya, sukanya sama cewek yang pakaiannya mini-mini.”
“ Itu baru cewek cantik dan seksi kalau pakai pakaian mini-mini dan rambutnya terurai.”
“ Tapi Rif, lihat deh anak kecil itu siapa ?”
“ Itu adiknya barangkali.”
“ Masa adik umurnya jauh banget.”
“ Nah Rif, jangan-jangan dia itu a………..”
“ Hust. Mana mungkin.”
“ Dan yang ada dibelakang itu suaminya.”
“ Fathin ini lama-lama bikin rese’. Udah sebaiknya tinggalin aja dia. Biar makan tuh bakso.”
“ Lho …..aku jangan ditinggalin. Iya sorry duduk aja lagi ya ?”
“ Makanya jangan bikin rese’.”
“ Permisi, ini pesenannya.”
“ Mbak ini anaknya ya ?” Tanya Fathin.”
“ Hust. Anak ini bikin malu aja, maaf ya mbak.”
“ Nggak apa-apa. Dia ini adik saya, permisi.”
“ Makasih mbak ya.”
“ Rif, jangan-jangan kamu masukin dia kedaftar cewek keenam belas, nih.”
“ Ya. Dari tadi ngeliatin nggak bosan-bosan. Rif !”
“ Eh ya apa ?”
“ Ya nggak apa-apa. Baksonya dimakan nanti dingin.”
“ Dari tadi ngomong nggak didenger, kayak angin lewat.”
“ Sorry, emangnya kalian lagi ngomongin apa ?”
“ Udah Fahhin jangan didenger, makan aja.”
“ Gitu deh, kalau aku yang ngomong aja terus disalahin, kalian aja kalau ngomong selalu aku dengerin.” Fathin beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba saat ia menoleh, ia terbentur tiang.
“ Ha……ha…… makanya Fath, kalau jalan pakai mata.”
“ Fathin tak menghiraukan, ia segera pergi.”
“ Ya Ryk, di marah beneran tuh.”
“ Tenang aja. Nggak ada lima menit pasti ia kembali.”
“ Mau taruhan.”
Dugaan Ryki benar, tak lama kemudian Fathin kembali.
“ Apa gue bilang, ia kembali kan.”
“ Ya. Kamu menang nih lima puluh ribu.”
“ Kenapa lo kembali Fath, katanya marah.”
“ Aku mau ngabisin bakso sama ambil uang lima puluh ribu ini. Enak aja aku kalian jadikan taruhan.”
“ Lho kok gitu.”
“ Biarin ini sebagian bayaran karena kalian udah nyakitin perasaan ku. Sekarang aku benar-benar marah ! ! !”
“ Ciee…… kayak anak perempuan aja.”
“ Iya, masa marah kok ngomong-ngomong.”
Meski mereka kelihatan bertengkar, tapi itu sebenarnya hanya bercanda. Satu jam lagi mereka juga akur.
“ Setelah lima belas kali percobaan, aku sudah mendapatkan cewek yang membuat hatiku tergerak untuk memilikinya.”
“ Siapa ? anak Pak Maman ?”
“ Bukan.”
“ Lalu siapa ?”
“ Anak orang gila kali.”
“ Hust. Bicara ngelantur aja.”
“ Tuh kan aku disalahkan lagi.”
“ Habisnya mulut nggak dijaga, ngomong seenaknya.”
“ Kalian semua salah. Cewek itu guru agama dimasjid yang selalu ngajar anak-anak kecil.”
“ Menurutku bukannya kamu melihat cewek itu yang dari kelima belas itu perilakunya 180 0 berbeda dengan guru agama itu.”
“ Kamu salah, seleraku yang sebenarnya ya dia itu.”
“ Habis lihat anaknya Pak Maman, matanya udah bener-bener nggak normal lagi. Gawat ini.”
“ Coba kalian lihat nanti mengenai kelima belas cewek itu nggak ada satupun yang bener-bener bisa dijadikan pacar.”
“ Sekarang apa rencanamu.”
“ Aku mau belajar ngaji sama dia.”
“ Ha ? belajar ngaji. Wah udah insyaf kali ini anak.”
“ Temannya insyaf bukannya disyukuri malah diejek.”
“ Ya ………. Seorang Rifki gitu loh yang setiap hari keluyuran ke diskotik, dugem dan segala macem mau belajar ngaji.”
“ Lagian gue ke diskotik, dugem kan nggak pernah minum.”
“ Emangnya loe nggak haus nggak minum.”
“ Maksudnya minum miras.”
Rifki benar-benar menjalankan rencananya. Semuanya lancer dan berjalan dengan baik, sampai suatu saat ia mengutarakan isi hatinya.
“ Suci, aku mau ngomong sebentar.”
“ Mau ngomong apa ?”
“ Aku ………aku suka sama kamu.”
“ Apa ? aku nggak salah dengar kan.”
“ Nggak, aku memang menyukaimu.”
“ Maaf, tapi aku sudah menikah.”
“ Kamu bohong kan ?”
“ Ngapain saya bohong, aku permisi pulang dulu.”
“ Wah wah ada yang patah hati nih.”
“ Jambu alas kulite ijo, sing digagas wis duwe bojo.”
“ Kayak lagunya Didi Kempot.”
“ Hah bodoh ! bodoh.”
“ Hei Rif, tunggu Rif !”
Rifki masih kecewa. Suci duduk didalam kamarnya, ia masih bingung dengan perilaku Rifki.
“ Padahal baru seminggu berkenalan sudah ……”
“ Suci !”
“ Hei Van, ada apa ?“
“ Ada ……PR agama !”
“ Kebiasaan deh.”
“ Mau gimana lagi yang pandai agama kan kamu.”
“ Kamunya aja yang nggak mau belajar.”
“ Hari ini kamu beda dari biasanya.”
“ Ya. Hari ini ada cowok ungkapin cinta sama aku.”
“ Terus !”
“ Aku bohongin dia kalau aku sudah punya suami.”
“ Siapa namanya.”
“ Rifki.”
“ Sepertinya aku kenal dia, ya waktu itu aku pernah diantar kerumah sakit olehnya.”
Mereka memperbincangkan Rifki cukup lama. Akhirnya Suci mengetahui keadaan dan kenyataan mengenai Rifki. Ia menyadari kalau selama ini Rifki hanya pura-pura belajar mengaji di masjid.
Keesaokan malamnya, Rifki kembali mengaji. Tapi tak ada yang beda dengan Suci. Rifki merasa Suci menjauhinya.
“ Suci ! Tunggu.”
“ Ada apa ?”
“ Aku mohon kamu jangan menjauhiku karena soal yang kemarin itu, aku minta maaf.”
“ Bukan soal yang kemarin.”
“ Lalu, apa masalahnya ?”
“ Kamu renungkan saja sendiri apa salahmu.”
“ Ci. Suci tunggu !”
“ Ada apa sih sebenarnya ?” seorang wanita menyapa Rifki.
“ Kamu Vania, kan.”
“ masih ingat kamu sama aku.”
“ Ada apa menemuiku ?”
“ Cuma mau kasih tahu, kalau kamu itu sebenarnya adalah seorang playboy dan Suci tahu itu.”
“ Jadi kamu yang …… Apa sih maksud kamu?”
“ Aku mau kamu menderita. Karena kamu udah nyakitin perasaanku. Kamu jalan sama cewek lain saat aku ………..”
“ Kamu salah paham Van, aku tak punya perasaan apa-apa padamu dan pada semua cewek itu. Aku hanya berteman dengan mereka. Lagi pula setiap aku mengatakan cinta pada mereka tak ada satupun yang bersedia menjadi pacarku bahkan aku mendapatkan tamparan dari mereka.”
“ Tapi aku ………. Aku mencintaimu.”
“ Apa ? itu nggak bener kan. Waktu itu kamu juga menamparku sebelum kita sempat dekat.”
“ Setelah saat itu aku mulai merenung dan menyadari kalau aku jatuh cinta sama kamu.”
“ Memang benar sih, aku juga sempat suka sama kamu karna kamu cewek yang paling sulit diajak ngobrol tapi sejak kamu menamparku aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perasaan itu.”
“ Aku mohon Rif, lanjutkan hubungan kita.”
“ Maaf Van, aku nggak bisa.”
“ Karna Suci kan. Dia sudah punya suami.”
“ Suci pasti bohong. Usianya baru 19 tahun.”
“ Suci memang belum bersuami tapi dia sudah bertunangan dengan ……...”
“ Dengan siapa Van, katakan.”
“ Dengan Riky, mereka ditunangkan oleh kedua orang tuanya sejak mereka baru berusia satu tahun.”
“ Apa buktinya ?”
“ Kamu lihat dileher mereka sebuah kalung yang memiliki bandul cincin bertuliskan nama pasangan mereka.”
“ Tapi mana mungkin, mereka belum paham dan mengerti. Lagi pula kalau besar mereka pasti punya pilihan lain.”
“ Mereka sudah tinggal bersama sejak kecil, kemana-mana mereka bersama.”
“ Tapi kenapa Riky tak pernah cerita.”
“ Entahlah. Rif kamu mau kemana ?”
“ Menemui Riky.”
Rifki meninggalkan Vania, ia pergi kerumah Riky.
“ Rik, Riky !”
“ Rif, ada apa ?”
Tanpa menjawab pertanyaan Riky, Rifki membuka kancing baju Riky. Riky tersentak kaget, ia tak mengerti apa yang dilakukan sahabat karibnya.
“ Rif, kamu apa-apaan hei ?”
“ Eh…..eh kalian ngapain, Ya tuhan kalian………”ucap Fathin dari dalam rumah.”
Rifki menarik kalung Riky dan mengamatinya sesaat. Riky dan Fathin hanya diam melihat perilaku Rifki.
“ Apa maksudnya ini Rik, kenapa dicincin ini ada nama Suci ?”
“ Itu……itu…….aku……..”
“ Ini cincin tunanganmu dengan Suci kan ?”
“ Waduh urusannya kok jadi runyam gini.”
“ Diaaamm ! !”Riky dan Rifki serempak.
Fathin langsung tak berkutik, ia diam dan duduk disofa sambil memakan camilan.
“ Kita masuk aja dulu.”
Mereka masuk dan duduk bersama Fathin.
“ Ini kuenya makan, enak lho.”
Riky dan Rifki memandang Fathin. Fathin diam seketika.
“ Rif, aku memang sudah ditunangkan dengan Suci sejak kecil. Tapi sumpah demi Allah aku tidak mencintai Suci.”
“ Lalu kenapa kamu diam saja saat aku memberitahumu tentang keinginanku untuk memiliki Suci.”
“ Itu karena aku…… aku piker Suci akan menerimamu. Aku tidak mau karna kamu tahu soal pertunangan kami, kit jadi bermusuhan. Kamu pasti kecewa kalau tahu kami bertunangan.”
“ Kamu yakin kamu tidak mencintai Suci.”
“ Aku yakin sekali, karena aku lebih menyukai..……Vania.”
“ Ok. Sekarang kita kerumah Suci. Kita buktikan.”
“ Tunggu, aku ikut donk.”
Tak lama kemudian mereka tiba dirumah Suci. Kebetulan Vania juga ada di rumah Suci.
“ Ayo silahkan masuk, ada apa ?”
“ Maaf thank, kami mau cari Suci.”
“ Sebentar tante panggilkan.”
Suci bersama Vania turun dari tangga. Riky memandang kearah Vania. Vania memandang Rifki, Rifki memndang Suci dan Suci memandang Riky. Sedangkan Fathin….
“ ehm…..ehm……ehm.”
Vania dan Suci duduk.
“ Ci, kami kesini ingin membicarakan soal pertunangan.”
“ Pertunangan ?”
“ Ya, apakah kamu mencintai Riky ?”
“ Tentu saja. Aku sudah bertunangan dengannya.”
“ Bagaimana seandainya jika kalian belum bertunangan ?”
“ Aku tetap mencintainya. Kamu juga mencintaiku ‘kan Rik ?”
“ Maaf Ci ………aku mencintai Vania.”
Vani tersentak. “ Rik, aku tidak mencintaimu. Aku mencintai Rifki.”
“ Ya ampun ruwet banget percintaan mereka.”
Tak satupun dari mereka yang berbicara.
“ Ok. Lebih baik kita jalan-jalan, makan-makan.”
Omongan Fathin tak dihiraukan.
“ Rik, kamu jangan bohongin dirimu sendiri. Aku tahu kamu suka denganku. Apa kamu lupa dari kecil sampai sekarang kita selalu bermain dan pergi bersama. Kenapa kamu lebih mencintai Vania, yang hanya beberapa hari kamu kenal.”
“ Itu karena aku …….aku ……..”
“ Kamu tidak bisa jawab ‘kan. Itu karena kamu memang tidak mencintai Vania. Kamu hanya merasa tidak enak dengan Rifki karena kamu tahu kalau Rifki menyukaiku.”
“ Hebat, Suci hebat. Ayo terusin “ ujar Fathin.
“ Dan kamu Rif, kamu nggak bisa nyangkal, kamu masih mencintai Vania ‘kan.”
“ Itu dulu, sekarang ………..”
“ Sekarang kamu tetap mencintai Vania. Vania sudah menceritakan semuanya tentang kamu. Dan aku yakin cintamu hanya sekejab. Kamu suka karena pandangan pertamamu kamu belum benar-benar mengenal diriku.”
“ Sekarang sudah jelas. Riky dan Suci, Vania dengan Rifki. Waktunya dirayakan dengan makan-makan.”
Meski dengan sedikit ragu dan canggung mereka bersandingan. Semua yang dikatakan Suci memang benar.
Keesokan harinya mereka mengadakan acara pertunangan.
Dari kejauhan Fathin melihat Riky, Suci, Vania dan Rifki yang tampak bahagia.
“ Mereka sudah punya pasangan, tapi aku ………...”
“ Aku mau jadi pasangan mas ” ucap seorang perempuan.
Dengan malu-malu Fathin menoleh, ia sungguh kaget. Meski gadis itu cantik tapi giginya hitam dan berlubang. Ia segera berlari.
“ Mas, mas mau kemana ?”
Fathin terus berlari dan bersembunyi dari gadis itu. Saat para pengantin melempar bunga, Fathin amendapatkn satu bunga dari pasangan Riky dan Suci sedangkan bunga dari pasangan Rifki dan Vania ditangkap oleh seorang gadis.
Fathin dan gadis itu dipertemukan, Fathin tertunduk ia mengangkat kepalanya saat berada didepan gadis itu.
“ A…..a….aaa…..”
“ Mas, tunggu.” Ternyata gadis itu gadis yang tadi. Semua yang hadir tertawa melihat tingkah laku Fathin yang dikejar-kejar gadis itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

kagome mengatakan...

????????

Posting Komentar