I will Say I love You
Malam semakin larut. Bintang-bintang masih bertebaran dipermadani langit. Sang rembulan dengan setia menyinari dan menerangi seisi alam dengan kesempurnaan parasnya. Angin bertiup perlahan menggerakan ranting-ranting pohon, diiringi dengan suara gemericik air dan nyanyian binatang-binatang malam yang seakan menjadi hiburan untuk hati yang sedang gundah ini.
Betapa tidak esok adalah hari Valentine, hari yang akan membuat setiap pasangan muda-mudi merasa seakan dunia hanya milik mereka berdua. Namun saat ini itu hanya menjadi sebuah angan dan harapanku semata.
Kisah cintaku hanya dan akan selalu berakhir pada sebuah ketakutan untuk mengungkapkannya. Tak ada keberanian secuilpun dalam hati ini untuk mengatakan “I LOVE YOU” kepadanya. Ah ……….. biarlah kisahku berjalan layaknya aliran air sungai yang tenang ini.
“Ah ……….” Akupun menguap. Hari t’lah berganti. Pagi ini sangatlah indah. Pancaran sinar sang mentari terasa menyilaukan mata dan terasa hangat menyentuh kulit. Menghilangkan kegundahan dalam hati ini. Segera ku bersiap diri. Dan tak lama kemudian ku berangkat ke sebuah tempat untuk menghadiri undangan.
“Baiklah teman-teman mari kita mulai acara ini. Dalam acara yang kita beri nama “LOVE, I Will Say it to You” ini, setiap jomblowan and jomblowati diharuskan mengungkapkan perasaan cinta mereka pada orang yang dikaguminya. Buat yang dah ga’ single alias ga’ jomblo lagi kalian masih bisa ‘n kita bolehin deh buat ngungkapin perasaan cinta kalian pada pasangan kalian.”
Sorak sorai dan tepuk tangan penonton membuat acara itu semakin meriah. Dan dibalik kerumunan penonton itu, ku dapat melihat seorang yang s’lama ini kukagumi dan kuharapkan untuk memilikinya. Pandangan matanya, senyumnya, suara gelak tawanya dan entahlah masih terlalu banyak lagi hal yang membuatku mengaguminya.
Tak sepenuhnya aku mengikuti acara yang sebenarnya penuh kelucuan dan rasa kasihan itu, karena aku lebih suka dan lebih tertarik untuk memandang wajahnya yang manis. Hingga beberapa temanku, memaksa aku untuk naik keatas panggung kecil untuk mengatakan suatu hal.
Suasanapun hening sejenak. Semua penonton mengarahkan pandangan matanya padaku. Akupun bingung apa yang harus kukatakan. Saat itu aku kehilangan dia. Aku tak bisa menemukannya dibalik kerumunan penonton.
“Selamat siang semuanya …..” sapaku mengawali ceritaku. “Disini aku ……… ingin ….. mengatakan kalau saat ini, aku sedang mengagumi seseorang yang mungkin s’lama ini kita sudah sama-sama kenal dia. Dan mungkin juga sekarang dia ada dianrata kita ….. Namun sepertinya …….. “ku hentikan kata-kataku, entah kenapa rasa malu dan takut kembali hadir dalam hatiku. Dia memandangku aneh.
“Hei ! ayo terusin kenapa berhenti, “teriak penonton.
Akupun tersadar dan melanjutkan kata-kataku. “Maaf, itu saja yang ingin kukatakan. Terima kasih.”
“Hu ………………”
Kuturun dari panggung dan berjalan lewat didepannya. “Sebuah ungkapan perasaan yang sulit untuk dipahami, ” ucapnya lirih padaku.
Aku menoleh padanya dan iapun segera meninggalkanku, naik keatas panggung.”
“Hai temen-temen ! sebelumnya happy valentine ya ……………. Buat yang udah punya pasangan. And …………..yang masih jomblo, jangan khawatir. Dalam satu hari ini aku yakin kalian pasti deh …….. dapet gebetan tul ga’ ? Biar bener-bener dapat gebetan kalian harus semangat oke ! Jangan lemes, buktiin kalau kalian bisa jadi yang terbaik buat calon pasangan kalian, setuju ! ?”
“Ye………setuju……….!!”
Alunan musik t’lah dirubah menjadi lebih lembut dan santai. Pasangan muda-mudi saling berpegangan tangan, menggoyangkan badan kekiri dan kekanan. Bahkan jomblowan dan jomblowati yang baru saja mendapat pasangan ada diantara mereka dan melakukan hal yang sama.
Saat itulah aku merasa sendiri lagi. Perlahan kuberjalan meninggalkan tempat itu. Air mata inipun ingin sekali menetes, tapi tak kubiarkan ia keluar dengan sia-sia hanya untuk cinta.
“Mau kenapa kamu, acarakan belum selesai.”
Tuhan apa yang terjadi denganku, suaranya yang lembut membuatku ………………….
“Mau berdansa denganku ?”
“Ha……..” perasaanku semakin tak menentu.”
Dia mengulurkan tangannya sambil menaikkan kedua alisnya berharap segera ku ulurkan tanganku sebagai tanda setuju.
Dan aku menyetujuinya. Bahagia sekali rasa hati ini, ketika ia mendekatkan kepalanya ke telingaku dan berucap “I LOVE YOU”.
Aku menatapnya dalam. “A……”belum sempat ku katakan sesuatu padanya, ia mengisyaratkan agar aku tak berkata apapun dengan menempelkan jari telunjuknya dibibirku.
“Jangan berkata apapun aku tahu dia yang kamu maksud itu aku. Dan aku juga tahu s’lama ini kamu memandangku dengan diam-diam. Andai kamu tahu aku merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan sekarang. Jadi…………..biarlah aku mewujudkan harapanmu untuk memilikiku dan biarkan aku mencoba untuk menjadi yang terbaik, yang kan s’lalu ada untukmu, yang kan s’lalu menyayangimu.”
Dia mendekap erat tubuhku. Dalam dekapannya, aku merasakan ketenangan dan kedamaian. Inikah cinta…………benarkah ? mimpikah aku ini ? Tidak, ini nyata. Ini benar-benar nyata.
“Nda, I Will Say, I LOVE YOU too.”
D30492N
Senja Di Bulan Ramadhan
Disuatu senja di bulan Ramadhan, aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku menunggu adzan maghrib berkumandang, dengan berjalan menyusuri pantai yang tak jauh dari desaku.
Meski ini bukan kali pertama aku meihatnya, namun hari itu kurasakan ada yang berbeda. Mungkin hanya perasaanku saja karena aku sedang merasa bahagia. Aku melihat keindahan alam yang selalu membuat penikmatnya berdecak kagum.
Hamparan air laut yang bergelombang tertiup angin, ikan-ikan yang bermunculan untuk sekedar mengambil nafas diatasnya terbentang luas langit kemerah-merahan karena pancaran sinar sang mentari, burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Pasir pantai yang lembut dan angin yang berhembus, sejuk membelai kuit, membuat aku tak ingin beranjak dari tempatku berdiri sekarang.
Kurentangkan kedua tanganku, ku pejamkan mataku, menikmati setiap tarikan nafas dan sentuhan udara pantai yang sejuk. Tak berapa lama kudengar seseorang memanggilku.
”Aris !”
Akupun menoleh kearah sumber suara. Tapi tak seorangpun yang kulihat. Aku berusaha mencari sumber suara itu, tapi tetap saja tak kutemui. Dan saat aku berajak pergi, seseorang menarik tanganku. Entah kenapa aku jadi merinding. Dan perlahan kucoba memalingkan wajahku.
Seorang gadis yang seumuran denganku, tersenyum tipis padaku. Mtanya begitu indah, sorot mata yang tajam hingga memenuhi ruang di otakku. Jantungku berdebar-debar. Ia meraih tangan kananku. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Seorang gadis yang membiarkan rambutnya terurai sebahu dengan pita berwarna putih yang melingkar di kepalanya. Wajahnya indah. Sorot matanya, senyum bibirnya. Dan kulit pipinya yang halus membuatku tak dapat berucap sepatah katapun.
Ia mendekatkan tubuhnya padaku. Wajahnya mendekat, mendekat dan semakin dekat. Bibirku bergetar, aku takut, aku gugup aku.........aku grogi. ”Apa yang akan dia lakukan padaku ? ya Allah ampuni aku, lindungi aku,” doaku dalam hati.
Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh, pantai seperti bergetar, nampaknya ada gempa bumi. Gelombang air laut semakin besar dan .......... byuuur ......... bajuku basah, dan akupun tersadar.
”Ah..........ibu, apa-apaan sich.”
“Kamu yang apa-apaan, lihat tuch, jam berapa sekarang. Kamu mau sekolah pa ga’ ?” bentak ibuku.
”Iya.........iya...........ah,” jawabku asal-asalan. Ternyata aku hanya mimpi. Tapi gadis tadi siapa ya ? Aduh..........ah, udahlah.
* * *
”Pagi sob, ” sapaku pada sahabat-sahabatku.
”Hey, Ris ! ceria banget kayak e hari ini.”
”Palingan juga abiz mimpi dicium cewek.”
”Eh kok tahu sich. Baru aja aku mau cerita.”
”Ris, Ris, kita ini sahabat lo.......... kalo masalah mimpi dicium cewek, kita udah kenyang ama cerita-ceritamu itu.”
”Masa sich ........ emang kapan aku cerita gituan ?”
”Yah........”nada suara mereka melemas tapi mengejek.”
”Kok gitu sich........”
”Ya udah dech, kita bakal dengerin cerita kamu, tapi ntar aja ya, soalnya hari ini ulangan sejarah, oke.”
”Oke dech, tapi janji ’kan mau denger ?”
”Iya.......iya.......sana, duduk di kursi lo, aku mau blajar nich.”
Bel berbunyi, tandanya pelajaran hari itu akan segera dimulai. Jam pertama ulangan sejarah. Lirik kanan, lirik kiri, tengok belakang bersiul-siul kecil, gigit polpen, pegang kepala, garuk-garuk kepala meski tidak terasa gatal, ada saja tingkah mereka. Ku-akui pelajaran sejarah memang sulit banget. Kalo diumpamakan belajar sejarah tuch satu buku paling nggak harus hafal tiga perempat isinya.
Satu jam berlalu, waktunya habis. Yach........tau dech berapa soal yang bener ku kerjain. Tak satupun teman-temanku yang berwjah ceria setelah ulangan.
”Hai sob, gimana ?”
”Apanya ?”
”Itu tadi.”
”Brengsek lo !”
”Ye..........kenapa ?”
”Ye..........kenapa ?” ucap Didin mengikuti kata-kataku. ”Dipanggilin ampe monyong ga’ mau noleh.”
”Ya sorry, aku ndiri ’kan juga ga bisa.”
”Ga bisa pa ga mau ?” Egi membela Didin.
”Iya.....iya maaf.”
Di jam istirahat, aku, Didin dan Egi pergi ke kantin untuk mengisi perut yang mulai bernyanyi.
”Ris, hari ini traktir ya ?”
”Tumben Din, mau nraktir.”
”Maksudmu kamu yang traktir kita ?”
”Loh kok ?”
”Iya, kamu kan mau cerita soa mimpi kamu itu. Ya anggap aja ongkos mendengar. He..........he.........”
”Ga mau .........”
”Ya udah kita juga ga mau denger.”
”Ya udah aku ga jadi cerita.”
”Ya udah langsung pesen makanan aja. Jangan pada debat gitu. Malu tahu......” Egi menengahi.
Akhirnya aku dan Didin mengikuti saran Egi. Diantara kami bertiga, Egi emang yang paling metral dan realistis. Dan selalu jadi penengah kalau aku dan Didin adu mulut.
Tak lama makanan yang kami pesanpun datang. Baru aja sesuap yang berpindah ke dalam perut, Didin memintaku untuk bercerita.
”Ayo dech Ris, ceritain mimpi lo itu ! kayak ada yang kurang makan gue kali ini.”
”Tuch kan........gini ceritanya. Semalem tuch aku mimpi jalan-jalan dipinggir pantai. Pas lagi nungguin adzan maghrib buat buka puasa. E.........tiba-tiba ada yang manggil aku gitu.........” Belum sempat aku melanjutkan ceritaku, Didin menyela.
”Terus apa gadis itu pake pita putih lagi kayak kemaren itu ?” tanya Didin yang kemudian memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Aku ambil kesempatan untuk menghabiskan gado-gado diatas piringku.” Yupz bener banget...........” aku hampir tersedk karna kaget, Didin tau jalan ceritanya. Segera ke teguk es teh di depanku.
”Kamu selalu bilang dia pke pita berwarna putih. Tapi kamu ga bilang dia pake baju apa ? atau dia ............” tanya Egi menggoda.
”Apa ya ? aku juga ga tahu ......... aku ga liat bajunya sich ?”
”Masa dari kemaren-kemaren, ceritamu ga ada yang berkembang sich.”
”Coba dech .......... ntar malem aku lihat bajunya.”
”Emang bisa ?”
”Ya ga tahu sich.”
”Udah, ntar kalo udah tidur trus mimpi ketemu dia, kenalin ke aku, Oke........”
”Sarap lo......”
Didin dan Egi ketawa, akupun jadi ikut ketawa. Dan akhirnya, makan siang hari itu aku juga yang bayar. Emang pada ga modal.
* * *
”Gimana Ris semalem ? dapet ga” tanya Didin tiba-tiba sat aku baru masuk ke dalam kelas.
”Apanya ?”
”Itu warna baju gadis itu ?”
”Semalem aku ga bisa tidur, gara-gara mikirin mau lihat baju gadis itu ?”
”Ha ha..........,” Didin menertawakan aku. ”Udah lupain aja masalah mimpi kamu itu.”
”Brengsek lo.............”
”Iya Din, kamu tuch jangan ngeremehin mimpinya Aris. Dia kan udah tiga kali cerita mimpi yang sama. Sapa tahu bisa jadi kenyataan...........”
”Iya Egi............tapi cerita itu dari sejak kita naik kelas 3, sekarang udah bulan apa ? udah mau puasa ’kan ?”
”Kamu kayak e ga seneng gitu sich Din.”
”Enggak kok Ris, bukan gitu maksudku. Aku ’kan emang kayak gini orangnya. Asal keluar aja. Masa kamu ga ngerti-ngerti sich .........”
”Udah dech..........aku ga ngerti ma kalian. Kalian nich kayak anak cewek, berantem, adu mulut, gampang ngambek.”
”Maksudmu apa ngomong kayak gitu, Egi !”
Egi kaget, karna aku dan Didin membentaknya. ”Eh........eh.........aku Cuma bercanda sob, kalian kompak and cowok banget kok ? he he........” Egi meringis ketakutan.
”Ga usah takut gitu aja kale Gi,” ucap Didin.
”Bye the way, ga terasa banget ya lus kita udah puasa..........kayak e kita harus banyak intropeksi diri dech biar kita ga banyak marah-marah and emosian kayak anak kecil lagi. Kita kan udah gedhe, udah kelas 3 SMA gitu.”
”Bentar dech, kayak e ada yang perlu di koreksi kata-katamu tadi.”
”Apa ?”
”Bukan intropeksi tapi introspeksi.”
”Oh........sorry............manusia kan tempatnya salah dan khilaf, jadi ya harap maklum dan dimaafkan.”
”Ya udah maaf diterima.”
”Terima kasih.”
* * *
”Bu, Aris pergi dulu ya ?”
”Mau kemana Ris, bentar lagi kan buka ?”
”Bentar aja kok bu ?”
”Tapi kamu buka dirumah ’kan ?”
”Iya tenang aja. Sebelum adzan maghrib, Aris pasti udah pulang ya, Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikum salam.....”
Hari ini kita bulatkan tekad untuk mencoba keberuntunganku dari mimpi-mimpi beberapa hari terakhir. Dan tak terasa sudah hampir dua minggu, aku menyusuri pantai ini, tak sejengkal tanahpun yang tak terlewati. Entah berapa ratus menit waktu yang aku buang untuk merenung, melamun memandngi lukisan alam murni oleh sang pencipta, menunggu kehadiran gadis dimimpi itu.
”Hah.........dasar Aris bodoh........kok ya bisa tho ris, kamu ngelakui ini semua. Kamu ya percaya-percaya aja gitu ama mimpi. Mimpi itu bunga tidur,” ucapku pada diri sendiri.
”Aku janji, ini terakhir kalinya aku datang kesini untuk menunggu dan menemui dia.” Aku bergegas untuk pulang.
Dengan langkah gontai dan berjalan menuju rumah, semua kosong. Mungkin benar kata Didin, aku hrus melupakannya.
Aris, lupain gadis itu.
Aris, jangan Ingat dia lagi.
* * *
Dua hari menjelang lebaran, teman-teman satu kelasku mengadakan acara buka bersama. Kebetulan salah seorang teman kami berulang tahun dan dia juga baru pulang dari Inggris dalam pertukaran pelajar setahun yang lalu. Dan dia memilih pantai sebagai tempat acaranya.
”Kenapa harus kembali ke pantai ini lagi,” bisikku pada Egi.
”Udah, jangan campur adukkan masalah pribadi dengan profesi, oke.........nikmatin aja acaranya,” sahut Egi.
”Iya ......sapa tahu cewek itu ada disini,” tambah Didin.
Acara demi acara dalam susunan acara telah berlangsung, tapi si pembuat acara masih belum juga kelihatan. Kalau tidak salah ada 15 orang siswa siswi yang ikut pertukaran pelajar. 6 diantaranya dari kelasku. Tapi siapa yang mengadakan acara ini, aku masih belum tahu.
Diantara kerumunan teman-temanku, aku melihat gadis dalam mimpiku itu berjlan membelakangiku. Aku ga mau kehilangan jejaknya, aku berlari mengejar dan mengikuti langkahnya. Saat ia berjalan sendiri, aku memberanikan diri mendekatinya.
”Hai !” sapaku padanya.
”Hai,” jawabnya ramah.
”Apa........kita pernah bertemu sebelumnya ?”
”Emm..........aku rasa tidak.”
”Aris !” kudengar seseorang memanggilku.” Ya Allah, aku mohon jangan mimpi. Aku mohon, ”doaku dalam hati.
Akupun perlahan menoleh ke sumber suara. Dan aku melihat Didin dan Egi berdiri disana. Tapi mereka tidak melihat kearahku.
”Sorry, bentar ya .........” aku beranjak pergi.
Gadis itu menahan langkahku. Sama seperti apa yang ada dimimpiku. Tanpa diminta, aku memposisikan diriku hingga aku dapat menatap wajahnya. Wajah yang sama, senyum yang sama dan tatapan yang sama pula.
”Aris, kamu udah lupa ma aku ?”
”Aku ........”
”Aku tahu, ini mungkin pasti ......... ” gadis itu meletakkan tangannya didadaku. Dia pasti dapat merasakan dengan jelas detak jantungku yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
”Kamu masih menyimpan perasaan itu ’kan Ris.” Apa yang kamu ingat dari gadis yang hampir terserempet sepeda motor kakak kelas, seorang gadis yang hampir nangis karna dimarahi kakak kelas waktu MOS, gadis yang gara-gara dia kamu harus rela terluka, malu dan ............
”Melinda .......” tiba-tiba ku teringat nama itu, ingatanku kembali pada kejadian-kejadian masa lalu. Kenangan mengenai seorang gadis berkacamata tebal dan selalu mengucir rambutnya di dua bagian kiri dan kanan.
Dulu, saat masih sama-sama menjadi murid baru di SMA Merah Putih, aku sering membantunya, aku kasihan melihatnya diejek dan dijadikan bahan tertawaan. Hingga akhirnya, sebelum ujian kenaikan kelas, ia mengutarakan perasaannya padaku. Saat itu aku tak menjawabnya, aku bingung, apakah perasaanku padanya benar-benar cinta atau hanya sekedar rasa kasihan.
Tapi sekarang, ia beda. Ia membiarkan rambutnya tergerai indah. Ia tak memakai kacamata tebal itu lagi. Dan perasaan yang dulu pernah ada dan sempat mati terlupakan, kini tumbuh dan bersemi kembali. Bukan. Bukan karena perubahannya saat ini, tapi sekarang karna aku sadar sekarang, selama ini jauh dialam bawah sadarku, aku menginginkan dan mengharapkan kehadirannya kembali dalam hidupku. Hingga berulang kali aku bermimpi tentangnya. Bermimpi tentang perubahan yang aku harapkan darinya.
Dan hari ini, disenja dibulan ramadhan ini, ia berdiri tepat dihadapanku dengan perubahan itu. Perubahan darinya yang selalu menjelma dalam mimpiku.
”Aris ...........”
”Ini Melinda ........... bener ini Melinda. Ini kamu Mel .........?”
”Iya Aris, ini aku Melinda ..........”
”Kamu berubah sekarang ..........”
”Kamu dan Inggris merubahku jadi seperti ini.”
Entah apa yang aku rasakan saat itu. Ada sebuah dorongan yang memaksaku secara perlahan untuk mendekati wajah cantik itu. Apa yang ada didalam mimpi itu seolah akan menjadi kenyataan.
”Hoi............hoi..............hoi ........... inget, eling, nyebut, bulan puasa mas, mbak, ” Teriakan Egi dan Didin membatalkan adegan mesra itu. Aku tersenyum malu dan menggaruk-garuk kepalaku meski tidk terasa gatal. Melindapun ikut tersenyum.
”Bentar lagi bedug maghrib, ayo sini kumpul ! ntar ga kebagian loch, ”ledek Didin.
Akhirnya aku dan Melinda hanya bisa bergandengan tangan dengan sesekali tersenyum, berjalan kearah kerumunan teman-temanku.
D30492N
tanpa Judul

Asmara Anak Jalanan
Panas, berdebu, bising dan macet begitulah cirri khas jalan-jalan raya dikota-kota besar seperti kota Jakarta. Namun kemacetan itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang oleh pemerintah dijuluki sebagai Gepeng (Gelandangan dan Pengemis). Meskipun begitu mereka tak merasa malu ataupun rendah diri. Keadaan memaksa mereka untuk melakukan hal itu. Daripada mereka harus merasa gengsi lalu tidak makan. Lebih baik malu asal dapat sesuap nasi untuk mengisi perut.
Sama seperti tiga sekawan ini, meski sebenarnya mereka masih muda tapi mereka belum layak bekerja lagi pula mereka juga belum memiliki ketrampilan yang memadai. Maklumlah mereka baru lulus SMP. Masalah biaya selalu menjadi faktor utama kandasnya keinginan mereka melanjutkan pendidikan.
”Capek Wan, istirahat dulu.”
”Iya Wan, istirahat dulu kasihan Rara.”
”Ya udah kita istirahat disini saja. Fer, beli minum, haus nih.”
”Kok aku sih. Kamu aja.”
”Sini biar aku yang beli.”
”Biar aku aja yang beli. Kamu capek ’kan .”
”Tadi katanya nggak mau.”
Meski sedikit malu pada Rara, Ferdi pergi membeli minum. Dari kejauhan ia memperhatikan Rara dan Irwan. Mereka semakin akrab saja. Padahal sejak kecil mereka selalu bersama-sama tapi Rara lebih dekat dengan Irwan daripada Ferdi.
”Ini minumnya.”
”Makasih Fer.”
”Habis ini kita ngamen lagi ’kan ?” tanya Ferdi
”Kayaknya nggak usah deh.”
”Kenapa nggak Wan ?”
”Kamu capek sekali sepertinya hari ini Ra.”
”Rara apa pernah capek.”
”Ferdi benar, aku belum capek kok.”
”Udah hari ini cukup. Kalau kamu nggak capek, kamu nggak mungkin minta istirahat.”
Ferdi yang merasa sudah salah hanya diam.
”Ayo Ra kita pulang.” ajak Irwan sambil memegang tangan Rara. Rara menoleh ke Ferdi.
”Ayo Fer, loe nggak pulang ?”
“Nggak aku disini aja dulu.”
”Ya sudah sampai jumpa nanti malam.”
Ferdi merasa iri melihat kebahagiaan mereka. Ia selalu melamun. Hari-hari berlalu, Rara dan Irwan semakin akrab sedangkan Ferdi merasa diacuhkan.
Siang itu Ferdi melihat Rara duduk melamun. Tak biasanya Rara sedih. Ia selalu tampak ceria. Irwan juga tak bersamanya hari itu.
”Hai Ra, Irwan kemana kok sendirian ?”
Rara tak menjawab ia menangis dan meninggalkan Ferdi.
”Ra ........ Rara. Ada apa Ra, tunggu Ra.”
Rara tak mempedulikan Ferdi. Ia terus berlari dan sebuah motor menabraknya.
”Rara ........!”
Tak lama kemudian Rara sudah berada dirumah sakit.
”Bagaimana dok.”
”Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Untunglah janinnya selamat.”
”Janin ? maksud dokter Rara hamil.”
”Benar, usianya sudah satu bulan.”
”Terima kasih dok.”
Karna sudah tidak apa-apa Ferdi mengajak Rara pulang ke rumah. Ia harus banyak istirahat.
”Kenapa kamu nggak cerita sama aku Ra ?”
Rara tak menjawab, ia menangis.
”Siapa yang melakukannya Ra ?”
Rara tetap saja tak menjawab.
”Sudahlah kalau kamu nggak mau jawab. Aku nggak maksa. Aku tunggu sampai kamu mau cerita.”
Ferdi mengantarkan Rara sampai kerumahnya. Kemudian ia kembali mengamen. Sepulang mengamen, ia kerumah Rara. Tapi Rara masih belum mau bercerita.
Melihat ketulusan dan kebaikan Ferdi, Rara akhirnya bercerita.
”Waktu itu Irwan mengatakan kalau ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Sampai ditempat itu Irwan mengatakan kalau ia mencintaiku. Karna waktu itu sudah larut malam kami memutuskan untuk pulang esok paginya. Tapi ketika bangun aku .....................Rara tak melanjutkan kata-katanya, ia menangis.
”Tega-teganya Irwan berbuat seperti itu padamu. Sekarang dia dimana Ra, biar aku hajar dia.”
”Jangan Fer, jangan sakitin dia sebenarnya aku juga mencintainya. Ia bilang akan pergi ke luar negeri mau jadi TKI agar punya modal untuk pernikahan kami.”
”Tapi Ra, berapa lama ? sedangkan perut kamu dari hari ke hari semakin membesar. Apa kata orang tuamu dan para tetangga nanti.”
”Kamu jangan bilang pada bapak/ibuku. Aku tidak mau mereka cemas.”
Tiga bulan berlalu, perut Rara semakin membesar. Iapun belum juga mendapat kabar dari Irwan. Sedangkan orang tuanya terus memaksanya untuk menggugurkan kandungan Rara.
”Sekarang apa yang harus aku lakukan Fer, orang tuaku terus memaksa menggugurkan kandunganku.”
”Ayo, kita pulang biar aku yang menanggung semua perbuatan Irwan.”
”Jangan Fer, aku .........”
”Kamu mau berbuat dosa untuk kedua kalinya.”
”Tidak Fer, cukup sekali saja.”
”Ya sudah, sekarang ikut aku.”
Dengan terpaka Rara mengikuti Ferdi. Sampai dirumah, Ferdi mengaku pada orang tua Rara kalau ia yang menghamili Rara. Spontan Ferdi mendapat pukulan dari orang tua Rara.
”Jangan pak, Ferdi nggak bersalah.”
”Ampun om aku akanbertanggung jawab.”
”Bagus. Tapi mau kamu kasih makan apa anakku. Buat makan sendiri aja masih sulit mau kasih makan anak orang. Lagian kalian ini masih anak kemarin sore.”
”Saya janji om, saya tidak akan menyengsarakan Rara.”
”Saya pegang janji kamu. Om akan menikahkan kalian karna om tahu kalian sudah berteman sejak kecil.”
”Terima kasih om, saya permisi pulang dulu.”
”Besok kamu kemari lagi, karna besok kita ke penghulu.”
Keesokan harinya mereka sudah resmi menikah, meskipun hanya ijab qobul tapi mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Hari-hari mereka lalui dengan kehidupan yang sederhana walaupun Rara kadang-kadang masih suka melamun memikirkan Irwan.
Ferdi tidak bekerja sebagai pengamen lagi. Sekarang ia mempunyai tanggung jawab yang cukup berat. Orang tua Rara hanya membantu sesekali saja. Mereka menjalani hidup dengan tenang dan bahagia ditambah lagi ketika bayi mereka lahir. Bayi itu diberi nama Nia.
Tahun demi tahun berlalu, Nia yang dulunya gadis mungil yang manis kini sudah berubah menjadi gadis dewa yang cantik.
Siang itu Nia pulang dengan wajah yang ceria.
”Ada apa Nia, ceria sekali hari ini.”
”Ibu, ibu mau tahu aja. Hari ini Firman bilang mau ngenalin aku pada orang tuanya.”
”Firman ? siapa Firman, pacar kamu.”
”Iya donk bu. Sore ini Firman mau jemput Nia, bolh ’kan bu ?”
”Boleh-boleh aja tapi kamu harus hati-hati jangan pulang larut malam.”
”Iya bu, Nia tahu kok. Makasih ya bu ?”
”Sudah sana mandi. Terus bantuin ibu didapur.”
”Ya bu.”
”Semoga kamu tidak mengalami nasib yang sama dengan ibu, Nia.” Pikir Rara dalam hati.
Hubungan Firman dan Nia makin lama makin sulit dipisahkan. Bahkan mereka berencana untuk menikah. Ayah Firman mendatangi rumah Nia. Ibu Firman sudah lama meninggal.
Ibu Nia dan ayah Firman bertemu, mereka terdiam sesaat dan saling berpandangan. Nia dan Firman pergi mencari Ferdi, ayah Nia ditempat kerjanya.
”Mas Irwan, ini kamu mas.”
”Ya Ra, ini aku Irwan. Bagaimana kabarmu.”
”Aku baik ma. Kamu sendiri ?”
”Aku juga baik. Mana suamimu ?”
”Ferdi maksud mas.”
”Jadi kamu menikah dengan Ferdi. Anak kalian cantik.”
”Itu bukan anak Ferdi, tapi dia anak kita mas. Anakku dan anakmu.”
”Apa maksudmu Ra !”
”Saat kamu pergi aku sedang hamil satu bulan. Dan Ferdi menikahiku, karna ia tidak ingin melihat aku jadi bahan ejekan dan hinaan orang-orang. Tapi meskipun aku sudah menikah dengannya, aku masih mencintaimu aku tidak bisa melupakanmu.” Rara memeluk Irwan.
Ferdi datang dan mendengarkan pembicaraan mereka.
”Aku sama sekali tidak mencintai Ferdi.”
Bungkusan makanan yang dibawa Ferdi terjatuh. Ia tertunduk lemas. Rara dan Irwan terkejut.
”Mas Ferdi, ” ucap Rara. ”Ferdi, ”sahut Irwan.
Rara mendatangi Ferdi. Ia menyentuh pundak Ferdi, tapi Nia menghalanginya.
“Jangan sentuh ayah bu, ibu sudah tidak pantas lagi untuk menyentuh ayah. Aku kira selama ini ibu sangat mencintai ayah, tapi apa nyatanya. Padahal ayah sangat mencintai ibu. Ayah rel mengorbankan masa mudanya hanya untuk ibu, tapi apa balasannya.”
Rara hanya menangis. Ia membenarkan apa kata Nia.
”Sudah Nia cukup, ayah tidak apa-apa.”
”Tidak yah, biar wanita ini tahu walaupun dia yang melahirkan dan membesarkanku, tapi kalau wanita yang aku panggil ibu ini yang aku anggap wnita paling baik, paling berjasa dalam hidupku adalah hanya seorang wanita yang telah melakukan dosa besar dan tidak tahu balas budi.”
”Nia ! ” bentak Ferdi, sedangkan Rara terus menangis.
”Ibu anggap apa ayah selama ini, patung atau boneka yang bisa ibu peralat untuk kepentingan ibu sendiri. Selama ini senyuman ibu, tawa ibu, kasih sayang ibu hanya sebuah sandiwara semata padahal ayah sangat bahagia mendapatkannya.”
”Itu tidak benarNia, ibu .........”
”Dan sekarang ibu kembali dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab ini. Ibu egois, ibu tidak punya perasaan. Ayo yah kita pergi dari sini, Nia tidak mau bersama wanita seperti dia.” Nia menggandeng tangan ayahnya, tapi Ferdi melepaskan genggaman tangan Nia.
”Tidak Nia, biar ayah yang pergi. Walau bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kandungmu.” ferdi pergi.
”Orang tuaku hanya ayah. Aku iku ayah,” Nia mengejar ayahnya, Ferdi.
”Nia ! Jangan pergi, ibu sangat enyayangimu.”
Nia hanya menoleh.
”Nia ! Nia tunggu, ” Firman mengejar Nia.” Bagaimana denganku, bagaimana dengan pernikahan kita ?”
”Firman kamu sudah dengar sendiri dan tahu semuanya. Hubungan kita sampai disini saja. Lupakan aku dan aku akan melupaknmu.”
”Nia, aku ikut denganmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu, Nia.”
”Jangan Firman. Taxi !”
”Nia, Nia, Nia ..............”
Nia dan ayahnya berlalu bersama taxi yang ditumpnginya. Sedangkan Rara, terus menerus menangis dan memanggil nama Nia. Hingga akhirnya Rara menjadi gila. Firmn dan Irwan tidak terlalu mempedulikan Rara.
Nia dan Ferdi kini tinggal disebuah rumah yang sederhana didaerah Kalimantan Barat. Mereka ikut dengan rombongan transmigran. Hidup mereka sangat bahagia. Mereka tidak mengetahui dan mempedulikan keadaan Rara lagi.
”Nia, besok kamu jenguk ibumu. Kasihan dia.”
”Nggak. Palingan ibu sedang bersenang-senang dengan lelaki itu.”
”Walau bagaimanapun juga dia ibumu. Ayah tidak mau kamu jadi anak durhaka.”
Keesokan harinya Nia berangkat, sesampainya di Jakarta ia sungguh-sungguh terkejut mengetahui ibunya berada dirumah sakit jiwa. Ia merasa sangat sedih dan bersalah melihat kondisi ibunya. Dengan setia Nia merawat ibunya, hingga tak terasa setahun sudah ia meninggalkan ayahnya. Nia mengajak ibunya pulang ke Kalimantan, tapi sesampainya disana Ferdi ayah Nia meninggal dunia karna kecelakaan. Nia dan ibunya langsung kemakam Ferdi. Disana mereka menangis. Rara minta maaf pada Ferdi dan Nia berjanji akan menjadi anak yang berbakti.
Ah....Cinta
”Kenapa Gar, dari tadi aku perhatikan kamu nglamun aja.”
”Gue baru putus sama Mona, Raf.”
”Udah jangan dipikirkan. Cewek emang kayak gitu.”
”Padahal gue sangat mencintainya, tapi tapi dengan seenak hatinya dia mesra-mesraan dengan cowok lain.”
”Gue ngerti perasaan loe. Tapi sekarang lebih baik loe tenangin diri dulu. Lupain semuanya. Ok.”
Akhirnya mereka pergi ke kafe. Disana mereka biasa menennangkan diri. Mereka pulang sudah larut malam. Malam itu hujan, jalan-jalan banyak yang tergenang air. Tak sengaja mobil Tegar melewati genangan air dan air itu mengenai beberapa ank kecil dan seorang gadis. Mobil Tegar berhenti dan mundur ke belakang.
”Basah ya. Kasihan nih uang buat beli baju yang baru.”
”Maaf ya mbak, Adik-adik. Teman saya ini lagi mabuk.”
”Mas, klau lewat jalan itu lihat-lihat, pasang itu mata.”
”Ya sekai lagi maaf ya mbak.”
Mobil Tegar yang dikemudikan Raffi meninggalkan Ria dan teman-temannya. Mereka mengambil uang yang diberikan Tegar, tapi untuk dikembalikan bukan dipakai untuk beli baju baru.
Keeokan harinya Tegar dan Raffi pergi ke sebuah rumah makan dan disana mereka bertemu dengan Ria.
”Itu bukannya cewek yang semalam.”
”Ya bener. Ternyata dia kerja disini.”
”Kira-kira di marah nggak ya soal semalam.”
”Tau deh, tapi lebih baik kamu minta maaf.”
”Tapi nanti kalau ..........”
”Asalkan kamu ngomongnya baik-baik, lagi pula selama inikan kamu baik sama orang. Sana minta maaf.”
”Tegar menghampiri Ria yang sedang membersihkan meja.”
”Hai,” sapa Tegar.
Ria menoleh. ”Iya ada yang bis saya bantu ?”
”Saya ....... saya Cuma mau minta maaf soal semalam.”
”Semalam ?”
”Iya yang waktu dijalan itu.”
”O ........ mas yang mabuk dan menghina saya dan adik-adik saya,” sahut Ria dengan sedikit acuh
”Tapi uang ini ’kan ..........”
”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa beli baju dengan uang kami sendiri. Lagipula sebenarnya kami tak perlu baju baru untuk mengganti baju yang semalam. Kami cukup mencuciny tak perlu hambur-hamburkan uang,” ucap Ria tetap acuh sambil melakukan pekerjaannya.
”Ok. Aku ngerti, sekarang kamu mau maafkan aku atau nggak ?” tanya Tegar mulai kesal tapi coba ia tahan.
”Maaf mas saya sedang banyak pekerjaan, Permisi.”
Tegar kembali kemejanya bersama Raffi.
”Gimana Gar ?”
”Entahlah.”
”Lho kok gitu.”
”Tau deh pulang aja yuk.”
”Ada apa sich sebenarnya ?”
”Cewek nyebelin, cewek sombong.”
”Gue nggak ngerti, apa sich maksudmu.”
”Gue harus kasih pelajaran tuh cewek.”
”Lho mau kemana ?”
”Loe tunggu disini aja sampai gue balik.”
* * *
”Ria, dipanggil bu Sum tuh.”
”Ada apa Sil ?”
”Nggak tau, tapi kayaknya bu Sum marah banget.”
”Aku temuin bu Sum dulu ya.”
”Cepetan sana.”
Didepan pintu ruangan bu Sum, dengan sedikit takut Ria mengetuk pintu.
”Masuk.”
”Permisi bu.”
”Duduk.”
”Ibu panggil saya, ada apa bu ?”
”Kamu saya pecat.”
”Pecat bu ?” tanya Ria memastikan.
”Tapi apa salah saya bu.”
”Kamu mengecewakan palanggan. Kamu tidak melayani mereka dengan baik dan sopan. Mereka mengaku kecewa.”
”Tapi bu saya ......... ”sahut Ria ambil menangis.
”Maaf Ria, ini gaji kamu yang tiga minggu.”
”Tolong bu, jangan pecat saya.”
”Silahkan keluar.”
”Tolong bu, jangan pecat saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong saya bu.”
”Saya bilang keluar !”
”Baik bu, permisi.” Dengan perasaan sedih bercampur bingung ia keluar dari ruangan bu Sum. Ia tak mengerti dengan apa yang dilakukan bu Sum. Ia merasa selalu bersikap baik dan sopan pada para pengunjung.
”Hei ! tunggu.”
Ria yang merasa dipanggil berhenti dan menoleh.
”Tolong trima uang ini sebagai permohonan maaf saya.”
”Maaf mas, bukannya tadi sudah saya bilang saya tidak perlu uang mas, Permisi.”
”Tunggu dulu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang kalau kamu tidak punya pekerjaan.”
”O ...... jadi mas yang ........ mau mas apa sih, apa sekarang mas sudah puas. Apa mas belum puas menghina saya dan adik-adik saya semalam. Sebenarnya apa salah kami sama mas. Saya tahu mas orang kaya tapi bukan berarti mas bisa menghina orang-orang kecil seperti kami. Saya ingatkan ya mas uang yang mas hambur-hamburkn itu bukan uang mas sendiri tapi uang orang tua mas yang sudah bekerja keras siang malam.”
Tegar hanya diam tak berkutik mendengar ucapan Ria.
”Masih lebih baik kami yang meskipun tak punya orang tua, kami masih bisa bertahan hidup dengan uang hasil keringat sendiri tanpa harus selalu menengadahkan tangan pada orang tua. Ria pergi berlalu dari hadapan Tegar.
* * *
Dengan peraaan bersalah dan sedih, Ria pulang kerumah gubuknya. Dirumah itu, empat rang adiknya sudah menunggunya.
”Itu kak Ria pulang.”
”Kak Ria, hari ini kok pulang cepat.”
”O ......... tadi bos kakak mau menghadiri pesta.”
”Kakak bawa makanan apa ?”
”Hari ini kita masak mie instant saja ya.”
”Ya ........ kak bosan tiap hari makan mie.”
”Hai adik-adik ini kakak bawakan pizza buat kalian.”
”Dia ! ” Ria tak percaya kalau tegar mengikutinya.
”Kakak yang ketemu dijalan itu ’kan.”
”Iya. Kakak mau minta maaf makanya kakak bawakan makanan untuk kalian, kalian lapar ’kan.”
”Iya kak kami lapar. Kak Ria nggak ikut makan.”
”O ........ namanya kak Ria.”
”Iya kakak belum kenalan. Kakak namanya siapa ?”
”Nama kakak Tegar.”
”O ......... kak Tegar. Trima kasih ya kak.”
”Sama-sama.”
Ria hanya diam saja. Ia hanya memberikan segelas air putih pada Tegar. Saat Tegar berpamitan, Ria memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Tegar.
”Untuk apa ini ?”
”Untuk bayar pizza yang udah kamu bawa.”
”Nggak usah aku ikhlas kok.”
”Maaf, tapi kami tidak terbiasa menerima pemberian dari orang yng kami belum kenal.”
”Lho tadi buknnya udah kenalan ya nggak adik-adik ?”
”Ya kak, namanya kak Tegar.”
”Diam kalian. Kakak kan udah bilang, kita tidak boleh menerima barang apapun dri orang lain.”
”Tapi kak ..........”
”Udah jangan ikut-ikutan. Nih ambil uangnya dan saya mohon mas cepat pergi dari sini.”
”Ok. Uang ini aku ambil tapi kamu masih punya hutang 100.000,-.”
”Apa maksud kamu ?”
”Pizza itu haranya 200.000,- karn waktu itu aku udah buat salah sama kamu, jadi bayar 150.000,- dan aku boleh datang kapn saja aku mau.”
”Aku akan tetap bayar 200.000,-. Itu berarti hutangku masih 150.000,-.”
”Terserah kamu. Aku permisi pulng dulu. Adik-adik kakak pulang dulu.”
”Ya kak. Makasih ya pizznya.”
* * *
Keesokan harinya Tegr datng lagi kerumh Ria.
”Maaf, hari ini aku belum punya uang.”
”Aku kesini bukan untuk nagih hutang tapi mu ngajak adik kamu jalan-jalan.”
”Tolong mas jangan kesini lagi. Saya tidak mau mendapatkan belas kasihan dari mas. Semakin sering mas kesini dan semakin sering mas memberikn kami sesuatu membuat hutang saya kepada mas semakin menumpuk. Dan itu membuat saya semakin susah. Apalagi sekarang saya tidak punya pekerjaan.”
”Aku nggak pernah minta kamu buat bayar semua yang sudah saya berikan. Lagi pula aku ikhlas mau nolong kamu.”
”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa hidup tanpa bantuan mas. Sebaiknya mas konsentrasi saja pada kuliah mas. Didunia ini banyak anak yang ingin sekolah jadi mas jangan sia-siakan kesempatan ini, Permisi.”
”Ria, tunggu dulu. Adik-adik kamu ada dirumah ’kan.”
”Mereka tidak ada dirumah. Mereka sedang ngamen.”
”Ngamen ? terus kmu sendiri mau kemana ?”
”Saya mau kerja.”
”Kerja apa ?” tanya Tegar. Ria tak menjawab ia pergi begitu saja.
”Ria tunggu !” dengan setengah berlari Tegar mengejar Ria. Tapi Ria terus saja berjalan.
”Ria, kenapa kamu biarin adik kamu ngamen, bukankah itu sangat berbahaya. Kamu sendiri ’kan yang bilang kita tidak boleh hanya menengadahkan tangan, kita harus berusaha.”
”Apa menurut mas mereka ngemis ? tidak mas, mereka juga nerusaha. Mereka menyanyi, menghibur orang. Dan sebaiknya mas jangan ganggu mereka atau saya laporkan polisi dengan tuduhan penculikan.”
”Ria, mereka masih kecil tidak seharusnya mereka bekerja. Mereka butuh pendidikan !”
Ria berhenti berjalan, ia kembali menghmpiri Tegar.
”Pendidikan ? mas sebenarnya paham dan tahu tau tidk soh dengan keadaan kami. Makan saja sulit plgi mau sekolah. Siapa yang membiayai, pemerintah ? omong kosong. Atau mas yang mau membiayai sekolah adik-adik saya.”
”Kenapa tidak.”
”Dengan uang orang tua mas itu, tidak mas kami tidak mau jadi bahan hinaan orng tu ms jika mereka tahu.”
Ria berjalan meninggalkan Tegar. Tegar mengejarnya, tapi Ria sudah naik angkutan.
* * *
Siang itu dikampus, Tegar dan Raffi sedang membicarakan soal Ria. Tapi kemudian datang Mona, Raffi segera pergi tahu kalau mereka akan membicrakan masalah hubungan mereka.
”Hai Gar, Raf.”
”Hai, gue pergi dulu Gar.”
“Sampai nanti. Jangan lupa jam lima sore.”
”Ok.”
”Mau ada acara apa ini.”
”Bukan urusanmu,” sahut Tegar acuh hendak pergi.
”Gar, aku mu ngomongin soal hubungan kita, kenapa sih, apa salhku kenapa kamu mutusin aku waktu itu.”
Tegar tak menjawab.
”Sekarang kamu juga sulit dihubungi, ada pa sih Gar ?”
”Tegar tetap tak menyahut.”
”Tegar jawab, aku sedang ngomong sama kamu.”
”Mau tahu jawabannya, tanya pada diri loe sendiri.”
”Tegar ! apa maksudmu ? Tegar !”
Tegar msuk kedalam kelas. Sekitar empat jam ia kuliah.
”Tegar,” sapa Mona ketika Tegar keluar kelas.
”Ada apa Mon ?”
”Kamu belum jawab pertanyaanku tadi.”
”Bukankah aku sudah bilang tanya sendiri pada diri loe.”
”Tegar !”
”Hai Raf, kita berangkat sekarang yuk.”
”Hai Gar, yuk.”
”Tegar ! kamu mau kemana ?” teriak Mona.
”Aku harus mengikuti mereka,” pikir Mona.
* * *
”Loe sudah yakin mau ketempat Ria.”
”Ya iyalah. Gue ’kan udah sering kerumahnya.”
”Loe itu aneh, waktu direstaurant aja kamu marah-marah bahkan dia sampai dipecat gara-gara kamu. Tapi sekarang .”
”Entahlah. Aku merasa dia memberikan banyak perubahan dalam hidupku.”
”Loe suka sama Ria ?”
”Kadang-kadang aku sering sebel sama dia, tapi yang paling aku suka dia tetep pada pendiriannya dan lagi dia sering kasih aku nasehat-nasehat.”
”Jadi intinya loe suka ’kan.”
”Bahkan mungkin lebih dari suka.”
Tak lama kemudian mereka sudah sampai dirumah Ria. Mereka tak sadar kalau Mona mengikuti dari belakang.
”Kak Ria, ada kak Tegar nih ?”
”Mau apa lagi. Oh ya ini uang untuk bayar hutang kami yang kemarin.”
”O ....... ya makasih.”
”Sekarang sebaiknya mas-mas pulang saja.”
”Biarin aja kak, kita ’kan mau main sama kak Tegar.”
”Susi, kakak mau kerja kamu dan adik-adik, kamu harus beres-beres rumah.”
”Tapi kak, kasiha kak Tegar dan temannya sudah jauh-jauh datang kesini.”
”Terserah kalian, kakak nggak mau tahu lagi sama kalian. Sekarang kalian sudah nggak mau dengerin kata kakak.”
Ria pergi bekerja. Tegar dan Raffi tetap dirumah Ria.
”Kakak kaian kerja apa ?”
”Kalau pagi kakak kerja ditempatnya bu Isna kirim katering. Terus kalau sore, nyuci baju atau ngerjain pekerjaan rumah tangga yang lain dirumah tingkat diujung jalan. Pulangnya sekitar jam delapan malam. Paginya jam lima kesana lagi sampai jam sembilan terus berangkat kirim katering.”
”Kakakmu kerja keras ya Sus.”
”Iya kak, buat bayar hutang ke kakak. Dari dulu kakak nggak pernah mau menerima bantuan orang lain.”
”Aku punya ide Gar.”
”Ide apa maksudmu Raf.”
”Gimana kalau kita buat Ria mau menerima bantuan dari orang lain.”
Mereka berenam membicarakan suatu hal yang sangat rahasia dan serius. Tetapi mereka juga bercanda.
* * *
Jam delapan malam, seperti biasa Ria pulang dari bekerja. Sesampainya dirumah ia tak menjumpai adik-adiknya. Ia bertanya pada tetangganya.
”Maaf bu, ibu lihat adik-adik saya ?”
”Oh iya tadi dibawa dua anak muda, katanya adik kamu yang paling kecil itu pingsan.”
”Sekarang mereka dimana bu ?”
”Katanya mau diantar kerumah sakit umum.”
”Trima kasih bu.”
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera kerumah sakit. Sesampainya disana ia bertanya pada suster dimana adiknya dirawat. Setelah tahu, Ria segera menuju kamar adiknya.
”Tika !” Ria mendekap adiknya yang terbaring,” kenapa dia sus, kenapa adikmu. Jawab !”
”Kata dokter Tika terkena kanker,” jawab Tegar.
”Kanker ?” ucap Ria lemas.
”Tika harus segera dioperasi, kalau tidak ........”
”Tidak mungkin ! Tidak mungkin, Tika bangun, ini kakak Tik.” Air mata Tika mengalir membasahi pipinya.
”Sudahlah kamu tenang dulu.”
”Bagaimana aku bisa tenang. Sedangkan aku harus membiayai adikku operasi. Dan pasti biayanya bisa puluhan juta. Dari mana aku bisa mendapatkannya.”
”Kamu tidak perlu kuatir, aku yang akan membiayai operasi adikmu.”
”Tidak perlu, saya masih bisa membiayainya.”
”Kamu jangan keras kepala. Sekarang adikmu dalam keadaan antara hidup dan mati. Sampai berapa lama kamu bisa mendapatkan uang itu. Kamu mau adikmu mati.”
Ria terus saja menangis. Ia keluar dari kamar tempat adiknya dirawat. Tampaknya ia sangat sedih, ia merasa kalau ia sudah gagal menjadi kaka yang baik.
* * *
Ria terus saja bekerja, bahkan kini ia semakin rajin. Tapi ia juga tak lupa menjenguk dan menemani adik-adiknya. Hari itu setelah pulang mengantar katering, Ria didatangi seorang wanita.
”Apa kamu yang namanya Ria ?”
”Ya. Ada apa mbak, ada yang bisa saya bantu ?”
”Saya peringatkan sama kamu. Kamu jangan coba-coba deketin Tegar. Dia itu milik gue.”
”Apa maksud mbak.”
”Kalau kamu berani ngrebut dia dari saya, saya tidak akan segan-segan menyakiti adikmu.”
”Asal mbak tahu saja, saya juga tidak mau deketin mas Tegar ? dan jangan coba-coba mbak menykiti adik-adik saya. Kalau tidak ............”
”Kalau tidak apa ?”
”Jaga saja mas Tegar. Jangan biarkan dia menemuiku dan saya akan sangat berterima kasih. Permisi.” ria mencoba untuk berkata sedikit keras. Ria segera menuju kerumah sakit.
”Kak Tegar, sampai kapan kita harus terus bersandiwara. Kasihan kak Ria. Ia pasti bekerja sangat keras.’
”Besok rencananya kita akan operasi, mungkin dua atau tiga hari lagi kamu sabar ya ?”
Tanpa mereka sadari, Ria mendengar semua pembicaraan mereka. Makanan yang dibawanya terjatuh.
”Kak Ria,” ucap Tika.” Ria,” ucap Tegar.
”Apa ini yang disebut kanker, kenapa kalian tega bohongin kakak ? apa begini kakak mendidik kalian, apa kakak mengajari kalian untuk berbohong ? sekarang kalian sudah pandai berbohong. Apa kalian suka melihat kakak menderita dan sedih. Kalian sudah mempermainkan kakak.” Butiran air jernih mengalir dari pelupuk mata Ria. Adik-adiknyapun juga menangis.
”Ria, mereka tidak salah. Aku yang salah.”
”Sudah aku duga memang kamu yang mengajari mereka. Kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku. Sekarang kalian ikut saja dengan kak Tegar. Biar setiap hari bisa hidup enak. Kakak tidak akan mengganggu kalian.”
”Kakak, kak Ria kami ikut kakak.”
”Jika kalian ikut kakak, kalian harus nurut apa kata kakak.”
Ria dan adik-adiknya pulang kerumah. Susi dan adik-adiknya tidak mau menyakiti kakak mereka lagi. Mereka tahu betapa kerasnya kak Ria berusaha keras agar mereka dapat bertahan hidup sampai sekarang tanpa kedua orang tua mereka.
* * *
Sudah beberapa hari ini Tegar tak kerumah Ria. Ria merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia merasa gelisah dan sering duduk melamun didepan pintu.
”Kakak, kenapa ?”
”Susi, kamu belum tidur.”
”Belum kak, kakak kenapa ?”
”Enggak. Kakak Cuma sedikit capek.”
”Ayo kak masuk, nanti kakak masuk angin.”
”Kamu duluan aja. Kakak masih mau disini.”
Keesokan harinya ia mendapat kabar dari Raffi kalau Tegar kecelakaan dan dirawat dirumah sakit.
”Ria, aku mohon temui Tegar. Ia terus menerus memanggil nama kamu.”
”Maaf mas, saya tidak bisa. Itu paling Cuma akal-akalan dia saja. Saya tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya.”
”Tapi ini benar saya tidak bohong.”
”Kakak coba lihat saja.”
”Tika, kamu jangan ikut-ikutan.”
”Saya mohon, temui Tegar.”
”Maaf mas. Saya harus bekerja. Permisi !”
Ria berangkat bekerja. Meski ia merasa sangat sedih.
”Kak Raffi. Kami yang akan kesana.”
”Boleh. Ayo ikut kakak.”
Tak lama mereka sudah sampai dirumah sakit. Tegar memang benar-benar kecelakaan meski lukanya tidak terlalu parah.
Malam harinya Susi menceritakan keadaan Tegar pada kakaknya, Ria. Ria tak begitu menanggapinya. Meski didalam hatinya ia merasakan suatu kesedihan yang sangat mendalam.
”Kak, kakak harus jenguk kak Tegar. Setidaknya untuk menyenangkan hatinya, karna dulu kak Tegar juga pernah menyenangkan hati kami.”
”Tapi, Sus.”
”Kami mohon kak. Lagipula apa kakak tidak suka dengan kak Tegar. Tidak pernah ada orang yang memperhatikan kakak seperti ini bahkan dia sampai mau di maki-maki oleh kakak.”
”Iya. Nanti kakak kesana.”
”Trima kasih ya kak.”
* * *
”Pagi Gar, gimana sudah baikan,” sapa Mona.
Tegar tak menjawab, ia hanya mengangguk
”Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu.”
”Trima kasih. Taruh saja disitu.”
”Aku mau kita teruskan pembicaraan yang wktu itu.”
”Kamu belum puas dengan jawabanku. Ok, aku akan bikin kamu puas. Siapa Ivan ?”
”Dia ........ dia .......”
”Dia pacarmu ’kan. Sudah ngaku aja, aku sudah tahu kalau selama ini kamu hanya memanfaatkan aku. Kamu berpura-pura senang, cinta sama aku. Padahal kamu mencintai orang lain dan menggunakan uangku untuk kesenangan kalian.”
”Tidak, itu bohong aku ..........”
”Sudah tidak perlu banyak alasan lagi. Pergi kamu dari sini. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi !”
”Ok. Aku pergi. Lagi pula aku sudah capek harus pura-pura senang, pacaran sama kamu. Aku disini juga mau memberikan undangan jika kamu bersedia, datanglah. Kami ucapkan banyak terima kasih atas uang yang sudah kamu berikan.”
Setelah menyerahkan undangan pernikahannya dengan Ivan, Mona pergi meninggalkan Tegar.
Malamnya Ria datang. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu. Tapi ia merasa lega karna saat itu Tegar sedang tidur. Ia duduk dikursi didekat tempat tidur Tegar.
”Aku kesini karna permohonan adik-adikku. Aku juga mau minta maaf karna aku sudah terlalu acuh pada mas Tegar. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin nantinya kami jadi bahan hinaan orang lain.” ”Ria menggenggam tangan Tegar.” Seandainya mas tahu, aku sangat sedih ketika mendengar mas kecelakaan. Dan aku berusaha menghilangkan perasaan itu karna aku takut mas akan membohongiku lagi. Tapi bagaimanapun aku tetap tidak bisa menghilangkannya.” Ria memandang kearah Tegar.
Tegar masih menutup matanya.
”Terkadang aku merasakan kenyamanan dan ketenangan bila ada didekat mas. Apa perasaan seperti ini yang orang-orang sebut dengan cinta. Tapi meskipun ini benar-benar perasaan cinta, aku tidak mungkin bisa mendapatkan dan bersama orang yang aku cinta. Karna mas sudah punya orang yang sangat mencintai mas dan mas pun juga mencintainya. Sudahlah mas, aku hanya akan mengganggu tidur mas. ” Ria mengambil sesuatu didalam tasnya. Ia meletakkan barang itu diatas meja.
”Didalam amplop itu ada uang tiga ratus ribu rupiah. Itu uang untuk mengganti biaya jalan-jalan dan pizza yang sudah mas berikn pada adik-adik saya. Semoga mas cepat sembuh dan mendapatkan kebahagiaan yang mas inginkan.”
Ria menempelkan bibirnya didahi Tegar,” trimakasih atas segala yang sudah mas berikan. Kami tidak akan melupakan kebaikan mas. Saya sadar bahwa hidup didunia ini kita harus bisa menerima bantuan dari orang lain. Karna kita tidak mungkin bisa hidup tanpa bantuan orang lain,” Ria mengambil tasnya, ia hendak pergi.
Tapi tangan kanannya dipegang oleh Tegar. Ria berhenti karna tanagnnya tertahan, ia menoleh. Ia sedikit terkejut dan gugup.
”Jangan pergi, aku mohon kamu jangan pergi.”
”Tapi ku ........”
”Aku sudah mendengar semuanya. Aku juga sangat mencintaimu. Aku salut dengan kesabaran dan keteguhanmu dalam menghadapi cobaan hidup.”
”Tapi .......”
”Duduklah. Kamu tidak perlu bicara lagi. Biar ku yang bicara. Kita pasti akan selau bersama.” Tegar menggenggam tangan Ria.” Karna Mona yang kamu anggap pacarku itu kini sudah bertunangan dan akan segera menikah.”
”Maafkan aku mas Tegar.” Mereka berpelukan.
”Trima kasih. Dan sekarang biarkan aku.” Tegar melepaskan pelukannya dan menempelkan bibirnya didahi Ria.
”Horree .........!!” Adik-adik Ria dan Raffi memberikan sorakan dan tepuk tangan. Ria dan Tegar merasa malu dan tersenyum. Kemudian mereka tertawa bahagia.
Cinta Sebatas Impian
“Kak capek, istirahat dulu ya.”
“Ya sudah kita istirahat dulu disini.”
“Kak, cari sumbangan sulit juga ya.”
”Ya jelas. Sekarang ini ’kan cari uang sulit ditambah lagi biaya kebutuhan hidup semakin tinggi. Sedangkan kita dengan mudahnya datang ke rumah mereka minta sumbangan.”
”Tapi ada juga yang kasih.”
”Itu orang-orang yang memang baik. Mau berbagi dengan kita.”
Saat sedang asyik ngobrol, datang sebuah mobil sedan. Mobil itu berhenti didepan mereka.
”Eh, ada yang minta sumbangan deh kayaknya.”
Kedua kakak beradik itu bangkit dari tempat duduknya.
”Kasih aja kak.”
Pemuda yang dipanggil kakak oleh pemuda yang lain itu mengeluarkan dompet dari dalam sakunya. Ia menghitung-hitung uang kertas yang ada didalam dompetnya. Ia mengambil selembar uang kertas dari dalam dompet. Kakak beradik pencari sumbangan itu saling berpandangan dan tersenyum. Tapi kemudian muka mereka berubah masam. Uang yang diambil bukannya uang kertas seratus ribuan melainkan uang seribuan. Dengan menahan sedikit marah dan rendah hati adik dari pencari sumbangan itu mengucapkan terima kasih.
”Alhamdulillah, terima kasih. Ayo kak.”
”Tunggu dulu dik. Maaf mas, dari tampang anda ini sepertinya anda seorang artis. Tapi sayang meskipun mas seorang artis dengan wajah yang lebih dari lumayan dan mobil yang ngejreng, mengkilap, menyumbang saja hanya seribu perak.”
”Udah kak, kita pulang aja.”
”Eh, tunggu.” Pemuda itu keluar dari mobilnya. ”Kamu itu tahu terima kasih nggak, udah untung diberi.”
”Lho saya nggak minta diberi kok.”
”Ngapain kamu didepan rumahku sambil baw map ?”
”Kami Cuma numpang istirahat kok.”
”Sudah dikasih nggak berterima kasih, eh malah sok menaehati. Pakai alasan istirahat lagi. Padahal minta sumbangan.”
”Saya ’kan sudah bilang saya nggak minta diberi, mas sendiri yang mau memberi.”
”Udah kak, kita pergi aja.”
”Tunggu, terus kamu mintanya berapa ?”
”Trima kasih mas, lebih baik seribu perak ikhlas daripada seratus ribu tapi tidak ikhlas. Permisi.”
”Dasar cewek blagu, sombong.”
”Udah kak, masuk.”
Dua kakak beradik perempuan yang mencri sumbangan itu bernama Arin dan Frida. Mereka tinggal disebuah panti asuhan. Mereka adalah anak yang tertua, sehingga mereka merasa bertnggung jawab atas adik-adiknya. Sedangkan dua pemuda kakak beradik yang berada didalam mobil itu bernama Ryan dan Fiko. Mereka memang seorang artis tapi belum begitu terkenal. Mereka memang suka jahil dan tidak terlalu senang pada orang minta sumbangan.
”Dasar orang sombong, baru jadi artis saja sudah kayak gitu. Bagaimana kalau jadi presiden lebih parah.”
”Udahlah kak, jangan diributkan terus. Hari ini sudah ya kita pulang saja.”
Sedangkan dirumah Ryan dan Fiko.
”Kakak dari tadi ngomel terus, nggak capek ?”
”Gimana nggak ngomel Fik, masih muda sudah minta-minta sumbangan. Apa nggak malu, mereka ’kan masih punya tenaga, kemampuan.”
”Udah dech kak. Nggak ada gunanya, lebih baik kita ke kafe. Disana kakak bisa nglupain masalah cewek itu.”
”Tapi kita ’kan baru sampai masa udah mau pergi lagi.”
”Biar aku saja yang nyetir, kalau kakak capek.”
”Ya sudah kakak mau mandi dulu.”
Tak lama kemudian mereka berangkat ke kafe. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Arin dan Frida.
”Itu bukannya cewek yang tadi.”
”Yang mana kak.”
”Itu yang pakai baju putih dan pink.”
”Ya kak benar. Kenapa ?”
”Kamu diam saja, nanti juga tahu.” Saat mobil Ryan berada disamping, ia membuk kaca jendelanya. ”Duh, kasihan jalan kaki. Makanya kerja, jangan bisanya hanya minta sumbangan.”
Arin merasa geram tapi ia mencoba menahan emosinya.
”Mau marah ya.”
Emosi Arin sudah tidak bisa ditahan. Tapi Frida segera menarik tangan kakaknya dan pergi.
”Kenapa sih hrus ketemu dia lagi.”
”Kakak jangan terpancing. Coba kalau kakak tadi marah-marah ntar bisa malu dilihat banyak orang.”
”Sekali lagi bertemu, aku akan benar-benar marah.”
Mereka sampai dipanti asuhan, betapa terkejutnya mereka dua orang paro baya yang tampaknya pasangan suami istri hendak mengambil salah satu adik mereka. Disatu pihak mereka merasa senang karna beban mereka sedikit berkurang, tapi dipihak lain mereka merasa sangat kehilangan karna harus kehilngan salah satu anggota keluarga mereka.
”Bagimana nak Arin.”
”Saya terserah anaknya saja bu.”
”Gimana Lessy, kamu mau ?”
”Saya ............”
“Lessy, ini kesempatan baik. Mungkin dengan bersama mereka kamu bisa hidup lebih baik.”
”Tapi kak, saya ingin tetap disini.”
”Maaf bu, pak. Anda dengar sendiri. Lessy tidak mau.”
”Saya mohon dan saya sangat berharap anda bisa membujuk Lessy.”
”Maaf bu, kami tidak bisa memaksa mereka. Mungkin akan lebih baik jika ibu dan bapak menjadi donatur kami. Dan bapak ibu bisa datang kemari kapan saja untuk menjenguk Lessy.”
”Jika itu yang terbaik saya setuju.”
”Benarkah bu, terima kasih banyak.”
”Kalau begitu kami permisi dulu. Mari.”
”Mari.”
Setelah pasangan suami istri itu pergi. Mereka mulai bersih-bersih rumah dan ada sebagian yang memasak.
”Kak Arin !”
”Ada apa Da ?”
”Hari ini kita belum belanja. Semua bumbu dapur habis.”
”Ya sudah. Biar kakak yang belanja.”
”Aku ikut ya kak.”
Mereka berangkat belanja. Sampai dijalan mereka bertemu Ryan dan Fiko lagi, sepertinya baru keluar dari diskotik.
”Kak itu ’kan orang yang ngasih sumbangan seribu perak.”
”Iya. Lihat aja tuh gayanya, bisanya Cuma menghambur-hamburkan uang. Keluar masuk diskotik, minum-minuman keras yang kayak gitu kok digemari. Coba fans mereka tahu.”
”Kita pergi ya kak daripada nanti ribut lagi.”
”Tunggu sebentar.” Arin menghampiri Ryan dan Fiko.
”Cewek ini lagi. Mau minta sumbangan lagi.”
”Hei denger ya, kami kesini bukan mau minta sumbangan lagi tapi mau kasih tahu kalian, kalau kalian ini seorang artis yang menjadi publik figur, banyak anak-anak remaja yang mencontoh kalian. Kalau contohnya saja seperti ini mau jadi apa negara kita.”
”Eh, apa urusanmu, ini uang-uangku sendiri. Hasil keringatku sendiri. Ngapain kamu ikut campur. Daripada kamu bisanya minta sumbangan, kerja donk kerja !”
”Kamu .......”ucap Arin sedikit geram.
”Apa ?”
”Udah kak kita pulang aja.”
”Awas kamu ya.”
”Permisi,” ucap Frida sambil tersenyum pada Fiko. Fiko membalasnya dengan senyuman. ”Udah kak.”
”Kenapa sih harus ketemu dia lagi.”
Ryan dan Fiko masuk kedalam mobil. Mereka hendak pulang kerumah. Tapi ditengah jalan mereka mengalami kecelakaan. Untunglah mereka bertemu dengan Arin dn Frida yang pulang dari belanja. Karna temapt kecelakaan tidak jauh dari panti asuhan mereka. Fiko dan Ryan dibawa ke panti asuhan. Meski tidak sempat setuju, tapi akhirnya Arin setuju juga.
Ryan dibawa kedalam kamar Arin. Sedangkan Fiko tidak apa-apa, lukanya tidk terlalu parah. Dengan sedikit canggung Arin membersihkan luka Ryan. Ryan masih pingsan mungkin karna benturan dikepalanya. Tak lama kemudian dokter datang, setelah memeriksa Ryan, dokter berkata kalau Ryan tidak apa-apa hanya sok dan tidak ada luka dalam. Dan tidak perlu dirawat dirumah sakit.
”Kalau begitu saya permisi dulu.”
”Trima kasih dok. Mari saya antar.” Fiko dan Frida mengantar dokter sampai kedepan pintu. Kemudian mereka masuk kembali. Fiko membantu Frida dan adik-adiknya didapur. Sedangkan Arin masih dikamar bersama Ryan.
”Kalau-dipikir-pikir memang benar apa kata dia, aku harus bekerja. Tapi aku bisa apa aku ’kan Cuma lulusan SMP,” kata Arin dalam hati sambil memandang Ryan. ”Dia mungkin memang beruntung dengan modal tampang dan sedikit kemampuan berakting ia sudah bisa jadi artis. Sedangkan aku, tampang pas-pasan ditambah nggak punya keahlian. Mau jadi apa ?”
”Kak, makanannya sudah siap. Yuk makan.”
”Iya. Kalian dulu aja.”
”Mulai besok aku harus cari kerja.” Arin menarik selimut sampai menutupi dada Ryan. Ia pergi meninggalkan Ryan sambil membawa air hangat bekas kompresan.
Sampai saat makan malam selesai, Ryan belum juga sadar. Setelah makan malam, Arin memanaskan air dan membuat bubur. Kemudian membawa buburnya kekamar Ryan. Perlahan-lahan ia membangunkan Ryan. Ryanpun mulai membuka matanya.
”Ini aku buatkan bubur, kamu makan dulu. Ini juga ada teh manis untuk minum obat. Aku mau sholat dulu.”
”Tunggu dulu.” Ryan memegang tangan Arin.
Arin berhenti dan memandang kearah Ryan.
”Maaf.: Ryan melepaskan tangan Arin. ”Aku Cuma mau mengucapkan trim kasih.”
”Kita bicarakan nanti saja. Saya mau sholat dulu.” Arin keluar dari kamar. Ryan hanya memandang kepergian Arin.
Diteras depan Fiko dan Frida duduk berdua sambil ngobrol. Mereka membicarakan mengenai kakak-kakaknya.
”Memangnya kalian sudah sering ya minta-minta sumbangan kayak tadi siang.”
”Nggak sich, baru dua hari kami menjalani kegiatan itu. Sebenarnya dulu di panti asuhan ani ada ibu Ajeng tapi sekarang beliau sudah meninggal. Ya ...... terpaksa kami yang bertanggung jawab atas anak panti. Kami ’kan yang tertua.”
”Memangnya ada berapa anak.”
”Kalau tidak salah ada 15 orang.”
”Kak Arin nggak coba cari kerja.”
”Sudah pernah sekali tapi ditolak. Kak Arin jadi takut nyoba lagi. Jaman sekarang lulus SMP bisa kerja apa ? plingan juga pembantu rumah tangga.”
”Kenapa enggak, selama itu pekerjaan baik dan halal.”
”Tapi ...........”
”Kamu nggak usah khawatir, nanti biar aku bicara sama kak Ryan. Kak Arin biar kerja dirumah kami.”
Mereka terus asyik ngobrol. Sedangkan Arin yang sudah selesai sholat masuk lagi kekamar Ryan.
”Kalau sudah selesai makannya, kamu bisa langsung mandi. Aku udah siapin air hangat,” ucap Arin sambil membereskan piring dan gelas hendak dibawa kedapur.
”Kita bisa bicara sebentar.”
”Boleh. Silahkan !”
”Aku mau minta maaf soal yang pagi tadi.”
”Aku udah maafin. Aku juga salah minta maaf.”
”Aku juga mau ngucapin trima kasih.”
”Sama-sama. Trima kasih juga atas saranmu.”
”Maksudmu ?”
”Aku sadar, seharusnya aku berusaha untuk mencari kerja. Tapi ......... aku tak punya keahlian yang bisa dibanggakan.”
”Kak Arin nggak perlu khawatir. Saya dan kak Ryan mau kok mempekerjakan kak Arin,” kata Fiko dari balik pintu.
”Maksudnya apa ?”
”Begini kak, Fiko dan kak Ryan mengizinkan kakak bekerja dirumah mereka sebagai pembantu rumah tangga.”
”Apa ? maaf tapi saya menolak pekerjaan itu.”
”Kenapa kak, itu ’kan pekerjaan halal ?”
”Da, tolong ngertiin kakak. Kakak memang membutuhkan pekerjaan tapi .........”
”Mungkin maksud Fiko tidak begitu.”
”Udah bicaranya diteruskan nanti saja. Sebaiknya kamu mandi dulu. Saya harus ngajar adik-adik ngaji.”
”Rin, tunggu.” Ryan turun dari temapt tidur.” Jika kamu nggak kerja dirumahku. Aku bisa carikan kerja buat kamu atau mungkin kamu dan adik-adikmu bisa tinggal dirumah kami dan bantu-bantu bibi.”
”Maaf, tapi saya tetap tidak bisa. Permisi.”
”Rin tunggu. Aku belum selesai bicara.”
”Udah kak, jangan dikejar.”
”Mungkin kak Arin akan lebih setuju kalau kak Ryan dan Fiko jadi donatur dipanti asuhan ini.”
”Iya kak. Itu ide bagus.”
”Boleh juga.”
Keesokan harinya Fiko dan Ryan pulang kerumah mereka. Saat Ryan pulang, Arin tidak tahu karna saat itu ia sedang melamar pekerjaan. Ia berhasil dan diterima disebuah restoran sebagai pelayan.
Sejak saat itu Ryan dan Fiko menjadi donatur dipanti asuhan yang dikelola Arin dan Frida. Setiap kali datang kepanti untuk memberikan sumbangan Ryan tidak pernah bertemu Arin karna saat itu Arin sedang bekerja. Tapi sebaliknya hubungan Frid dan Fiko semakin dekat.
Sepulang dari syuting, Fiko dan Ryan berhenti di sebuah retoran. Disana mereka bertemu dengan Arin.
”Lho kak, bukannya itu kak Arin.”
”Mana ? Iya benar itu memang Arin.”
”Kak Arin !” panggil Fiko. Arin menoleh dan mendatngi orang yang memanggilnya. Ia merasa bingung.
”Kak Arin lupa. Ini saya Fiko dan ini kak Ryan.”
”Fiko dan Ryan ? Oh ya saya ingat. Yang waktu itu pernah berantem soal sumbangan.”
”Iya. Maklumlah dua tahun nggak ketemu.”
”Mau bagaimana lagi setiap kali keanti nggak pernah ketemu, sambung Ryan.
”Ya......aku ’kan ikutin saranmu, oh ya gimana kabarnya gekarang.”
”Kak Ryan udah tunangan, rencananya minggu depan nikah.”
”Oh ya! Terus Fiko sendiri.”
”Kalau Fiko sich, masih minta restu dulu sama kamu.”
”Maksudnya?”
”Kamu belum tahu, Fiko sama Frida sudah lama...............”
”Sssssssstt.........................”
”Kamu mau nikah sama Frida?”
Fiko hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
”Kamu sendiri gimana Rin?”
”Aku ............ aku belum ada calon.”
”Kak, sekarang ’kan aku udah dapet restu dari kak Arin. Gimana kalau pestanya gabung sama kak Ryan.”
”Boleh juga.”
Seminggu kemudian persiapan pesta pernikahan Ryan, Frida dan Fiko selesai. Para Mempelai tampak begitu bahagia. Arin pun ikut bahagia. Meski ia sudah keduluan adiknya. Tapi Arin memang belum punya pikiran sampai kesitu, karena ia masih memiliki tanggungan yang sangat berat. Ia masih harus mengurusi adik-adiknya. Lagipula memang belum ada yng bisa menyentuh hati Arin. Meski sempat ia suka dengan Ryan, tapi sekarang ia sudah menjadi milik orang lain. Banyak yang harus dilakukannya bukan harus terlena dalam kesedihan.
If I didn't love you
Bandara Juanda hari itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa petugas kebersihan sibuk berlalu lalang. Kereta dorong berjajar rapi. Beberapa taksipun berbaris memanjang diluar pagar. Tak banyak orang yang menjemput tak banyak pula yang datang.
Sebuah tas ransel hitam bersandar dipunggungku. Tanganku menenteng dua buah tas plastik yang berisi barang-barang kecil dan hadiah untuk yang dirumah. Langkahku terasa ringan seolah tak ada beban yang menggelandang diotakku. Hatiku bahagia. Senyumanpun tersungging dibibirku.
Aku berjalan keluar pagar, memanggil sebuah taxi. Dan bersamanya aku dibawa menuju tujuanku, kampung halamanku. Rumahku. Istanaku. Begitu lelah badan terasa, akupun tak kuasa menahan kantuk hingga aku tertidur didalam taxi. Entah berapa lamanya. Aku terbangun, saat aku mendengar keramaian jalan yang tak biasanya. Ku coba mencari penyebabnya. Dan ternyata seorang wanita muda, yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri di atap gedung.
”Apa yang akan ia lakukan disana ” pikirku. Ku hentikan gerakan sopir yang mengemudikan taxi. Taxipun berhenti, aku tertarik dengan kejadian menegangkan ini. Bahkan jalananpun sempat macet beberapa saat karenanya.
Seorang pria paruh baya juga terlihat diatas sana. Tepat dibelakang wanita muda itu. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tak berapa lama, wanita muda itu memeluk pria paruh baya. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak soraipun membahana.
”Hah ........ akhirnya. Dasar, orang-orang yang tak berpendidikan,” keluhku.
”Itulah hidup, mas. Mereka ga pernah bisa berfikir jauh tentang masa depan.”
Aku tak mengerti apa yang dimksudkan sopir itu. Taxi terus berjalan, menyusuri jalan raya. Tiba-tiba saja bayangan itu muncul dalam benakku. Gadis berambut panjang, berkulit putih dan yang memiliki senyuman manis. Ya .............. dia kekasihku, kekasihku yang hampir 3 bulan kutinggalkan untuk merantau ke kota.
”Ah seperti apa dia sekarang. Pasti ia tampak lebih cantik.”
”Mas, mau berhenti dimana ?”
Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.
”Saya berhenti disini saja ,” ucapku.
Setelah kubayar tagihan argo, taxi itu meninggalkn aku. Tak lama aku menunggu, sebuah angkutan lewat dihadapanku. Akupun masuk kedalamnya dan meminta sopir angkutan mini bus mengantarkanku ke depan rumahku.
Bayangan itu terus menghantuiku, membuatku bersemangat melewati setiap jengkal tanah meski merasa badan masih terasa lelah. Lagi-lagi kupandangi dua buah tas plastik yang ada ditanganku. Satu,akan aku berikan padanya, dan yang satu untuk adikku.
* * *
”Emaaa ............k ! kakak pulang,” teriak adikku menghambur ke dalam rumah.
”Assalamu’alaiku,” ucapku, menyapa orang-orang yang ada didalam rumah.
”Waalaikusalam,” balas emak dan yang lain.
Emak langsung saja memeluk dan menciumiku. Terlihat sekali kebahagiaan dan keharuan karena kedatanganku.
” Gimana kabarmu le,” tanya emak dengan logat jawanya.
”Baik-baik, emak sendiri pripun kabare.”
”Apik, semuanya baik.”
Orang-orang yang ada dirumahku itu menyalamiku satu persatu. Mereka membiarkanku untuk beristirahat sejenak. Terdengar seorang diantara mereka menyesalkan karena tidak bisa menjemputku.
Ah rasanya sudah tak sabar,aku ingin bertemu dengan Putri, seperti apa dia sekarang. Ah ......... iya, besok dia ’kan ulang tahun. Pasti dia kaget banget waktu lihat aku.
Hari telah berganti petang, keinginanku semakin besar untuk menemuinya. Aku sudah rindu sekali padanya. Tapi perasaan ini harus ku tahan sampai esok hari.
Malam itu, aku berbagi cerita tentang kehidupanku di rantauan dengan antusias dan seksama meraka mendengarkannya setiap alur ceritaku. Bahkan sesekali mereka merasa kasihan dengan kehidupankuyang sulit, tapi seger berubah suasana kesedihan itu dengan cerita-cerita lucu yang kualami.
Malam semakin larut, mereka sadar diri untuk memberikanku waktu istirahat. Setelah mendengarkan ceritaku mereka mohon pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
* * *
Fajar telah menyingsing, semburat merah menghiasi cakrawala. Para petani memulai pekerjaan mereka di sawah. Anak-anak sekolah, berangkat menuntut ilmu bergerombol dan bersama.
Secerah pagi hari itu, hatiku bahagia, berbunga. Semangat dalam diriku memaksaku untuk segera bangun. Melupakan kelelahan dan keletihan karna perjalananku jauh. Hanya demi dia, Putri, kekasih hatiku yang telah lama kutinggalkan. Rindu yang bergejolak dalam relung hati akan segera terobati.
Jam dinding rumahku menunjukkan angka delapan dan dua belas. Masih pagi, itu berarti masih jam delapan. Saat yang tepat untuk memberinya sebuah kejutan dan mengajaknya jalan-jalan.
Dengan mengendarai sepeda motor milik kakakku, akupun meluncur kerumah Putri. Tak lupa ku bawa sebuah bungkusan yang berpita merah untuknya sebagai kado ulang tahun. Tentunya kado itu tak seberapa dengan kedatanganku yang pastinya adalah kado terindahnya,
Tak lama kemudian, aku tiba dirumah Putri. Sepi, tak ada keramaian seperti orang-orang yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Perlahan kulewati setiap jejak langkahku. Tak asing bagiku keadaan seperti ini. Dulu, aku sering melewtinya setiap pagi, siang, sore bahkan malam.
Akhirnya aku tiba didepan rumah Putri. Belum sempat aku mengetuk pintu, terdengar derap langkah dari dalam rumah. Pintupun terbuka. Entah apa yang aku lihat saat itu, aku tak percaya. Badanku lemas, bungkusan berpita merah itu lepas dari tanganku. Sebuah halilintar menyambar tubuhku saat itu.
Seorang wanita tengah bergelayut manja dipundak seorang pria. Merek sama-sama ke kenal. Putri adalah wanita itu kekasihku dan Dino, adalah pria itu, teman baikku bahkan terbaikku. Sesaat lamanya, tak ada yang berbicara. Kami hanya berpandangan.
”Hai Didi, kapan pulang ?”
Meski hatiku merasa sakit, aku berusaha tetap terlihat baik didepannya. ”Ah .......... kemarin.”
”Oh .......... ya ! kenapa nggak bilang ?”
”Aku mau kasih surprise, eh ............ malah aku yang dapat surprise.”
”Ah bisa aja.”
Dino hanya diam. Mungkin ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, atau justru ia merasa kesal atas kedatanganku. Putri masih dengan sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah merasa bersalah.
”Oh ya .......... aku mau keluar ma Dino, kamu mau ikut ?”
”Ah .......... enggak. Entar malah ganggu lagi.”
”Ya, udah kita duluan ya.”
”Ati-ati.”
Mereka meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dalam kehancuran. Semua usahaku, semua perjuanganku sia-sia. Harapanku tak terwujud kuambil kembali bungkusan berpita merah itu yang telah lepas dari genggaman.
”Andaikan aku bisa melakukan ini pada Putri. Andaikan aku bisa mengambil Putri yang lepas dari genggamanku,” ucapku lirih.
Tapi, aku berpikir tak akan pernah itu terjadi lagi. Andaipun itu bisa aku akan melakukannya. Kulihat seorang gadis kecil berjalan mendekati motorku. Aku dekati gadis kecil itu dan kuberikan bungkusan berpita merah itu padanya. Ia tersenyum bahagia dan berlari meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih padaku.
”Jika aku tidak mencintaimu, pasti sakit ini tak kurasakan. Jika aku tak mencintaimu hatiku tak akan hancur. Aku takkan pernah meneteskan air mata ini untukmu, untuk cintamu, pengkhianatanmu dan semua tentangmu.
By
D30492N
If I didn't love you
Bandara Juanda hari itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa petugas kebersihan sibuk berlalu lalang. Kereta dorong berjajar rapi. Beberapa taksipun berbaris memanjang diluar pagar. Tak banyak orang yang menjemput tak banyak pula yang datang.
Sebuah tas ransel hitam bersandar dipunggungku. Tanganku menenteng dua buah tas plastik yang berisi barang-barang kecil dan hadiah untuk yang dirumah. Langkahku terasa ringan seolah tak ada beban yang menggelandang diotakku. Hatiku bahagia. Senyumanpun tersungging dibibirku.
Aku berjalan keluar pagar, memanggil sebuah taxi. Dan bersamanya aku dibawa menuju tujuanku, kampung halamanku. Rumahku. Istanaku. Begitu lelah badan terasa, akupun tak kuasa menahan kantuk hingga aku tertidur didalam taxi. Entah berapa lamanya. Aku terbangun, saat aku mendengar keramaian jalan yang tak biasanya. Ku coba mencari penyebabnya. Dan ternyata seorang wanita muda, yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri di atap gedung.
”Apa yang akan ia lakukan disana ” pikirku. Ku hentikan gerakan sopir yang mengemudikan taxi. Taxipun berhenti, aku tertarik dengan kejadian menegangkan ini. Bahkan jalananpun sempat macet beberapa saat karenanya.
Seorang pria paruh baya juga terlihat diatas sana. Tepat dibelakang wanita muda itu. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tak berapa lama, wanita muda itu memeluk pria paruh baya. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak soraipun membahana.
”Hah ........ akhirnya. Dasar, orang-orang yang tak berpendidikan,” keluhku.
”Itulah hidup, mas. Mereka ga pernah bisa berfikir jauh tentang masa depan.”
Aku tak mengerti apa yang dimksudkan sopir itu. Taxi terus berjalan, menyusuri jalan raya. Tiba-tiba saja bayangan itu muncul dalam benakku. Gadis berambut panjang, berkulit putih dan yang memiliki senyuman manis. Ya .............. dia kekasihku, kekasihku yang hampir 3 bulan kutinggalkan untuk merantau ke kota.
”Ah seperti apa dia sekarang. Pasti ia tampak lebih cantik.”
”Mas, mau berhenti dimana ?”
Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.
”Saya berhenti disini saja ,” ucapku.
Setelah kubayar tagihan argo, taxi itu meninggalkn aku. Tak lama aku menunggu, sebuah angkutan lewat dihadapanku. Akupun masuk kedalamnya dan meminta sopir angkutan mini bus mengantarkanku ke depan rumahku.
Bayangan itu terus menghantuiku, membuatku bersemangat melewati setiap jengkal tanah meski merasa badan masih terasa lelah. Lagi-lagi kupandangi dua buah tas plastik yang ada ditanganku. Satu,akan aku berikan padanya, dan yang satu untuk adikku.
* * *
”Emaaa ............k ! kakak pulang,” teriak adikku menghambur ke dalam rumah.
”Assalamu’alaiku,” ucapku, menyapa orang-orang yang ada didalam rumah.
”Waalaikusalam,” balas emak dan yang lain.
Emak langsung saja memeluk dan menciumiku. Terlihat sekali kebahagiaan dan keharuan karena kedatanganku.
” Gimana kabarmu le,” tanya emak dengan logat jawanya.
”Baik-baik, emak sendiri pripun kabare.”
”Apik, semuanya baik.”
Orang-orang yang ada dirumahku itu menyalamiku satu persatu. Mereka membiarkanku untuk beristirahat sejenak. Terdengar seorang diantara mereka menyesalkan karena tidak bisa menjemputku.
Ah rasanya sudah tak sabar,aku ingin bertemu dengan Putri, seperti apa dia sekarang. Ah ......... iya, besok dia ’kan ulang tahun. Pasti dia kaget banget waktu lihat aku.
Hari telah berganti petang, keinginanku semakin besar untuk menemuinya. Aku sudah rindu sekali padanya. Tapi perasaan ini harus ku tahan sampai esok hari.
Malam itu, aku berbagi cerita tentang kehidupanku di rantauan dengan antusias dan seksama meraka mendengarkannya setiap alur ceritaku. Bahkan sesekali mereka merasa kasihan dengan kehidupankuyang sulit, tapi seger berubah suasana kesedihan itu dengan cerita-cerita lucu yang kualami.
Malam semakin larut, mereka sadar diri untuk memberikanku waktu istirahat. Setelah mendengarkan ceritaku mereka mohon pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
* * *
Fajar telah menyingsing, semburat merah menghiasi cakrawala. Para petani memulai pekerjaan mereka di sawah. Anak-anak sekolah, berangkat menuntut ilmu bergerombol dan bersama.
Secerah pagi hari itu, hatiku bahagia, berbunga. Semangat dalam diriku memaksaku untuk segera bangun. Melupakan kelelahan dan keletihan karna perjalananku jauh. Hanya demi dia, Putri, kekasih hatiku yang telah lama kutinggalkan. Rindu yang bergejolak dalam relung hati akan segera terobati.
Jam dinding rumahku menunjukkan angka delapan dan dua belas. Masih pagi, itu berarti masih jam delapan. Saat yang tepat untuk memberinya sebuah kejutan dan mengajaknya jalan-jalan.
Dengan mengendarai sepeda motor milik kakakku, akupun meluncur kerumah Putri. Tak lupa ku bawa sebuah bungkusan yang berpita merah untuknya sebagai kado ulang tahun. Tentunya kado itu tak seberapa dengan kedatanganku yang pastinya adalah kado terindahnya,
Tak lama kemudian, aku tiba dirumah Putri. Sepi, tak ada keramaian seperti orang-orang yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Perlahan kulewati setiap jejak langkahku. Tak asing bagiku keadaan seperti ini. Dulu, aku sering melewtinya setiap pagi, siang, sore bahkan malam.
Akhirnya aku tiba didepan rumah Putri. Belum sempat aku mengetuk pintu, terdengar derap langkah dari dalam rumah. Pintupun terbuka. Entah apa yang aku lihat saat itu, aku tak percaya. Badanku lemas, bungkusan berpita merah itu lepas dari tanganku. Sebuah halilintar menyambar tubuhku saat itu.
Seorang wanita tengah bergelayut manja dipundak seorang pria. Merek sama-sama ke kenal. Putri adalah wanita itu kekasihku dan Dino, adalah pria itu, teman baikku bahkan terbaikku. Sesaat lamanya, tak ada yang berbicara. Kami hanya berpandangan.
”Hai Didi, kapan pulang ?”
Meski hatiku merasa sakit, aku berusaha tetap terlihat baik didepannya. ”Ah .......... kemarin.”
”Oh .......... ya ! kenapa nggak bilang ?”
”Aku mau kasih surprise, eh ............ malah aku yang dapat surprise.”
”Ah bisa aja.”
Dino hanya diam. Mungkin ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, atau justru ia merasa kesal atas kedatanganku. Putri masih dengan sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah merasa bersalah.
”Oh ya .......... aku mau keluar ma Dino, kamu mau ikut ?”
”Ah .......... enggak. Entar malah ganggu lagi.”
”Ya, udah kita duluan ya.”
”Ati-ati.”
Mereka meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dalam kehancuran. Semua usahaku, semua perjuanganku sia-sia. Harapanku tak terwujud kuambil kembali bungkusan berpita merah itu yang telah lepas dari genggaman.
”Andaikan aku bisa melakukan ini pada Putri. Andaikan aku bisa mengambil Putri yang lepas dari genggamanku,” ucapku lirih.
Tapi, aku berpikir tak akan pernah itu terjadi lagi. Andaipun itu bisa aku akan melakukannya. Kulihat seorang gadis kecil berjalan mendekati motorku. Aku dekati gadis kecil itu dan kuberikan bungkusan berpita merah itu padanya. Ia tersenyum bahagia dan berlari meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih padaku.
”Jika aku tidak mencintaimu, pasti sakit ini tak kurasakan. Jika aku tak mencintaimu hatiku tak akan hancur. Aku takkan pernah meneteskan air mata ini untukmu, untuk cintamu, pengkhianatanmu dan semua tentangmu.
By
D30492N
pacar atau saudara
Pacar atau Saudara
Pulang dari pengajian, Fira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia takut kemalaman sampai dirumah. Tak jauh dari masjid tempat pengajiannya, ia menabrak seseorang. Tempat itu cukup sepi, Fira melihat orang yang ditabraknya. Kemudian ia mengangkatnya kedalam mobil.
“ Alhamdulillah, tidak apa-apa.” Fira mencari dompet pemuda yang ditabraknya. Setelah menemukan alamatnya, Fira mengantarkan pemuda itu kesebuah rumah kontrakannya yang ada dikartu nama pemuda itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Pintu tak terkunci, dengan mudah Fira masuk dan membawanya ke dalam kamar pemuda itu.
“ Ya Tuhan, kotor sekali rumah ini.” Fira membaringkan pemuda itu diranjang. Ia kemudian kedapur memanaskan air.
“ Lebih baik aku bersihkan dulu rumah ini, baru aku pulang. Aku harus telephon rumah, agar mereka tak khawatir.”
Setelah menelephon rumahnya, Fira merapikan rumah kontrakan pemuda itu. Ia mengambil baju-baju kotor dan merapikan barang-barang yang berserakan.
Karena kecapaian iapun tertidur disamping pemuda itu. Tak lama kemudian ia terbangun. Saat melihat jam dinding ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Fira mengambil air bekas kompresan. Ia kedapur untuk memasak, tapi tak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Hanya ada satu kardus mie instant.
“ Dasar anak mandiri makannya mie tiap hari.”
Fira keluar rumah. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian yang ditunggu datang.
“ Sayur Neng ?”
“ Iya Bang.” Fira mengambil daging, sayur, tempe, tahu dan kangkung.
“ Berapa bang semuanya ?”
“ Enam ribu lima ratus.”
“ Ini bang, kembaliannya kasih bumbu-bumbu dapur.”
“ Iya. Ini neng, makasih.”
Fira melihat kewarung sebelah, sudah buka. Ia membeli beras 1 kilo. Sampai dirumah kontrakan, ia mulai memasak. Sambil memasak ia membereskan dan bersih-bersih termasuk kamar pemuda itu. Saat masakannya sudah matang, ia ia mencucikan baju dan menjemurnya.
Kini rumah kontrakan pemuda itu sudah bersih dan rapi. Ia menghidangkan masakan diatas meja makan. Ketika masuk kekamar pemuda itu masih juga tidur. Ia menuliskan beberapa kalimat disehelai kertas.
Maaf tadi malam aku hampir saja menabrakmu.
Untungnya kamu tidak apa-apa. Tapi sepertinya
kamu mabuk dan semalaman kamu terus saja mengigau.
Sebagai permohonan maaf aku sudah menyelesaikan
Semua pekerjaan rumahmu. Dan hariini kamu tidak perlu
makan mie lagi, karena sudah ada nasi dan lauk dimeja makan.
Aku juga mau minta maaf kalau barang-barang aku pindahkan
tidak sesuai dengan seleramu.
Setelah selesai menulis, Fira meninggalkan rumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Tapi tanpa sepengetahuannya, kalung liontinnya terjatuh.
Tak lama setelah Fira pergi pemuda itu terbangun. Ia turun dari ranjangnya. Dan tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ia melihat dan mengambilnya. Setelah mengambil kalung itu ia melihat sebuah syrat dimeja. Iapun membaca dan sesekali memperhatikan keadaan kamarnya.
Selesai membaca surat itu ia bergegas kekamar mandi dan menuju meja makan. Pas sekali, tumis kangkung makanan kesukaan pemuda itu. Dengan lahap ia menyantap hidangan dimeja makan. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya tumis kangkung, makanan favoritnya.
“ Fin, Fino ! udah siap belum.”
“ Iya sebentar lagi. Masuk aja.”
“ Wah, tumben-tumbenan nih makan nasi.”
“ Habisnya bosan makan mie terus.”
“ Loe masak sendiri.”
“ Enggak !”
“ Terus.”
“ Tau deh, baca aja tuh surat.”
“ Gila. Loe enak bener.”
“ Iya donk, gue gitu loh.”
“ Udah ah berangkat yuk.”
“ Loe nggak sarapan dulu, enak kok.”
“ Nggak deh makasih.”
“ Ya udah, gue ambil tas dulu.”
“ Cepetan ! Eh Fin, kalung siapa ini.”
“ Miliknya yang buat surat kali.”
“ Yuk. berangkat.” Mereka berboncengan naik motor.
“ O … anak muda itu. Ya …masih gitu-gitu aja. Nggak ada banyak perubahan.”
“ Dia udah tau belum sama kamu.”
“ Belum.”
“ Loe gimana sih setahun lagi kan wisuda. Kalau nggak cepet-cepet ntar keburu hilang disamber orang.”
“ Bisa aja loe.”
“ Eh ……kalau dibilangin. Ngomong-ngomong kapan loe mau ngenalin ama gue.”
“ Gue aja belum kenalan suruh ngenalin kamu.”
“ Maksud gue tunjukin anaknya yang mana.”
“ Soal itu gampang. Ntar kalau gue udah dapetin dia. Takutnya kalau loe juga naksir dia.”
“ Sorry ya gue udah punya lagi.”
“ Siapa ?”
“ Ada deh. Ntar loe juga naksir.”
“ Bisa aja.”
Tak lama kemudian mereka sampai dikampus.
“ Fad, Fadli.”
“ Eh ya, ada apa ?”
“ Katanya loe mau tau cewek idaman gue.”
“ Loe mau kasih tau sekarang ?”
“ Itu lihat.”
Dari arah berlawanan Fira dan seorang temen ceweknya berjalan kearah Fino dan Fadli.
“ Wina maksudmu.”
“ Emangnya namanya Wina.”
“ Kamu belum kenal namanya.”
“ Hai Fad, Wina menyapa Fadli.” Sepertinya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ?” kata Fira dan Fino.
“ Jelas aja kita ‘kan satu kampus.”
“ Oh iya ya.” “Aku permisi dulu. Fadli sampai ketemu dikelas. Aku duluan.”
“ Ya.” Fadli menyahut.” Itu Fin cewek yng loe maksud. Di memang sangat manis.”
“ Bukan, bukan dia.”
“ Terus yang mana kalau begitu ?”
“ Yang satunya. Temennya, bukan dia.”
“ O ……..Fira maksudmu.”
“ Ya ……... tepat sekali.Tak piker kamu naksir Wina.”
“ O ……sekarang aku tahu kamu naksir Wina ya ?”
“ Ah sudahlah, aku masuk kelas dulu.”
“ Eh …….Fadli jawab dulu benar ‘kan?”
Pulang dari kuliah mereka bertenu. Mereka membicarakan soal orang yang membereskan rumah dan memasak untuk Fino.
“ Fin, pinjam kalung liontin itu dong ?”
“ Buat apa ?”
“ Siapa tahu ada informasi pemiliknya.”
“ Nih.”Fino menyerahkan kalung liontin itu.
Fadli membuk aliontinnya. “ Bukannya ini foto bokap loe ?”
“ Coba lihat. Benar, tapi ini bukan nyokap gue.”
“ Jangan-jangan bokap gue kawin lagi.”
“ Nggak mungkin, bokap dan nyokap gue belum bercerai.”
“ Kalau nggak ia selingkuh atau ……….”
“ Ah sudahlah bokap gue nggak mungkin nglakuin hal-hal yang seperti loe omongin.”
“ Maaf Fin, aku nggak bermaksud gitu.”
Saat sedang asyik ngobrol, Fira dan Wina datang.
“ Hai Fad, asyik bener ngobrolnya gabung donk.”
“ Boleh, “jawab Fadli. Fira dan Fino hanya tersenyum dan saling berpandangan.
“ Ehm……….” Fadli mendehem.
“ Oh ya kenalin ini Fira temen gue.”
“ Fino.” Fino mengulurkan tangan. “Fira.”
“ Fadli.” Fadlipun mengulurkan tangan.”Fira.”
“ Nah sekarang gimana kalau kita ke mall.”
“ Mau ngapain ?”
“ Ya ngapain kek, makan-makan atau apalah.”
“ Boleh, yuk.”
Mereka berangkat pergi ke mall dengan mengendarai motor. Wina membonceng Fadli dan Fira membonceng Fino. Dengan sedikit canggung Fira berpegangan pada Fino. Fino pun tersenyum-senyum sendiri. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Fino, cewek yang selama ini ia idam-idamkan berboncengan dengannya dan berpegangan. Fino sedikit ngebut hingga Fira terpaksa berpegangan erat mendekap Fino. Fira tak banyak berkomentar, ia sedikit takut.
Mereka semakin dekat, hampir setiap hari mereka jalan bareng. Suatu hari Fino ngajak Fira ke rumah kontrakannya.
“ Sepertinya aku pernah kesini deh ?”
“ Benarkah, kapan ?”
“ Kapan ya. Aku lupa.”
“ Ya udah masuk yuk. Mungkin kamu hanya lewat.”
“ Nggak aku yakin pernah kesini.”
“ Duduk dulu biar aku ambilin minum.”
“ Sekarang aku ingat, beberapa hari yamg lalu akuseorang pemuda mabuk. Dan kalau tidak salah ia tinggal disini.”
“ Masa sih. Apa kamu memasak untuk pemuda itu, mencuci pakaian dan membereskan pekerjaan rumah yang lainnya.”
“ Ya benar, kok kamu tahu ?”
“ Soalnya pemuda itu aku.”
“ Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja. Lagian waktu itu kamu ‘kan sedang mabuk.”
“ Ya. Waktu itu aku sedang punya masalah.”
“ Memangnya kamu selalu melarikan masalah ke minuman keras. Masalah berat apa yang kamu alami ?”
“ Sebenarnya enggak juga. Waktu itu aku belum mendapat kiriman uang dari orang tua, padahal biaya kuliah sudah menumpuk.”
“ Kenapa kamu lebih memilih kontrak daripada tinggal sama orang tua ?”
“ Suasana rumah nggak enak semenjak adikku, menghilang. Entah kami dikatakan kembar atau kakak adik karena adikku lahir tujuh hari setelah aku lahir, itupun dengan operasi caesar.”
“ Kok bisa begitu ya. Ah sudahlah, kamu mau aku masakin nasi dan lauk seperti waktu itu ?”
“ Nggak usah. Kita makan diluar aja.”
“ Kenapa masakanku nggak enak ya.”
“ Bukannya begitu. Aku seneng banget sama masakanmu, enak. Apalagi tumis kangkung itu makanan favorit aku.”
“ O…….ya sudah kita berangkat sekarang aja.”
Mereka menuju warung dekat rumah kontrakan Fino.
“ Oh ya Fir, apa ini kalungmu ?”
“ Ya Tuham akhirnya ketemu juga. Aku mencarinya kemana-mana. Ternyata ada sama kamu.”
“ Itu aku temuin dikontrakan aku. Mungkin jatuh malam itu saat kamu nolong aku.”
“ Makasih ya. Ini berharga banget bagiku.”
“ Apa foto itu…………..” belum sempet Fino selesai bicara handphone Fira berbunyi.”
“ Sebentar ya Fin. Hallo……..”
“ Apa mungkin dia adikku. Itu tidak mungkin terjadi aku ………aku sangat mencintainya, tapi dikalung itu ada foto papa. Lebih baik aku Tanya pada papa.” Kata Fino pada dirinya.
“ Fin, sorry ya aku lupa kalau hari ini ada janji sama Wina. Apa kamu mau ikut ?”
“ Nggak usah, aku juga mau pergi ke suatu tempat.”
“ Ya sudah aku duluan ya ?”
Mereka tak jadi makan, Fira pergi mengantar Wina kepemakaman sedang Fino menemui ayahnya untuk minta penjelasan.
“ Fino, kamu kok sudah pulang ini ‘kan masih hari Rabu ? Ada apa nggak biasanya.”
“ Mama nggak seneng ya Fino pulang ?”
“ Bukannya begitu.”
“ Oh ya ma, papa mana ?”
“ Ada dikamar, kamu temenin papa duluya, mama mau ke apotik.”
Fino segera kekamar ayahnya.
“ Fi…Fino ! …ini ka……kamu nak!”
“ Iya pa ini Fino. Fino datang kesini karena Fino ingin minta penjelasan dari papa.”
“ Penjelasan apa Fin ?” Tanya papa Fino agak terbata-bata.
“ Siapa wanita ini pa ? apa dia simpanan papa ?”
“ Dari mana kamu dapat foto ini.”
“ Papa nggak perlu tahu. Sekarang jawab pa, siapa wanita ini.”
“ Wanita itu bernama Aprilia.”
“ Apa ? kenapa papa tega sekali mengkhianati mama, padahal selama ini mama selalu setia menemani dan merawat papa.”
“ Tunggu dulu Fin, dia bukan simpanan papa.”
“ Lalu siapa dia Pa ? katakan.”
“ Dia kekasih papa sebelum papa kenal dengan mamamu.
Kami berdua telah melakukan dosa besar. Papa sebenarnya mau bertanggung jawab. Tapi kakek dan nenekmu menjodohkan papa dengan mamamu. Saat Aprilia tahu dengan perjodohan ini ia datang dan memohon pada kakek dan nenekmu, tapi sayang mereka tetap tak mengizinkan.”
“ Tanpa sepengetahuan kakek, nenek dan mamamu aku menemuinya. Dan dia bisa mengerti. Akhirnya sampai saat mereka melahirkan. Mereka melahirkan dirumah sakit yang sama, anak pertama mamamu……….”
“ Kenapa pa, anak pertama mama itu aku ‘kan ?”
“ Bukan Fin, bukan kamu. Anak pertama mamamu meninggal, ia lahir tanpa kaki. Dan saat itu pula Aprilia melahirkan bayi mungil. Ia merelakan bayinya kami ambil, tapi setelah ia tahu kalau mamamu melahirkan seorang bayi ia meminta agar anaknya dikembalikan. Tanpa sepengetahuan mamamu, papa mengembalikan bayi mungil itu, tapi ia bersikeras bahwa bayinya adalah perempuan padahal sebenarnya adalah laki-laki yaitu kamu.”
Fino merasa seluruh badannya lemas. Ia tak bisa membayangkan betapa marah dan bencinya Fira pada dirinya.
“ Maafkan papa Fin, papa tidk bermaksud………….”
“ Terima kasih atas penjelasannya pa. salam buat mama.”
“ Fin, Fino ! Tunggu Fin.”
* * * * * * * *
“ Kita kesini mau cari makam siapa Win ?”
“ Makam nyokap gue.”
Setelah cukup lama mencari akhirnya ketemu juga.
“ Sebelum nyokap gue meninggal, beliau berpesan agar aku mencari saudaraku dan ayahku dan jangan sampai aku membenci mereka.”
“ Tapi yang aku tahu selama iini kamu tidak punya saudara. Bukankah kamu sendiri yang bilang dulu, kalau ibu kamu tidak melahirkan lagi dan dan kamu tidak punya kakak.”
“ Itu benar tapi kata ibu, bukan saudara kandung tapi saudara seayah beda ibu.”
Setelah berkata demikian, Wina berdo’a dan menabur bunga dimakam ibunya.
* * * * * * * *
Setelah mendengar penjelasan dari ayahnya, Fino mulai menjauhi Fira. Ia merasa sangat bersalah. Setiap kali diajak jalan, Fino selalu menolak bahkan ia selalu menghindar dari Fira.
“ Fin, Fino !”
Meski Fira terus memanggilnya, Fino tak menghiraukan. Ia pura-pura tak mendengar. Mulanya Fira tak marah atau curiga pada Fino, tapi itu sudah terjadi beberapa kali. Akhirnya Fira sudah tidak kuat, ia merasa gelisah. Firapun menemui Fino. Fira menunggu Fino didepan kelasnya.
“ Fin, “panggil Fira.” Fira, “sahut Fino.
“ Ya, sini aku bicara sebentar.” Fira menarik tangan Fino.”
“ Mau bicara apa lagi ?”
“ Pokoknya aku mau bicara ini penting sekali.”
“ Iya. Tapi lepasin jangan kayak gini.”
Mereka pergi ke taman disamping kampus.
“ Kamu mau bicara apa Fir ?” Tanya Fino sedikit acuh.
“ Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu Fin. Apa kamu nggak ngerasa bersalah sedikitpun setelah apa yang kamu lakukan selama ini ?”
“ Fira hanya diam dan tertunduk.”
“ Fin, kenapa sih kamu sulit sekali ditemuin, aku resah dan gelisah aku takut kehilanganmu, kamu tak menyapa tak menghubungi bahkan kau menghindar dariku.”
“ Apa maksudmu Fir ?”
“ Kenapa kamu belum mnegerti juga. Aku mencintaimu Fin, apakah kau tak mencintaiku. Katakana Fin, kamu jangan hanya diam saja, jawab Fin, Fino !”
“ Fino berdiri.” Aku juga mencintaimu Fir. Tapi………”
“ Tapi kenapa ?”
“ Karna ……..karna kamu adikku.”
“ Apa maksudmu.”
“ Maafkan aku Fir, seharusnya aku tidak merebut, tidak menggantikan posisimu untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungmu.”
“ Aku nggak ngerti apa maksudmu Fin.”
“ Kalung yang kamu pakai ini adalah bukti kalau kamu itu adalah saudaraku. Didalam liontin kalung ini ada foto orang tuamu ‘kan dan ayahmu ini adalah ayahku juga.”
“ Kalung ini bukan milikku Fin.”
“ Kamu jangan bohong Fir, kalau bukan kalungmu kenapa kamu merasa sangat kebingungan kehilangan kalung ini.”
“ Duduk dulu Fin. Kalung ini sebenarnya adalah kalung Wina. Wina memberikannya padaku. Dan soal foto yang didalam liontin ini aku nggak tahu karna aku nggak pernah buka liontin ini.”
“ Itu benar kak Fino. Aku memberikannya karna aku merasa dekat dengan Fira. Ia sudah kuanggap seperti saudara, ”ucap Wina yang sudah mendengar pembicaraan mereka.
“ Wina !” ucap Fira dan Fino serempak.
“ Wina, maafkan aku. Sekarang pulanglah tinggallah bersama kami, ayah, ibu sudah menunggu.” Fino memeluk Wina.
“ Tidak kak, aku tidak pantas tinggal bersama kalian.”
“ Kakaklah yang tidak pantas tinggal disana. Kakak telah merebut posisimu dikeluarga itu. Kembalilah Win, biar kakak yang pergi,” Fino melepaskan pelukannya dan membalikan badan.
“ Tidak kak, kita akan kembali bersama-sama.”
“ Wina, kamu tidak membenci kakak.”
“ Kak Fino adalah saudaraku, aku tidak akan membenci saudara sendiri,” mereka berpelukan kembali.
“ Nah sekarang kamu tetep mau jadikan aku saudaramu atau mau jadikan pacarmu.”
“ Ya pacar dong.” Fino melepaskan pelukan dari Wina.
“ Teerus bagaimana nasibku.” Fadli yang dari tadi merasa diacuhkan, angkat bicara.
“ Karna mereka sudah jadian, kita jadian aja.”
Saking bahagianya, Fadli menggandeng Wina. Fira dan Fino tertawa melihat tingkah laku Fadli dan Wina.
mencintai sebuah bayangan
BAB SATU
Mentari mulai muncul di ufuk timur. Burung – burung bertengger di atas pohon, bernyanyi menyambut datangnya pagi. Angin segar berhembus perlahan menggoyangkan dedaunan dan rumput – rumput hijau yang masih basah karena guyuran air hujan semalam.
Meski dingin merasuk sampai ke tulang, semangat menghadapi UAN membuat semua terasa segar dan menyenangkan. Keceriaanpun terpancar dari wajah Dastya, siswi SMP Negeri 2 Ponorogo. Tak terbersit kecemasan ataupun kepanikan dari wajahnya. Telah tiga kali ujian semacam ini ia lakukan dan hasilnya selalu memuaskan.
Satu yang selalu jadi penyemangat belajarnya, Elga. Juga siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Ponorogo teman sekelas Dastya. Sudah hampir 2 tahun ini dia menyukainya. Dia selalu ingin terlihat baik di depan Elga. Bahkan ia sering menyembunyikan ketakutan dalam mengerjakan ujian try out.
Namun sayang semua itu hanya dipendamnya dalam hati. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaannya.
Dan, hari ini dia akan kembali bertemu dengannya dalam keadaan yang berbeda. Dalam keadaan yang cukup menegangkan
”Hallo Tya, kamu tenang amat sich.”
”Ya aku harus kenapa?”
”Kamu kok ga’ panik, takut apa cemas lah minimal.”
”Ya....klo aku Cuma nurutin perasaan, aku ga’ bakalan berhasil ngerjain soal, kan pikirannya jadi terganggu.”
”Bener juga sich.”
”Ya udahlah, masih da cukup waktu untuk belajar.”
”Yah....kalau gini mah ga’ bakalan masuk otak.”
”Kenapa enggak. Ya buat ngefresin lagi yang semalam. Pasti ada yang lupa kan.”
Bel berdenting. Waktu ujian pun dimulai. Hening. Semua cermat dan berkonsentrasi pada soal mereka. Meski sesekali menoleh ke kanan, kiri dan belakang untuk mencari jawaban.
Dan begitulah terjadi selama tiga hari. Rasa tenang pun hadir dalam tiap hati siswa siswi. Walaupun mereka masih cemas dan takut akan hasil yang diperoleh.
Hari – hari pun berlalu, menunggu kepastian kelulusan. Dastya nampaknya tidak lagi memikirkan Elga. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya masuk ke sekolah menengah atas.
Dan akhirnya hari yang ditunggu pun datang. Halaman depan SMP Negeri 2 Ponorogo dipenuhi oelh siswa – siswinya. Papan bercat biru yang berdiri tegak menjadi pusat perhatian. Mereka berdesak – desakan mendekati papan yang akan menjadi saksi bisu hasil belajar mereka selama tiga tahun terakhir. Dengan langkah tenang dan santai diimbangi gejolak dalam hatinya ia mencoba menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh tubuh – tubuh manusia di depan papan pengumuman itu. Diletakkannya jari telunjuk di papan dan menariknya perlahan ke bawah. Namun wajahnya tampak tak secerah sebelumnya. Entah apa yang membuatnya begitu. Padahal namanya tertulis jelas berada di baris teratas.
”Ga ! yo cepetan........ lama banget sich.”
”Iya.....iya sebentar tho tak parkirin motorku dulu”
Elga dan Wahyu, temannya . bergabung bersama yang lain untuk melihat pengumuman. Disana ia berpapasan dengan Dastya.
Dastya yang mendengar suara Elga, menoleh. Saat itu Elga dan Dastya berpandangan sejenak. Merasa ada sesuatu yang aneh, Dastya segera memalingkan mukanya . ”Permisi.” ucapnya sambil meninggalkan Elga. Elga hanya diam melihat kepergian Dastya.
”Ga !”
”Eh ...... napa Yu ?”
”Namamu mana ? kok ga’ da.”
”Masa sich. Jangan bercanda.”
”Coba cari kalau ada.”
Dengan ketakutan, Elga maulai mencoba mancari. Tak lama kemudian. ”Beneran Yu, ga’ ada . gimana nich aku ga’ lulus dong.”
”Ya aku juga ga’ tau. Kalaupun ga’ lulus pastinya kan juga ditempel disini. Kamu kelas 3D kan ?”
”Iya bener, tapi ....ini kan cuma......”
”Berarti ........”
”Pasti ada yang nyobek.” ucap mereka bersamaan.”
Elga dan Wahyu mencoba mencari anak kelas 3D. Dan benar saja satu lembar kertas HVS ada ditangan mereka.
”Sini aku lihat. Gila ya kalian, kalau ketahuan guru pasti dimarahi. Tinggal berapa hari lagi aja, masih suka bikin kesalahan. Tinggalin dong kesan baik baik anak 3D.”
”Alah gaya loe, Ga ...Ga.... Hebat juga loe, bisa ada dibaris pertama.”
”Ye .... nomor absen gue kan emang nomor satu.”
”Bukan itu, ni lihat peringkatnya.”
”Ya ...... emang satu sich, tapi kan kalu dibanding ma kelas yang lain nilaiku paling bawah.”
”Yo wislah ...... ke kantin yuk.”
”Kamu yang bayarin ya.”
”Enak aja ya bayar sendiri dong, lha wong makannya aja sendiri.”
* * *
”Tya lagi ngelamunin apaan sich.”
”Ha ...... enggak. Sapa yang nglamun.”
”O ...... aku tahu, kamu pasti lagi ngelamunin Elga ya, jangan bohong dech. Dari tadikan kamu ngeliatin bangkunya Elga.”
”Enggak ...... ah .... ”
”Aku saranin ya, kalau kamu suka ma dia burun diomongin ntar keburu ga’ ketemu lagi lho. Ntar nyesel lho.”
”Enggak ! apaan sich.”
”Ye ...... jangan marah gitu dong.”
”Tya, selamat ya kamu yang jadi peringkat pertama. By the way mu ngelanjutin ke mana ?” ucap Elga
“Ha …. Makasih. Nggak tau masih pilih – pilih.”
”Ya udah. Duluan ya.”
”Ya.”
”Tu kan, pasti dia diam – diam juga suka ma kamu coba kalau ga’ mana mungkin dia perhatian kayak gitu.”
”Udahlah Nin, ga’ usah dibahas. Kamu mau pulang ga’.”
”Biar aku yang omongin ya. Kalau diem – dieman kayak gini ga’ bakalan ketahuan Ga ......! Elga !”
”Ssst .....apaan sich.”
”Ya ..... iya gitu az.”
”Emang kenapa sich Tya, kamu susah banget tinggal ngomong gitu aza. Toh sepertinya dia juga da rasa ma kamu.”
”Ya nggak semudah itu kali Ras. Aku emang suka ma dia, tapi perasaanku mengatakan kalau aku cuma bakalan sakit hati aja.”
”Kok gitu.”
”Iya, Tya kok bisa gitu, kamu kan belum coba.”
”Ya sekarang mana ada sich yang suka ma cewek kayak aku. Lagian banyak kan cewek-cewek yang lebih cantik dan lebih segalanya yang juga suka sama Elga. Pasti dong dia bakalan milih mereka.”
”Kamu kok mikirnya gitu. Emangnya kamu bisa baca pikiran orang .... ya .... kalaupun kamu ga’ secantik mereka, tapi mereka ga’ sepandai dan sebaik kamu. Ya ga’ Nin.”
”100% betul banget.”
”Alah udah ga’ usah ngomongin itu. Gimana ni kalian mau ngelanjutin ke SMA mana ?”
”Kamu sndiri ?”
”Ye ..... ditanya balik nanya. Kalau aku sich maunya ke SMA Negeri 2 yang deket taman kota itu.”
”Kalau kita dah sepakat buat ngelanjutin ke SMKN !, tapi kelihatannya bakalan coba dulu ke SMAN 2 juga.”
”Yap ..... bener banget.”
”Ngomong-ngomong Elga kemana ya ?”
”Iya .... ya kalau ntar sato skul lagi kan pasti bakalan seru. Cinta kan tetap bersemi dihati bila dekat dengan pujaan hati yang selalu hadir dalam mimpi.”
”Cie ..... puitis banget.”
”Udah .... udah. Aku pulang duluan ya.”
”Tya, besok kalau mau daftar kita ikutan ya.”
”Pasti.”
Hanya berselang beberapa hari, mereka bertiga mencalonkan diri sebagai siswa SMAN 2 Ponorogo. Namun sayangnya pada hari pengumuman, ternyata Dastya tidak diterima di SMA favoritnya itu. Dan akhirnya ia harus menuruti orang tuanya. Setelah lulus nanti pastilah Dastya akan memperoleh keterampilan dan kemampuan berusaha, bekerja dan berwirausaha tanpa harus kuliah.
Tanpa ia duga ternyata banyak juga peminat sekolah kejuruan. Anggapannya selama ini bahwa sekolah kejuruan hanya sebuah sekolah yang tidak bergengsi adalah salah. Sebaliknya dari sekolah kejuruan inilah banyak terlahir embrio-embrio pengusaha sukses.
Karena terlalu banyaknya pendaftar, untuk mendapatkan selembar stofmap berisi formulir haruslh berdesak-desakan dan sabar menunggu. Disaat itulah pandangan Dastya beradu dengan salah satu kakak kelasnya oh ..... tidak masih calon kakak kelasnya, yang saat itu bertugas menjual formulir.
Ia pun segera tersadar saat formulir didalam stopmap merah berpindah ketangannya. Dan segeralah ia mengikuti prosedur proses penerimaan siswa baru di sekolah itu.
Dan ...... akhirnya diterimalah dia sebagai salah satu siswi SMKN 1 Ponorogo. Masa Orientasi Siswa (MOS) harus ia jalani sebelum ia benar-benar menjadi murid sekolah kejuruan itu.
Selama seminggu penuh ia mengikutinya. Gertakan, cacian, perintah, larangan dan semuanya yang telah diatur oleh pengurus OSIS haruslah ditaati. Namun semuanya itu nampaknya tak membuat Dasty tertekan. Ia justru tenang-tenang saja menghadapi semuanya, apalagi kakak kelas yang waktu itu dilihatnyaselalu tampil di lapangan.
Perasaannya pun berpindah ke lain hati, bila ia dulu menambatkan hatinya pada Elga, kini berubah arah. Ketenangan dan sifat pendiam kakak kelasnya itu membuat Dastya perlahan melupakan Elga. Diam-diam dia suka memperhatikan kakak kelasnya itu. Pernah suatu kali ia berpapasan dengan kakak kelasnya itu.
”Siang kak.”
”Siang. Kamu nak kelas satu apa ? ngga’ penting jawabannya. Ini kak bisa minta tolong ga’. Bilangin ke kak Aprilia di tunggu kak Bantoro di kantin ya ..... makasih.”
”Eh .... kak, kak Aprilia kelas berapa ?
”Udah kamu cari aja di ruang OSIS pasti ada.”
Bantoro, kakak kelas Dastya itu meninggalkannya dan menuju ke kantin. Dastya pun menyampaikan pesan kakak kelasnya itu.
* * *
BAB DUA
Hari semakin cerah saja. Semangatpun terus bertambah. Meski lemas badan terasa, menahan amarah. Karena perut yang terus berontak dan berteriak minta diisi. Namun bila teringat akan hadirnya hari kemenangan yang tinggal menghitung waktu, lupalah semua perasaan itu.
Satu hal yang membuatnya bahagia hari itu. Ayah Dastya memberinya sebuah teman mungil. Banyak diantara temannya yang telah memiliki, tapi sepertinya tak ada rasa ’greget’ dalam hatinya untuk memilikinya juga. Karena ia berfikir pastilah akan ada dampak buruk yang akan diterima bila teman mungilnya itu ada bersamanya
”Tya, kamu mau pegang handphone ?”
”Ngga’ usahlah pak, aku kan ga’ bisa pake. Lagian juga kan Cuma satu ntar kalau temennya bapak mau apa-apa trus hpnya tk pegang kan pasti repot.”
”Ya ... ntar kan bisa minta bantuan mbak Sri atau kalau ngga’ bapak ajarin. Beberapa hari yang lalu bapak nemuin hp dijalan. Nih ..... juga udah bapak service bisa dipake.”
”Terus caranya ?”
Akhirnya mau ga’ mau diterima juga hp itu. Seneng juga sebenarnya ketia ia mendapatkannya.
”Awas aja nanti kalau nilainya turun.”
”Insya Allah enggak dech bu.”
”Ya udah kamu coba, beneran dah bisa belum.”
Dastya pun masuk ke dalam kamarnya. Mencoba mengoperasikan dan bermain dengan teman mungilnya itu. Karena tak tau nomor siapa yang akan pertama kali ia hubungi, akhirnya ditekan saja asal-asalan nomor yang ada di handphonenya.
Serangkaian nomor cantik yang mudah dihafalpun, berulang kali ia coba. Lama tak ada tanggapan ia pun berhenti.
”Hah ..... males amat kalau kayak gini mending juga baca buku.”
Malamnya ia coba lagi dan terus hingga esok dan esok harinya lagi. Hingga akhirnya saat ia mulai jenuh. Bernyanyilah teman mungilnya itu.
”Halo ...” Terdengar suara dari seberang
”Halo juga.” Sahut Dastya yang kemudian dimatikan.
Tak lama kemudian, terdengar lagi bunyi handphonenya. Sebuah pesan singkat muncul dilayar kacanya.
”Hai cewek, ni sapa ya. Blz
Dastya pun membalasnya :
Hai juga ni sapa ya. Blz
Cowok ganteng + cakep. Kamu ditanya kok balik nanya. Blz
Masa sich jangan bohong. Cakepnya kayak apa? Lez
Ya udah kalau ga’ percaya, kamu pasti bakalan naksir aku kalau kamu dah tau aku
Ye ..... GR kalau kamu cowok ganteng + cakep pasti punya nama dong
Namaq Roger. Kamu itu lho ditanya dari tadi ga’ mau jawab. Nanya melulu.
He .... he ... namaq Novi. Eh … kamu beneran Roger ya Roger Danuarta bukan ? Aku fans berat kamu lho. Kenapa ko’ kemarin Q telp ga’ diangkat sich.
Sorry, kemarin Q lagi jumpa fans di Surabaya. Jadi ga’ sempet sms juga.
Dastya :
Surabaya sebelah mana ? Q ko’ ga’ tau. Cz Q kan lagi di Surabaya juga di rumah nenek aq. Q kan ga’ pernah ketinggalan gosip tentang km lho. Film kamu juga aku pasti lihat.
Lama tak ada balasan dari si Roger. Dastya pun pergi ke dapur membantu ibunya. Dan sorenya terdengar lagi nyanyian si mungil.
”Hallo”
”Hallo juga, ni dengan siapa ya.”
”Kan aku dah bilang namaq Novi.”
Novi, kamu lagi dimana ?”
”Yah .... kamu ini punya daya ingatan yang lemah ya.”
”Ya .... ga’ pa-pa dong ku kan pengen denger suaramu.”
”Eh ..... maaf ya, aku harus siap-siap soalnya mau pulang ke Ponorogo. Tu dah dipanggil ma ibu. Dah dulu ya.”
Dastya meninggalkan hpnya dan ke kamar mandi. Bersiap untuk takbiran keliling nanti malam.
”Dastya !”
”Ya bu. Ada apa ?”
”Kamu rapikan mejanya ya nanti kalau dah selesai mandi, trus sekalian di seterika bajunya buat besok.”
”Ya bu !”
Selesai mandipun Dastya segera menyelesaikan tugas dari ibunya. Dan semuanya selesai sebelum adzan maghrib berkumandang. Teman mungil Dastya kembali bernyanyi.
”Halo Nov.”
”Halo juga. Da pa, belum juga selesai adzan maghrib.”
”Enggak Cuma mau nanya dah sampai mana.”
”Baru sampai depn pagar.”
”O .... ya udah, ati-ati ya di jalan.”
”Iya .... makasih.”
Selang beberapa jam kemudian, hp Dastya bergetar. Pesan singkat kembali memenuhi layar. Ternyata dari Roger lagi
Met malam Nov, lagi di jalan ya. Mau kan perjalanannya ditemenin, pasti mau dong, mana ada sich yang mau nolak ajakan cowok cakep. Ya ga’. Blz.
I dih .... tapi ga’ pa-pa juga sich. Eh .... coba dong lihat atap rumahnya ada yang bolong ga’. He .... he .... 100x
Kamu masih sekolah atau kuliah atau kerja. Blz
Aku masih sekolah kelas 1 SMA. Ada lagi yang mau di tanyakan
Untuk hari ini cukup itu az. Sekli lagi aku pesenin jangan tidur malam-malam n hati-hati di jalan.
Iya mas Roger. Perhatian amat kayak cowok aq az.
Btw ngomong soal cowok dah punya cowok pa blm. Blz.
Emang kenapa. Q masih terlalu kecil buat pacaran. Belum boleh juga ma ortu. Btw kapan lagi main film. Sekarang ko’ dh jarang masuk tv. Atau lagu kuliah ya.
Ga’ juga, Cuma belum ada job z. Beneran ni, Q juga lagi jomblo lho. Kamu mau ga’ jadi cewek aq.
Yang bener az. Km kan belum kenal ma aq. Kalau bercanda yang bagusan dikit dong.
Siapa yang bercanda. Nah .... karena kita belum saling kenal kita ketemuan yuk.
Boleh sich, tapi lihat ntar az.
Ya udah up to you. Aq tidur dulu ya, dah malam bgt. Besok kan harus bangun pagi buat sholat id.
Karena tak ada balasan dari Roger, Dastya segera menyelimuti dirinya. Memejamkan mata, berkelana ke dunia impian
Keesokan harinya sebelum adzan subuh, Dastya sudah bangun. Seperti biasa ia harus membantu ibunya mempersiapkan semua. Sayangnya kali ini dia tidak bisa mengikuti sholat id yang hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun itu.
Disaat semua sedang ke masjid, Dastya dirumah sendiri. Menyiapkan makan pagi untuk orang tua dan adiknya jika mereka pulang dari masjid nanti. Dan berselang beberapa waktu kemudian mereka pulang. Sebagai mana kebiasaan umt islam, merekapun bersilaturrahmi ke rumah nenek dan kakek terlebih dahulu barulah ke rumah tetangga.
Sepertinya kebahagiaan Dastya hari itu masih kurang. Karena ia tak bisa bersilaturrahmi ke rumah kakek dan neneknya yang ada di luar kota.
Malamya, teman mungil Dastya kembali bernyanyi. Nampaknya dari Roger lagi.
”Hallo...”
”Halo Novi, minal ’aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Maafin kesalahan-kesalahanku ya.”
“Minal aidzin wal faizin juga. Sama-sama kita saling memaafkan.”
”Nov. Gimana kamu jadi ketemu ga’ ma aku.”
”Ha .... gimana ya. Lagian ini juga dah malem, mana boleh aku keluar pa lagi ni lagi ramai-ramainya.”
”Ya terus gimana dong. Masa kamu mau aku penasaran.”
”Gimana kalau kita ketemunya di scol az. Sekalian kan ntar pasti banyak juga fans-fans kamu di scol aq.”
”Aq ga’ mau ketemu di scol, aku maunya sekarang.”
”Ya aku beneran ga bisa. Udah dulu ya ada tamu.”
”Nov ......”
Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya Dastya keburu menutup telephonnya. Ia pun lebih memilih mengirim pesan singkat karena rasa bersalahnya.
Maaf, Q dah bikin kamu kecewa. Tapi sejujurnya ku takut klo ntar gimana-gimana. Q juga mau jujur satu hal ma kamu klo kemarin tu sebenarnya ku ga’ da di Surabaya. Q juga bukan penggemar berat km tp Q ngefans ma kamu. Maaf ya, Q ga’ da maksud buat ngebohongin kamu. Moga kamu mau maafin aq.
Tak ada balasan dari Roger dan itu membuat Dastya merasa sangat bersalah.
Aq tau pasti gimana rasanya dibohongin karna aku juga ga’ mau dibohongin tapi beneran Q ga da maksud buat ngebohongin kamu. Please maafin q.
Tetep saja tak ada balasan darinya.
Please, setidaknya balas smsku. Biar aku tahu kamu mau maafin aq pa ga’. Kamu boleh marah-marah atau apa.
Hingga malam mulai larut Roger tak juga kunjung membalas sms Dastya. Hati Dastya mulai dipenuhi rasa takut dan bersalah.
Dikirimnya sebuah puisi karyanya sendiri.
Maafin Aku
Betapa hati ini tak bahagia
Mendengar suara merdunya
Benda mungil nan mewah ini
T’lah membantuku
Berkomunikasi dengannya
Dia yang s’lama ini ku idolakan
Yang s’lama ini hadir dalam anganku
Kini menyapaku
Namun karna dustaku
Karna kebodohanku
Ia pergi meninggalkanku
Tak lagi kudengar kesantunan suaranya
Tak lagi kubaca kata-kata manis darinya
Maaf ...................
Maafkan aku
Masih kunantikan maaf darimu
Ku tahu kau bukanlah pendendam
Hingga keesokan harinyapun tak juga ada balasan. Dastya pun akhirnya mencoba berbicara pada Roger dengan menelfonnya
”Halo ....”
”Halo ....”
”Maafin yang kemarin ya, Q dah bohong ma kamu tapi beneran Q ga’ da maksud buat bohong.”
Kenapa kamu bohong.”
”Karna ku ga’ tau harus ngomong apa. Tapi kan sekarang Q dah minta maaf, masa kamu ga’ mau maafin aq.”
”Ya udah tak maafin, tapi jangan di ulang lagi ya.”
”Iya .....”
”Bener ....”
”Iya.”
”Janji.”
”Ya janji. Udah dulu ya, makasih ya dah mau maafin aq. Insya Allah ga’ kan Q ulangin.”
Selesai berkata dan mengucapkan terima kasih. Dastya memutuskan hubungan telefonnya.
”Hah ..... lega juga kalau udah gini.”
* * *
Mentari t’lah berganti rembulan. Siangpun t’lah berganti malam. Bintang bertaburan bak permata berkerlipan di hamparan permadani hitam. Katak-katak bernyanyi bersahutan, kunang-kunang berterbangan pengganti cahaya lampu sebagai penerang malam.
Teman mungil Dastya pun mulai bernyanyi lagi. Ternyata pesan singkat dari Roger memenuhi layar.
Met mlm cwek, Gi ngp ? keluar yuk. Masa sich kamu ga’ mau ketemu ma cwok cakep
Pokoknya keluar az ke aloon-aloon kek ntar kita pasti bisa ketemuan ya. Jangan bikin aku penasaran
Aq jadi ragu dech km beneran RD bukan sich.
Btw tawaranq yang kemarin masih berlaku . aq pengen ngenl kamu lebih dekat.
Sekali lagi bukannya apa-apa tapi q ga’ mau ntar kamu kecewa. Lagian kenapa ga’ balik lagi az ma Agnes.
Maksud kamu apa sich. Aq ga’ bakalan kecewa kok. Ya udah klo kamu ga’ mau. Q ga’ maksa.
Kamu marah ya. Maaf, aq bener-bener ga’ mau kamu kecewa klo ntar ketemu ma aq.
Tak ada balasan dari si Roger, kegiatan sms-an mereka berhenti.
bersambung .......................... (1)






