“Kak capek, istirahat dulu ya.”
“Ya sudah kita istirahat dulu disini.”
“Kak, cari sumbangan sulit juga ya.”
”Ya jelas. Sekarang ini ’kan cari uang sulit ditambah lagi biaya kebutuhan hidup semakin tinggi. Sedangkan kita dengan mudahnya datang ke rumah mereka minta sumbangan.”
”Tapi ada juga yang kasih.”
”Itu orang-orang yang memang baik. Mau berbagi dengan kita.”
Saat sedang asyik ngobrol, datang sebuah mobil sedan. Mobil itu berhenti didepan mereka.
”Eh, ada yang minta sumbangan deh kayaknya.”
Kedua kakak beradik itu bangkit dari tempat duduknya.
”Kasih aja kak.”
Pemuda yang dipanggil kakak oleh pemuda yang lain itu mengeluarkan dompet dari dalam sakunya. Ia menghitung-hitung uang kertas yang ada didalam dompetnya. Ia mengambil selembar uang kertas dari dalam dompet. Kakak beradik pencari sumbangan itu saling berpandangan dan tersenyum. Tapi kemudian muka mereka berubah masam. Uang yang diambil bukannya uang kertas seratus ribuan melainkan uang seribuan. Dengan menahan sedikit marah dan rendah hati adik dari pencari sumbangan itu mengucapkan terima kasih.
”Alhamdulillah, terima kasih. Ayo kak.”
”Tunggu dulu dik. Maaf mas, dari tampang anda ini sepertinya anda seorang artis. Tapi sayang meskipun mas seorang artis dengan wajah yang lebih dari lumayan dan mobil yang ngejreng, mengkilap, menyumbang saja hanya seribu perak.”
”Udah kak, kita pulang aja.”
”Eh, tunggu.” Pemuda itu keluar dari mobilnya. ”Kamu itu tahu terima kasih nggak, udah untung diberi.”
”Lho saya nggak minta diberi kok.”
”Ngapain kamu didepan rumahku sambil baw map ?”
”Kami Cuma numpang istirahat kok.”
”Sudah dikasih nggak berterima kasih, eh malah sok menaehati. Pakai alasan istirahat lagi. Padahal minta sumbangan.”
”Saya ’kan sudah bilang saya nggak minta diberi, mas sendiri yang mau memberi.”
”Udah kak, kita pergi aja.”
”Tunggu, terus kamu mintanya berapa ?”
”Trima kasih mas, lebih baik seribu perak ikhlas daripada seratus ribu tapi tidak ikhlas. Permisi.”
”Dasar cewek blagu, sombong.”
”Udah kak, masuk.”
Dua kakak beradik perempuan yang mencri sumbangan itu bernama Arin dan Frida. Mereka tinggal disebuah panti asuhan. Mereka adalah anak yang tertua, sehingga mereka merasa bertnggung jawab atas adik-adiknya. Sedangkan dua pemuda kakak beradik yang berada didalam mobil itu bernama Ryan dan Fiko. Mereka memang seorang artis tapi belum begitu terkenal. Mereka memang suka jahil dan tidak terlalu senang pada orang minta sumbangan.
”Dasar orang sombong, baru jadi artis saja sudah kayak gitu. Bagaimana kalau jadi presiden lebih parah.”
”Udahlah kak, jangan diributkan terus. Hari ini sudah ya kita pulang saja.”
Sedangkan dirumah Ryan dan Fiko.
”Kakak dari tadi ngomel terus, nggak capek ?”
”Gimana nggak ngomel Fik, masih muda sudah minta-minta sumbangan. Apa nggak malu, mereka ’kan masih punya tenaga, kemampuan.”
”Udah dech kak. Nggak ada gunanya, lebih baik kita ke kafe. Disana kakak bisa nglupain masalah cewek itu.”
”Tapi kita ’kan baru sampai masa udah mau pergi lagi.”
”Biar aku saja yang nyetir, kalau kakak capek.”
”Ya sudah kakak mau mandi dulu.”
Tak lama kemudian mereka berangkat ke kafe. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Arin dan Frida.
”Itu bukannya cewek yang tadi.”
”Yang mana kak.”
”Itu yang pakai baju putih dan pink.”
”Ya kak benar. Kenapa ?”
”Kamu diam saja, nanti juga tahu.” Saat mobil Ryan berada disamping, ia membuk kaca jendelanya. ”Duh, kasihan jalan kaki. Makanya kerja, jangan bisanya hanya minta sumbangan.”
Arin merasa geram tapi ia mencoba menahan emosinya.
”Mau marah ya.”
Emosi Arin sudah tidak bisa ditahan. Tapi Frida segera menarik tangan kakaknya dan pergi.
”Kenapa sih hrus ketemu dia lagi.”
”Kakak jangan terpancing. Coba kalau kakak tadi marah-marah ntar bisa malu dilihat banyak orang.”
”Sekali lagi bertemu, aku akan benar-benar marah.”
Mereka sampai dipanti asuhan, betapa terkejutnya mereka dua orang paro baya yang tampaknya pasangan suami istri hendak mengambil salah satu adik mereka. Disatu pihak mereka merasa senang karna beban mereka sedikit berkurang, tapi dipihak lain mereka merasa sangat kehilangan karna harus kehilngan salah satu anggota keluarga mereka.
”Bagimana nak Arin.”
”Saya terserah anaknya saja bu.”
”Gimana Lessy, kamu mau ?”
”Saya ............”
“Lessy, ini kesempatan baik. Mungkin dengan bersama mereka kamu bisa hidup lebih baik.”
”Tapi kak, saya ingin tetap disini.”
”Maaf bu, pak. Anda dengar sendiri. Lessy tidak mau.”
”Saya mohon dan saya sangat berharap anda bisa membujuk Lessy.”
”Maaf bu, kami tidak bisa memaksa mereka. Mungkin akan lebih baik jika ibu dan bapak menjadi donatur kami. Dan bapak ibu bisa datang kemari kapan saja untuk menjenguk Lessy.”
”Jika itu yang terbaik saya setuju.”
”Benarkah bu, terima kasih banyak.”
”Kalau begitu kami permisi dulu. Mari.”
”Mari.”
Setelah pasangan suami istri itu pergi. Mereka mulai bersih-bersih rumah dan ada sebagian yang memasak.
”Kak Arin !”
”Ada apa Da ?”
”Hari ini kita belum belanja. Semua bumbu dapur habis.”
”Ya sudah. Biar kakak yang belanja.”
”Aku ikut ya kak.”
Mereka berangkat belanja. Sampai dijalan mereka bertemu Ryan dan Fiko lagi, sepertinya baru keluar dari diskotik.
”Kak itu ’kan orang yang ngasih sumbangan seribu perak.”
”Iya. Lihat aja tuh gayanya, bisanya Cuma menghambur-hamburkan uang. Keluar masuk diskotik, minum-minuman keras yang kayak gitu kok digemari. Coba fans mereka tahu.”
”Kita pergi ya kak daripada nanti ribut lagi.”
”Tunggu sebentar.” Arin menghampiri Ryan dan Fiko.
”Cewek ini lagi. Mau minta sumbangan lagi.”
”Hei denger ya, kami kesini bukan mau minta sumbangan lagi tapi mau kasih tahu kalian, kalau kalian ini seorang artis yang menjadi publik figur, banyak anak-anak remaja yang mencontoh kalian. Kalau contohnya saja seperti ini mau jadi apa negara kita.”
”Eh, apa urusanmu, ini uang-uangku sendiri. Hasil keringatku sendiri. Ngapain kamu ikut campur. Daripada kamu bisanya minta sumbangan, kerja donk kerja !”
”Kamu .......”ucap Arin sedikit geram.
”Apa ?”
”Udah kak kita pulang aja.”
”Awas kamu ya.”
”Permisi,” ucap Frida sambil tersenyum pada Fiko. Fiko membalasnya dengan senyuman. ”Udah kak.”
”Kenapa sih harus ketemu dia lagi.”
Ryan dan Fiko masuk kedalam mobil. Mereka hendak pulang kerumah. Tapi ditengah jalan mereka mengalami kecelakaan. Untunglah mereka bertemu dengan Arin dn Frida yang pulang dari belanja. Karna temapt kecelakaan tidak jauh dari panti asuhan mereka. Fiko dan Ryan dibawa ke panti asuhan. Meski tidak sempat setuju, tapi akhirnya Arin setuju juga.
Ryan dibawa kedalam kamar Arin. Sedangkan Fiko tidak apa-apa, lukanya tidk terlalu parah. Dengan sedikit canggung Arin membersihkan luka Ryan. Ryan masih pingsan mungkin karna benturan dikepalanya. Tak lama kemudian dokter datang, setelah memeriksa Ryan, dokter berkata kalau Ryan tidak apa-apa hanya sok dan tidak ada luka dalam. Dan tidak perlu dirawat dirumah sakit.
”Kalau begitu saya permisi dulu.”
”Trima kasih dok. Mari saya antar.” Fiko dan Frida mengantar dokter sampai kedepan pintu. Kemudian mereka masuk kembali. Fiko membantu Frida dan adik-adiknya didapur. Sedangkan Arin masih dikamar bersama Ryan.
”Kalau-dipikir-pikir memang benar apa kata dia, aku harus bekerja. Tapi aku bisa apa aku ’kan Cuma lulusan SMP,” kata Arin dalam hati sambil memandang Ryan. ”Dia mungkin memang beruntung dengan modal tampang dan sedikit kemampuan berakting ia sudah bisa jadi artis. Sedangkan aku, tampang pas-pasan ditambah nggak punya keahlian. Mau jadi apa ?”
”Kak, makanannya sudah siap. Yuk makan.”
”Iya. Kalian dulu aja.”
”Mulai besok aku harus cari kerja.” Arin menarik selimut sampai menutupi dada Ryan. Ia pergi meninggalkan Ryan sambil membawa air hangat bekas kompresan.
Sampai saat makan malam selesai, Ryan belum juga sadar. Setelah makan malam, Arin memanaskan air dan membuat bubur. Kemudian membawa buburnya kekamar Ryan. Perlahan-lahan ia membangunkan Ryan. Ryanpun mulai membuka matanya.
”Ini aku buatkan bubur, kamu makan dulu. Ini juga ada teh manis untuk minum obat. Aku mau sholat dulu.”
”Tunggu dulu.” Ryan memegang tangan Arin.
Arin berhenti dan memandang kearah Ryan.
”Maaf.: Ryan melepaskan tangan Arin. ”Aku Cuma mau mengucapkan trim kasih.”
”Kita bicarakan nanti saja. Saya mau sholat dulu.” Arin keluar dari kamar. Ryan hanya memandang kepergian Arin.
Diteras depan Fiko dan Frida duduk berdua sambil ngobrol. Mereka membicarakan mengenai kakak-kakaknya.
”Memangnya kalian sudah sering ya minta-minta sumbangan kayak tadi siang.”
”Nggak sich, baru dua hari kami menjalani kegiatan itu. Sebenarnya dulu di panti asuhan ani ada ibu Ajeng tapi sekarang beliau sudah meninggal. Ya ...... terpaksa kami yang bertanggung jawab atas anak panti. Kami ’kan yang tertua.”
”Memangnya ada berapa anak.”
”Kalau tidak salah ada 15 orang.”
”Kak Arin nggak coba cari kerja.”
”Sudah pernah sekali tapi ditolak. Kak Arin jadi takut nyoba lagi. Jaman sekarang lulus SMP bisa kerja apa ? plingan juga pembantu rumah tangga.”
”Kenapa enggak, selama itu pekerjaan baik dan halal.”
”Tapi ...........”
”Kamu nggak usah khawatir, nanti biar aku bicara sama kak Ryan. Kak Arin biar kerja dirumah kami.”
Mereka terus asyik ngobrol. Sedangkan Arin yang sudah selesai sholat masuk lagi kekamar Ryan.
”Kalau sudah selesai makannya, kamu bisa langsung mandi. Aku udah siapin air hangat,” ucap Arin sambil membereskan piring dan gelas hendak dibawa kedapur.
”Kita bisa bicara sebentar.”
”Boleh. Silahkan !”
”Aku mau minta maaf soal yang pagi tadi.”
”Aku udah maafin. Aku juga salah minta maaf.”
”Aku juga mau ngucapin trima kasih.”
”Sama-sama. Trima kasih juga atas saranmu.”
”Maksudmu ?”
”Aku sadar, seharusnya aku berusaha untuk mencari kerja. Tapi ......... aku tak punya keahlian yang bisa dibanggakan.”
”Kak Arin nggak perlu khawatir. Saya dan kak Ryan mau kok mempekerjakan kak Arin,” kata Fiko dari balik pintu.
”Maksudnya apa ?”
”Begini kak, Fiko dan kak Ryan mengizinkan kakak bekerja dirumah mereka sebagai pembantu rumah tangga.”
”Apa ? maaf tapi saya menolak pekerjaan itu.”
”Kenapa kak, itu ’kan pekerjaan halal ?”
”Da, tolong ngertiin kakak. Kakak memang membutuhkan pekerjaan tapi .........”
”Mungkin maksud Fiko tidak begitu.”
”Udah bicaranya diteruskan nanti saja. Sebaiknya kamu mandi dulu. Saya harus ngajar adik-adik ngaji.”
”Rin, tunggu.” Ryan turun dari temapt tidur.” Jika kamu nggak kerja dirumahku. Aku bisa carikan kerja buat kamu atau mungkin kamu dan adik-adikmu bisa tinggal dirumah kami dan bantu-bantu bibi.”
”Maaf, tapi saya tetap tidak bisa. Permisi.”
”Rin tunggu. Aku belum selesai bicara.”
”Udah kak, jangan dikejar.”
”Mungkin kak Arin akan lebih setuju kalau kak Ryan dan Fiko jadi donatur dipanti asuhan ini.”
”Iya kak. Itu ide bagus.”
”Boleh juga.”
Keesokan harinya Fiko dan Ryan pulang kerumah mereka. Saat Ryan pulang, Arin tidak tahu karna saat itu ia sedang melamar pekerjaan. Ia berhasil dan diterima disebuah restoran sebagai pelayan.
Sejak saat itu Ryan dan Fiko menjadi donatur dipanti asuhan yang dikelola Arin dan Frida. Setiap kali datang kepanti untuk memberikan sumbangan Ryan tidak pernah bertemu Arin karna saat itu Arin sedang bekerja. Tapi sebaliknya hubungan Frid dan Fiko semakin dekat.
Sepulang dari syuting, Fiko dan Ryan berhenti di sebuah retoran. Disana mereka bertemu dengan Arin.
”Lho kak, bukannya itu kak Arin.”
”Mana ? Iya benar itu memang Arin.”
”Kak Arin !” panggil Fiko. Arin menoleh dan mendatngi orang yang memanggilnya. Ia merasa bingung.
”Kak Arin lupa. Ini saya Fiko dan ini kak Ryan.”
”Fiko dan Ryan ? Oh ya saya ingat. Yang waktu itu pernah berantem soal sumbangan.”
”Iya. Maklumlah dua tahun nggak ketemu.”
”Mau bagaimana lagi setiap kali keanti nggak pernah ketemu, sambung Ryan.
”Ya......aku ’kan ikutin saranmu, oh ya gimana kabarnya gekarang.”
”Kak Ryan udah tunangan, rencananya minggu depan nikah.”
”Oh ya! Terus Fiko sendiri.”
”Kalau Fiko sich, masih minta restu dulu sama kamu.”
”Maksudnya?”
”Kamu belum tahu, Fiko sama Frida sudah lama...............”
”Sssssssstt.........................”
”Kamu mau nikah sama Frida?”
Fiko hanya mengangguk sambil tersenyum malu.
”Kamu sendiri gimana Rin?”
”Aku ............ aku belum ada calon.”
”Kak, sekarang ’kan aku udah dapet restu dari kak Arin. Gimana kalau pestanya gabung sama kak Ryan.”
”Boleh juga.”
Seminggu kemudian persiapan pesta pernikahan Ryan, Frida dan Fiko selesai. Para Mempelai tampak begitu bahagia. Arin pun ikut bahagia. Meski ia sudah keduluan adiknya. Tapi Arin memang belum punya pikiran sampai kesitu, karena ia masih memiliki tanggungan yang sangat berat. Ia masih harus mengurusi adik-adiknya. Lagipula memang belum ada yng bisa menyentuh hati Arin. Meski sempat ia suka dengan Ryan, tapi sekarang ia sudah menjadi milik orang lain. Banyak yang harus dilakukannya bukan harus terlena dalam kesedihan.
Cinta Sebatas Impian
05.52 |





