Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS

If I didn't love you

Bandara Juanda hari itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa petugas kebersihan sibuk berlalu lalang. Kereta dorong berjajar rapi. Beberapa taksipun berbaris memanjang diluar pagar. Tak banyak orang yang menjemput tak banyak pula yang datang.
Sebuah tas ransel hitam bersandar dipunggungku. Tanganku menenteng dua buah tas plastik yang berisi barang-barang kecil dan hadiah untuk yang dirumah. Langkahku terasa ringan seolah tak ada beban yang menggelandang diotakku. Hatiku bahagia. Senyumanpun tersungging dibibirku.
Aku berjalan keluar pagar, memanggil sebuah taxi. Dan bersamanya aku dibawa menuju tujuanku, kampung halamanku. Rumahku. Istanaku. Begitu lelah badan terasa, akupun tak kuasa menahan kantuk hingga aku tertidur didalam taxi. Entah berapa lamanya. Aku terbangun, saat aku mendengar keramaian jalan yang tak biasanya. Ku coba mencari penyebabnya. Dan ternyata seorang wanita muda, yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri di atap gedung.
”Apa yang akan ia lakukan disana ” pikirku. Ku hentikan gerakan sopir yang mengemudikan taxi. Taxipun berhenti, aku tertarik dengan kejadian menegangkan ini. Bahkan jalananpun sempat macet beberapa saat karenanya.
Seorang pria paruh baya juga terlihat diatas sana. Tepat dibelakang wanita muda itu. Sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tak berapa lama, wanita muda itu memeluk pria paruh baya. Suara gemuruh tepuk tangan dan sorak soraipun membahana.
”Hah ........ akhirnya. Dasar, orang-orang yang tak berpendidikan,” keluhku.
”Itulah hidup, mas. Mereka ga pernah bisa berfikir jauh tentang masa depan.”
Aku tak mengerti apa yang dimksudkan sopir itu. Taxi terus berjalan, menyusuri jalan raya. Tiba-tiba saja bayangan itu muncul dalam benakku. Gadis berambut panjang, berkulit putih dan yang memiliki senyuman manis. Ya .............. dia kekasihku, kekasihku yang hampir 3 bulan kutinggalkan untuk merantau ke kota.
”Ah seperti apa dia sekarang. Pasti ia tampak lebih cantik.”
”Mas, mau berhenti dimana ?”
Pertanyaan sopir taxi itu membuyarkan lamunanku.
”Saya berhenti disini saja ,” ucapku.
Setelah kubayar tagihan argo, taxi itu meninggalkn aku. Tak lama aku menunggu, sebuah angkutan lewat dihadapanku. Akupun masuk kedalamnya dan meminta sopir angkutan mini bus mengantarkanku ke depan rumahku.
Bayangan itu terus menghantuiku, membuatku bersemangat melewati setiap jengkal tanah meski merasa badan masih terasa lelah. Lagi-lagi kupandangi dua buah tas plastik yang ada ditanganku. Satu,akan aku berikan padanya, dan yang satu untuk adikku.
* * *

”Emaaa ............k ! kakak pulang,” teriak adikku menghambur ke dalam rumah.
”Assalamu’alaiku,” ucapku, menyapa orang-orang yang ada didalam rumah.
”Waalaikusalam,” balas emak dan yang lain.
Emak langsung saja memeluk dan menciumiku. Terlihat sekali kebahagiaan dan keharuan karena kedatanganku.
” Gimana kabarmu le,” tanya emak dengan logat jawanya.
”Baik-baik, emak sendiri pripun kabare.”
”Apik, semuanya baik.”
Orang-orang yang ada dirumahku itu menyalamiku satu persatu. Mereka membiarkanku untuk beristirahat sejenak. Terdengar seorang diantara mereka menyesalkan karena tidak bisa menjemputku.
Ah rasanya sudah tak sabar,aku ingin bertemu dengan Putri, seperti apa dia sekarang. Ah ......... iya, besok dia ’kan ulang tahun. Pasti dia kaget banget waktu lihat aku.
Hari telah berganti petang, keinginanku semakin besar untuk menemuinya. Aku sudah rindu sekali padanya. Tapi perasaan ini harus ku tahan sampai esok hari.
Malam itu, aku berbagi cerita tentang kehidupanku di rantauan dengan antusias dan seksama meraka mendengarkannya setiap alur ceritaku. Bahkan sesekali mereka merasa kasihan dengan kehidupankuyang sulit, tapi seger berubah suasana kesedihan itu dengan cerita-cerita lucu yang kualami.
Malam semakin larut, mereka sadar diri untuk memberikanku waktu istirahat. Setelah mendengarkan ceritaku mereka mohon pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
* * *
Fajar telah menyingsing, semburat merah menghiasi cakrawala. Para petani memulai pekerjaan mereka di sawah. Anak-anak sekolah, berangkat menuntut ilmu bergerombol dan bersama.
Secerah pagi hari itu, hatiku bahagia, berbunga. Semangat dalam diriku memaksaku untuk segera bangun. Melupakan kelelahan dan keletihan karna perjalananku jauh. Hanya demi dia, Putri, kekasih hatiku yang telah lama kutinggalkan. Rindu yang bergejolak dalam relung hati akan segera terobati.
Jam dinding rumahku menunjukkan angka delapan dan dua belas. Masih pagi, itu berarti masih jam delapan. Saat yang tepat untuk memberinya sebuah kejutan dan mengajaknya jalan-jalan.
Dengan mengendarai sepeda motor milik kakakku, akupun meluncur kerumah Putri. Tak lupa ku bawa sebuah bungkusan yang berpita merah untuknya sebagai kado ulang tahun. Tentunya kado itu tak seberapa dengan kedatanganku yang pastinya adalah kado terindahnya,
Tak lama kemudian, aku tiba dirumah Putri. Sepi, tak ada keramaian seperti orang-orang yang sedang mengadakan pesta ulang tahun. Perlahan kulewati setiap jejak langkahku. Tak asing bagiku keadaan seperti ini. Dulu, aku sering melewtinya setiap pagi, siang, sore bahkan malam.
Akhirnya aku tiba didepan rumah Putri. Belum sempat aku mengetuk pintu, terdengar derap langkah dari dalam rumah. Pintupun terbuka. Entah apa yang aku lihat saat itu, aku tak percaya. Badanku lemas, bungkusan berpita merah itu lepas dari tanganku. Sebuah halilintar menyambar tubuhku saat itu.
Seorang wanita tengah bergelayut manja dipundak seorang pria. Merek sama-sama ke kenal. Putri adalah wanita itu kekasihku dan Dino, adalah pria itu, teman baikku bahkan terbaikku. Sesaat lamanya, tak ada yang berbicara. Kami hanya berpandangan.
”Hai Didi, kapan pulang ?”
Meski hatiku merasa sakit, aku berusaha tetap terlihat baik didepannya. ”Ah .......... kemarin.”
”Oh .......... ya ! kenapa nggak bilang ?”
”Aku mau kasih surprise, eh ............ malah aku yang dapat surprise.”
”Ah bisa aja.”
Dino hanya diam. Mungkin ia merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya, atau justru ia merasa kesal atas kedatanganku. Putri masih dengan sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah merasa bersalah.
”Oh ya .......... aku mau keluar ma Dino, kamu mau ikut ?”
”Ah .......... enggak. Entar malah ganggu lagi.”
”Ya, udah kita duluan ya.”
”Ati-ati.”
Mereka meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dalam kehancuran. Semua usahaku, semua perjuanganku sia-sia. Harapanku tak terwujud kuambil kembali bungkusan berpita merah itu yang telah lepas dari genggaman.
”Andaikan aku bisa melakukan ini pada Putri. Andaikan aku bisa mengambil Putri yang lepas dari genggamanku,” ucapku lirih.
Tapi, aku berpikir tak akan pernah itu terjadi lagi. Andaipun itu bisa aku akan melakukannya. Kulihat seorang gadis kecil berjalan mendekati motorku. Aku dekati gadis kecil itu dan kuberikan bungkusan berpita merah itu padanya. Ia tersenyum bahagia dan berlari meninggalkanku setelah mengucapkan terima kasih padaku.
”Jika aku tidak mencintaimu, pasti sakit ini tak kurasakan. Jika aku tak mencintaimu hatiku tak akan hancur. Aku takkan pernah meneteskan air mata ini untukmu, untuk cintamu, pengkhianatanmu dan semua tentangmu.


By
D30492N

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS