Pacar atau Saudara
Pulang dari pengajian, Fira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia takut kemalaman sampai dirumah. Tak jauh dari masjid tempat pengajiannya, ia menabrak seseorang. Tempat itu cukup sepi, Fira melihat orang yang ditabraknya. Kemudian ia mengangkatnya kedalam mobil.
“ Alhamdulillah, tidak apa-apa.” Fira mencari dompet pemuda yang ditabraknya. Setelah menemukan alamatnya, Fira mengantarkan pemuda itu kesebuah rumah kontrakannya yang ada dikartu nama pemuda itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Pintu tak terkunci, dengan mudah Fira masuk dan membawanya ke dalam kamar pemuda itu.
“ Ya Tuhan, kotor sekali rumah ini.” Fira membaringkan pemuda itu diranjang. Ia kemudian kedapur memanaskan air.
“ Lebih baik aku bersihkan dulu rumah ini, baru aku pulang. Aku harus telephon rumah, agar mereka tak khawatir.”
Setelah menelephon rumahnya, Fira merapikan rumah kontrakan pemuda itu. Ia mengambil baju-baju kotor dan merapikan barang-barang yang berserakan.
Karena kecapaian iapun tertidur disamping pemuda itu. Tak lama kemudian ia terbangun. Saat melihat jam dinding ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Fira mengambil air bekas kompresan. Ia kedapur untuk memasak, tapi tak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Hanya ada satu kardus mie instant.
“ Dasar anak mandiri makannya mie tiap hari.”
Fira keluar rumah. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian yang ditunggu datang.
“ Sayur Neng ?”
“ Iya Bang.” Fira mengambil daging, sayur, tempe, tahu dan kangkung.
“ Berapa bang semuanya ?”
“ Enam ribu lima ratus.”
“ Ini bang, kembaliannya kasih bumbu-bumbu dapur.”
“ Iya. Ini neng, makasih.”
Fira melihat kewarung sebelah, sudah buka. Ia membeli beras 1 kilo. Sampai dirumah kontrakan, ia mulai memasak. Sambil memasak ia membereskan dan bersih-bersih termasuk kamar pemuda itu. Saat masakannya sudah matang, ia ia mencucikan baju dan menjemurnya.
Kini rumah kontrakan pemuda itu sudah bersih dan rapi. Ia menghidangkan masakan diatas meja makan. Ketika masuk kekamar pemuda itu masih juga tidur. Ia menuliskan beberapa kalimat disehelai kertas.
Maaf tadi malam aku hampir saja menabrakmu.
Untungnya kamu tidak apa-apa. Tapi sepertinya
kamu mabuk dan semalaman kamu terus saja mengigau.
Sebagai permohonan maaf aku sudah menyelesaikan
Semua pekerjaan rumahmu. Dan hariini kamu tidak perlu
makan mie lagi, karena sudah ada nasi dan lauk dimeja makan.
Aku juga mau minta maaf kalau barang-barang aku pindahkan
tidak sesuai dengan seleramu.
Setelah selesai menulis, Fira meninggalkan rumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Tapi tanpa sepengetahuannya, kalung liontinnya terjatuh.
Tak lama setelah Fira pergi pemuda itu terbangun. Ia turun dari ranjangnya. Dan tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ia melihat dan mengambilnya. Setelah mengambil kalung itu ia melihat sebuah syrat dimeja. Iapun membaca dan sesekali memperhatikan keadaan kamarnya.
Selesai membaca surat itu ia bergegas kekamar mandi dan menuju meja makan. Pas sekali, tumis kangkung makanan kesukaan pemuda itu. Dengan lahap ia menyantap hidangan dimeja makan. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya tumis kangkung, makanan favoritnya.
“ Fin, Fino ! udah siap belum.”
“ Iya sebentar lagi. Masuk aja.”
“ Wah, tumben-tumbenan nih makan nasi.”
“ Habisnya bosan makan mie terus.”
“ Loe masak sendiri.”
“ Enggak !”
“ Terus.”
“ Tau deh, baca aja tuh surat.”
“ Gila. Loe enak bener.”
“ Iya donk, gue gitu loh.”
“ Udah ah berangkat yuk.”
“ Loe nggak sarapan dulu, enak kok.”
“ Nggak deh makasih.”
“ Ya udah, gue ambil tas dulu.”
“ Cepetan ! Eh Fin, kalung siapa ini.”
“ Miliknya yang buat surat kali.”
“ Yuk. berangkat.” Mereka berboncengan naik motor.
“ O … anak muda itu. Ya …masih gitu-gitu aja. Nggak ada banyak perubahan.”
“ Dia udah tau belum sama kamu.”
“ Belum.”
“ Loe gimana sih setahun lagi kan wisuda. Kalau nggak cepet-cepet ntar keburu hilang disamber orang.”
“ Bisa aja loe.”
“ Eh ……kalau dibilangin. Ngomong-ngomong kapan loe mau ngenalin ama gue.”
“ Gue aja belum kenalan suruh ngenalin kamu.”
“ Maksud gue tunjukin anaknya yang mana.”
“ Soal itu gampang. Ntar kalau gue udah dapetin dia. Takutnya kalau loe juga naksir dia.”
“ Sorry ya gue udah punya lagi.”
“ Siapa ?”
“ Ada deh. Ntar loe juga naksir.”
“ Bisa aja.”
Tak lama kemudian mereka sampai dikampus.
“ Fad, Fadli.”
“ Eh ya, ada apa ?”
“ Katanya loe mau tau cewek idaman gue.”
“ Loe mau kasih tau sekarang ?”
“ Itu lihat.”
Dari arah berlawanan Fira dan seorang temen ceweknya berjalan kearah Fino dan Fadli.
“ Wina maksudmu.”
“ Emangnya namanya Wina.”
“ Kamu belum kenal namanya.”
“ Hai Fad, Wina menyapa Fadli.” Sepertinya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ?” kata Fira dan Fino.
“ Jelas aja kita ‘kan satu kampus.”
“ Oh iya ya.” “Aku permisi dulu. Fadli sampai ketemu dikelas. Aku duluan.”
“ Ya.” Fadli menyahut.” Itu Fin cewek yng loe maksud. Di memang sangat manis.”
“ Bukan, bukan dia.”
“ Terus yang mana kalau begitu ?”
“ Yang satunya. Temennya, bukan dia.”
“ O ……..Fira maksudmu.”
“ Ya ……... tepat sekali.Tak piker kamu naksir Wina.”
“ O ……sekarang aku tahu kamu naksir Wina ya ?”
“ Ah sudahlah, aku masuk kelas dulu.”
“ Eh …….Fadli jawab dulu benar ‘kan?”
Pulang dari kuliah mereka bertenu. Mereka membicarakan soal orang yang membereskan rumah dan memasak untuk Fino.
“ Fin, pinjam kalung liontin itu dong ?”
“ Buat apa ?”
“ Siapa tahu ada informasi pemiliknya.”
“ Nih.”Fino menyerahkan kalung liontin itu.
Fadli membuk aliontinnya. “ Bukannya ini foto bokap loe ?”
“ Coba lihat. Benar, tapi ini bukan nyokap gue.”
“ Jangan-jangan bokap gue kawin lagi.”
“ Nggak mungkin, bokap dan nyokap gue belum bercerai.”
“ Kalau nggak ia selingkuh atau ……….”
“ Ah sudahlah bokap gue nggak mungkin nglakuin hal-hal yang seperti loe omongin.”
“ Maaf Fin, aku nggak bermaksud gitu.”
Saat sedang asyik ngobrol, Fira dan Wina datang.
“ Hai Fad, asyik bener ngobrolnya gabung donk.”
“ Boleh, “jawab Fadli. Fira dan Fino hanya tersenyum dan saling berpandangan.
“ Ehm……….” Fadli mendehem.
“ Oh ya kenalin ini Fira temen gue.”
“ Fino.” Fino mengulurkan tangan. “Fira.”
“ Fadli.” Fadlipun mengulurkan tangan.”Fira.”
“ Nah sekarang gimana kalau kita ke mall.”
“ Mau ngapain ?”
“ Ya ngapain kek, makan-makan atau apalah.”
“ Boleh, yuk.”
Mereka berangkat pergi ke mall dengan mengendarai motor. Wina membonceng Fadli dan Fira membonceng Fino. Dengan sedikit canggung Fira berpegangan pada Fino. Fino pun tersenyum-senyum sendiri. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Fino, cewek yang selama ini ia idam-idamkan berboncengan dengannya dan berpegangan. Fino sedikit ngebut hingga Fira terpaksa berpegangan erat mendekap Fino. Fira tak banyak berkomentar, ia sedikit takut.
Mereka semakin dekat, hampir setiap hari mereka jalan bareng. Suatu hari Fino ngajak Fira ke rumah kontrakannya.
“ Sepertinya aku pernah kesini deh ?”
“ Benarkah, kapan ?”
“ Kapan ya. Aku lupa.”
“ Ya udah masuk yuk. Mungkin kamu hanya lewat.”
“ Nggak aku yakin pernah kesini.”
“ Duduk dulu biar aku ambilin minum.”
“ Sekarang aku ingat, beberapa hari yamg lalu akuseorang pemuda mabuk. Dan kalau tidak salah ia tinggal disini.”
“ Masa sih. Apa kamu memasak untuk pemuda itu, mencuci pakaian dan membereskan pekerjaan rumah yang lainnya.”
“ Ya benar, kok kamu tahu ?”
“ Soalnya pemuda itu aku.”
“ Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja. Lagian waktu itu kamu ‘kan sedang mabuk.”
“ Ya. Waktu itu aku sedang punya masalah.”
“ Memangnya kamu selalu melarikan masalah ke minuman keras. Masalah berat apa yang kamu alami ?”
“ Sebenarnya enggak juga. Waktu itu aku belum mendapat kiriman uang dari orang tua, padahal biaya kuliah sudah menumpuk.”
“ Kenapa kamu lebih memilih kontrak daripada tinggal sama orang tua ?”
“ Suasana rumah nggak enak semenjak adikku, menghilang. Entah kami dikatakan kembar atau kakak adik karena adikku lahir tujuh hari setelah aku lahir, itupun dengan operasi caesar.”
“ Kok bisa begitu ya. Ah sudahlah, kamu mau aku masakin nasi dan lauk seperti waktu itu ?”
“ Nggak usah. Kita makan diluar aja.”
“ Kenapa masakanku nggak enak ya.”
“ Bukannya begitu. Aku seneng banget sama masakanmu, enak. Apalagi tumis kangkung itu makanan favorit aku.”
“ O…….ya sudah kita berangkat sekarang aja.”
Mereka menuju warung dekat rumah kontrakan Fino.
“ Oh ya Fir, apa ini kalungmu ?”
“ Ya Tuham akhirnya ketemu juga. Aku mencarinya kemana-mana. Ternyata ada sama kamu.”
“ Itu aku temuin dikontrakan aku. Mungkin jatuh malam itu saat kamu nolong aku.”
“ Makasih ya. Ini berharga banget bagiku.”
“ Apa foto itu…………..” belum sempet Fino selesai bicara handphone Fira berbunyi.”
“ Sebentar ya Fin. Hallo……..”
“ Apa mungkin dia adikku. Itu tidak mungkin terjadi aku ………aku sangat mencintainya, tapi dikalung itu ada foto papa. Lebih baik aku Tanya pada papa.” Kata Fino pada dirinya.
“ Fin, sorry ya aku lupa kalau hari ini ada janji sama Wina. Apa kamu mau ikut ?”
“ Nggak usah, aku juga mau pergi ke suatu tempat.”
“ Ya sudah aku duluan ya ?”
Mereka tak jadi makan, Fira pergi mengantar Wina kepemakaman sedang Fino menemui ayahnya untuk minta penjelasan.
“ Fino, kamu kok sudah pulang ini ‘kan masih hari Rabu ? Ada apa nggak biasanya.”
“ Mama nggak seneng ya Fino pulang ?”
“ Bukannya begitu.”
“ Oh ya ma, papa mana ?”
“ Ada dikamar, kamu temenin papa duluya, mama mau ke apotik.”
Fino segera kekamar ayahnya.
“ Fi…Fino ! …ini ka……kamu nak!”
“ Iya pa ini Fino. Fino datang kesini karena Fino ingin minta penjelasan dari papa.”
“ Penjelasan apa Fin ?” Tanya papa Fino agak terbata-bata.
“ Siapa wanita ini pa ? apa dia simpanan papa ?”
“ Dari mana kamu dapat foto ini.”
“ Papa nggak perlu tahu. Sekarang jawab pa, siapa wanita ini.”
“ Wanita itu bernama Aprilia.”
“ Apa ? kenapa papa tega sekali mengkhianati mama, padahal selama ini mama selalu setia menemani dan merawat papa.”
“ Tunggu dulu Fin, dia bukan simpanan papa.”
“ Lalu siapa dia Pa ? katakan.”
“ Dia kekasih papa sebelum papa kenal dengan mamamu.
Kami berdua telah melakukan dosa besar. Papa sebenarnya mau bertanggung jawab. Tapi kakek dan nenekmu menjodohkan papa dengan mamamu. Saat Aprilia tahu dengan perjodohan ini ia datang dan memohon pada kakek dan nenekmu, tapi sayang mereka tetap tak mengizinkan.”
“ Tanpa sepengetahuan kakek, nenek dan mamamu aku menemuinya. Dan dia bisa mengerti. Akhirnya sampai saat mereka melahirkan. Mereka melahirkan dirumah sakit yang sama, anak pertama mamamu……….”
“ Kenapa pa, anak pertama mama itu aku ‘kan ?”
“ Bukan Fin, bukan kamu. Anak pertama mamamu meninggal, ia lahir tanpa kaki. Dan saat itu pula Aprilia melahirkan bayi mungil. Ia merelakan bayinya kami ambil, tapi setelah ia tahu kalau mamamu melahirkan seorang bayi ia meminta agar anaknya dikembalikan. Tanpa sepengetahuan mamamu, papa mengembalikan bayi mungil itu, tapi ia bersikeras bahwa bayinya adalah perempuan padahal sebenarnya adalah laki-laki yaitu kamu.”
Fino merasa seluruh badannya lemas. Ia tak bisa membayangkan betapa marah dan bencinya Fira pada dirinya.
“ Maafkan papa Fin, papa tidk bermaksud………….”
“ Terima kasih atas penjelasannya pa. salam buat mama.”
“ Fin, Fino ! Tunggu Fin.”
* * * * * * * *
“ Kita kesini mau cari makam siapa Win ?”
“ Makam nyokap gue.”
Setelah cukup lama mencari akhirnya ketemu juga.
“ Sebelum nyokap gue meninggal, beliau berpesan agar aku mencari saudaraku dan ayahku dan jangan sampai aku membenci mereka.”
“ Tapi yang aku tahu selama iini kamu tidak punya saudara. Bukankah kamu sendiri yang bilang dulu, kalau ibu kamu tidak melahirkan lagi dan dan kamu tidak punya kakak.”
“ Itu benar tapi kata ibu, bukan saudara kandung tapi saudara seayah beda ibu.”
Setelah berkata demikian, Wina berdo’a dan menabur bunga dimakam ibunya.
* * * * * * * *
Setelah mendengar penjelasan dari ayahnya, Fino mulai menjauhi Fira. Ia merasa sangat bersalah. Setiap kali diajak jalan, Fino selalu menolak bahkan ia selalu menghindar dari Fira.
“ Fin, Fino !”
Meski Fira terus memanggilnya, Fino tak menghiraukan. Ia pura-pura tak mendengar. Mulanya Fira tak marah atau curiga pada Fino, tapi itu sudah terjadi beberapa kali. Akhirnya Fira sudah tidak kuat, ia merasa gelisah. Firapun menemui Fino. Fira menunggu Fino didepan kelasnya.
“ Fin, “panggil Fira.” Fira, “sahut Fino.
“ Ya, sini aku bicara sebentar.” Fira menarik tangan Fino.”
“ Mau bicara apa lagi ?”
“ Pokoknya aku mau bicara ini penting sekali.”
“ Iya. Tapi lepasin jangan kayak gini.”
Mereka pergi ke taman disamping kampus.
“ Kamu mau bicara apa Fir ?” Tanya Fino sedikit acuh.
“ Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu Fin. Apa kamu nggak ngerasa bersalah sedikitpun setelah apa yang kamu lakukan selama ini ?”
“ Fira hanya diam dan tertunduk.”
“ Fin, kenapa sih kamu sulit sekali ditemuin, aku resah dan gelisah aku takut kehilanganmu, kamu tak menyapa tak menghubungi bahkan kau menghindar dariku.”
“ Apa maksudmu Fir ?”
“ Kenapa kamu belum mnegerti juga. Aku mencintaimu Fin, apakah kau tak mencintaiku. Katakana Fin, kamu jangan hanya diam saja, jawab Fin, Fino !”
“ Fino berdiri.” Aku juga mencintaimu Fir. Tapi………”
“ Tapi kenapa ?”
“ Karna ……..karna kamu adikku.”
“ Apa maksudmu.”
“ Maafkan aku Fir, seharusnya aku tidak merebut, tidak menggantikan posisimu untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungmu.”
“ Aku nggak ngerti apa maksudmu Fin.”
“ Kalung yang kamu pakai ini adalah bukti kalau kamu itu adalah saudaraku. Didalam liontin kalung ini ada foto orang tuamu ‘kan dan ayahmu ini adalah ayahku juga.”
“ Kalung ini bukan milikku Fin.”
“ Kamu jangan bohong Fir, kalau bukan kalungmu kenapa kamu merasa sangat kebingungan kehilangan kalung ini.”
“ Duduk dulu Fin. Kalung ini sebenarnya adalah kalung Wina. Wina memberikannya padaku. Dan soal foto yang didalam liontin ini aku nggak tahu karna aku nggak pernah buka liontin ini.”
“ Itu benar kak Fino. Aku memberikannya karna aku merasa dekat dengan Fira. Ia sudah kuanggap seperti saudara, ”ucap Wina yang sudah mendengar pembicaraan mereka.
“ Wina !” ucap Fira dan Fino serempak.
“ Wina, maafkan aku. Sekarang pulanglah tinggallah bersama kami, ayah, ibu sudah menunggu.” Fino memeluk Wina.
“ Tidak kak, aku tidak pantas tinggal bersama kalian.”
“ Kakaklah yang tidak pantas tinggal disana. Kakak telah merebut posisimu dikeluarga itu. Kembalilah Win, biar kakak yang pergi,” Fino melepaskan pelukannya dan membalikan badan.
“ Tidak kak, kita akan kembali bersama-sama.”
“ Wina, kamu tidak membenci kakak.”
“ Kak Fino adalah saudaraku, aku tidak akan membenci saudara sendiri,” mereka berpelukan kembali.
“ Nah sekarang kamu tetep mau jadikan aku saudaramu atau mau jadikan pacarmu.”
“ Ya pacar dong.” Fino melepaskan pelukan dari Wina.
“ Teerus bagaimana nasibku.” Fadli yang dari tadi merasa diacuhkan, angkat bicara.
“ Karna mereka sudah jadian, kita jadian aja.”
Saking bahagianya, Fadli menggandeng Wina. Fira dan Fino tertawa melihat tingkah laku Fadli dan Wina.
pacar atau saudara
mencintai sebuah bayangan
BAB SATU
Mentari mulai muncul di ufuk timur. Burung – burung bertengger di atas pohon, bernyanyi menyambut datangnya pagi. Angin segar berhembus perlahan menggoyangkan dedaunan dan rumput – rumput hijau yang masih basah karena guyuran air hujan semalam.
Meski dingin merasuk sampai ke tulang, semangat menghadapi UAN membuat semua terasa segar dan menyenangkan. Keceriaanpun terpancar dari wajah Dastya, siswi SMP Negeri 2 Ponorogo. Tak terbersit kecemasan ataupun kepanikan dari wajahnya. Telah tiga kali ujian semacam ini ia lakukan dan hasilnya selalu memuaskan.
Satu yang selalu jadi penyemangat belajarnya, Elga. Juga siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Ponorogo teman sekelas Dastya. Sudah hampir 2 tahun ini dia menyukainya. Dia selalu ingin terlihat baik di depan Elga. Bahkan ia sering menyembunyikan ketakutan dalam mengerjakan ujian try out.
Namun sayang semua itu hanya dipendamnya dalam hati. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaannya.
Dan, hari ini dia akan kembali bertemu dengannya dalam keadaan yang berbeda. Dalam keadaan yang cukup menegangkan
”Hallo Tya, kamu tenang amat sich.”
”Ya aku harus kenapa?”
”Kamu kok ga’ panik, takut apa cemas lah minimal.”
”Ya....klo aku Cuma nurutin perasaan, aku ga’ bakalan berhasil ngerjain soal, kan pikirannya jadi terganggu.”
”Bener juga sich.”
”Ya udahlah, masih da cukup waktu untuk belajar.”
”Yah....kalau gini mah ga’ bakalan masuk otak.”
”Kenapa enggak. Ya buat ngefresin lagi yang semalam. Pasti ada yang lupa kan.”
Bel berdenting. Waktu ujian pun dimulai. Hening. Semua cermat dan berkonsentrasi pada soal mereka. Meski sesekali menoleh ke kanan, kiri dan belakang untuk mencari jawaban.
Dan begitulah terjadi selama tiga hari. Rasa tenang pun hadir dalam tiap hati siswa siswi. Walaupun mereka masih cemas dan takut akan hasil yang diperoleh.
Hari – hari pun berlalu, menunggu kepastian kelulusan. Dastya nampaknya tidak lagi memikirkan Elga. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya masuk ke sekolah menengah atas.
Dan akhirnya hari yang ditunggu pun datang. Halaman depan SMP Negeri 2 Ponorogo dipenuhi oelh siswa – siswinya. Papan bercat biru yang berdiri tegak menjadi pusat perhatian. Mereka berdesak – desakan mendekati papan yang akan menjadi saksi bisu hasil belajar mereka selama tiga tahun terakhir. Dengan langkah tenang dan santai diimbangi gejolak dalam hatinya ia mencoba menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh tubuh – tubuh manusia di depan papan pengumuman itu. Diletakkannya jari telunjuk di papan dan menariknya perlahan ke bawah. Namun wajahnya tampak tak secerah sebelumnya. Entah apa yang membuatnya begitu. Padahal namanya tertulis jelas berada di baris teratas.
”Ga ! yo cepetan........ lama banget sich.”
”Iya.....iya sebentar tho tak parkirin motorku dulu”
Elga dan Wahyu, temannya . bergabung bersama yang lain untuk melihat pengumuman. Disana ia berpapasan dengan Dastya.
Dastya yang mendengar suara Elga, menoleh. Saat itu Elga dan Dastya berpandangan sejenak. Merasa ada sesuatu yang aneh, Dastya segera memalingkan mukanya . ”Permisi.” ucapnya sambil meninggalkan Elga. Elga hanya diam melihat kepergian Dastya.
”Ga !”
”Eh ...... napa Yu ?”
”Namamu mana ? kok ga’ da.”
”Masa sich. Jangan bercanda.”
”Coba cari kalau ada.”
Dengan ketakutan, Elga maulai mencoba mancari. Tak lama kemudian. ”Beneran Yu, ga’ ada . gimana nich aku ga’ lulus dong.”
”Ya aku juga ga’ tau. Kalaupun ga’ lulus pastinya kan juga ditempel disini. Kamu kelas 3D kan ?”
”Iya bener, tapi ....ini kan cuma......”
”Berarti ........”
”Pasti ada yang nyobek.” ucap mereka bersamaan.”
Elga dan Wahyu mencoba mencari anak kelas 3D. Dan benar saja satu lembar kertas HVS ada ditangan mereka.
”Sini aku lihat. Gila ya kalian, kalau ketahuan guru pasti dimarahi. Tinggal berapa hari lagi aja, masih suka bikin kesalahan. Tinggalin dong kesan baik baik anak 3D.”
”Alah gaya loe, Ga ...Ga.... Hebat juga loe, bisa ada dibaris pertama.”
”Ye .... nomor absen gue kan emang nomor satu.”
”Bukan itu, ni lihat peringkatnya.”
”Ya ...... emang satu sich, tapi kan kalu dibanding ma kelas yang lain nilaiku paling bawah.”
”Yo wislah ...... ke kantin yuk.”
”Kamu yang bayarin ya.”
”Enak aja ya bayar sendiri dong, lha wong makannya aja sendiri.”
* * *
”Tya lagi ngelamunin apaan sich.”
”Ha ...... enggak. Sapa yang nglamun.”
”O ...... aku tahu, kamu pasti lagi ngelamunin Elga ya, jangan bohong dech. Dari tadikan kamu ngeliatin bangkunya Elga.”
”Enggak ...... ah .... ”
”Aku saranin ya, kalau kamu suka ma dia burun diomongin ntar keburu ga’ ketemu lagi lho. Ntar nyesel lho.”
”Enggak ! apaan sich.”
”Ye ...... jangan marah gitu dong.”
”Tya, selamat ya kamu yang jadi peringkat pertama. By the way mu ngelanjutin ke mana ?” ucap Elga
“Ha …. Makasih. Nggak tau masih pilih – pilih.”
”Ya udah. Duluan ya.”
”Ya.”
”Tu kan, pasti dia diam – diam juga suka ma kamu coba kalau ga’ mana mungkin dia perhatian kayak gitu.”
”Udahlah Nin, ga’ usah dibahas. Kamu mau pulang ga’.”
”Biar aku yang omongin ya. Kalau diem – dieman kayak gini ga’ bakalan ketahuan Ga ......! Elga !”
”Ssst .....apaan sich.”
”Ya ..... iya gitu az.”
”Emang kenapa sich Tya, kamu susah banget tinggal ngomong gitu aza. Toh sepertinya dia juga da rasa ma kamu.”
”Ya nggak semudah itu kali Ras. Aku emang suka ma dia, tapi perasaanku mengatakan kalau aku cuma bakalan sakit hati aja.”
”Kok gitu.”
”Iya, Tya kok bisa gitu, kamu kan belum coba.”
”Ya sekarang mana ada sich yang suka ma cewek kayak aku. Lagian banyak kan cewek-cewek yang lebih cantik dan lebih segalanya yang juga suka sama Elga. Pasti dong dia bakalan milih mereka.”
”Kamu kok mikirnya gitu. Emangnya kamu bisa baca pikiran orang .... ya .... kalaupun kamu ga’ secantik mereka, tapi mereka ga’ sepandai dan sebaik kamu. Ya ga’ Nin.”
”100% betul banget.”
”Alah udah ga’ usah ngomongin itu. Gimana ni kalian mau ngelanjutin ke SMA mana ?”
”Kamu sndiri ?”
”Ye ..... ditanya balik nanya. Kalau aku sich maunya ke SMA Negeri 2 yang deket taman kota itu.”
”Kalau kita dah sepakat buat ngelanjutin ke SMKN !, tapi kelihatannya bakalan coba dulu ke SMAN 2 juga.”
”Yap ..... bener banget.”
”Ngomong-ngomong Elga kemana ya ?”
”Iya .... ya kalau ntar sato skul lagi kan pasti bakalan seru. Cinta kan tetap bersemi dihati bila dekat dengan pujaan hati yang selalu hadir dalam mimpi.”
”Cie ..... puitis banget.”
”Udah .... udah. Aku pulang duluan ya.”
”Tya, besok kalau mau daftar kita ikutan ya.”
”Pasti.”
Hanya berselang beberapa hari, mereka bertiga mencalonkan diri sebagai siswa SMAN 2 Ponorogo. Namun sayangnya pada hari pengumuman, ternyata Dastya tidak diterima di SMA favoritnya itu. Dan akhirnya ia harus menuruti orang tuanya. Setelah lulus nanti pastilah Dastya akan memperoleh keterampilan dan kemampuan berusaha, bekerja dan berwirausaha tanpa harus kuliah.
Tanpa ia duga ternyata banyak juga peminat sekolah kejuruan. Anggapannya selama ini bahwa sekolah kejuruan hanya sebuah sekolah yang tidak bergengsi adalah salah. Sebaliknya dari sekolah kejuruan inilah banyak terlahir embrio-embrio pengusaha sukses.
Karena terlalu banyaknya pendaftar, untuk mendapatkan selembar stofmap berisi formulir haruslh berdesak-desakan dan sabar menunggu. Disaat itulah pandangan Dastya beradu dengan salah satu kakak kelasnya oh ..... tidak masih calon kakak kelasnya, yang saat itu bertugas menjual formulir.
Ia pun segera tersadar saat formulir didalam stopmap merah berpindah ketangannya. Dan segeralah ia mengikuti prosedur proses penerimaan siswa baru di sekolah itu.
Dan ...... akhirnya diterimalah dia sebagai salah satu siswi SMKN 1 Ponorogo. Masa Orientasi Siswa (MOS) harus ia jalani sebelum ia benar-benar menjadi murid sekolah kejuruan itu.
Selama seminggu penuh ia mengikutinya. Gertakan, cacian, perintah, larangan dan semuanya yang telah diatur oleh pengurus OSIS haruslah ditaati. Namun semuanya itu nampaknya tak membuat Dasty tertekan. Ia justru tenang-tenang saja menghadapi semuanya, apalagi kakak kelas yang waktu itu dilihatnyaselalu tampil di lapangan.
Perasaannya pun berpindah ke lain hati, bila ia dulu menambatkan hatinya pada Elga, kini berubah arah. Ketenangan dan sifat pendiam kakak kelasnya itu membuat Dastya perlahan melupakan Elga. Diam-diam dia suka memperhatikan kakak kelasnya itu. Pernah suatu kali ia berpapasan dengan kakak kelasnya itu.
”Siang kak.”
”Siang. Kamu nak kelas satu apa ? ngga’ penting jawabannya. Ini kak bisa minta tolong ga’. Bilangin ke kak Aprilia di tunggu kak Bantoro di kantin ya ..... makasih.”
”Eh .... kak, kak Aprilia kelas berapa ?
”Udah kamu cari aja di ruang OSIS pasti ada.”
Bantoro, kakak kelas Dastya itu meninggalkannya dan menuju ke kantin. Dastya pun menyampaikan pesan kakak kelasnya itu.
* * *
BAB DUA
Hari semakin cerah saja. Semangatpun terus bertambah. Meski lemas badan terasa, menahan amarah. Karena perut yang terus berontak dan berteriak minta diisi. Namun bila teringat akan hadirnya hari kemenangan yang tinggal menghitung waktu, lupalah semua perasaan itu.
Satu hal yang membuatnya bahagia hari itu. Ayah Dastya memberinya sebuah teman mungil. Banyak diantara temannya yang telah memiliki, tapi sepertinya tak ada rasa ’greget’ dalam hatinya untuk memilikinya juga. Karena ia berfikir pastilah akan ada dampak buruk yang akan diterima bila teman mungilnya itu ada bersamanya
”Tya, kamu mau pegang handphone ?”
”Ngga’ usahlah pak, aku kan ga’ bisa pake. Lagian juga kan Cuma satu ntar kalau temennya bapak mau apa-apa trus hpnya tk pegang kan pasti repot.”
”Ya ... ntar kan bisa minta bantuan mbak Sri atau kalau ngga’ bapak ajarin. Beberapa hari yang lalu bapak nemuin hp dijalan. Nih ..... juga udah bapak service bisa dipake.”
”Terus caranya ?”
Akhirnya mau ga’ mau diterima juga hp itu. Seneng juga sebenarnya ketia ia mendapatkannya.
”Awas aja nanti kalau nilainya turun.”
”Insya Allah enggak dech bu.”
”Ya udah kamu coba, beneran dah bisa belum.”
Dastya pun masuk ke dalam kamarnya. Mencoba mengoperasikan dan bermain dengan teman mungilnya itu. Karena tak tau nomor siapa yang akan pertama kali ia hubungi, akhirnya ditekan saja asal-asalan nomor yang ada di handphonenya.
Serangkaian nomor cantik yang mudah dihafalpun, berulang kali ia coba. Lama tak ada tanggapan ia pun berhenti.
”Hah ..... males amat kalau kayak gini mending juga baca buku.”
Malamnya ia coba lagi dan terus hingga esok dan esok harinya lagi. Hingga akhirnya saat ia mulai jenuh. Bernyanyilah teman mungilnya itu.
”Halo ...” Terdengar suara dari seberang
”Halo juga.” Sahut Dastya yang kemudian dimatikan.
Tak lama kemudian, terdengar lagi bunyi handphonenya. Sebuah pesan singkat muncul dilayar kacanya.
”Hai cewek, ni sapa ya. Blz
Dastya pun membalasnya :
Hai juga ni sapa ya. Blz
Cowok ganteng + cakep. Kamu ditanya kok balik nanya. Blz
Masa sich jangan bohong. Cakepnya kayak apa? Lez
Ya udah kalau ga’ percaya, kamu pasti bakalan naksir aku kalau kamu dah tau aku
Ye ..... GR kalau kamu cowok ganteng + cakep pasti punya nama dong
Namaq Roger. Kamu itu lho ditanya dari tadi ga’ mau jawab. Nanya melulu.
He .... he ... namaq Novi. Eh … kamu beneran Roger ya Roger Danuarta bukan ? Aku fans berat kamu lho. Kenapa ko’ kemarin Q telp ga’ diangkat sich.
Sorry, kemarin Q lagi jumpa fans di Surabaya. Jadi ga’ sempet sms juga.
Dastya :
Surabaya sebelah mana ? Q ko’ ga’ tau. Cz Q kan lagi di Surabaya juga di rumah nenek aq. Q kan ga’ pernah ketinggalan gosip tentang km lho. Film kamu juga aku pasti lihat.
Lama tak ada balasan dari si Roger. Dastya pun pergi ke dapur membantu ibunya. Dan sorenya terdengar lagi nyanyian si mungil.
”Hallo”
”Hallo juga, ni dengan siapa ya.”
”Kan aku dah bilang namaq Novi.”
Novi, kamu lagi dimana ?”
”Yah .... kamu ini punya daya ingatan yang lemah ya.”
”Ya .... ga’ pa-pa dong ku kan pengen denger suaramu.”
”Eh ..... maaf ya, aku harus siap-siap soalnya mau pulang ke Ponorogo. Tu dah dipanggil ma ibu. Dah dulu ya.”
Dastya meninggalkan hpnya dan ke kamar mandi. Bersiap untuk takbiran keliling nanti malam.
”Dastya !”
”Ya bu. Ada apa ?”
”Kamu rapikan mejanya ya nanti kalau dah selesai mandi, trus sekalian di seterika bajunya buat besok.”
”Ya bu !”
Selesai mandipun Dastya segera menyelesaikan tugas dari ibunya. Dan semuanya selesai sebelum adzan maghrib berkumandang. Teman mungil Dastya kembali bernyanyi.
”Halo Nov.”
”Halo juga. Da pa, belum juga selesai adzan maghrib.”
”Enggak Cuma mau nanya dah sampai mana.”
”Baru sampai depn pagar.”
”O .... ya udah, ati-ati ya di jalan.”
”Iya .... makasih.”
Selang beberapa jam kemudian, hp Dastya bergetar. Pesan singkat kembali memenuhi layar. Ternyata dari Roger lagi
Met malam Nov, lagi di jalan ya. Mau kan perjalanannya ditemenin, pasti mau dong, mana ada sich yang mau nolak ajakan cowok cakep. Ya ga’. Blz.
I dih .... tapi ga’ pa-pa juga sich. Eh .... coba dong lihat atap rumahnya ada yang bolong ga’. He .... he .... 100x
Kamu masih sekolah atau kuliah atau kerja. Blz
Aku masih sekolah kelas 1 SMA. Ada lagi yang mau di tanyakan
Untuk hari ini cukup itu az. Sekli lagi aku pesenin jangan tidur malam-malam n hati-hati di jalan.
Iya mas Roger. Perhatian amat kayak cowok aq az.
Btw ngomong soal cowok dah punya cowok pa blm. Blz.
Emang kenapa. Q masih terlalu kecil buat pacaran. Belum boleh juga ma ortu. Btw kapan lagi main film. Sekarang ko’ dh jarang masuk tv. Atau lagu kuliah ya.
Ga’ juga, Cuma belum ada job z. Beneran ni, Q juga lagi jomblo lho. Kamu mau ga’ jadi cewek aq.
Yang bener az. Km kan belum kenal ma aq. Kalau bercanda yang bagusan dikit dong.
Siapa yang bercanda. Nah .... karena kita belum saling kenal kita ketemuan yuk.
Boleh sich, tapi lihat ntar az.
Ya udah up to you. Aq tidur dulu ya, dah malam bgt. Besok kan harus bangun pagi buat sholat id.
Karena tak ada balasan dari Roger, Dastya segera menyelimuti dirinya. Memejamkan mata, berkelana ke dunia impian
Keesokan harinya sebelum adzan subuh, Dastya sudah bangun. Seperti biasa ia harus membantu ibunya mempersiapkan semua. Sayangnya kali ini dia tidak bisa mengikuti sholat id yang hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun itu.
Disaat semua sedang ke masjid, Dastya dirumah sendiri. Menyiapkan makan pagi untuk orang tua dan adiknya jika mereka pulang dari masjid nanti. Dan berselang beberapa waktu kemudian mereka pulang. Sebagai mana kebiasaan umt islam, merekapun bersilaturrahmi ke rumah nenek dan kakek terlebih dahulu barulah ke rumah tetangga.
Sepertinya kebahagiaan Dastya hari itu masih kurang. Karena ia tak bisa bersilaturrahmi ke rumah kakek dan neneknya yang ada di luar kota.
Malamya, teman mungil Dastya kembali bernyanyi. Nampaknya dari Roger lagi.
”Hallo...”
”Halo Novi, minal ’aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Maafin kesalahan-kesalahanku ya.”
“Minal aidzin wal faizin juga. Sama-sama kita saling memaafkan.”
”Nov. Gimana kamu jadi ketemu ga’ ma aku.”
”Ha .... gimana ya. Lagian ini juga dah malem, mana boleh aku keluar pa lagi ni lagi ramai-ramainya.”
”Ya terus gimana dong. Masa kamu mau aku penasaran.”
”Gimana kalau kita ketemunya di scol az. Sekalian kan ntar pasti banyak juga fans-fans kamu di scol aq.”
”Aq ga’ mau ketemu di scol, aku maunya sekarang.”
”Ya aku beneran ga bisa. Udah dulu ya ada tamu.”
”Nov ......”
Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya Dastya keburu menutup telephonnya. Ia pun lebih memilih mengirim pesan singkat karena rasa bersalahnya.
Maaf, Q dah bikin kamu kecewa. Tapi sejujurnya ku takut klo ntar gimana-gimana. Q juga mau jujur satu hal ma kamu klo kemarin tu sebenarnya ku ga’ da di Surabaya. Q juga bukan penggemar berat km tp Q ngefans ma kamu. Maaf ya, Q ga’ da maksud buat ngebohongin kamu. Moga kamu mau maafin aq.
Tak ada balasan dari Roger dan itu membuat Dastya merasa sangat bersalah.
Aq tau pasti gimana rasanya dibohongin karna aku juga ga’ mau dibohongin tapi beneran Q ga da maksud buat ngebohongin kamu. Please maafin q.
Tetep saja tak ada balasan darinya.
Please, setidaknya balas smsku. Biar aku tahu kamu mau maafin aq pa ga’. Kamu boleh marah-marah atau apa.
Hingga malam mulai larut Roger tak juga kunjung membalas sms Dastya. Hati Dastya mulai dipenuhi rasa takut dan bersalah.
Dikirimnya sebuah puisi karyanya sendiri.
Maafin Aku
Betapa hati ini tak bahagia
Mendengar suara merdunya
Benda mungil nan mewah ini
T’lah membantuku
Berkomunikasi dengannya
Dia yang s’lama ini ku idolakan
Yang s’lama ini hadir dalam anganku
Kini menyapaku
Namun karna dustaku
Karna kebodohanku
Ia pergi meninggalkanku
Tak lagi kudengar kesantunan suaranya
Tak lagi kubaca kata-kata manis darinya
Maaf ...................
Maafkan aku
Masih kunantikan maaf darimu
Ku tahu kau bukanlah pendendam
Hingga keesokan harinyapun tak juga ada balasan. Dastya pun akhirnya mencoba berbicara pada Roger dengan menelfonnya
”Halo ....”
”Halo ....”
”Maafin yang kemarin ya, Q dah bohong ma kamu tapi beneran Q ga’ da maksud buat bohong.”
Kenapa kamu bohong.”
”Karna ku ga’ tau harus ngomong apa. Tapi kan sekarang Q dah minta maaf, masa kamu ga’ mau maafin aq.”
”Ya udah tak maafin, tapi jangan di ulang lagi ya.”
”Iya .....”
”Bener ....”
”Iya.”
”Janji.”
”Ya janji. Udah dulu ya, makasih ya dah mau maafin aq. Insya Allah ga’ kan Q ulangin.”
Selesai berkata dan mengucapkan terima kasih. Dastya memutuskan hubungan telefonnya.
”Hah ..... lega juga kalau udah gini.”
* * *
Mentari t’lah berganti rembulan. Siangpun t’lah berganti malam. Bintang bertaburan bak permata berkerlipan di hamparan permadani hitam. Katak-katak bernyanyi bersahutan, kunang-kunang berterbangan pengganti cahaya lampu sebagai penerang malam.
Teman mungil Dastya pun mulai bernyanyi lagi. Ternyata pesan singkat dari Roger memenuhi layar.
Met mlm cwek, Gi ngp ? keluar yuk. Masa sich kamu ga’ mau ketemu ma cwok cakep
Pokoknya keluar az ke aloon-aloon kek ntar kita pasti bisa ketemuan ya. Jangan bikin aku penasaran
Aq jadi ragu dech km beneran RD bukan sich.
Btw tawaranq yang kemarin masih berlaku . aq pengen ngenl kamu lebih dekat.
Sekali lagi bukannya apa-apa tapi q ga’ mau ntar kamu kecewa. Lagian kenapa ga’ balik lagi az ma Agnes.
Maksud kamu apa sich. Aq ga’ bakalan kecewa kok. Ya udah klo kamu ga’ mau. Q ga’ maksa.
Kamu marah ya. Maaf, aq bener-bener ga’ mau kamu kecewa klo ntar ketemu ma aq.
Tak ada balasan dari si Roger, kegiatan sms-an mereka berhenti.
bersambung .......................... (1)
mencintai sebuah bayangan
BAB SEPULUH
Dastya masih bergulat dengan perasaannya. Entah siapa yang akan menang nantinya. Siapapun yang menang, itulah yang akan mendasari segala keputusannya.
Seiring bergantinya hari, semakin dekat waktu itu datang, semakin besar pula gejolak perasaan dalam hati Dastya. Dari raut wajahnya, terlihat sekali dia begitu cemas, bingung dan berbagai macam rasa yang lain. Dia masih duduk termenung didepan jendela kamarnya, semilir angin membelai helai-helai rambutnya yang hitam panjang sebahu. Pandangan matanya menerawang jauh ke jalanan.
Saat sedang asyik dalam lamunannya, Dastya dikejutkan dengan deringan handphonenya. Ia meraih teman mungilnya itu.
”Hallo .....” sapanya dengan ragu.”
”Hallo ..... Dastya, ni aku Dewi.”
”Oh ........ aku kira siapa. Nomor baru ya ?”
”Enggak, ini nomernya kakakku.”
”Ada perlu apa ?”
”Ini, Cuma mau ngingetin jadi ’kan buka bersamanya ?”
”Ga’ tau dech.”
”Kok gitu ?”
”Ya kemarin sich aku dah bilang kedia.”
”Terus...........”
”Ya .......... terus suruh aku yang ngatur aza.”
”Bagus dong.”
”Bagus gimana ?! Sekarang aku malah bingung mau digimanain ntar acaranya ?”
”Bingung gimana ?”
”Ya ......... ntar mau ditaruh dimana coba ? aku ’kan ga’ tau mana tempat yang baik, plus makanannya yang enak. Apalagi sebenarnya aku masih belum berani.”
”Kamu ini masih kayak dulu aja sifatnya. Lupain dong, hilangin perasaan kamu yang satu itu. Tinggal berapa hari lagi. Pa kamu mau jadi orang egois, yang cuman mikirin perasaan kamu aja sementara dia ...........”
”Ya sich, kamu emang bener. Tapi aku masih belum bisa. Aku deg-degan banget.”
”Terdengar dari seberang, Dewi tertawa.”
”Kamu kok malah ketawa sich, Wi ?”
”Ya abis kamu sampe segitunya.”
”Bener juga ya.”
”Lha iya, makanya tenang aja kale.”
”Ya udah dech, aku tenang.”
Dewi masih tertawa.
”Kamu kenapa masih tertawa ?”
”Kamu ga’ bisa bilang kalau kamu itu tenang lha wong dari suaranya za masih ..........”
”Ya iya ........... udah ah .........”
”Ye ......... ngambek nich. Ya udah dech .......... gitu aja, da .......”
”Da ..........”
Setelah telephone terputus, Dastya beranjak dari kamarnya. Adzan maghrib telah berkumandang. Saatnya menikmati kebahagiaan dan kenikmatan berbuka puasa.
Hari itu ia menikmati hidangan berbuka seorang diri. Kedua orang tuanya dan adik kesayangannya itu sudah meninggalkan rumh sejak senja. Mereka sedang mempersiapkan atau lebih tepatnya berbelanja untuk menyambut lebaran yang hanya tinggal menghitung hari.
Saat-saat sedang sendiri seperti ini, biasanya Dastya dimanjakan dengan kenangan-kenangan masa kecilnya dulu. Waktu itu, ketika sedang duduk di kels 5 SD, seorang anak laki-laki teman sekelasnya menghampirinya.
”Hai Tya !”
”Hai Rai.”
”Sendirian aja. Mana yang laen ?”
”Ga’ tau, tadi aku ditinggal gitu aza. Kamu juga sendirian ?”
”Ya gitu dech. Lagi males maem.”
”Oh .......”
Mereka terdiam sejenak.
”Tya.”
”Ehm .......”
”Kamu kok ga’ pernah lepas dari senyuman.”
”Ha ........”
”Iya .......... maksudku, tiap saat kamu itu pasti tersenyum.”
”Ya ........ emangnya ga’ boleh.”
”Ya enggak gitu, rasanya aku pengen beli senyum kamu.”
”Ha ........ ha ...........”
”Abisnya senyum kamu itu murah banget.”
”Ha ....... ha ......”
”Kamu kok malah ketawa.”
”Rasanya kakiku nggak nginjek tanah dech.”
”Ha .....?”
”Ha ........ ha .........” mereka ketawa bersama.
”Eh ......... tapi aku serius lho.”
”Aku dua rius malah.”
”Tya, kamu itu orangnya nyenengin banget ya.”
”Maksudnya ?”
”Iya ......... kamu tuh orangnya baek, pinter, ramah, sopan dah gitu murah senyum lagi.”
”Terus .........”
”Terus .......... apa ya .......? banyak banget dech.”
”Makasih .........”
Saat itu sebenarnya Rai mau bilang pada Dastya kalau dia menyukainya tapi entah kenapa ia urungkan niatnya. Ya ...... memang ga’ seharusnya itu ia ucapkan karena mereka memang masih terlalu kecil. Orang bilang itu CIMON alias Cinta Monyet. Tapi Rai tak menyesal menyembunyikan perasaannya. Dalam hatinya ia berjanji, kalau dia belum bisa sepandai dan merasa cocok untuk mendapatkannya dia nggak akan pernah mengungkapkan perasaannya pada Dastya.
Dastya masih tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Seumur hidupnya dia baru dipuji-puji seperti itu. Senyum manis dibibirnya berubah menjadi senyuman hambar antara marah dan geram pada dirinya sendiri. Ia segera memuntahkan makanan dalam mulutnya dan meraih segelas air dingin didekatnya.
Mulutnya menganga, seolah ada asap yang keluar dirongga mulutnya. Bagaimana hal itu tak ia lakukan. Ia baru saja mengunyah beberapa potong cabai.
”Hah ........ hah .......... pedes ......... ah” Dastya marah-marah.
”Sipa sich yang naruh cabai dimasakan gue. Ah ....... pedes banget lagi.” Dastya masih saja ngomel-ngomel. Tak lama kemudian ia senyum-senyum sendiri lagi. ”Eh ...... bukannya tadi yang masak aku sendiri ya .......... ! Untung tadi aku belum ngeluarin sumpah serapahku. Bisa-bisa senjata makan tuan dong.”
Dastya menghentikan penjelajahannya dalam kenangan-kenangan masa lalunya. Ia segera menyelesaikan berbukanya dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat Maghrib.
* * *
”Hallo Wi,” sapa Dastya lewat teman mungilnya.”
”Hallo juga Tya. Ada apa nich.”
”Enggak, kayaknya ga jadi dech bubernya.”
Soalnya dia belum juga SMS aku buat ngabarin dah nyampe belum. Sorry banget ya ........ ”
”Nggak pa-pa kok. Kan bisa ketemu laen waktu lagi ntar.”
”Sekali lagi sorry banget ya ........ ”
”Nggak pa-pa, nyantai aja ma aku.”
”Ya ........ udah ......... met sahur ya ......”
”Iya ........ met sahur juga.”
Meski kelihatannya ia sangat menyesalkan batalnya acara yang udah direncanakan untuk menyambut Roger, namun sebenarnya ada setitik kesenangan dan rasa bahagia karna ia tak jadi bertemu Roger.
Tanpa Dastya sadari, pada dasarnya cepat atau lambat ia juga akan bertemu dengan Roger. Dan ia juga tak seharusnya terus-menerus menghindari pertemuan itu karena itu justru membuat Dastya akan semakin merasa tersiksa dengan perasaannya. Ia akan terus bergulat dengan ketakutannya dan rasa tak percaya dirinya.
Penyakit hatinya itu tak akan pernah sembuh sebelum ia menjalani dan menghilangkan kemungkinan-kemungkinan yang selalu mengganggu pikirannya.
BAB SEBELAS
Bayangan itu semakin nyata. Perlahan, waktu membuktikan keberadaan bayangan itu. Benar-benar hanya tinggal beberapa hari lagi. Rasanya sudah tak sabar ingin melihat seperti apakah bayangan cinta Dastya. Seperti apakah orang yang selama ini dibangga-banggakan Dastya.
Bila waktu dapat diputar lebih cepat, pasti sekarang ini sudah kulakukan agar segera nyata, segera hilang kabut hitam yang menyelimuti keberadaan Roger. Tapi sepertinya Dastya berpikir sebaliknya. Ia ingin waktu berjalan sangat lambat. Sepertinya ia masih belum siap untuk bertemu Roger.
Dan waktu memang berjalan sangat cepat. Hari ini dia akan bertemu ”Roger” nya itu. Semalam mereka sudah saling berkirim sms untuk membuat janji bertemu.
Nov, kapan kita bisa bertemu
Mas maunya kapan ? aku dah ngikut aza
Gimana kalau besok malam aza
Ya udah terserah, jam berapa n dimana ?
Besok aku kasih kabar lagi ya ?
Soale motorku masih dipakai kakakq
Ya udah aku tunggu kabarnya besok.
* * *
Malamnya, Dastya mengajak Airin ketempat yang sudah ia sepakati dengan Roger. Dia berfikir kalau ia akan datang lebih awal agar Roger tidak terlalu lama menunggu seperti yang pernah ia lakukan dulu.
Satu jam ia menunggu. Airin mulai ngomel-ngomel. Karena capek mendengar omelan Airin, Dastya akhirnya mengirim pean singkat pada Roger.
Mas jadi ga’ ketemunya. Aq dah nyampe.
Waduh kamu ga’bilang dari tadi. Aku ga bisa soalnya motor q dipake kakak q sekarang, kamu kok ga’ bilang tadi.
Ya udah ga pa-pa. Kalo gitu aku pulang aza
Kalau besok siang aku kerumah kamu gimana ?
Terserah mas, tapi mas dah tau rumah q kan ?
Belum, kamu kasih tau alamatnya ya.
Mas tau per4an deket sekolahan itu’kan ? ntar ketemu az. Diutara jalan ada gapura yang tulisannya ”Makam Gujat”. Rumahq timurnya pas.
Tidak ada balasan dari Roger, Dastya dan Airin mampir sebentar ke rumah makan. Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Sifat usil Airin kambuh, dia mulai menginterogasi Dastya.
”Ga’ jadi ketemu lagi. Trus kapan dong ?”
”Kamu kenapa sich, uring-uringn gitu. Aku aja tenang-tenang gini.”
”Alah .......... dimulut sich emang bilang tenang tapi dalam hati mbak deg-degan kan ?”
”Bsok siang dia mau kerumah ?”
“What ?”
“Biasa aja dong ga usah pake bahasa Inggris gitu.”
”Apa ?”
”Ye ......... diulangin lagi.”
”Jadi besok siang ? Trus ?”
”Trus apanya ?”
“Ya trus gimana ma ibu ?”
”Ya mau gimana lagi. Aku ga mau ngecewain dia lagi. Yang kemarin-kemarin itu aku dah sangat keterlaluan, makanya sekarang aq bener-bener bakalan ngebelain dia buat ketemu.”
”Yakin ? dah brani ntar ma ibu.”
”Ya ......... palingan ’kan ma ibu Cuma bakalan dikasih nasehat-nasehat aja.”
”Ya ......... ya udah.”
* * *
Sudah sejak pagi tadi, Dastya bersiap-siap. Ia tak mengenakan pakaian baru yang mewah atau memakai make up. Ia justru terliht tak ingin berdandan. Asalkan baginya terlihat pantas.
Sampai menjelang siang, yang ditunggu masih juga belum datang. Akhirnya ia putuskan untuk tidur. Belum sempat memejamkan mata, nyanyian khas terdengar dari siteman mungilnya.
”Hallo .........”
”Ya .......... hallo ......... Nov, sekarang aku dah ada di dekat rumah kamu. Kamu keluar ya ?”
”Ha ........” Dastya berlari keluar rumah. Ia melihat sekeliling rumahnya. ”Mas matikan dulu ya telephonenya.”
”Ya.”
Telephone terputus dan tak lama kemudian Dastya melihat dua pemuda diseberang jalan.
Mas dah bisa lihat ’kan gapura yang aku kasih tau kemarin, mas kesini aza.
Kamu keluar aza, temenin aku. Kamu kesini dulu. Cepetan ya.
Ya udah aku kesana tapi tunggu bentar aza ya aku mau ngajakin Rina.
Dastya menemui Rina yang ada dibelakang rumahnya. Saat itu dia juga sedang tidur. Dastya membangunkannya dan memaksanya untuk menemaninya menemui Roger.
Dengan malas-malasan Rina bangun dan mencuci muka. Mereka berdua akhirnya menemui Roger yang sudah menunggu bersama seorang temannya. Tapi anehnya mereka masih tetap tidak segera menemui Roger dan temannya. Mereka berkeliling mencari jalan agar tidak terliht secara langsung oleh Roger dan temannya. Dan jalan itu mengantarkan mereka untuk tiba dibelakang tempat Roger dan temannya menunggu.
Mereka berdua masih juga belum menyapa karna saat mereka tiba, Roger sedang menerima sebuah telephone dri seseorang. Justru temannyalah yang terlebih dulu tau.
”Nov ....... Novi ........ sapa Roger setelah selesai menerima telephone.”
Dastya menoleh dan menghampiri mereka. Mereka berjabat tangan dan berbincang-bincang.
”Mas mampir kerumah dulu ya ?”
”Ga’ usahlah Nov.”
”Lho kenapa ? dirumah dah ditunggu ibu.”
”Ga’ usah dech. Tapi dirumah ada siapa ?”
”Cuman ibu sama nenek ya ?”
”Gimana Put, mampir ga’ !”
Yang ditanya tak mengeluarkan suara.
”Mas ’kan dah jauh-jauh dari rumah, masa ga’ mau mampir dulu.”
”Ga’ jauh kok. Deket sini aja.”
”Ayolah mas, ya ....... mampir dulu bentar aza.”
”Gimana ya ? kita langsung pulang aja dech.”
”Rumah kamu yang mana tho ?”
”Itu yang ada pohon mangganya.”
”Kamu duluan kesana ya ?”
”Tapi janji ’kan ntar nyusul ?”
Dastya dan Airin berjalan di depan dan diikuti Roger bersama temannya. Setibanya dirumah, Dastya mempersilahkan mereka untuk masuk. Mereka meneruskan perbincangan yang sempat tertunda.
Tak berapa lama kemudian ibuDastya keluar membawa minuman. Neneknya Dastya juga. Mereka berjabat tangan dan berbincang-bincang sejenak.
Sesuai dengan permintaan ibunya, Dastya mengajak Roger dan temannya itu untuk makan. Meski sempat menolak, akhirnya mau ga’ mau mereka makan juga.
”Nov ......” sapa Roger setelah selesai makan.
”Ya .......”
”Apa ini baru pertama klinya kamu dapet tamu cowok.”
”Iya.”
”Bener ? ga’ bohong ’kan ?”
”Enggak. Demi Allah. Emangnya kenapa ?”
”Ya ga’ pa-pa sich.”
”Mas ga’ pengen ketemu Dewi dulu ?”
”Dewi ?”
”Emm ......... maksudku Ela.”
”Oh ......... aku minta nomornya. Ini ’kan nomor baru jadi ga ada disini. Biar aku telephone dia.”
”Bentar ya.” Dastya masuk kedalam kamarnya. Ini Dastya memberikan handphonenya.
”Roger mendial nomor Dewi. Mereka terlibat pembicaraan. Terlihat dari arah pembicaraannya, Dewi masih ragu kalau yang menelephonenya adalah Roger.”
”Kok diputus sich.”
”Kenapa mas ?”
”Ga’ tau tiba-tiba diputus.”
”Mas kapan balik lagi ke Jakarta?”
”Senin depan ?”
”Lusa ?”
”Ya .......... sebenarnya aku masuk kerja lagi tanggal 6 tapi aku ambil cuti 2 hari.”
”Jadi cuman seminggu doank ? mas tahun baru pung ga ?”
”Cuman libur 4 hari, capek diperjalanan Nov.”
”Ya sich. Mas Jakartanya sebelah mana ?”
”Jakarta Timur, Pulogadung.”
Saat Roger sedng asyik ngobrol dengan temannya itu, Dastya mendapat sms dari Dewi.
Hai Tya, wah dah ketemuan nich.
Gimana oh ga’ sorry aku ga bia nemenin.
Kurang ajar kamu padahl aku pengen ketemu
dia ma kamu. Ok banget Wi. Tadi dy telp
kamu tapi katanya kamu matiin gimana siich ?
ya ndak pa-pa. Tanpa aq juga dah berjalan ’kan
aku ga matiin loe. Soale nich aq lagi di gunung
dy masih disitu. Suruh telp lagi donk.
Dastya senyum-senyum sendiri membaca sms dari Dewi
”Nov ..........”
”Aku pulang ya.”
”Ha ....... ? tapi ....... mas masih mau ngobrol nggak ma Dewi, aku dapat sms nich dari dia. Dia bilang, suruh telephone lagi.” Dastya menyerah bukti sms dari Dewi.
”Aku coba ya.”
”Setidaknya ini bisa membuat lebih lama disini,” pikir Dastya.
”Dia ga’ mau angkat. Aku sms aja.”
Dastya kembali menuangkan minuman kedalam gelas Roger dan temannya.
”Ga’ usah Nov, dah cukup.”
“Nggak pa-pa ?”
“Nov, kalau liburan atau hari minggu kemana ?”
”Dirumah ?”
”Dirumah ? ga’ maen.”
”Enggak.”
”Ngapain dirumah.”
”Ya bersih-bersih atau beres-beres.”
”Ga’ kepengen main ?”
”Dirumah udah rame sama adek.”
”Iya iya keponakanmu banyak.”
”Mas, aku ga bisa kasih apa-apa.”
”Kasih apa ?”
”Itu yang kemarin aku bilang mau aku kasih ke mas.”
”Apa sich.”
”Nggak usah dech.”
”Apa sich, kamu mau kasih apa ?”
”Nggak usah dibahas dech, aku malu.”
” Ya udah Nov, kemarin ganti nomor baru kok ga bilang malahan ngirimin sms yang gituan.”
Dastya hanya terdiam. Ia tak berani menatap Roger.
”Nov, kok diem.”
”Kemarin itu, .......... aku .........”
”Waktu itu juga, kamu sulit banget buat diajakin ketemuan. Aku dah nunggu lama banget tapi kamu nggak datang.”
”Waktu itu aku masih belum berani. Aku masih pertama kali kenal sama cowok. Dan aku takut banget kalau ntar ada apa-apa kayak yang di TV-TV itu. Aku juga masih takut ma ibu. Pastinya beliau mikir masih kecil kok pikirannya dah sampe ........... ” Dastya menjelaskannya sambil menundukkan kepala.
” Lha kenapa kita ’kan Cuma temenan.”
Saat mendengar kata ’temen’, Dastya mengangkat kepalanya. Mungkin ia merasakan ada sebuah pisau yang menancap diperutnya.
”Temen ?” tanya Dastya pada dirinya sendiri.
”Tapi bener Nov, aku cowok pertama yang maen kerumahmu ?”
”Beneran, mas yang pertama.” Nada bicara Dastya mulai malas dan tanpa semangat tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Meski tadi di awal perjumpaan, mereka sepakat untuk mengatakan kalau Roger hanya temannya saja. Teman satu sekolah dan juga satu kelas. Dia tidak menampakkan kekecewaannya. Ia tetap berusaha bersikap manis, bahkan ia berusaha menahan air matanya saat Roger berbicara lirih, walaupun apa yang dikatakannya tidak terlalu penting ataupun mengharukan.
”Mas, kemarin itu gimana, rumahnya kebanjiran ga’ ?”
”Oh ..... ga’ dech ya kayaknya. Ga parah, gimana Put ?”
Roger meminta tanggapan temannya yang sejak tadi diam
”Ga’ juga. Kemarin itu ga’ parah tapi ga bisa sekolah. Soalnya ya ........ ga bisa lewat.”
”Iya ......... aku dapat kabar dari kamu itu juga lihat di TV. Kalau ada apa-apa kamu sms aku aja ya.”
”Ya.” Suara Dastya tertahan ditenggorokan.
”Ya ? kalau ada apa-apa kamu sms aku.”
Dastya hanya mengangguk. Air matanya sudah menerobos ingin keluar, tapi masih bisa ia tahan.
”Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya.”
”Bentar lagi ya mas, kan masih panas.”
”Aku SMS Dewi dulu kalau gitu siapa tahu dia bisa kesini.”
Sesekali Dastya melihat kearah temn yang dibawa Roger tadi. Pandangannya sinis dan acuh.
”Gimana mas ?”
”Enggak dibales.”
”Oh ya Nov, kemarin kesana sama siapa ?”
”Sama Rina.”
”Naek apa ?”
”Tuh ......... sepeda.”
”Kan jauh Nov, trus kalau sekolah ?”
”Ya sama ..........”
”Kamu ga’ capek. Jauh banget ’kan.”
Dastya hanya tersenyum.
”Itu motor kamu ’kan ?”
Dastya hanya mengangguk.
”Kenapa ga dipakai ?”
”Nggak brani.”
”Lho .......... kalau Dewi kesekolah naik .............”
”Dia naik motor.”
”Nov, .......... kamu mau kasih apa sich sebenere ?”
Dastya hanya tersenyum.
”Nov ........”
” Aku mau ksih mas novel ?”
”Belum jadi ? Trus kapan dong jadinya ?”
”Ga’ tau, mungkin satu bulanan lagi.”
”Setahun lagi dong. Aku ’kan ketemu kamu satu tahun lagi.”
”Ya ......... kalau masih dipertemukan,” ucap Dastya lirih.
”Nov, kok belum selesei sich, kamu kan jarang maen kalau hari libur ?” tapi kamu emang suka ya, hobby bikin kayak gituan hobby baca juga ya.”
Dastya lagi-lagi hanya tersenyum.
”Bagus, aku pikir hobby kamu. Aku tunggu ya novelnya.”
”Ya ......... soalnya butuh inspirasi jadi kadang nulis kadang nggak.”
”Aku sabar menanti kok.”
”Kenapa mas nggak nanya, apa isi novelku. Mas tau, ini novel kita. Sayangnya ternyata semua berakhir pada sebuah pertemanan, ” katanya dalam hati.
”Nov, aku pulang ya. Aku ’kan dah lama disini. Dewi juga ga mau datang. Kalau dia mau kesini aku pasti mu tunggu dia.”
Dastya enggan menganggukkan kepalanya. Ia juga tak mampu mengeluarkan kata ”iya”.
”Nov, ....... aku pulang ya ?”
Kata-kata itu terus terulang dari bibir Roger dan lagi-lagi Dastya tak mampu mengiyakannya.
”Nov, ....... aku pulang ya ? ntar kalau ada apa-apa kamu sms aja ya.”
”Iya udah. Bentar aku panggilkan ibu.”
Roger dan temannya berpamitan pada ibu dan neneknya Dastya. Mereka berjabat tangan lagi, kepada Dastya juga. Dastya mengantarkannya sampai kedepan pagar.
”Nov, maen kerumahku ya. Ntar kamu sms aku kalau dah nyampe biar aku jemput kamu. Sekarang aku pulang dulu ya.”
”Insya allah.”
Roger menyalakan mesin motornya. Sebelum ia pergi ia menyapa Dastya.
”Mari Nov ......”
”Iya.”
* * *
BAB DUA BELAS
Pertemuan itu telah berakhir. Penantian selama satu tahun, rasa penasaran, sakit, cinta, sayang dan semuanya terjawab oleh hanya pertemuan hari itu. Begitu singkat, bahkan hanya untuk sekedar berucap, melepaskan segala rasa yang terpendam selama waktu lalu.
Sekarang Roger itu kini telah kembali ke tempatnya semula, kembali pada aktifitasnya sehari-hari. Bekerja disebuah perusahaan di Jakarta. Jauh, jauh sekali. Kesempatan untuk bersama hanya akan terjadi setahun sekali. Dan sayangnya kesempatan yang langka itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Dastya. Semua berjalan sangat cepat.
Sepeninggal Roger, Dastya jjadi seperti orang yang bingung. Ia lebih suka melamun. Mungkin ia menyesali pertemuan singkat itu. Ia menyesal, kenapa dalam waktu yang singkat itu dia tidak mampu menciptakan suasana dan kenangan yang mengesankan. Justru yang ada Dastya dibingungkan oleh perkataan Roger yang ingin meminta penjelasan atas sikap Dastya yang berubah akhir-akhir ini. Dan Dastya sama sekali tak mampu mengeluarkan suaranya. Hanya air matanya yang mencoba untuk menerobos, membelai dan membasahi pipinya.
Satu kebodohan lagi yang ia lakukan, ia tak mengambil gambar Roger, mengabadikannya sebagai kenangan. Ya ....... mungkin ini bisa dimaklumi, karna gugup, panik atau nervous. Kali ini pertamanya ia berdekatan dengan seorang cowok. Apalagi yang menurutnya cowok itu terlalu perfect buat dia.
”Nov, aku pulang ya.”
Kata-kata itu sellu terngiang di telinganya. Dan tanpa ia sadari air matanya kembali menetes. Dan siang itu, di hari pertama dia ditinggalkan Roger. Ia mencoba menghapus kenangan saat pertemuannya, dengan beristirahat siang.
Pertemuan itu terulang kembali dan disaat yang bersamaan Dastya juga melihat Roger menyandang tas ransel dibahunya. Ia dibonceng seorang lelaki paruh baya. Saat itu Dastya ingin sekali mencegah Roger untuk tidak pergi meninggalkannya, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Seperti ada kekuatan yang membuatnya hanya diam terpaku.
Air mata Dastya kembali berlinang, mengalir deras membentuk sungai kecil dipipinya, ketika Roger kenoleh kearahnya dan memberikan senyuman manis sebagai tanda perpisahan. Ia juga tak lupa melambaikan tangan kearah dastya.
”Mas !” Dastya menjerit.
Saat ia membuka matanya, ia sadar bahwa ia ada ditempat tidur. Tak ada Roger, tak ada pula lelaki paruh baya yang membonceng Roger. Semua hanya mimpi, semuanya hanya sebuah bunga tidur untuk Dastya.
”Astaghfirullah. Ya allah, cuman mimpi. Kenapa begitu nyata. Dia meninggalkanku ............ sendiri.” Air mata Dastya terus mengalir. Mimpinya itu selalu membayanginya, mengganggu pikirannya, memacu detak jantungnya. Dan semuanya.
* * *
Ini hari kedua setelah pertemuan itu. Dan Dastya masih juga belum mampu menguasai emosinya. Sekarang ia malahan tak suka berlama-lama didalam kamarnya. Bila dulu ia sering menghabiskan waktunya didalam kamarnya untuk sekedar menyelesaikan novelnya tau mengerjakan PR sekolahnya, kini ia justru enggan untuk masuk kesarangnya sendiri. Mungkin ini semua karna pengaruh mimpinya kemarin.
Dastya juga suka tidur larut malam, ia tidak akan sebelum dan ia juga mulai jarang tidur siang. Ia takut memejamkan matanya walau hanya untuk satu menit saja. Ia selalu berusaha mencari-cari kesibukan agar mampu segera melupakannya.
”Mbak Tya ?”
”Hemm .......”
”Gimana ?”
”Apanya ?”
”Itu lho ......... yang kemarin.”
”Ya gitu.”
”Gitu gimana ? Critain dong.”
”Ga’ mau ah. Salah sendiri kemarin nggak nemenin aku.”
”Ya ............. kok gitu.”
”Tau ah ........... aku pusing.”
”Pasti mikirin dia dech ya ’kan ? ayo ngaku.”
”Aku takut kehilangan dia Rin. Kamu kemarin lihat sendiri ’kan gimana dia orangnya. Kamu juga pasti dah tau kalau aku ma dia jauh banget. Bagiku dia terlalu perfect. Aku ...........”
”Kambuh lagi ’kan penyakitnya. Kemaren mau ketemu bingung juga.”
”Kamu nggak tau sich Rin, gimana perasaanku.”
”Ya jelas aku nggak tau, semua orang juga ga’ ’kan pernah tau gimana perasaan mbak. Mbak ’kan orangnya terlalu .......... gimana ya ?”
”Aku boleh ’kan berfikir realistis. Berfikir ke masa depan. Berfikir tentang fakta.”
”Ya udahlah terserah.”
”Ibu juga, selalu aja bilang kalau aku ga’ boleh sms duluan. Ntar dikiranya aku yang ngejar-ngejar dia. Padahal dari awal kenalan emang aku yang udah ngejar dia.”
”Ya udah sekarang coba sms aja. Gampang ’kan ?”
”Tapi ........ kalau difikir-fikir ibu emang bener. Kalau dia emang beneran sayang dan serius ma aku, dia pasti hubungi aku duluan. Ah ......... aku bingung, pusing.”
”Emang mbak mau sms apa ? sayang-sayangan, mesra-mesraan gitu ?”
”Aku dari dulu nggak pernah mau kalau diajakin sms yang gituan.”
”Kenapa mbak ga’ coba tanyain dia dah nyampe belum ke tujuan ? atau mbak ingetin dia buat makan, atau apalah.”
”Ntar dia mikirnya mbak perhatian banget setelah tau kalau dia itu ..........”
”Mbak bukannya emang dari dulu, ebelum kalian ketemu selalu perhatian ma dia.”
”Bener juga sich. Tapi .........”
”Udah sini, biar aku aja yang sms. Ntar kalau dibahas, dia emang orang baik.”
”Tapi kalau enggak ?”
”Iya mungkin mbak harus coba buat lupain dia.”
Jari jemari Airin lincah menekan tombol-tombol dan berhasil merangkai kata-kata. Tak lama kemudian mengirimkannya pada nomor Roger.
Mas lagi ngapa ? udah makan belum ?
Oh ya ........ udah nyampe Tujuan ’kan
Send
Pesan terkirim.
Cukup lama mereka menunggu, tapi balasan belum juga datang. Bip ...... Bip......
Iya ........ aku dah makan. Makasih ya
Ati-ati dirumah, belajar yang rajin juga.
”Ye ..........” Dastya tampak begitu senang.
”Tu ’kan aku bilang.”
”Aku nggak percaya dibalas smsnya.”
”Nah ......... sekarang dah lega ’kan ?”
”Tapi .........”
”Kenapa lagi ?”
”Apa sms itu bisa jadi bukti kalau dia sungguh-sungguh ma aku ?”
”Ya udah kalau gitu kita telephone aja dia. Minta penjelasan. Diselesaikan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik.”
”Tapi ntar kamu yang ngomong ya.”
”Lho kok ?”
”Aku ga’ brani ?”
”Ntar aku ajarin. Udah cepetan !”
Dastya mendial nomor handphone Roger. Masih seperti dulu suara mbak tut ....... tut ....... tak pernah ia ganti sebgai NSPnya. Ia menghargainya, mungkin ?? lama belum ada juga jawaban.
”Hallo ........” suara dari seberang.
”Rin, dijawab. Aku harus ngomong apa dong ?”
”Hallo ............ Nov ?”
”I .......... iya hallo ......... mas.”
”Ada apa kok tumben telephone.”
“Eng ………. Enggak ………. Aku ……… “
“Kmu mau ngomong apa ?”
“Mas ……… ja …….. jangan marah ........ ya ?”
”Emangnya kamu mau ngomong apa ?”
”Aku ........ a......... aku mau ta .......... tanya ??”
”Iya tanya apa ?”
”Mas ?”
”Iya ........ aku dengerin.”
”Mas aku mau tanya.”
”Iya tanya apa ? emangnya ada apa sich. Gini dech kamu coba tarik nafas dalem-dalem terus keluarin abis itu baca bismillah trus ngomong.”
Dastya melakukan apa yang disarankan Roger.
”Udah ?”
”Udah.”
”Sekarang ngomong, ada apa ?”
”Mas dah tau ’kan gimana keadaanku. Sekrang mas masih pengen seperti dulu atau kita ganti acara ?”
”Maksud kamu ganti acara gimana ?”
”Maksudku kita ganti temenan atau ganti kakak adik aja.”
”Kamu kok gitu ngomongnya ?”
”Bukan gitu .......... aku ...........”
”Kamu ga’ suka sama aku. Kamu ga’ percaya lagi atau kamu udah punya yang laen ?’
”Enggak ......... enggak bukan gitu maksudku.”
”Terus ?”
”Aku ......... aku ngrasa ga pantes aja buat mas. Aku juga nggak mau kalau tanggapanku ke mas seperti tanggapan mas ke aku.”
”Aku nganggep kamu sebagai cewek aku. Sekarang tanggapanmu ke aku gimana ?”
”Maaf sebelumnya, tapi dari awal aku udah nganggap mas sebagai cowok aku.”
”Ya udah sekarang udah jelas ’kan ?”
”Iya ........ aku udah lega.”
”Kamu masih mau nunggu aku ’kan untuk satu tahun lagi kedepan ? kamu masih bisa bertahan ’kan ?”
”Insya allah.”
”Ya udah. Makasih ya.”
”Makasih juga mas.”
”Udah dulu ya ngobrolnya, aku masih capek.”
”Ya udah ........ maaf kalau ngganggu waktu istirahatnya.”
”Nggak pa ..........pa .......”
”Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikum salam.”
* * *
T H E E N D
mencintai sebuah bayangan
BAB DELAPAN
”Ayo ........ ayo ........ cepetan dikejar bolanya.”
”Ayo ....... Tika jangan mau kalah.”
Sorak sorai anak-anak SMK tempat Dastya menuntut ilmu, menggema ke seluruh lapangan. Mereka mendukung jagoan-jagoan mereka. Hari itu giliran tim dari jurusan Akuntansi dan Penjualan yang bertanding. Perlombaan sepak boal sarung ini memang banyak merebut perhatian penghuni sekolah itu. Banyak adegan-adegan lucu juga. Beberapa kali sarung mereka terlepas, ada juga yang menendang bola tapi meleset. Uh ..... seru banget.
Peringatan hari kemerdekaan RI, berlangsung meriah di sekolah itu. Berbagai macam perlombaan disiapkan, dari internal dan eksternal sekolah. Hadiahpun mengalir dari para wakil dan peserta lomba.
Waktu itu, perlombaan baru aja selesai. Para gurupun masih belum masuk kelas. Seperti biasa, kodrat seorang cewek tak pernah membuang-buang waktu, walaupun hanya sekedar untuk ngrumpi.
”Tya, masih sama dia ?”
”Siapa ?”
”Itu lho yang kamu bilang nak Jakarta.”
”Oh ...... masih ...... kok.”
”Gimana ? Crita dong.”
”Apa yang mau dicritain.”
“Ya, apa kek, masa ga ada sich.”
”Males.”
”Kok males ....... ya kabar terakhir dech.”
”Ehm ........ kemarin aku mau putusin dia.”
”Emang kenapa ?”
”Ya ....... males aja. Dia ga da perhatian sich ma aku.”
”Terus sekarang ?”
”Ngga’ jadi putus. Abis dianya baik-baikin gitu.”
”Baik-baikin gimana ?”
”Ya pokoknya gitu dech.”
”Critanya yang lengkap dong.”
”Kemarin tuh aku dah mau putusin dia. Ga tau kenapa rasanya hubunganku ma dia digantung. Masa dia dah nggak pernah sms atau telphone. Kan aku juga pengen kayak yang lain ?”
”Terus .......”
”Ya udah gitu. Dia mau coba buat klasifikasi masalahnya. Tapi aku nggak pernah mau angkat telphone dia.”
”Terus ...... terus .......”
”Terus ...... terus ....... aja. Emangnya parkir mobil apa ?”
”Ya ....... dia telphone dech ke nomornya bapakku. Ya udah mau g mau aku jawab telephonenya.”
Ngomong apa aja ?”
“Ya itu, dia minta kita ga usah putus.”
”Ya, iyalah Tya, secara ’kan ya kalian udah pacaran satu tahun, sayang-sayangan, muah-muahan. Kok enak bener belum ketemu dah putus. Emangnya kamu pikir dia apaan. Kamu ’kan juga pasti pengen banget ’kan ketemu dia ?”
”Ya ........ maksudku kan ga gitu. Aku Cuma malu aja kalau ketemu dia ntar.”
” Kamu ga kasihan pa ma dia ?”
”Iya lho Tya. Udah temuin aja. Dah dibela-belain gitu juga.”
”Kalian ga ngerti sich gimana perasaanku.”
”Gini lho Tya, yang penting kamu tuh temuin dia dulu. Kalau urusan jadi pa ga ’kan bisa ntar-ntar aja.”
”Heeeh .........” Dastya menghela nafas. Ia dech ntar kalau dia minta ketemuan lagi aku brani-braniin.”
”Ya ......... kamu suruh aja dia kesekolah. Kalau kamu mau nemuin dia pa ga, ’kan ga pa-pa yang penting kita itu pengen tau kayak apa tho cowok kamu itu.”
”Tet .......... tet ........... tet ........ ” Bel panjang telah dibunyikan, pertanda pintu gerbang telah dibuka. Dastya dan teman-temannya yang lain segera berhamburan keluar.”
”Markitpul, markitpul .........”
Dastya menaikkan alisnya seolah meminta penjelasan.
”Mari kita pulang, Dastya ..........”
”Oh ......... let’s go home.”
Perasaan Dastya semakin nggak karuan. Perkataan teman-temannya ia pikirkan baik-baik dan ia membenarkannya. Sedangkan ia sendiri juga ga bisa memungkiri perasaannya selama ini.
Gimana ya ntar acara pertemuannya Dastya dan cowoknya itu. Kayaknya bakalan seru. Tapi ......... ehmmm emang butuh ekstra energi lagi nich buat membujuk dan merayu Dastya biar ketemu ma Roger.”
* * *
”Ehm ......... ehm ......... Airin mendehem.”
”Kenapa rin, lagi batuk ya ?”
”Enggak.” jawagnya singkat sambil senyum-senyum.
”Knapa sich senyum-senyum gitu ?”
”Enggak. Ga’ da apa-apa.”
”Knapa ? ayo bilang-ayo bilang.”
”Ye ......... enggak ! kok maksa sich.”
”Beneran ga’ mau kasih tau ?”
”Enggak.”
”Ya udah.” Dastya meninggalkan Airin. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa buku catatan.” Nich, kayaknya aku ga’ bisa ngerjain dech. Aku bakalan sibuk banget.”
”Yah ......... kok gitu kemarinkan dah janji.”
”Aku berubah pikiran, kecuali .........”
”Kecuali apa ?”
”Kecuali ......... kalo kamu mau cerita.”
”Crita apa ?”
Dastya hanya melirik kearah Airin.
”Iya ........ iya .......... aku tuh lagi seneng-seneng yang gimana gitu.”
”Seneng-seneng gimana ?”
”Alah ........ mbak Tya pake pura-pura lagi.”
”Emangnya ada apa ?”
Airin masih saja terus tersenyum. ”Enggak, ’kan bentar lagi lebaran.”
”Terus .......”
”Masa ga tau sich.”
”Apa sich ? jangan bikin aku penasaran gini.”
Dastya berfikir sejenak dan Airin masih belum mau membuka mulutnya.
”Oh ......... masalah itu maksud kamu ?”
”Iya itu tahu ?”
”Masih satu bulan lagi kale, Rin.”
”Tapi kan waktu itu berjalan cepet banget.”
”Maksudnya ?”
”Coba dech mbak Tya pikir, ga’ sadar ’n ga’ nyangka ’kan dah setahun hubungan ma dia. Padahal kayaknya baru kemaren dech kenalan.”
”Bener juga sich. Pinter lho kamu.”
”Ya iyalah Airin githu.”
”Tapi, kalo pinter kok ga’ bisa ngerjain PR ndiri ya ?”
”Ah .......... mulai ’kan.”
Mereka tertawa. Airin dan Dastya emang ga’ pernah bisa dipisahkan. Kalau ketemu ada saja yang selalu membuat mereka ketawa.
”Mbak Tya !”
”Ngapain lagi ?”
”Enggak. Cuma pengen nanya nich. Mbak emang dah brani ?”
”Tu ’kan knapa ngingetin mbak soal itu.”
”Jadi, masih belum brani ? capek dech. ’kan tinggal sebulan lagi masa belum brani sich.”
”Lagian kamu knapa bahas masalah itu.”
”Ya aku masih bingung lho sama mbak. Dengan sifat mbak ini. Aku sama sekali ga ngerti dech.”
”Aku ndiri juga ga tau.”
”Kok gitu. Aku ’kan serius mbak.”
”Udah dech ga’ usah dibahas.”
”Iya ......... iya ......... ya udah maaf.”
Dastya hanya tersenyum menanggapi ucapan Airin. Dibelainya rambut Airin. Sulit mengartikan pandangan mata Dastya pada Airin.
* * *
BAB SEMBILAN
Bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah, kini datang kembali. Ini menandakan bahwa hubungan Dastya dan cowoknya itu sudah memasuki bulan ke – 11. Wuih ........ lama juga ya. Kayak e perlu di masukin rekor muri dech. Gimana enggak, satu tahun kurang 1 bulan hubungan tanpa tatap muka, gimana tuh rasanya ? yah cobain dech biar tahu rasanya. Eh ......... kembali ke topik dech.
Meski nampaknya Dastya tenang-tenang saja tapi dalam hatinya ia merasakan gejolak ketakutan. Tapi apa yang membuatnya takut. Apakah sebuah perkenalan dan perjumpaan dengan seorang lawan jenis itu, sama halnya ketika kita bertemu syetan ?
Dastya masih duduk termenung di dalam kamarnya. Menatap kalender yang terletak diatas meja belajarnya.
”Ya Tuhan, sebentar lagi waktu itu akan datang. Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Kenapa perasaanku kayak gini. Kenapa jantungku berdetak ga’ karuan.”
”Hayo ........!!” Airin mengagetkan Dastya.”
”Hah ....... Airin, kaget tau.”
”Abisnya ngelamun sich. Ngelamunin apaan sich ? oh ......... aku tau, pasti lagi ngelamunin dia nich yang mau pulang !” Airin tersenyum masih meledek Dastya. ”Ehm ....... ehm.
”Apaan sich kamu Rin ?”
”Udahlah mbak Tya, biasa aja kok ma Airin.”
”Hah .......... pikiranku lagi kacau nich Rin.”
”Emangnya da apa ?”
”Tau nich. Aku jadi bingung kayak orang stress. Ah ......... sulit dech nggambarinnya.”
”Karna dia pulang.”
”Mungkin juga.”
”Mbak Tya nich, orang paling aneh yang pernah aku temuin dalam permasalahan percintaan.”
”Maksud kamu ?”
”Ya iya ........ coba lihat mbak Tya. Aneh banget ’kan. Disaat orang-orang lagi seneng-senengnya mau ketemu ma pasangannya. E ............ ini malahan ...........”
”Tau dech. Aku juga ngrasa gitu sich sebenarnya. Tapi ya mau gimana lagi ......”
”Sebenere alasan mbak tu apa ?”
”Alasan apa ?”
”Ya alasan kenapa mbak sulit banget di ajakin ketemu atau keluar ma cowok?”
”Itu lagi ’kan yang dibahas.”
”Ya enggak, bukannya gitu mbak, tapi ’kan ya aneh. Apa mbak Tya pernah ada masalah dengan cowok sebelumnya sampai mbak Tya ga’ mau .........”
”Ga juga.” potong Dastya
”Terus ........”
”Aku kan dah pernah bilang kalau aku ga’ mau sakit hati. Ntar kalau ternyata abis ketemu terus abis itu malahan putus gimana ? aku ’kan takut, aku pasti bakalan trauma.”
”Ya ampun mbak. Mbak ’kan belum tau apa yang akan terjadi ntar, besok dan waktu yang akan datang. Mbak Cuma nebak-nebak aja. Dan itu semua cuman kemungkinan bukan kenyataan.”
”Tapi ntar ibu gimana ?”
”Emang ada apa ma bulik ?”
”Aku masih takut kalau ntar ibu ga setuju ’n ga suka kalau aku jalan ma dia. Ibu kan selalu aja nyinggung-nyinggung masalah ini kalau aku lagi nglakuin kesalahan. Lagian ntar jadi omongan tetangga.”
”Aduh ......... gimana aku ngejelasinnya lagi ma mbak Tya. Aku bingung dengan jalan pikiran mbak Tya. Gini aja dech mbak, mbak ga’ usah mikir yang enggak-enggak. Positive thingking aja. Kalau mbak mikirnya gitu, ntar cuman malahan nyiksa diri aja.”
”Kamu emang bener Rin, tapi ..........”
”Udah dech percaya ma Airin, mungkin karna ini pertama kalinya, ntar kalau dah ada penyesuaian, pasti mbak ga’ kan ngomong gini.”
”Mungkin emang kayak gitu. Makasih ya Rin. Aku jadi punya rasa percaya diri lagi.”
”Tapi ada imbalannya.”
”Hemm ............ jadi ada udang dibalik batu. Aku emang udah bisa nebak, pasti ada apa-apanya.”
”Enggak kok mbak, yang tadi emang bener.”
”Iya ........ iya ......... sini pasti PR lagi ’kan ?”
”Hehe .......”
* * *
Hari-hari memang berjalan begitu cepat. Dan tanpa terasa waktu pertemuan itu semakin dekat. Terasa sekali detak jantung Dastya yang tak seperti biasanya. Pikirannyapun menerawang jauh kedepan, seolah ingin membuat planning dan skenario pertemuannya dengan Roger.
Saat sedang asyik dengan lamunannya, handphone Dastya berdering. Segera saja diraihnya hp yang ada di atas meja itu. Sebuah pesan singkat memenuhi layar, ternyata dari Dewi.
Malem menjelang pagi, Tya. Gimana dah sahur blm. Oh ya ........ gimana ma cowok km dah pasti pulg ’kan ?
Iya sich, dy bilang bklan pulg. Eh ...... met shur juga ya.
Gimana kalau qta buber ma dia
Sekalian jumpa pertama. Gimana Tya ?
Aku sich iya ........ iya aza. Ntar tak coba ngomongin ma dia
Oke. Aku tunggu ya kabarnya. Segera !
Tapi ntar kamu temenin aku ’kan ?
Iya, tenang aja. Aku juga penasaran lho.
Thanks ya.
Sama-sama.
Debar jantung Dastya tersa semakin kuat. Mungkin kalau dia mempunyai penyakit jantung pasti sekarang dia sudah ada di ruang ICU atau UGD. Tak berselang lama setelah dia mendapat balasan dari Dewi, temannya. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat pada Roger.
Malem mas, dah buka puasa ’kan ? kapan mas mau pulang ? oh ya ........ dapat salam dari Dewi, dia mau ngajakin buber, mas bisa nggak ? Lz.
Pesan terkirim dan tak lama kemudian balasan datang .
Malem juga. Kamu gimana kabarnya ? baik2 aza ’kan. Mas pulang tanggal 27. Ya .......... terserah kamu aja. Mas ngikut ..........
Kok gitu. Aku ’kan nanya mas.
Ya udah kamu atur aza.
Sebuah komunikasi yang cukup singkat. Padahal dalam hatinya Dastya berharap bisa ber – sms – an lebih lama dengan Roger, si usil datang lagi.
”Mbak Tya, ayo berangkat.”
”Iya bentar lagi, tak ambil mukena dlu !”
”Mbak Tya ?!”
”Hemm ............ ”
”Dia bilang mau pulang kapan ?”
”Tanggal 27.”
”Lho berarti bentar lagi donk.”
”Ya ....... gitu dech.”
”Terus mau ketemunya tanggal berapa ?”
”Tau ! udah stop jangan bahas itu terus.”
”Iya ......... iya kok jadi sensi gini.”
Masih dengan seribu macam kata ledekannya, Airin menggoda Dastya sepanjang perjalanan ke masjid.
”Eh ......... mbak trus mas Adit ama mas Eko gimana ?”
”Gimana apanya ?”
”Ya mereka patah hati dong.”
”Kok bisa gitu ?”
”Ya iya ........ mbak Tya ’kan udah ama mas Roger itu.”
”Emangnya aku seberuntung itu disukai ma mereka ? bukannya kita yang selalu ngomongin mereka ? lagian mas Eko ’kan dah beristri, ye ........”
”Tapi ’kan masih ada mas Adit.”
”Ye .......... masih dia lagi. Apalagi yang satu ini udah pasti jauh dari harapan. Lha wong nglirik aja ga’ pernah, mau suka dari mana ?”
”Tapi ’kan hati manusia ga’da yang tahu.”
”Gini lho ......... kita ketemu mereka ’kan cuman setahun sekali, cuman waktu puasa aja. Kesehariannya ’kan jarang banget. Kalau aku sich nanggapinya Cuma sebagai penyemangat. Ntar kalau ketahuan, pasti bakalan ribut lagi.”
”Hah ......... mbak Tya takut banget sich. Kalau di omelin ya di dengerin gitu aja kok repot.”
”Kamu ini emang dasar syetan penghasut.”
”Eh ...... jangan salah ga’da syetan yang cantik kayak aku lho.”
”Ye .........”
* * *
mencintai sebuah bayangan
BAB ENAM
Kisah Dastya mulai menarik untuk diamati,tapi terkadang membisankan bila harus melihat kebodohan dan kepolosan Dastya. Waktu terus berjalan tak terasa empat bulan telah berlalu. Dan hubungannya dengan Roger masih belum banyak berubah.
Tanpa sepengetahuannya, banyak teman-temannya yang memberikan nomor handphone Dastya ke teman-teman cowok mereka. Perlahan, Dastya mulai bertemanan dengan mereka. Kini ia tak lagi berharap Roger akan benar-benar menjadi miliknya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya.
Dastya justru lebih mendapat banyak perhatian dari teman-teman barunya. Mereka yang selalu menjadi tempat curhat, hiburan dan juga sebagai tempat bertanya.
Banyak pula diantara mereka yang mengaku sangat senang bisa berkenalan dengan gadis seperti Dastya.
”Gimana, Ndy. Dastya orangnya ?”
”Asyik, pinter, ramah, sopan dan juga alim.”
”Dah dapat apa aja dari Dastya ?”
”Makudnya ? hmm ........ apa ya palingan juga aku sekarang jadi suka puasa Senin-Kamis, bisa mikir tentang ilmu-ilmu politik, sosial, budaya. Terus apa ya ....... banyak banget dech.”
”Hebat dong ya. Tapi kok bisa, emang kalian belajar bareng kok sampe bisa tentang sospol dan budaya ?”
”Nggak juga. Tapi dia suka bikin artikel dan pembahasannya pasti soal itu. Aku jadi narasumber gitu. Padahal aku juga nggak tau apa-apa ?”
”Ya iyalah palingan jawabanmu juga ngawur. Emang kamu bisa apa ? Palingan ngebuang-buang waktu dan uang.”
”Persis seperti yang diomongin Dastya. Dia suka nasehatin aku gitu. Makanya sekarang ya ....... aku dah da perubahan dikit-dikit.”
”Ye ...... ye .......... ntar kalo jatuh cinta gimana ?”
”Jujur aja, aku mau-mau aja ya tapi dianya gimana ?”
”Ya kamu tanya dong ?”
”Kemarin sempat aku singgung kalo malem minggu acaranya kemana trus dah diapelin belum.”
”Terus jawabnya ?”
”Dia bilang ga kemana-mana, ya aku tanya lagi emang ga punya cowok ?”
”Jawabnya ?”
”Udah, tapi lagi keluar kota gitu.”
”Ya udah kalo gitu ya temenan aja.”
”Gimana, kemarin katanya dia lagi single ?”
”Ya ........ aku nggak tau ya.”
”Ah ..........”
* * *
Beda lagi kisah Dastya hari itu. Di layar handphonenya muncul sederetan nomor yang tak dikenalnya. Sekali ia biarkan. Mungkin Cuma orang iseng, pikirnya. Tapi nomor itu kembali muncul sejenak lalu menghilang diikuti sebuah pesan singkat.
”Hai angkat dong. Aq mau kenalan nich.”
Sesaat setelah menutup handphonenya, Dastya kembali mendengar nyanyian lagu selalu mengalah dari seventeen band. Dastya menerima panggilan itu.
”Hallo.”
”Hallo, siapa ini ?” spa Dastya dengan lembut.
”Aku Haris, kamu siapa ?”
”Aku Dastya.”
”Oh ......... Dastya. Salam kenal aja ya.”
”Salam kenal juga. Kamu dapet nomorku dari mana ?”
”Dari Dani.”
”Apa yang kamu maksud dani yang sekolahnya SMA 1 yang rumahnya Sambit. Kamu siapanya dia, temennya ya ?”
”Iya. Kok tahu. Eh .... rumah kamu mana ?”
”Tanya Dian aja. Dia tahu, kalo nggak tanya ceweknya.”
”Emang Dian masih sama ceweknya itu ?”
”Setahuku sich mereka belum pisah. Emang kenapa ? Kamu juga naksir ya ma dia.”
”Namanya siapa dan juga dia sekolah dimana, rumahnya ?”
”Gimana sich nanya tuh satu-satu aja. Lagian kamu ngebet bangat. Kenapa ga tanya Dani aja katanya kalian temenan.”
”Dia nggak mau cerita.”
”Namanya Eci, dia sekolah di SMK Negeri 1 dan rumahnya Tonatan.”
”Rumah kamu juga Tonatan ya ? Deket nggak sama rumahnya Eci ?”
”Rumahku memang daerah situ. Tapi jauh dari Eci.”
”Oh .......... ya udah thanks ya.”
“Udah gitu aja.”
Tut. Tut. Tut. Haris menutup telephonenya. Dastya segera saja menyiapkan buku pelajaran untuk besok. Sekalian meminta penjelasan dari Eci.
Dastya membaringkan tubuhnya diatas kasur. Mengambil guling dan menarik selimutnya sampai batas lehernya. Tak lama kemudian ia telah berada di dunia khayal, dunia mimpinya.
* * *
Nyanyian koor ayam-ayam jago miliknya dan milik tetangganya telah membangunkannya, memanggil dari dunia lain, dunia mimpinya semalam. Pancaran sinar mentari yang menembus kaca jendela kamarnya membuat ia harus menjauh dari singgasana mimpinya.
Masih dengan teman setianya, sejak ia duduk di kelas 4 SD, ia berangkat kesekolah. Setelah sebelumnya berpamitan pada ibunya.
”Bu, Tya berangkat.”
”Hati-hati dijalan.”
”Ya bu.”
”Let’s go.” Katanya pada teman setianya itu.
”Mbak Tya ! tungguin aku ikut.”
”Cepetan, aku dah kesiangan nich.”
Dastya dan Airin berangkat kesekolah bersama. Masing-masing dengan ’si teman’ setianya. Sekolah mereka memang berbeda, tapi mereka melalui jalan yang sama.
Dastya tak lagi berangkat bersama Wina, ia mulai bosan menunggunya. Ia menyusuri, melewati jalan menuju ke sekolahnya hanya dengan si teman setianya. Terkadang bila ia secara kebetulan bertemu dengan teman sekolahnya, mereka berangkat bersama walau belum begitu kenal dekat.
Bajupun basah oleh keringat. Andaipun pake make up, pastilah sudah luntur diperjalanan, sebelum sampai disekolah. Tapi sayangnya Dastya tak mengenakannya, jadi berangkat dan sampai disekolahpun wajahnya takkan berubah. Palingan juga lembab karna keringat.
Jarum jam berjalan seperti biasa. Waktu-waktu disekolah masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Yang terkadang membuat Dastya merasa bosan. Meski ’batereinya’ hari itu sedang ga’ full, Dastya masih sempat memanis-maniskan mukanya didepan teman-temannya dan para guru-guru yangberpapasan dengannya.
Tapi, sepertinya ada yang lupa hari itu. Dastya segera saja berlari kearah halte bus, tempat Eci biasa menunggu bus jemputannya, ketika ia ingat sesuatu yang hampir dilupakannya. Tapi sayangnya, Eci sudah keburu naik bus. Dengan wajah letih dan semakin berkurang ’batereinya’ ia kembali kesekolah mengambil ’si teman setianya.”
”Darimana, Tya ?”
”Nyari Eci, ke halte.”
”Ketemu !”
”Nggak, dia udah keburu naik bus.”
”Emangnya ada apaan sich. Segitu pentingnya.”
”Enggak juga. Cuma mau nanya sesuatu.”
”Oh ......... pulang sekarang aja yuk.”
Masih dengan ’si teman setianya’ Dastya pulang sekolah. Ditengah perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang cowok yang sebaya dengannya. Dia yang mengendarai sepeda motor sengaja mengemudikan motornya agar seirama dengan gerakan ’si teman setia’ Dastya.
”Hai, kamu Dastya ya ?”
”Hah ....... kamu siapa ?”
”Aku Andy.”
”Oh ....... bukan, aku bukan Dastya aku Tasya.”
”Masa sich, kamu ga bohong ’kan ?”
”Nggak, ngapain aku bohong.”
”Ya udah kalo gitu, aku duluan ya. Makasih.”
”Ya.”
Cowok yang mengaku Andy itu akhirnya memilih untuk meninggalkan Dastya dengan memacu motornya.
”Hah ........ ya Tuhan, semoga dia percaya kata-kataku.”
”Emang dia siapa Tya ?” tanya Nur yang sejak tadi diam
”Andy, temennya Rino mungkin.”
”Terus siapa Rino ?”
”Rino itu temen sekelasnya temen Wina.”
”Gimana sich.”
”Eh ga, salah bukan gitu. Maksud aku, Wina punya temen sekelas, namanya siapa aku ga tau, terus temennya itu punya temen lagi, ga tau dech temen pa tetangganya, ya pokoknya gitulah. Terus ’kan Wina pake handphoneku buat sms dia. Paham ga ?”
”Enggak.”
”Ya udahlah ga penting kok. Tapi yang aku bingungin sekarang, dia kok bisa nebak kalo aku Dastya, dari mana coba.”
Nur hanya mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Dastya. Dia emang satu-satunya temen yang Dastya anggap sangat baik, bahkan Dastya ngrasa dia lebih baik dari Wina.
Akhirnya diperempatan jalan mereka berpisah. Rumah mereka berjarak cukup jauh. Mereka hanya akan melewati jalan yang sama, bersama-sama ketika pulang sekolah.
Diperjalanan pulang, Dastya terus saja memikirkan persoalan tadi. Dia emang paling sulit kalo diajakin keluar sama cowok. Jangankan untuk keluar, bertemu bahkan buat ngobrol ditelephone aja dia ogah-ogahan. Sulitnya minta ampun. Dia emang gak bisa ngerti gimana berteman yang baik. Apalagi gara-gara Airin, setiap kali tau kalo Dastya lagi smsan atau abis kenal sama cowok, huh ......... pasti dech langsung diinterogasi sama dia.
Hai, met malem. Cowok barunya mbak Dastya ya ! sebuah pesan singkat dikirimkannya pada sederetan number.
Bukan kok, ini siapa ? Emang mbak Dastya bilang ga ya, blasan dari nomor itu.
Iya dia bila ga kok. Aku adeknya. Namaq Airin
Eh ........ iya ......... tapi jangan bilang ya kalo aq sms, balas Airin lagi.
Oh ....... Airin. Airin kelas berapa ?
Kembali dibalasnya.
Aku masih SMP
Balas Airin.
Entah apa lgi yang mereka bicarakan tentang Dastya. Dan karna kata-kata dalam sms Airin itulah, Dastya nggak berani lagi untuk membalas setiap sms yang datang dari nomor itu. Seperti sms ini :
Dastya, emang kamu bener suka ma aku. Aku sebenarnya juga suka tapi aku dah ada yang punya, maaf ya.
Ia biarkan sms itu hingga beberapa hari tanpa ia balas.
BAB TUJUH
Handphone Dastya kembali berdering, ketikaia baru saja tiba dirumah. Sebuah pesan singkat memenuhi layar handphonenya. Dan masih dari nomor yang kemarin.
Tya, kamu marah ya ma aku. Aku bener-bener minta maaf aku harap kamu nggak kecewa dengan kata-kataku kemarin dan semoga kita bisa jadi temen yang baik. Please lez.
Dastya bingung, dalam hatinya ia geram sekali pada Airin, tapi dia juga harus meluruskan masalah ini. Ketika ia berniat membalas sms dari nomor itu, ternyata gagal dan pesan tak terkirim karna persediaan pulsa Dastya tidak mencukupi.
Sementara pemilik ’nomor itu’ semakin merasa bersalah dan mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya ia putuskan untuk menelphone Dastya. Dastya yang mendengar nyanyian dari handphonenya segera meraihnya.
”Hallo ?”
”Hallo, Dastya.”
”Iya.”
”Kamu kenapa nggak balas smsku ? Kamu marah ya ! Aku minta maaf ya !”
”Enggak, bukannya gitu. Kemarin itu aku ga balas karna aku pikir ya kamu Cuma, apa ya ...........”
”Terus kenapa tadi juga nggak balas ?”
”Kalau tadi tuh karna pulsaku dah abis.”
”Berarti kamu nggak marah ’kan ?”
”Ya enggaklah, ngapain aku marah. Apa alasanku coba, buat marah. Aku justru senang kalau kamu ternyata udah punya gebetan. Lagian siapa yang bilang kalau aku suka sama kamu ?”
”Adek kamu yang bilang.”
”Adek ? Airin maksud kamu.”
”Ups ........” pemilik ’namor itu’ sepertinya merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya.
”Ya ampun, Airin aja kamu percaya. Dia itu anaknya emang iseng banget. Dia juga lagi marahan ma aku makanya dia balas dendamnya gitu. Lagi pula aku juga dah punya gebetan kok.”
”Oh ....... gitu ya. Ya udah.”
”Ya udah, semuanya dah jelas kan. Aku dah terlalu banyak ngomong ya. Cepetan dech ditutup telephone ’ntar pulsa kamu abis lagi.”
”Gimana mau ditutup kamu ngomong terus.”
”Ups, sorry. Ya udah ni yang terakhir.”
”Bye.”
”Bye.”
Dastya merasa lega. Akhirnya masalahnya udah selesai. Dan sekarang nampaknya ia harus bikin sidang dengan terdakwa Airin.
Malam itu saat rembulan hanya menunjukkan sebelah rupanya, di temani bintang-bintang bak permata yang bertaburan. Diiringi dengan belaian lembut angin malam, Dastya menghampiri Airin yang sedang menonton televisi dirumahnya yang terletak tan jauh dari rumah Dastya.
”Permisi budhe, Airin ada ?”
”Rin, dicari mbak Tya nich.”
”Ada apa mbak ?”
”Sini aku mau ngomong sebentar.”
”Ada apa tho ?” tanya Airin tanpa rasa bersalah.
Dastya menggandeng tangan Airin, mereka keluar rumah. Dan duduk diteras. Airin masih tenang-tenang saja.
”Rin, kamu ngomong apa sama temen mbak.”
”Aku ?”
”Gara-gara kamu, mbak jadi malu tau nggak. Dikiranya mbak naksir dia. Dan parahnya dia bilang nggak suka, mau ditaruh dimana coba muka mbak.”
”Ya ditaruh ditempatnya.”
”Hmh .......... ”ucap Dastya geram.
”Iya ........ iya, maaf. Abisnya aku gemes sich, mbak Tya.”
”Gemes gimana ?"
”Ya abis mbak Tya, gitu-gitu aja.”
”Maksudmu itu gimana ?”
”Ya gitu.”
”Alah ...... udah ....... ga penting, pokoknya jangan sampe terulang lagi dech. Malu mbak, emang mbak apaan.”
”Iya ........ iya.......... ”
”Ya udah sana tidur, besok sekolah ’kan ?”
”Oke dech.”
Airin pun kembali kedalam rumah, meski ia tidak segera tidur seperti apa yang dikatakan Dastya. Sementara Dastya pulang kerumah menyelesaikan tugas rumahnya.
* * *
Waktu memang berjalan begitu cepat. Hari kini tlah berganti. Malam yang dingin dan indah, kini berubah menjadi pagi yang cerah dan segar. Sinar sang mentaripun terasa hangat menyentuh kulit, menghilangkan kesan dingin semalam yang masih meninggalkan kabut pagi dan tetesan embun yang jatuh melewati ujung daun.
Hari-hari yang membosankan. Waktu yang sama, aktivitas, jalan, makanan semuanya tak ada yang banyak berubah. Dastya masih dengan aktivitas hariannya.
Sepertinya ia harus merelakan waktu-waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan para orang tua. Saat itu, ketika ia sedang merasa sangat letih dan pusing, sebuah pesan singkat memenuhi layar ’teman mungilnya’.
Malem Novi, lagi ngapain kok dah lama ga mz mas kangen nich. Oh ya ..... kamu da uang saku lebih ga ?
Kalo mau mas beliin plz donk ?
Benar-benar hari yang menyebalkan bagi Dastya. Perasaan sayang dan cintanya pada Roger menjadi sebuah kebencian. Sepertinya Dastya mulai sadar kalo selama ini dia hanya dibodohi. Bisa dibayangkan dong gimana perasaan Dastya, udah capek e ......... malahan dapet sms gitu. Iya mending kalo perhatian, sering telephone atau sms, Dastya pasti juga ga akan keberatan. Tapi sayangnya untuk mengucapkan selamat malam atau selamat pagipun tak pernah.
Tapi ya ........... yang namanya Dastya, dasar aneh. Karena kesalnya ia, akhirnya diputuskan untuk menelephone Roger dan meminta untuk mengakhiri hubungannya.
”Hallo.”
”Hallo Nov, ada apa ? tumben nelphone. Oh ya ……… gimana kamu bisa nggak ngisiin nomor aku. Soalnya aku lagi ga ada uang.”
Dastya masih diam mendengarkan Roger ngomong dengan nadanya yang sok ngatur dan ga da rasa bersalah.
”Hallo, Nov .......... kamu denger aku kan ?”
”Iya aku denger kok.”
”Trus kenapa kamu diam ?”
”Aku ........... aku ........ aku ........ mau minta .......... kalo ..........”
”Kamu ngomong apa Nov, jujur aja kamu ada apa ?”
”Aku ......... ”Dastya mengambil nafas dalam-dalam, kemudian ”aku ........... mau minta kita akhiri aja semuanya.”
”Maksud kamu apa ?”
”Jujur aja semuanya aku tuh sayaaaaang banget ma kamu mas, tapi satu hal yang paling aku ga suka, justru mas lakuin. Aku dah capek dengan semua ini. Mungkin aku bakalan merindukan mas. Mungkin aku juga bkalan minta balikan lagi ma mas. Tapi ku juga bakalan mengusahakan buat biar kejadian itu nggak kan terjadi. Makasih ya mas buat waktu dan segalanya, ini bakalan jadi pelajaran buat aku, kalau suatu saat aku dalam keadaan kayak gini.”
”Nov, kamu ngomong apa ?”
”Mas tau, selama ini aku coba buat ngertiin mas, mas ga pernah bisa terbuka ma aku, mas juga ga bisa ngehargain aku sebagai yang mas bilang cewek mas. Mas tahu sekarang aku dah jadian ma ..........”
”Oh ............ jadi sekarang gitu ya. Aku nggak sangka kalo kamu ternyata seorang pembohong. Kamu tahu orang kayak gitu dalam Islam dilaknat oleh Allah, karna kamu munafik.”
Air mata Dastya perlahan mulai membasahi pipinya. Namun ia mencoba untuk tetap menyembunyikannya.
”Kamu disekolahin buat apa ?” kamu bejat. Kamu tuh punya otak buat berfikir. Ga’ kayak binatang. Kamu mau jadi apa ?
”Terserah aku mau jadi apa ! Yang jelas aku mau hubungan kita sampai sini aja. Lagian mas apa sekolahin aku ? ga’ kan. Ya udahlah jangan ngomong yang sok baik ma aku.”
”Nov, kamu sadar dong kamu dah bikin dosa. Aku juga ga mau kalo orang yang aku cintai masuk neraka.”
Dastya hanya diam menahan tangisnya.
”Apa yang jadi alasan kamu buat putus dari aku ?”
”Udah aku bilang, aku dah ga mau lagi terus-terusan kayak gini. Mas dah sering banget bikin aku kesel.”
”Tapi aku ga mau putus ma kamu ?”
”Udahlah mas, jangan bikin aku sedih dan ngrasa bersalah karna dah nyakitin mas. Sekarang gini aza dech, mas dah tau kan, kalo aku sering nyakitin ’n kecewain mas, mas juga tau kalo aku ga pernah bisa ngelakuin apa yang mas pengenin, aku juga dah sering banget ingkar janji. Terus apa yang bikin mas suka dan sayang ma aku ?”
”Aku suka ma kamu karna kamu tuh orangnya baik, rajin sholat, rajin bantu orang tua. Kamu ngertikan Nov, mas tuh sangat sayaaaang banget ma kamu. Mas ga mau putus ma kamu.”
”Darimana mas tahu kalo aku rajin sholat dan rajin bantu orang tua. Mas ga ngerti ’kan kalo selama ini aku Cuma bohongin mas. Biar aku terlihat baek didepan mas. Satu lagi, aku mohon kita nggak usah ketemu, aku nggak mau kesedihanku bertambah karna aku harus tau mas. Aku takut ga kan bisa ngelupain mas.”
”Nov, mas dah janji ma kamu, orang tua mas slalu ngajarin buat bisa neptin janji karna janji itu ..................”
”Karna janji itu adalah hutang ya ’kan ? Aku juga tau mas. Tapi mas tahu sendiri ’kan, aku paling ga’ bisa neptin janji yang satu itu ...............”
”Tapi aku tulus cinta ’n sayang ma kmu.”
”Berhenti bilang cinta karna aku gak pernah tau apa makna cinta itu. Yang aku tahu sekarang aku mau mengakhiri hubungan ini. Aku nggak mau lebih dekat lagi berhubungan dengan mas.”
”Nov, kalau km nggak mau ketemu mas, mas akan jemput kamu disekolah. Mas nekat demi cinta.”
”Terserah mas, aku nggak akan ada disekolah atau dirumah karna aku ada di Malang buat prakerin.”
”Nov ........... kamu akan slalu ada dihati mas.”
”Benarkah ! masih ada dihatimu seorang pembohong dan seorang yang disekolahkan hanya untuk sebuah kesia-siaan, seorang yang bejat, seorang yang punya otak tapi tak bisa berfikir ? Bodoh sekali.”
”Nov .................”
Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya, hubungan telephone mereka terputus. Roger berulangkali mencoba untuk kembali menghubungi Dastya. Tapi tak satupun panggilan dari Roger yang diterimanya.
Dastya terlanjur sakit hati. Ia tak menyangka kalo kata-kata kasar itu akan muncul dan keluar dari mulut orang yang selama ini dianggapnya baik. Dalam hatinya ia juga tak ingin mengakhiri hubungannya denganRoger.
Sang ibu yang tahu perubahan pada putrinya itu, mulai merasa khawatir. Namun hanya diamatinya dan diawasi saja Dastya. Mungkin karna sifat Dastya yang pendiam dan jarang berbagi cerita dengan keluarganya itu, ibunya Dastya hanya membiarkan sifat Dastya yang nampak tak bersemangat dan yang terlihat sedang ada masalah. Sedangkan Dastya sendiri labih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi ia tahu kalau ibunya sangat melarang dia untuk berpacaran. Meskipun sekarang ibunya sudah tahu hubungannya dengan Roger, dan tak mempermasalahkannya, ia masih takut untuk menceritakan semua kepada ibunya.
Malam itu, seperti biasa Dastya membuka buku pelajarannya untuk mengerjakan PR atau sekedar membaca saja. Mungkin karna masih penasaran dengan status hubungannya dengan Dastya. Rogerpun kembali mencoba menghubungi Dastya. Beberapa kali dicoba tak ada tanggapan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi Dastya dengan privat number.
” Hallo ................ assamu’alaikum ?”
”Wa’alaikumsalam.”
”Maaf, saya bicara dengan siapa ?”
”Ini Heri.”
”Heri ? Heri iapa ? saya nggak merasa kenal nomor kamu. Mungkin kamu salah sambung.”
”Nov, kemarin kenapa kamu ngomong gitu ma kamu ?”
Dastya yang tahu kalau sebenarnya itu Roger memilih memutuskan hubungan telephonenya. Ia masih belum bisa dan belum siap untuk berbicara dengannya.
Rogerpun tak kehabisan akal untuk dapat berbicara dengan Dastya. Kali ini ia menghubungi ayah Dastya.
”Malem Oom.”
”Malem. Ini siapa ?”
”Saya temennya Novi. Novinya ada ?”
”Oh ............ sebentar ya.”
Ayah Dastya mendatangi kamar Dastya untuk meminta pendapatnya apakah dia mau menerima telephone itu atau tidak.
”Anaknya sudah tidur” kata ayah Dastya kemudian.
”Bisa minta tolong dibangunin ga’ Oom ?”
”Sebentar ya.”
”Hallo.”
”Hallo Nov.”
“Mas kenapa telephone bapak.”
“Abis mau gimana lagi, kamu ga’ mau jawab telephoneku. Nov, aku ga’ mau putus ma kamu.”
”Mas, pake kartu apa lagi.”
”Ini mas telephone dari wartel.”
“Mas udah makan ?”
“Belum, ini tadi abis pulang kerja langsung telephone kamu. Nov, kamu jelasin maksud kamu tuh apa ngomong kayak gitu. Aku nggak suka.”
”Mas, udah ditutup aja ya, ntr habis banyak.”
”Nggak ! Jawab dulu. Nov, aku tu beneran sayang banget ma kamu. Mas dah janjikan kalau ntar lebaran pulang. Mas juga dah siapin kadonya buat kamu. Iya ini CDnya AAC juga udah mas siapin. Masa kamu tega ..........”
”Iya ....... iya aku tahu udah aja ya ntar uang mas kebuang banyak sayang kan?. Besok dech aku ganti yang telephone. Ya ...........”
”Nggak ! kamu jawab dulu, kita nggak jadi putu ’kan, Nov ..........”
”Ya, ya udah anggap aja kemarin salah ngomong.”
”Bener ya, makasih ya Nov, sekarang mas dah lega. Kamu tahu ma kepikiran terus.”
”Ya udah ya mas. Aku tutup telephonenya, kasihan mas ntar, abis banyak uangnya.”
”Ya udah, tapi ntar kita lebaran jadi ketemuan ’kan. Ma akan selalu sayang dan cinta ma kamu Nov.”
”Udah ya mas.”
”Bentar lagi ya Nov, ..........”
”Mas mau ngomong apa lagi.”
”Udah, kamu jangan mikirin. Kamu tenang aja. Toh juga bukan kamu kan yang keluar uang.”
Dastya hanya diam.
”Nov .............. kita jodoh ’kan ya.”
”Aku nggak tau.”
”Kamu kenapa gitu. Ada ibu kamu ya.”
”Iya .......... aku takut dimarahin karna ga belajar.”
”Sini biar aku yang ngomong sama ibu kamu.”
”Ah ...... nggak usah.”
”Nov, ntar aku maen ke rumah ya.”
”Jangan dech. Aku janji, kali ini bener-bener bakalan nemuin ma. Tapi jangan kerumah.”
”Iya .......... iya ........... udah gitu aja ya. Assalamu’alaikum.”
”Wassalamu’alaikum.”
Hubungan telephone itupun terputus. Emang dasar, yang namanya cewek, nggak pernah bia lepas dech dari rayuan gombal cowok. Termasuk cewek yang satu ini. Meski didalam hatinya masih bergejolak rasa marah dan kesal, tapi tetep aja juga luluh dengan kata-kata manis si Roger itu.
”Siapa, Dastya ?”
”Ehm ............. itu lho bu, yang pernah aku ceritain.”
”Nak Jakarta itu ?”
”He – eh.”
”Emangnya kenapa ?”
”Sebenarnya mau Dastya putusin aja, tapi .......”
”Makanya jangan sembarangan temenan ma cowok.”
Tapi sepatah dua patah kata dijaga. Satu lagi jangan sampe nyakitin perasaan cowok. Mereka bisa ngelakuin apa aja. Bisa aja ’kan kamu diapa-apain ma mereka. Dastya hanya diam mendengarkan ibunya.
”Ibu sich, ga pernah nglarang kamu buat deket atau pacaran ma cowok. Tapi hati-hati, jangan suka ditelephone ma cowok apalagi kamu belum tahu dan kenal sama mereka.”
”Iya bu ..........”
”Kok dia bisa tau nomor telephonenya bapak ?”
”Kemarin itu waktu handphonenya belum diganti, ’kan ga bisa buat telephonan jadi aku kasih dia nomornya bapak, kalau mau telephone ’kan bisa jelas.”
”Ya udah, ibu sich Cuma bisa bilang ati-ati aja maen sama cowok, ntar kalau ga bener bisa-bisa kamu yang dimaenin.”
Sekali lagi Dastya hanya diam mendengarkan nasihat ibunya. Dalam hatinya ia membenarkan apa kata ibunya. Apalagi belakangan terakhir ia merasa telah dipermainkan. Tapi yang namanya Dastya, ya.......... susah sekali mengerti siapa dia sebenarnya. Terkadang ia bisa sangat baik, tapi terkadang ia seperti seorang yang tak pernah mengerti sesuatu hal yang baik.
Tapi mudah sekali menyadarkan Dastya, bila sepertinya dia sudah mulai berbelok dari jalan yang seharusnya ia lewati. Hanya dengan sekali saja ibunya mengatakan sesuatu dengan nada marah atau sekiranya raut muka ibunya mulai memperlihatkan tanda-tanda kemarahan, maka Dastya seperti sebuah siput yang bersembunyi dibalik cangkangnya bila ia merasa ada gangguan dari luar.
Dastya lebih suka menekan perasaannya, mengalah pada keadaan. Pada dasarnya Dastya hanya seorang anak perempuan yang mudh sekali merasa iri terhadap orang lain. Dilihtnya teman-temannya dengan mudah bergaul dengan orang lain, jalan-jalan kesana kemari ketempat yang selalu berbeda tiap kali, berbelanja, membeli makanan dikantin, dan semua saja apa yang ada dan apa yang dilakukan temannya juga ingin dia lakukan.
Tapi Dastya masih bisa mengendalikan dirinya dari keinginan-keinginan itu. Dia selalu ingat apa kata ibunya setiap kali pikirannya berkecamuk ingin melakukan itu semua.
”Mereka melakukan itu semua karna mereka anak orang kaya, mereka bisa melakukannya dengan jerih payah orang tua. Kalau dari kecil mereka terbiasa seperti itu bagaimana besarnya. Zaman sekarang cari uang itu tidak mudah, bahkan hanya untuk 1000 perakpun orang-orang harus bener-bener bekerja keras. Jangan pernah memperbudak orang tuamu sendiri, meski mereka sendiri tidak pernah merasa diperbudak. Mereka, para orang tua menginginkan kebahagiaan anaknya. Tapi sebagian dengan cara yang salah.”
Meski sebenarnya Dastya mampu melakukan apa yang dilakukan teman-temannya, tapi rasa rendah diri dan nasehat dari ibunya itu selalu menjadi penghalangnya. Yang selalu membunuh keinginan-keinginan Dastya.
* * *





