BAB SATU
Mentari mulai muncul di ufuk timur. Burung – burung bertengger di atas pohon, bernyanyi menyambut datangnya pagi. Angin segar berhembus perlahan menggoyangkan dedaunan dan rumput – rumput hijau yang masih basah karena guyuran air hujan semalam.
Meski dingin merasuk sampai ke tulang, semangat menghadapi UAN membuat semua terasa segar dan menyenangkan. Keceriaanpun terpancar dari wajah Dastya, siswi SMP Negeri 2 Ponorogo. Tak terbersit kecemasan ataupun kepanikan dari wajahnya. Telah tiga kali ujian semacam ini ia lakukan dan hasilnya selalu memuaskan.
Satu yang selalu jadi penyemangat belajarnya, Elga. Juga siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Ponorogo teman sekelas Dastya. Sudah hampir 2 tahun ini dia menyukainya. Dia selalu ingin terlihat baik di depan Elga. Bahkan ia sering menyembunyikan ketakutan dalam mengerjakan ujian try out.
Namun sayang semua itu hanya dipendamnya dalam hati. Tak ada keberanian dalam hatinya untuk mengungkapkan perasaannya.
Dan, hari ini dia akan kembali bertemu dengannya dalam keadaan yang berbeda. Dalam keadaan yang cukup menegangkan
”Hallo Tya, kamu tenang amat sich.”
”Ya aku harus kenapa?”
”Kamu kok ga’ panik, takut apa cemas lah minimal.”
”Ya....klo aku Cuma nurutin perasaan, aku ga’ bakalan berhasil ngerjain soal, kan pikirannya jadi terganggu.”
”Bener juga sich.”
”Ya udahlah, masih da cukup waktu untuk belajar.”
”Yah....kalau gini mah ga’ bakalan masuk otak.”
”Kenapa enggak. Ya buat ngefresin lagi yang semalam. Pasti ada yang lupa kan.”
Bel berdenting. Waktu ujian pun dimulai. Hening. Semua cermat dan berkonsentrasi pada soal mereka. Meski sesekali menoleh ke kanan, kiri dan belakang untuk mencari jawaban.
Dan begitulah terjadi selama tiga hari. Rasa tenang pun hadir dalam tiap hati siswa siswi. Walaupun mereka masih cemas dan takut akan hasil yang diperoleh.
Hari – hari pun berlalu, menunggu kepastian kelulusan. Dastya nampaknya tidak lagi memikirkan Elga. Ia lebih memilih untuk mempersiapkan dirinya masuk ke sekolah menengah atas.
Dan akhirnya hari yang ditunggu pun datang. Halaman depan SMP Negeri 2 Ponorogo dipenuhi oelh siswa – siswinya. Papan bercat biru yang berdiri tegak menjadi pusat perhatian. Mereka berdesak – desakan mendekati papan yang akan menjadi saksi bisu hasil belajar mereka selama tiga tahun terakhir. Dengan langkah tenang dan santai diimbangi gejolak dalam hatinya ia mencoba menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh tubuh – tubuh manusia di depan papan pengumuman itu. Diletakkannya jari telunjuk di papan dan menariknya perlahan ke bawah. Namun wajahnya tampak tak secerah sebelumnya. Entah apa yang membuatnya begitu. Padahal namanya tertulis jelas berada di baris teratas.
”Ga ! yo cepetan........ lama banget sich.”
”Iya.....iya sebentar tho tak parkirin motorku dulu”
Elga dan Wahyu, temannya . bergabung bersama yang lain untuk melihat pengumuman. Disana ia berpapasan dengan Dastya.
Dastya yang mendengar suara Elga, menoleh. Saat itu Elga dan Dastya berpandangan sejenak. Merasa ada sesuatu yang aneh, Dastya segera memalingkan mukanya . ”Permisi.” ucapnya sambil meninggalkan Elga. Elga hanya diam melihat kepergian Dastya.
”Ga !”
”Eh ...... napa Yu ?”
”Namamu mana ? kok ga’ da.”
”Masa sich. Jangan bercanda.”
”Coba cari kalau ada.”
Dengan ketakutan, Elga maulai mencoba mancari. Tak lama kemudian. ”Beneran Yu, ga’ ada . gimana nich aku ga’ lulus dong.”
”Ya aku juga ga’ tau. Kalaupun ga’ lulus pastinya kan juga ditempel disini. Kamu kelas 3D kan ?”
”Iya bener, tapi ....ini kan cuma......”
”Berarti ........”
”Pasti ada yang nyobek.” ucap mereka bersamaan.”
Elga dan Wahyu mencoba mencari anak kelas 3D. Dan benar saja satu lembar kertas HVS ada ditangan mereka.
”Sini aku lihat. Gila ya kalian, kalau ketahuan guru pasti dimarahi. Tinggal berapa hari lagi aja, masih suka bikin kesalahan. Tinggalin dong kesan baik baik anak 3D.”
”Alah gaya loe, Ga ...Ga.... Hebat juga loe, bisa ada dibaris pertama.”
”Ye .... nomor absen gue kan emang nomor satu.”
”Bukan itu, ni lihat peringkatnya.”
”Ya ...... emang satu sich, tapi kan kalu dibanding ma kelas yang lain nilaiku paling bawah.”
”Yo wislah ...... ke kantin yuk.”
”Kamu yang bayarin ya.”
”Enak aja ya bayar sendiri dong, lha wong makannya aja sendiri.”
* * *
”Tya lagi ngelamunin apaan sich.”
”Ha ...... enggak. Sapa yang nglamun.”
”O ...... aku tahu, kamu pasti lagi ngelamunin Elga ya, jangan bohong dech. Dari tadikan kamu ngeliatin bangkunya Elga.”
”Enggak ...... ah .... ”
”Aku saranin ya, kalau kamu suka ma dia burun diomongin ntar keburu ga’ ketemu lagi lho. Ntar nyesel lho.”
”Enggak ! apaan sich.”
”Ye ...... jangan marah gitu dong.”
”Tya, selamat ya kamu yang jadi peringkat pertama. By the way mu ngelanjutin ke mana ?” ucap Elga
“Ha …. Makasih. Nggak tau masih pilih – pilih.”
”Ya udah. Duluan ya.”
”Ya.”
”Tu kan, pasti dia diam – diam juga suka ma kamu coba kalau ga’ mana mungkin dia perhatian kayak gitu.”
”Udahlah Nin, ga’ usah dibahas. Kamu mau pulang ga’.”
”Biar aku yang omongin ya. Kalau diem – dieman kayak gini ga’ bakalan ketahuan Ga ......! Elga !”
”Ssst .....apaan sich.”
”Ya ..... iya gitu az.”
”Emang kenapa sich Tya, kamu susah banget tinggal ngomong gitu aza. Toh sepertinya dia juga da rasa ma kamu.”
”Ya nggak semudah itu kali Ras. Aku emang suka ma dia, tapi perasaanku mengatakan kalau aku cuma bakalan sakit hati aja.”
”Kok gitu.”
”Iya, Tya kok bisa gitu, kamu kan belum coba.”
”Ya sekarang mana ada sich yang suka ma cewek kayak aku. Lagian banyak kan cewek-cewek yang lebih cantik dan lebih segalanya yang juga suka sama Elga. Pasti dong dia bakalan milih mereka.”
”Kamu kok mikirnya gitu. Emangnya kamu bisa baca pikiran orang .... ya .... kalaupun kamu ga’ secantik mereka, tapi mereka ga’ sepandai dan sebaik kamu. Ya ga’ Nin.”
”100% betul banget.”
”Alah udah ga’ usah ngomongin itu. Gimana ni kalian mau ngelanjutin ke SMA mana ?”
”Kamu sndiri ?”
”Ye ..... ditanya balik nanya. Kalau aku sich maunya ke SMA Negeri 2 yang deket taman kota itu.”
”Kalau kita dah sepakat buat ngelanjutin ke SMKN !, tapi kelihatannya bakalan coba dulu ke SMAN 2 juga.”
”Yap ..... bener banget.”
”Ngomong-ngomong Elga kemana ya ?”
”Iya .... ya kalau ntar sato skul lagi kan pasti bakalan seru. Cinta kan tetap bersemi dihati bila dekat dengan pujaan hati yang selalu hadir dalam mimpi.”
”Cie ..... puitis banget.”
”Udah .... udah. Aku pulang duluan ya.”
”Tya, besok kalau mau daftar kita ikutan ya.”
”Pasti.”
Hanya berselang beberapa hari, mereka bertiga mencalonkan diri sebagai siswa SMAN 2 Ponorogo. Namun sayangnya pada hari pengumuman, ternyata Dastya tidak diterima di SMA favoritnya itu. Dan akhirnya ia harus menuruti orang tuanya. Setelah lulus nanti pastilah Dastya akan memperoleh keterampilan dan kemampuan berusaha, bekerja dan berwirausaha tanpa harus kuliah.
Tanpa ia duga ternyata banyak juga peminat sekolah kejuruan. Anggapannya selama ini bahwa sekolah kejuruan hanya sebuah sekolah yang tidak bergengsi adalah salah. Sebaliknya dari sekolah kejuruan inilah banyak terlahir embrio-embrio pengusaha sukses.
Karena terlalu banyaknya pendaftar, untuk mendapatkan selembar stofmap berisi formulir haruslh berdesak-desakan dan sabar menunggu. Disaat itulah pandangan Dastya beradu dengan salah satu kakak kelasnya oh ..... tidak masih calon kakak kelasnya, yang saat itu bertugas menjual formulir.
Ia pun segera tersadar saat formulir didalam stopmap merah berpindah ketangannya. Dan segeralah ia mengikuti prosedur proses penerimaan siswa baru di sekolah itu.
Dan ...... akhirnya diterimalah dia sebagai salah satu siswi SMKN 1 Ponorogo. Masa Orientasi Siswa (MOS) harus ia jalani sebelum ia benar-benar menjadi murid sekolah kejuruan itu.
Selama seminggu penuh ia mengikutinya. Gertakan, cacian, perintah, larangan dan semuanya yang telah diatur oleh pengurus OSIS haruslah ditaati. Namun semuanya itu nampaknya tak membuat Dasty tertekan. Ia justru tenang-tenang saja menghadapi semuanya, apalagi kakak kelas yang waktu itu dilihatnyaselalu tampil di lapangan.
Perasaannya pun berpindah ke lain hati, bila ia dulu menambatkan hatinya pada Elga, kini berubah arah. Ketenangan dan sifat pendiam kakak kelasnya itu membuat Dastya perlahan melupakan Elga. Diam-diam dia suka memperhatikan kakak kelasnya itu. Pernah suatu kali ia berpapasan dengan kakak kelasnya itu.
”Siang kak.”
”Siang. Kamu nak kelas satu apa ? ngga’ penting jawabannya. Ini kak bisa minta tolong ga’. Bilangin ke kak Aprilia di tunggu kak Bantoro di kantin ya ..... makasih.”
”Eh .... kak, kak Aprilia kelas berapa ?
”Udah kamu cari aja di ruang OSIS pasti ada.”
Bantoro, kakak kelas Dastya itu meninggalkannya dan menuju ke kantin. Dastya pun menyampaikan pesan kakak kelasnya itu.
* * *
BAB DUA
Hari semakin cerah saja. Semangatpun terus bertambah. Meski lemas badan terasa, menahan amarah. Karena perut yang terus berontak dan berteriak minta diisi. Namun bila teringat akan hadirnya hari kemenangan yang tinggal menghitung waktu, lupalah semua perasaan itu.
Satu hal yang membuatnya bahagia hari itu. Ayah Dastya memberinya sebuah teman mungil. Banyak diantara temannya yang telah memiliki, tapi sepertinya tak ada rasa ’greget’ dalam hatinya untuk memilikinya juga. Karena ia berfikir pastilah akan ada dampak buruk yang akan diterima bila teman mungilnya itu ada bersamanya
”Tya, kamu mau pegang handphone ?”
”Ngga’ usahlah pak, aku kan ga’ bisa pake. Lagian juga kan Cuma satu ntar kalau temennya bapak mau apa-apa trus hpnya tk pegang kan pasti repot.”
”Ya ... ntar kan bisa minta bantuan mbak Sri atau kalau ngga’ bapak ajarin. Beberapa hari yang lalu bapak nemuin hp dijalan. Nih ..... juga udah bapak service bisa dipake.”
”Terus caranya ?”
Akhirnya mau ga’ mau diterima juga hp itu. Seneng juga sebenarnya ketia ia mendapatkannya.
”Awas aja nanti kalau nilainya turun.”
”Insya Allah enggak dech bu.”
”Ya udah kamu coba, beneran dah bisa belum.”
Dastya pun masuk ke dalam kamarnya. Mencoba mengoperasikan dan bermain dengan teman mungilnya itu. Karena tak tau nomor siapa yang akan pertama kali ia hubungi, akhirnya ditekan saja asal-asalan nomor yang ada di handphonenya.
Serangkaian nomor cantik yang mudah dihafalpun, berulang kali ia coba. Lama tak ada tanggapan ia pun berhenti.
”Hah ..... males amat kalau kayak gini mending juga baca buku.”
Malamnya ia coba lagi dan terus hingga esok dan esok harinya lagi. Hingga akhirnya saat ia mulai jenuh. Bernyanyilah teman mungilnya itu.
”Halo ...” Terdengar suara dari seberang
”Halo juga.” Sahut Dastya yang kemudian dimatikan.
Tak lama kemudian, terdengar lagi bunyi handphonenya. Sebuah pesan singkat muncul dilayar kacanya.
”Hai cewek, ni sapa ya. Blz
Dastya pun membalasnya :
Hai juga ni sapa ya. Blz
Cowok ganteng + cakep. Kamu ditanya kok balik nanya. Blz
Masa sich jangan bohong. Cakepnya kayak apa? Lez
Ya udah kalau ga’ percaya, kamu pasti bakalan naksir aku kalau kamu dah tau aku
Ye ..... GR kalau kamu cowok ganteng + cakep pasti punya nama dong
Namaq Roger. Kamu itu lho ditanya dari tadi ga’ mau jawab. Nanya melulu.
He .... he ... namaq Novi. Eh … kamu beneran Roger ya Roger Danuarta bukan ? Aku fans berat kamu lho. Kenapa ko’ kemarin Q telp ga’ diangkat sich.
Sorry, kemarin Q lagi jumpa fans di Surabaya. Jadi ga’ sempet sms juga.
Dastya :
Surabaya sebelah mana ? Q ko’ ga’ tau. Cz Q kan lagi di Surabaya juga di rumah nenek aq. Q kan ga’ pernah ketinggalan gosip tentang km lho. Film kamu juga aku pasti lihat.
Lama tak ada balasan dari si Roger. Dastya pun pergi ke dapur membantu ibunya. Dan sorenya terdengar lagi nyanyian si mungil.
”Hallo”
”Hallo juga, ni dengan siapa ya.”
”Kan aku dah bilang namaq Novi.”
Novi, kamu lagi dimana ?”
”Yah .... kamu ini punya daya ingatan yang lemah ya.”
”Ya .... ga’ pa-pa dong ku kan pengen denger suaramu.”
”Eh ..... maaf ya, aku harus siap-siap soalnya mau pulang ke Ponorogo. Tu dah dipanggil ma ibu. Dah dulu ya.”
Dastya meninggalkan hpnya dan ke kamar mandi. Bersiap untuk takbiran keliling nanti malam.
”Dastya !”
”Ya bu. Ada apa ?”
”Kamu rapikan mejanya ya nanti kalau dah selesai mandi, trus sekalian di seterika bajunya buat besok.”
”Ya bu !”
Selesai mandipun Dastya segera menyelesaikan tugas dari ibunya. Dan semuanya selesai sebelum adzan maghrib berkumandang. Teman mungil Dastya kembali bernyanyi.
”Halo Nov.”
”Halo juga. Da pa, belum juga selesai adzan maghrib.”
”Enggak Cuma mau nanya dah sampai mana.”
”Baru sampai depn pagar.”
”O .... ya udah, ati-ati ya di jalan.”
”Iya .... makasih.”
Selang beberapa jam kemudian, hp Dastya bergetar. Pesan singkat kembali memenuhi layar. Ternyata dari Roger lagi
Met malam Nov, lagi di jalan ya. Mau kan perjalanannya ditemenin, pasti mau dong, mana ada sich yang mau nolak ajakan cowok cakep. Ya ga’. Blz.
I dih .... tapi ga’ pa-pa juga sich. Eh .... coba dong lihat atap rumahnya ada yang bolong ga’. He .... he .... 100x
Kamu masih sekolah atau kuliah atau kerja. Blz
Aku masih sekolah kelas 1 SMA. Ada lagi yang mau di tanyakan
Untuk hari ini cukup itu az. Sekli lagi aku pesenin jangan tidur malam-malam n hati-hati di jalan.
Iya mas Roger. Perhatian amat kayak cowok aq az.
Btw ngomong soal cowok dah punya cowok pa blm. Blz.
Emang kenapa. Q masih terlalu kecil buat pacaran. Belum boleh juga ma ortu. Btw kapan lagi main film. Sekarang ko’ dh jarang masuk tv. Atau lagu kuliah ya.
Ga’ juga, Cuma belum ada job z. Beneran ni, Q juga lagi jomblo lho. Kamu mau ga’ jadi cewek aq.
Yang bener az. Km kan belum kenal ma aq. Kalau bercanda yang bagusan dikit dong.
Siapa yang bercanda. Nah .... karena kita belum saling kenal kita ketemuan yuk.
Boleh sich, tapi lihat ntar az.
Ya udah up to you. Aq tidur dulu ya, dah malam bgt. Besok kan harus bangun pagi buat sholat id.
Karena tak ada balasan dari Roger, Dastya segera menyelimuti dirinya. Memejamkan mata, berkelana ke dunia impian
Keesokan harinya sebelum adzan subuh, Dastya sudah bangun. Seperti biasa ia harus membantu ibunya mempersiapkan semua. Sayangnya kali ini dia tidak bisa mengikuti sholat id yang hanya dilakukan satu kali dalam satu tahun itu.
Disaat semua sedang ke masjid, Dastya dirumah sendiri. Menyiapkan makan pagi untuk orang tua dan adiknya jika mereka pulang dari masjid nanti. Dan berselang beberapa waktu kemudian mereka pulang. Sebagai mana kebiasaan umt islam, merekapun bersilaturrahmi ke rumah nenek dan kakek terlebih dahulu barulah ke rumah tetangga.
Sepertinya kebahagiaan Dastya hari itu masih kurang. Karena ia tak bisa bersilaturrahmi ke rumah kakek dan neneknya yang ada di luar kota.
Malamya, teman mungil Dastya kembali bernyanyi. Nampaknya dari Roger lagi.
”Hallo...”
”Halo Novi, minal ’aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Maafin kesalahan-kesalahanku ya.”
“Minal aidzin wal faizin juga. Sama-sama kita saling memaafkan.”
”Nov. Gimana kamu jadi ketemu ga’ ma aku.”
”Ha .... gimana ya. Lagian ini juga dah malem, mana boleh aku keluar pa lagi ni lagi ramai-ramainya.”
”Ya terus gimana dong. Masa kamu mau aku penasaran.”
”Gimana kalau kita ketemunya di scol az. Sekalian kan ntar pasti banyak juga fans-fans kamu di scol aq.”
”Aq ga’ mau ketemu di scol, aku maunya sekarang.”
”Ya aku beneran ga bisa. Udah dulu ya ada tamu.”
”Nov ......”
Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya Dastya keburu menutup telephonnya. Ia pun lebih memilih mengirim pesan singkat karena rasa bersalahnya.
Maaf, Q dah bikin kamu kecewa. Tapi sejujurnya ku takut klo ntar gimana-gimana. Q juga mau jujur satu hal ma kamu klo kemarin tu sebenarnya ku ga’ da di Surabaya. Q juga bukan penggemar berat km tp Q ngefans ma kamu. Maaf ya, Q ga’ da maksud buat ngebohongin kamu. Moga kamu mau maafin aq.
Tak ada balasan dari Roger dan itu membuat Dastya merasa sangat bersalah.
Aq tau pasti gimana rasanya dibohongin karna aku juga ga’ mau dibohongin tapi beneran Q ga da maksud buat ngebohongin kamu. Please maafin q.
Tetep saja tak ada balasan darinya.
Please, setidaknya balas smsku. Biar aku tahu kamu mau maafin aq pa ga’. Kamu boleh marah-marah atau apa.
Hingga malam mulai larut Roger tak juga kunjung membalas sms Dastya. Hati Dastya mulai dipenuhi rasa takut dan bersalah.
Dikirimnya sebuah puisi karyanya sendiri.
Maafin Aku
Betapa hati ini tak bahagia
Mendengar suara merdunya
Benda mungil nan mewah ini
T’lah membantuku
Berkomunikasi dengannya
Dia yang s’lama ini ku idolakan
Yang s’lama ini hadir dalam anganku
Kini menyapaku
Namun karna dustaku
Karna kebodohanku
Ia pergi meninggalkanku
Tak lagi kudengar kesantunan suaranya
Tak lagi kubaca kata-kata manis darinya
Maaf ...................
Maafkan aku
Masih kunantikan maaf darimu
Ku tahu kau bukanlah pendendam
Hingga keesokan harinyapun tak juga ada balasan. Dastya pun akhirnya mencoba berbicara pada Roger dengan menelfonnya
”Halo ....”
”Halo ....”
”Maafin yang kemarin ya, Q dah bohong ma kamu tapi beneran Q ga’ da maksud buat bohong.”
Kenapa kamu bohong.”
”Karna ku ga’ tau harus ngomong apa. Tapi kan sekarang Q dah minta maaf, masa kamu ga’ mau maafin aq.”
”Ya udah tak maafin, tapi jangan di ulang lagi ya.”
”Iya .....”
”Bener ....”
”Iya.”
”Janji.”
”Ya janji. Udah dulu ya, makasih ya dah mau maafin aq. Insya Allah ga’ kan Q ulangin.”
Selesai berkata dan mengucapkan terima kasih. Dastya memutuskan hubungan telefonnya.
”Hah ..... lega juga kalau udah gini.”
* * *
Mentari t’lah berganti rembulan. Siangpun t’lah berganti malam. Bintang bertaburan bak permata berkerlipan di hamparan permadani hitam. Katak-katak bernyanyi bersahutan, kunang-kunang berterbangan pengganti cahaya lampu sebagai penerang malam.
Teman mungil Dastya pun mulai bernyanyi lagi. Ternyata pesan singkat dari Roger memenuhi layar.
Met mlm cwek, Gi ngp ? keluar yuk. Masa sich kamu ga’ mau ketemu ma cwok cakep
Pokoknya keluar az ke aloon-aloon kek ntar kita pasti bisa ketemuan ya. Jangan bikin aku penasaran
Aq jadi ragu dech km beneran RD bukan sich.
Btw tawaranq yang kemarin masih berlaku . aq pengen ngenl kamu lebih dekat.
Sekali lagi bukannya apa-apa tapi q ga’ mau ntar kamu kecewa. Lagian kenapa ga’ balik lagi az ma Agnes.
Maksud kamu apa sich. Aq ga’ bakalan kecewa kok. Ya udah klo kamu ga’ mau. Q ga’ maksa.
Kamu marah ya. Maaf, aq bener-bener ga’ mau kamu kecewa klo ntar ketemu ma aq.
Tak ada balasan dari si Roger, kegiatan sms-an mereka berhenti.
bersambung .......................... (1)
mencintai sebuah bayangan
16.44 |





