Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS

mencintai sebuah bayangan

BAB ENAM

Kisah Dastya mulai menarik untuk diamati,tapi terkadang membisankan bila harus melihat kebodohan dan kepolosan Dastya. Waktu terus berjalan tak terasa empat bulan telah berlalu. Dan hubungannya dengan Roger masih belum banyak berubah.
Tanpa sepengetahuannya, banyak teman-temannya yang memberikan nomor handphone Dastya ke teman-teman cowok mereka. Perlahan, Dastya mulai bertemanan dengan mereka. Kini ia tak lagi berharap Roger akan benar-benar menjadi miliknya. Ia juga tidak terlalu memikirkannya.
Dastya justru lebih mendapat banyak perhatian dari teman-teman barunya. Mereka yang selalu menjadi tempat curhat, hiburan dan juga sebagai tempat bertanya.
Banyak pula diantara mereka yang mengaku sangat senang bisa berkenalan dengan gadis seperti Dastya.
”Gimana, Ndy. Dastya orangnya ?”
”Asyik, pinter, ramah, sopan dan juga alim.”
”Dah dapat apa aja dari Dastya ?”
”Makudnya ? hmm ........ apa ya palingan juga aku sekarang jadi suka puasa Senin-Kamis, bisa mikir tentang ilmu-ilmu politik, sosial, budaya. Terus apa ya ....... banyak banget dech.”
”Hebat dong ya. Tapi kok bisa, emang kalian belajar bareng kok sampe bisa tentang sospol dan budaya ?”
”Nggak juga. Tapi dia suka bikin artikel dan pembahasannya pasti soal itu. Aku jadi narasumber gitu. Padahal aku juga nggak tau apa-apa ?”
”Ya iyalah palingan jawabanmu juga ngawur. Emang kamu bisa apa ? Palingan ngebuang-buang waktu dan uang.”
”Persis seperti yang diomongin Dastya. Dia suka nasehatin aku gitu. Makanya sekarang ya ....... aku dah da perubahan dikit-dikit.”
”Ye ...... ye .......... ntar kalo jatuh cinta gimana ?”
”Jujur aja, aku mau-mau aja ya tapi dianya gimana ?”
”Ya kamu tanya dong ?”
”Kemarin sempat aku singgung kalo malem minggu acaranya kemana trus dah diapelin belum.”
”Terus jawabnya ?”
”Dia bilang ga kemana-mana, ya aku tanya lagi emang ga punya cowok ?”
”Jawabnya ?”
”Udah, tapi lagi keluar kota gitu.”
”Ya udah kalo gitu ya temenan aja.”
”Gimana, kemarin katanya dia lagi single ?”
”Ya ........ aku nggak tau ya.”
”Ah ..........”

* * *
Beda lagi kisah Dastya hari itu. Di layar handphonenya muncul sederetan nomor yang tak dikenalnya. Sekali ia biarkan. Mungkin Cuma orang iseng, pikirnya. Tapi nomor itu kembali muncul sejenak lalu menghilang diikuti sebuah pesan singkat.
”Hai angkat dong. Aq mau kenalan nich.”
Sesaat setelah menutup handphonenya, Dastya kembali mendengar nyanyian lagu selalu mengalah dari seventeen band. Dastya menerima panggilan itu.
”Hallo.”
”Hallo, siapa ini ?” spa Dastya dengan lembut.
”Aku Haris, kamu siapa ?”
”Aku Dastya.”
”Oh ......... Dastya. Salam kenal aja ya.”
”Salam kenal juga. Kamu dapet nomorku dari mana ?”
”Dari Dani.”
”Apa yang kamu maksud dani yang sekolahnya SMA 1 yang rumahnya Sambit. Kamu siapanya dia, temennya ya ?”
”Iya. Kok tahu. Eh .... rumah kamu mana ?”
”Tanya Dian aja. Dia tahu, kalo nggak tanya ceweknya.”
”Emang Dian masih sama ceweknya itu ?”
”Setahuku sich mereka belum pisah. Emang kenapa ? Kamu juga naksir ya ma dia.”
”Namanya siapa dan juga dia sekolah dimana, rumahnya ?”
”Gimana sich nanya tuh satu-satu aja. Lagian kamu ngebet bangat. Kenapa ga tanya Dani aja katanya kalian temenan.”
”Dia nggak mau cerita.”
”Namanya Eci, dia sekolah di SMK Negeri 1 dan rumahnya Tonatan.”
”Rumah kamu juga Tonatan ya ? Deket nggak sama rumahnya Eci ?”
”Rumahku memang daerah situ. Tapi jauh dari Eci.”
”Oh .......... ya udah thanks ya.”
“Udah gitu aja.”
Tut. Tut. Tut. Haris menutup telephonenya. Dastya segera saja menyiapkan buku pelajaran untuk besok. Sekalian meminta penjelasan dari Eci.
Dastya membaringkan tubuhnya diatas kasur. Mengambil guling dan menarik selimutnya sampai batas lehernya. Tak lama kemudian ia telah berada di dunia khayal, dunia mimpinya.

* * *
Nyanyian koor ayam-ayam jago miliknya dan milik tetangganya telah membangunkannya, memanggil dari dunia lain, dunia mimpinya semalam. Pancaran sinar mentari yang menembus kaca jendela kamarnya membuat ia harus menjauh dari singgasana mimpinya.
Masih dengan teman setianya, sejak ia duduk di kelas 4 SD, ia berangkat kesekolah. Setelah sebelumnya berpamitan pada ibunya.
”Bu, Tya berangkat.”
”Hati-hati dijalan.”
”Ya bu.”
”Let’s go.” Katanya pada teman setianya itu.
”Mbak Tya ! tungguin aku ikut.”
”Cepetan, aku dah kesiangan nich.”
Dastya dan Airin berangkat kesekolah bersama. Masing-masing dengan ’si teman’ setianya. Sekolah mereka memang berbeda, tapi mereka melalui jalan yang sama.
Dastya tak lagi berangkat bersama Wina, ia mulai bosan menunggunya. Ia menyusuri, melewati jalan menuju ke sekolahnya hanya dengan si teman setianya. Terkadang bila ia secara kebetulan bertemu dengan teman sekolahnya, mereka berangkat bersama walau belum begitu kenal dekat.
Bajupun basah oleh keringat. Andaipun pake make up, pastilah sudah luntur diperjalanan, sebelum sampai disekolah. Tapi sayangnya Dastya tak mengenakannya, jadi berangkat dan sampai disekolahpun wajahnya takkan berubah. Palingan juga lembab karna keringat.
Jarum jam berjalan seperti biasa. Waktu-waktu disekolah masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Yang terkadang membuat Dastya merasa bosan. Meski ’batereinya’ hari itu sedang ga’ full, Dastya masih sempat memanis-maniskan mukanya didepan teman-temannya dan para guru-guru yangberpapasan dengannya.
Tapi, sepertinya ada yang lupa hari itu. Dastya segera saja berlari kearah halte bus, tempat Eci biasa menunggu bus jemputannya, ketika ia ingat sesuatu yang hampir dilupakannya. Tapi sayangnya, Eci sudah keburu naik bus. Dengan wajah letih dan semakin berkurang ’batereinya’ ia kembali kesekolah mengambil ’si teman setianya.”
”Darimana, Tya ?”
”Nyari Eci, ke halte.”
”Ketemu !”
”Nggak, dia udah keburu naik bus.”
”Emangnya ada apaan sich. Segitu pentingnya.”
”Enggak juga. Cuma mau nanya sesuatu.”
”Oh ......... pulang sekarang aja yuk.”
Masih dengan ’si teman setianya’ Dastya pulang sekolah. Ditengah perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang cowok yang sebaya dengannya. Dia yang mengendarai sepeda motor sengaja mengemudikan motornya agar seirama dengan gerakan ’si teman setia’ Dastya.
”Hai, kamu Dastya ya ?”
”Hah ....... kamu siapa ?”
”Aku Andy.”
”Oh ....... bukan, aku bukan Dastya aku Tasya.”
”Masa sich, kamu ga bohong ’kan ?”
”Nggak, ngapain aku bohong.”
”Ya udah kalo gitu, aku duluan ya. Makasih.”
”Ya.”
Cowok yang mengaku Andy itu akhirnya memilih untuk meninggalkan Dastya dengan memacu motornya.
”Hah ........ ya Tuhan, semoga dia percaya kata-kataku.”
”Emang dia siapa Tya ?” tanya Nur yang sejak tadi diam
”Andy, temennya Rino mungkin.”
”Terus siapa Rino ?”
”Rino itu temen sekelasnya temen Wina.”
”Gimana sich.”
”Eh ga, salah bukan gitu. Maksud aku, Wina punya temen sekelas, namanya siapa aku ga tau, terus temennya itu punya temen lagi, ga tau dech temen pa tetangganya, ya pokoknya gitulah. Terus ’kan Wina pake handphoneku buat sms dia. Paham ga ?”
”Enggak.”
”Ya udahlah ga penting kok. Tapi yang aku bingungin sekarang, dia kok bisa nebak kalo aku Dastya, dari mana coba.”
Nur hanya mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Dastya. Dia emang satu-satunya temen yang Dastya anggap sangat baik, bahkan Dastya ngrasa dia lebih baik dari Wina.
Akhirnya diperempatan jalan mereka berpisah. Rumah mereka berjarak cukup jauh. Mereka hanya akan melewati jalan yang sama, bersama-sama ketika pulang sekolah.
Diperjalanan pulang, Dastya terus saja memikirkan persoalan tadi. Dia emang paling sulit kalo diajakin keluar sama cowok. Jangankan untuk keluar, bertemu bahkan buat ngobrol ditelephone aja dia ogah-ogahan. Sulitnya minta ampun. Dia emang gak bisa ngerti gimana berteman yang baik. Apalagi gara-gara Airin, setiap kali tau kalo Dastya lagi smsan atau abis kenal sama cowok, huh ......... pasti dech langsung diinterogasi sama dia.
Hai, met malem. Cowok barunya mbak Dastya ya ! sebuah pesan singkat dikirimkannya pada sederetan number.
Bukan kok, ini siapa ? Emang mbak Dastya bilang ga ya, blasan dari nomor itu.
Iya dia bila ga kok. Aku adeknya. Namaq Airin
Eh ........ iya ......... tapi jangan bilang ya kalo aq sms, balas Airin lagi.
Oh ....... Airin. Airin kelas berapa ?
Kembali dibalasnya.
Aku masih SMP
Balas Airin.
Entah apa lgi yang mereka bicarakan tentang Dastya. Dan karna kata-kata dalam sms Airin itulah, Dastya nggak berani lagi untuk membalas setiap sms yang datang dari nomor itu. Seperti sms ini :
Dastya, emang kamu bener suka ma aku. Aku sebenarnya juga suka tapi aku dah ada yang punya, maaf ya.
Ia biarkan sms itu hingga beberapa hari tanpa ia balas.
BAB TUJUH

Handphone Dastya kembali berdering, ketikaia baru saja tiba dirumah. Sebuah pesan singkat memenuhi layar handphonenya. Dan masih dari nomor yang kemarin.
Tya, kamu marah ya ma aku. Aku bener-bener minta maaf aku harap kamu nggak kecewa dengan kata-kataku kemarin dan semoga kita bisa jadi temen yang baik. Please lez.
Dastya bingung, dalam hatinya ia geram sekali pada Airin, tapi dia juga harus meluruskan masalah ini. Ketika ia berniat membalas sms dari nomor itu, ternyata gagal dan pesan tak terkirim karna persediaan pulsa Dastya tidak mencukupi.
Sementara pemilik ’nomor itu’ semakin merasa bersalah dan mulai kehilangan kesabaran. Akhirnya ia putuskan untuk menelphone Dastya. Dastya yang mendengar nyanyian dari handphonenya segera meraihnya.
”Hallo ?”
”Hallo, Dastya.”
”Iya.”
”Kamu kenapa nggak balas smsku ? Kamu marah ya ! Aku minta maaf ya !”
”Enggak, bukannya gitu. Kemarin itu aku ga balas karna aku pikir ya kamu Cuma, apa ya ...........”
”Terus kenapa tadi juga nggak balas ?”
”Kalau tadi tuh karna pulsaku dah abis.”
”Berarti kamu nggak marah ’kan ?”
”Ya enggaklah, ngapain aku marah. Apa alasanku coba, buat marah. Aku justru senang kalau kamu ternyata udah punya gebetan. Lagian siapa yang bilang kalau aku suka sama kamu ?”
”Adek kamu yang bilang.”
”Adek ? Airin maksud kamu.”
”Ups ........” pemilik ’namor itu’ sepertinya merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya.
”Ya ampun, Airin aja kamu percaya. Dia itu anaknya emang iseng banget. Dia juga lagi marahan ma aku makanya dia balas dendamnya gitu. Lagi pula aku juga dah punya gebetan kok.”
”Oh ....... gitu ya. Ya udah.”
”Ya udah, semuanya dah jelas kan. Aku dah terlalu banyak ngomong ya. Cepetan dech ditutup telephone ’ntar pulsa kamu abis lagi.”
”Gimana mau ditutup kamu ngomong terus.”
”Ups, sorry. Ya udah ni yang terakhir.”
”Bye.”
”Bye.”
Dastya merasa lega. Akhirnya masalahnya udah selesai. Dan sekarang nampaknya ia harus bikin sidang dengan terdakwa Airin.
Malam itu saat rembulan hanya menunjukkan sebelah rupanya, di temani bintang-bintang bak permata yang bertaburan. Diiringi dengan belaian lembut angin malam, Dastya menghampiri Airin yang sedang menonton televisi dirumahnya yang terletak tan jauh dari rumah Dastya.
”Permisi budhe, Airin ada ?”
”Rin, dicari mbak Tya nich.”
”Ada apa mbak ?”
”Sini aku mau ngomong sebentar.”
”Ada apa tho ?” tanya Airin tanpa rasa bersalah.
Dastya menggandeng tangan Airin, mereka keluar rumah. Dan duduk diteras. Airin masih tenang-tenang saja.
”Rin, kamu ngomong apa sama temen mbak.”
”Aku ?”
”Gara-gara kamu, mbak jadi malu tau nggak. Dikiranya mbak naksir dia. Dan parahnya dia bilang nggak suka, mau ditaruh dimana coba muka mbak.”
”Ya ditaruh ditempatnya.”
”Hmh .......... ”ucap Dastya geram.
”Iya ........ iya, maaf. Abisnya aku gemes sich, mbak Tya.”
”Gemes gimana ?"
”Ya abis mbak Tya, gitu-gitu aja.”
”Maksudmu itu gimana ?”
”Ya gitu.”
”Alah ...... udah ....... ga penting, pokoknya jangan sampe terulang lagi dech. Malu mbak, emang mbak apaan.”
”Iya ........ iya.......... ”
”Ya udah sana tidur, besok sekolah ’kan ?”
”Oke dech.”
Airin pun kembali kedalam rumah, meski ia tidak segera tidur seperti apa yang dikatakan Dastya. Sementara Dastya pulang kerumah menyelesaikan tugas rumahnya.
* * *
Waktu memang berjalan begitu cepat. Hari kini tlah berganti. Malam yang dingin dan indah, kini berubah menjadi pagi yang cerah dan segar. Sinar sang mentaripun terasa hangat menyentuh kulit, menghilangkan kesan dingin semalam yang masih meninggalkan kabut pagi dan tetesan embun yang jatuh melewati ujung daun.
Hari-hari yang membosankan. Waktu yang sama, aktivitas, jalan, makanan semuanya tak ada yang banyak berubah. Dastya masih dengan aktivitas hariannya.
Sepertinya ia harus merelakan waktu-waktunya hanya untuk kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan para orang tua. Saat itu, ketika ia sedang merasa sangat letih dan pusing, sebuah pesan singkat memenuhi layar ’teman mungilnya’.
Malem Novi, lagi ngapain kok dah lama ga mz mas kangen nich. Oh ya ..... kamu da uang saku lebih ga ?
Kalo mau mas beliin plz donk ?
Benar-benar hari yang menyebalkan bagi Dastya. Perasaan sayang dan cintanya pada Roger menjadi sebuah kebencian. Sepertinya Dastya mulai sadar kalo selama ini dia hanya dibodohi. Bisa dibayangkan dong gimana perasaan Dastya, udah capek e ......... malahan dapet sms gitu. Iya mending kalo perhatian, sering telephone atau sms, Dastya pasti juga ga akan keberatan. Tapi sayangnya untuk mengucapkan selamat malam atau selamat pagipun tak pernah.
Tapi ya ........... yang namanya Dastya, dasar aneh. Karena kesalnya ia, akhirnya diputuskan untuk menelephone Roger dan meminta untuk mengakhiri hubungannya.
”Hallo.”
”Hallo Nov, ada apa ? tumben nelphone. Oh ya ……… gimana kamu bisa nggak ngisiin nomor aku. Soalnya aku lagi ga ada uang.”
Dastya masih diam mendengarkan Roger ngomong dengan nadanya yang sok ngatur dan ga da rasa bersalah.
”Hallo, Nov .......... kamu denger aku kan ?”
”Iya aku denger kok.”
”Trus kenapa kamu diam ?”
”Aku ........... aku ........ aku ........ mau minta .......... kalo ..........”
”Kamu ngomong apa Nov, jujur aja kamu ada apa ?”
”Aku ......... ”Dastya mengambil nafas dalam-dalam, kemudian ”aku ........... mau minta kita akhiri aja semuanya.”
”Maksud kamu apa ?”
”Jujur aja semuanya aku tuh sayaaaaang banget ma kamu mas, tapi satu hal yang paling aku ga suka, justru mas lakuin. Aku dah capek dengan semua ini. Mungkin aku bakalan merindukan mas. Mungkin aku juga bkalan minta balikan lagi ma mas. Tapi ku juga bakalan mengusahakan buat biar kejadian itu nggak kan terjadi. Makasih ya mas buat waktu dan segalanya, ini bakalan jadi pelajaran buat aku, kalau suatu saat aku dalam keadaan kayak gini.”
”Nov, kamu ngomong apa ?”
”Mas tau, selama ini aku coba buat ngertiin mas, mas ga pernah bisa terbuka ma aku, mas juga ga bisa ngehargain aku sebagai yang mas bilang cewek mas. Mas tahu sekarang aku dah jadian ma ..........”
”Oh ............ jadi sekarang gitu ya. Aku nggak sangka kalo kamu ternyata seorang pembohong. Kamu tahu orang kayak gitu dalam Islam dilaknat oleh Allah, karna kamu munafik.”
Air mata Dastya perlahan mulai membasahi pipinya. Namun ia mencoba untuk tetap menyembunyikannya.
”Kamu disekolahin buat apa ?” kamu bejat. Kamu tuh punya otak buat berfikir. Ga’ kayak binatang. Kamu mau jadi apa ?
”Terserah aku mau jadi apa ! Yang jelas aku mau hubungan kita sampai sini aja. Lagian mas apa sekolahin aku ? ga’ kan. Ya udahlah jangan ngomong yang sok baik ma aku.”
”Nov, kamu sadar dong kamu dah bikin dosa. Aku juga ga mau kalo orang yang aku cintai masuk neraka.”
Dastya hanya diam menahan tangisnya.
”Apa yang jadi alasan kamu buat putus dari aku ?”
”Udah aku bilang, aku dah ga mau lagi terus-terusan kayak gini. Mas dah sering banget bikin aku kesel.”
”Tapi aku ga mau putus ma kamu ?”
”Udahlah mas, jangan bikin aku sedih dan ngrasa bersalah karna dah nyakitin mas. Sekarang gini aza dech, mas dah tau kan, kalo aku sering nyakitin ’n kecewain mas, mas juga tau kalo aku ga pernah bisa ngelakuin apa yang mas pengenin, aku juga dah sering banget ingkar janji. Terus apa yang bikin mas suka dan sayang ma aku ?”
”Aku suka ma kamu karna kamu tuh orangnya baik, rajin sholat, rajin bantu orang tua. Kamu ngertikan Nov, mas tuh sangat sayaaaang banget ma kamu. Mas ga mau putus ma kamu.”
”Darimana mas tahu kalo aku rajin sholat dan rajin bantu orang tua. Mas ga ngerti ’kan kalo selama ini aku Cuma bohongin mas. Biar aku terlihat baek didepan mas. Satu lagi, aku mohon kita nggak usah ketemu, aku nggak mau kesedihanku bertambah karna aku harus tau mas. Aku takut ga kan bisa ngelupain mas.”
”Nov, mas dah janji ma kamu, orang tua mas slalu ngajarin buat bisa neptin janji karna janji itu ..................”
”Karna janji itu adalah hutang ya ’kan ? Aku juga tau mas. Tapi mas tahu sendiri ’kan, aku paling ga’ bisa neptin janji yang satu itu ...............”
”Tapi aku tulus cinta ’n sayang ma kmu.”
”Berhenti bilang cinta karna aku gak pernah tau apa makna cinta itu. Yang aku tahu sekarang aku mau mengakhiri hubungan ini. Aku nggak mau lebih dekat lagi berhubungan dengan mas.”
”Nov, kalau km nggak mau ketemu mas, mas akan jemput kamu disekolah. Mas nekat demi cinta.”
”Terserah mas, aku nggak akan ada disekolah atau dirumah karna aku ada di Malang buat prakerin.”
”Nov ........... kamu akan slalu ada dihati mas.”
”Benarkah ! masih ada dihatimu seorang pembohong dan seorang yang disekolahkan hanya untuk sebuah kesia-siaan, seorang yang bejat, seorang yang punya otak tapi tak bisa berfikir ? Bodoh sekali.”
”Nov .................”
Belum sempat Roger menyelesaikan kata-katanya, hubungan telephone mereka terputus. Roger berulangkali mencoba untuk kembali menghubungi Dastya. Tapi tak satupun panggilan dari Roger yang diterimanya.
Dastya terlanjur sakit hati. Ia tak menyangka kalo kata-kata kasar itu akan muncul dan keluar dari mulut orang yang selama ini dianggapnya baik. Dalam hatinya ia juga tak ingin mengakhiri hubungannya denganRoger.
Sang ibu yang tahu perubahan pada putrinya itu, mulai merasa khawatir. Namun hanya diamatinya dan diawasi saja Dastya. Mungkin karna sifat Dastya yang pendiam dan jarang berbagi cerita dengan keluarganya itu, ibunya Dastya hanya membiarkan sifat Dastya yang nampak tak bersemangat dan yang terlihat sedang ada masalah. Sedangkan Dastya sendiri labih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi ia tahu kalau ibunya sangat melarang dia untuk berpacaran. Meskipun sekarang ibunya sudah tahu hubungannya dengan Roger, dan tak mempermasalahkannya, ia masih takut untuk menceritakan semua kepada ibunya.
Malam itu, seperti biasa Dastya membuka buku pelajarannya untuk mengerjakan PR atau sekedar membaca saja. Mungkin karna masih penasaran dengan status hubungannya dengan Dastya. Rogerpun kembali mencoba menghubungi Dastya. Beberapa kali dicoba tak ada tanggapan, akhirnya ia memilih untuk menghubungi Dastya dengan privat number.
” Hallo ................ assamu’alaikum ?”
”Wa’alaikumsalam.”
”Maaf, saya bicara dengan siapa ?”
”Ini Heri.”
”Heri ? Heri iapa ? saya nggak merasa kenal nomor kamu. Mungkin kamu salah sambung.”
”Nov, kemarin kenapa kamu ngomong gitu ma kamu ?”
Dastya yang tahu kalau sebenarnya itu Roger memilih memutuskan hubungan telephonenya. Ia masih belum bisa dan belum siap untuk berbicara dengannya.
Rogerpun tak kehabisan akal untuk dapat berbicara dengan Dastya. Kali ini ia menghubungi ayah Dastya.
”Malem Oom.”
”Malem. Ini siapa ?”
”Saya temennya Novi. Novinya ada ?”
”Oh ............ sebentar ya.”
Ayah Dastya mendatangi kamar Dastya untuk meminta pendapatnya apakah dia mau menerima telephone itu atau tidak.
”Anaknya sudah tidur” kata ayah Dastya kemudian.
”Bisa minta tolong dibangunin ga’ Oom ?”
”Sebentar ya.”
”Hallo.”
”Hallo Nov.”
“Mas kenapa telephone bapak.”
“Abis mau gimana lagi, kamu ga’ mau jawab telephoneku. Nov, aku ga’ mau putus ma kamu.”
”Mas, pake kartu apa lagi.”
”Ini mas telephone dari wartel.”
“Mas udah makan ?”
“Belum, ini tadi abis pulang kerja langsung telephone kamu. Nov, kamu jelasin maksud kamu tuh apa ngomong kayak gitu. Aku nggak suka.”
”Mas, udah ditutup aja ya, ntr habis banyak.”
”Nggak ! Jawab dulu. Nov, aku tu beneran sayang banget ma kamu. Mas dah janjikan kalau ntar lebaran pulang. Mas juga dah siapin kadonya buat kamu. Iya ini CDnya AAC juga udah mas siapin. Masa kamu tega ..........”
”Iya ....... iya aku tahu udah aja ya ntar uang mas kebuang banyak sayang kan?. Besok dech aku ganti yang telephone. Ya ...........”
”Nggak ! kamu jawab dulu, kita nggak jadi putu ’kan, Nov ..........”
”Ya, ya udah anggap aja kemarin salah ngomong.”
”Bener ya, makasih ya Nov, sekarang mas dah lega. Kamu tahu ma kepikiran terus.”
”Ya udah ya mas. Aku tutup telephonenya, kasihan mas ntar, abis banyak uangnya.”
”Ya udah, tapi ntar kita lebaran jadi ketemuan ’kan. Ma akan selalu sayang dan cinta ma kamu Nov.”
”Udah ya mas.”
”Bentar lagi ya Nov, ..........”
”Mas mau ngomong apa lagi.”
”Udah, kamu jangan mikirin. Kamu tenang aja. Toh juga bukan kamu kan yang keluar uang.”
Dastya hanya diam.
”Nov .............. kita jodoh ’kan ya.”
”Aku nggak tau.”
”Kamu kenapa gitu. Ada ibu kamu ya.”
”Iya .......... aku takut dimarahin karna ga belajar.”
”Sini biar aku yang ngomong sama ibu kamu.”
”Ah ...... nggak usah.”
”Nov, ntar aku maen ke rumah ya.”
”Jangan dech. Aku janji, kali ini bener-bener bakalan nemuin ma. Tapi jangan kerumah.”
”Iya .......... iya ........... udah gitu aja ya. Assalamu’alaikum.”
”Wassalamu’alaikum.”
Hubungan telephone itupun terputus. Emang dasar, yang namanya cewek, nggak pernah bia lepas dech dari rayuan gombal cowok. Termasuk cewek yang satu ini. Meski didalam hatinya masih bergejolak rasa marah dan kesal, tapi tetep aja juga luluh dengan kata-kata manis si Roger itu.
”Siapa, Dastya ?”
”Ehm ............. itu lho bu, yang pernah aku ceritain.”
”Nak Jakarta itu ?”
”He – eh.”
”Emangnya kenapa ?”
”Sebenarnya mau Dastya putusin aja, tapi .......”
”Makanya jangan sembarangan temenan ma cowok.”
Tapi sepatah dua patah kata dijaga. Satu lagi jangan sampe nyakitin perasaan cowok. Mereka bisa ngelakuin apa aja. Bisa aja ’kan kamu diapa-apain ma mereka. Dastya hanya diam mendengarkan ibunya.
”Ibu sich, ga pernah nglarang kamu buat deket atau pacaran ma cowok. Tapi hati-hati, jangan suka ditelephone ma cowok apalagi kamu belum tahu dan kenal sama mereka.”
”Iya bu ..........”
”Kok dia bisa tau nomor telephonenya bapak ?”
”Kemarin itu waktu handphonenya belum diganti, ’kan ga bisa buat telephonan jadi aku kasih dia nomornya bapak, kalau mau telephone ’kan bisa jelas.”
”Ya udah, ibu sich Cuma bisa bilang ati-ati aja maen sama cowok, ntar kalau ga bener bisa-bisa kamu yang dimaenin.”
Sekali lagi Dastya hanya diam mendengarkan nasihat ibunya. Dalam hatinya ia membenarkan apa kata ibunya. Apalagi belakangan terakhir ia merasa telah dipermainkan. Tapi yang namanya Dastya, ya.......... susah sekali mengerti siapa dia sebenarnya. Terkadang ia bisa sangat baik, tapi terkadang ia seperti seorang yang tak pernah mengerti sesuatu hal yang baik.
Tapi mudah sekali menyadarkan Dastya, bila sepertinya dia sudah mulai berbelok dari jalan yang seharusnya ia lewati. Hanya dengan sekali saja ibunya mengatakan sesuatu dengan nada marah atau sekiranya raut muka ibunya mulai memperlihatkan tanda-tanda kemarahan, maka Dastya seperti sebuah siput yang bersembunyi dibalik cangkangnya bila ia merasa ada gangguan dari luar.
Dastya lebih suka menekan perasaannya, mengalah pada keadaan. Pada dasarnya Dastya hanya seorang anak perempuan yang mudh sekali merasa iri terhadap orang lain. Dilihtnya teman-temannya dengan mudah bergaul dengan orang lain, jalan-jalan kesana kemari ketempat yang selalu berbeda tiap kali, berbelanja, membeli makanan dikantin, dan semua saja apa yang ada dan apa yang dilakukan temannya juga ingin dia lakukan.
Tapi Dastya masih bisa mengendalikan dirinya dari keinginan-keinginan itu. Dia selalu ingat apa kata ibunya setiap kali pikirannya berkecamuk ingin melakukan itu semua.
”Mereka melakukan itu semua karna mereka anak orang kaya, mereka bisa melakukannya dengan jerih payah orang tua. Kalau dari kecil mereka terbiasa seperti itu bagaimana besarnya. Zaman sekarang cari uang itu tidak mudah, bahkan hanya untuk 1000 perakpun orang-orang harus bener-bener bekerja keras. Jangan pernah memperbudak orang tuamu sendiri, meski mereka sendiri tidak pernah merasa diperbudak. Mereka, para orang tua menginginkan kebahagiaan anaknya. Tapi sebagian dengan cara yang salah.”
Meski sebenarnya Dastya mampu melakukan apa yang dilakukan teman-temannya, tapi rasa rendah diri dan nasehat dari ibunya itu selalu menjadi penghalangnya. Yang selalu membunuh keinginan-keinginan Dastya.

* * *

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS