Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS

pacar atau saudara

Pacar atau Saudara

Pulang dari pengajian, Fira mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia takut kemalaman sampai dirumah. Tak jauh dari masjid tempat pengajiannya, ia menabrak seseorang. Tempat itu cukup sepi, Fira melihat orang yang ditabraknya. Kemudian ia mengangkatnya kedalam mobil.
“ Alhamdulillah, tidak apa-apa.” Fira mencari dompet pemuda yang ditabraknya. Setelah menemukan alamatnya, Fira mengantarkan pemuda itu kesebuah rumah kontrakannya yang ada dikartu nama pemuda itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Pintu tak terkunci, dengan mudah Fira masuk dan membawanya ke dalam kamar pemuda itu.
“ Ya Tuhan, kotor sekali rumah ini.” Fira membaringkan pemuda itu diranjang. Ia kemudian kedapur memanaskan air.
“ Lebih baik aku bersihkan dulu rumah ini, baru aku pulang. Aku harus telephon rumah, agar mereka tak khawatir.”
Setelah menelephon rumahnya, Fira merapikan rumah kontrakan pemuda itu. Ia mengambil baju-baju kotor dan merapikan barang-barang yang berserakan.
Karena kecapaian iapun tertidur disamping pemuda itu. Tak lama kemudian ia terbangun. Saat melihat jam dinding ternyata sudah pukul 05.00 pagi. Fira mengambil air bekas kompresan. Ia kedapur untuk memasak, tapi tak ada bahan apapun yang bisa dimasak. Hanya ada satu kardus mie instant.
“ Dasar anak mandiri makannya mie tiap hari.”
Fira keluar rumah. Tampaknya ia sedang menunggu sesuatu. Tak lama kemudian yang ditunggu datang.
“ Sayur Neng ?”
“ Iya Bang.” Fira mengambil daging, sayur, tempe, tahu dan kangkung.
“ Berapa bang semuanya ?”
“ Enam ribu lima ratus.”
“ Ini bang, kembaliannya kasih bumbu-bumbu dapur.”
“ Iya. Ini neng, makasih.”
Fira melihat kewarung sebelah, sudah buka. Ia membeli beras 1 kilo. Sampai dirumah kontrakan, ia mulai memasak. Sambil memasak ia membereskan dan bersih-bersih termasuk kamar pemuda itu. Saat masakannya sudah matang, ia ia mencucikan baju dan menjemurnya.
Kini rumah kontrakan pemuda itu sudah bersih dan rapi. Ia menghidangkan masakan diatas meja makan. Ketika masuk kekamar pemuda itu masih juga tidur. Ia menuliskan beberapa kalimat disehelai kertas.
Maaf tadi malam aku hampir saja menabrakmu.
Untungnya kamu tidak apa-apa. Tapi sepertinya
kamu mabuk dan semalaman kamu terus saja mengigau.
Sebagai permohonan maaf aku sudah menyelesaikan
Semua pekerjaan rumahmu. Dan hariini kamu tidak perlu
makan mie lagi, karena sudah ada nasi dan lauk dimeja makan.
Aku juga mau minta maaf kalau barang-barang aku pindahkan
tidak sesuai dengan seleramu.

Setelah selesai menulis, Fira meninggalkan rumah kontrakan pemuda yang ditabraknya. Tapi tanpa sepengetahuannya, kalung liontinnya terjatuh.
Tak lama setelah Fira pergi pemuda itu terbangun. Ia turun dari ranjangnya. Dan tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ia melihat dan mengambilnya. Setelah mengambil kalung itu ia melihat sebuah syrat dimeja. Iapun membaca dan sesekali memperhatikan keadaan kamarnya.
Selesai membaca surat itu ia bergegas kekamar mandi dan menuju meja makan. Pas sekali, tumis kangkung makanan kesukaan pemuda itu. Dengan lahap ia menyantap hidangan dimeja makan. Sudah lama ia tak merasakan nikmatnya tumis kangkung, makanan favoritnya.
“ Fin, Fino ! udah siap belum.”
“ Iya sebentar lagi. Masuk aja.”
“ Wah, tumben-tumbenan nih makan nasi.”
“ Habisnya bosan makan mie terus.”
“ Loe masak sendiri.”
“ Enggak !”
“ Terus.”
“ Tau deh, baca aja tuh surat.”
“ Gila. Loe enak bener.”
“ Iya donk, gue gitu loh.”
“ Udah ah berangkat yuk.”
“ Loe nggak sarapan dulu, enak kok.”
“ Nggak deh makasih.”
“ Ya udah, gue ambil tas dulu.”
“ Cepetan ! Eh Fin, kalung siapa ini.”
“ Miliknya yang buat surat kali.”
“ Yuk. berangkat.” Mereka berboncengan naik motor.
“ O … anak muda itu. Ya …masih gitu-gitu aja. Nggak ada banyak perubahan.”
“ Dia udah tau belum sama kamu.”
“ Belum.”
“ Loe gimana sih setahun lagi kan wisuda. Kalau nggak cepet-cepet ntar keburu hilang disamber orang.”
“ Bisa aja loe.”
“ Eh ……kalau dibilangin. Ngomong-ngomong kapan loe mau ngenalin ama gue.”
“ Gue aja belum kenalan suruh ngenalin kamu.”
“ Maksud gue tunjukin anaknya yang mana.”
“ Soal itu gampang. Ntar kalau gue udah dapetin dia. Takutnya kalau loe juga naksir dia.”
“ Sorry ya gue udah punya lagi.”
“ Siapa ?”
“ Ada deh. Ntar loe juga naksir.”
“ Bisa aja.”
Tak lama kemudian mereka sampai dikampus.
“ Fad, Fadli.”
“ Eh ya, ada apa ?”
“ Katanya loe mau tau cewek idaman gue.”
“ Loe mau kasih tau sekarang ?”
“ Itu lihat.”
Dari arah berlawanan Fira dan seorang temen ceweknya berjalan kearah Fino dan Fadli.
“ Wina maksudmu.”
“ Emangnya namanya Wina.”
“ Kamu belum kenal namanya.”
“ Hai Fad, Wina menyapa Fadli.” Sepertinya kita pernah ketemu deh, tapi dimana ?” kata Fira dan Fino.
“ Jelas aja kita ‘kan satu kampus.”
“ Oh iya ya.” “Aku permisi dulu. Fadli sampai ketemu dikelas. Aku duluan.”
“ Ya.” Fadli menyahut.” Itu Fin cewek yng loe maksud. Di memang sangat manis.”
“ Bukan, bukan dia.”
“ Terus yang mana kalau begitu ?”
“ Yang satunya. Temennya, bukan dia.”
“ O ……..Fira maksudmu.”
“ Ya ……... tepat sekali.Tak piker kamu naksir Wina.”
“ O ……sekarang aku tahu kamu naksir Wina ya ?”
“ Ah sudahlah, aku masuk kelas dulu.”
“ Eh …….Fadli jawab dulu benar ‘kan?”
Pulang dari kuliah mereka bertenu. Mereka membicarakan soal orang yang membereskan rumah dan memasak untuk Fino.
“ Fin, pinjam kalung liontin itu dong ?”
“ Buat apa ?”
“ Siapa tahu ada informasi pemiliknya.”
“ Nih.”Fino menyerahkan kalung liontin itu.
Fadli membuk aliontinnya. “ Bukannya ini foto bokap loe ?”
“ Coba lihat. Benar, tapi ini bukan nyokap gue.”
“ Jangan-jangan bokap gue kawin lagi.”
“ Nggak mungkin, bokap dan nyokap gue belum bercerai.”
“ Kalau nggak ia selingkuh atau ……….”
“ Ah sudahlah bokap gue nggak mungkin nglakuin hal-hal yang seperti loe omongin.”
“ Maaf Fin, aku nggak bermaksud gitu.”
Saat sedang asyik ngobrol, Fira dan Wina datang.
“ Hai Fad, asyik bener ngobrolnya gabung donk.”
“ Boleh, “jawab Fadli. Fira dan Fino hanya tersenyum dan saling berpandangan.
“ Ehm……….” Fadli mendehem.
“ Oh ya kenalin ini Fira temen gue.”
“ Fino.” Fino mengulurkan tangan. “Fira.”
“ Fadli.” Fadlipun mengulurkan tangan.”Fira.”
“ Nah sekarang gimana kalau kita ke mall.”
“ Mau ngapain ?”
“ Ya ngapain kek, makan-makan atau apalah.”
“ Boleh, yuk.”
Mereka berangkat pergi ke mall dengan mengendarai motor. Wina membonceng Fadli dan Fira membonceng Fino. Dengan sedikit canggung Fira berpegangan pada Fino. Fino pun tersenyum-senyum sendiri. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Fino, cewek yang selama ini ia idam-idamkan berboncengan dengannya dan berpegangan. Fino sedikit ngebut hingga Fira terpaksa berpegangan erat mendekap Fino. Fira tak banyak berkomentar, ia sedikit takut.
Mereka semakin dekat, hampir setiap hari mereka jalan bareng. Suatu hari Fino ngajak Fira ke rumah kontrakannya.
“ Sepertinya aku pernah kesini deh ?”
“ Benarkah, kapan ?”
“ Kapan ya. Aku lupa.”
“ Ya udah masuk yuk. Mungkin kamu hanya lewat.”
“ Nggak aku yakin pernah kesini.”
“ Duduk dulu biar aku ambilin minum.”
“ Sekarang aku ingat, beberapa hari yamg lalu akuseorang pemuda mabuk. Dan kalau tidak salah ia tinggal disini.”
“ Masa sih. Apa kamu memasak untuk pemuda itu, mencuci pakaian dan membereskan pekerjaan rumah yang lainnya.”
“ Ya benar, kok kamu tahu ?”
“ Soalnya pemuda itu aku.”
“ Sorry ya waktu itu aku nggak sengaja. Lagian waktu itu kamu ‘kan sedang mabuk.”
“ Ya. Waktu itu aku sedang punya masalah.”
“ Memangnya kamu selalu melarikan masalah ke minuman keras. Masalah berat apa yang kamu alami ?”
“ Sebenarnya enggak juga. Waktu itu aku belum mendapat kiriman uang dari orang tua, padahal biaya kuliah sudah menumpuk.”
“ Kenapa kamu lebih memilih kontrak daripada tinggal sama orang tua ?”
“ Suasana rumah nggak enak semenjak adikku, menghilang. Entah kami dikatakan kembar atau kakak adik karena adikku lahir tujuh hari setelah aku lahir, itupun dengan operasi caesar.”
“ Kok bisa begitu ya. Ah sudahlah, kamu mau aku masakin nasi dan lauk seperti waktu itu ?”
“ Nggak usah. Kita makan diluar aja.”
“ Kenapa masakanku nggak enak ya.”
“ Bukannya begitu. Aku seneng banget sama masakanmu, enak. Apalagi tumis kangkung itu makanan favorit aku.”
“ O…….ya sudah kita berangkat sekarang aja.”
Mereka menuju warung dekat rumah kontrakan Fino.
“ Oh ya Fir, apa ini kalungmu ?”
“ Ya Tuham akhirnya ketemu juga. Aku mencarinya kemana-mana. Ternyata ada sama kamu.”
“ Itu aku temuin dikontrakan aku. Mungkin jatuh malam itu saat kamu nolong aku.”
“ Makasih ya. Ini berharga banget bagiku.”
“ Apa foto itu…………..” belum sempet Fino selesai bicara handphone Fira berbunyi.”
“ Sebentar ya Fin. Hallo……..”
“ Apa mungkin dia adikku. Itu tidak mungkin terjadi aku ………aku sangat mencintainya, tapi dikalung itu ada foto papa. Lebih baik aku Tanya pada papa.” Kata Fino pada dirinya.
“ Fin, sorry ya aku lupa kalau hari ini ada janji sama Wina. Apa kamu mau ikut ?”
“ Nggak usah, aku juga mau pergi ke suatu tempat.”
“ Ya sudah aku duluan ya ?”
Mereka tak jadi makan, Fira pergi mengantar Wina kepemakaman sedang Fino menemui ayahnya untuk minta penjelasan.
“ Fino, kamu kok sudah pulang ini ‘kan masih hari Rabu ? Ada apa nggak biasanya.”
“ Mama nggak seneng ya Fino pulang ?”
“ Bukannya begitu.”
“ Oh ya ma, papa mana ?”
“ Ada dikamar, kamu temenin papa duluya, mama mau ke apotik.”
Fino segera kekamar ayahnya.
“ Fi…Fino ! …ini ka……kamu nak!”
“ Iya pa ini Fino. Fino datang kesini karena Fino ingin minta penjelasan dari papa.”
“ Penjelasan apa Fin ?” Tanya papa Fino agak terbata-bata.
“ Siapa wanita ini pa ? apa dia simpanan papa ?”
“ Dari mana kamu dapat foto ini.”
“ Papa nggak perlu tahu. Sekarang jawab pa, siapa wanita ini.”
“ Wanita itu bernama Aprilia.”
“ Apa ? kenapa papa tega sekali mengkhianati mama, padahal selama ini mama selalu setia menemani dan merawat papa.”
“ Tunggu dulu Fin, dia bukan simpanan papa.”
“ Lalu siapa dia Pa ? katakan.”
“ Dia kekasih papa sebelum papa kenal dengan mamamu.
Kami berdua telah melakukan dosa besar. Papa sebenarnya mau bertanggung jawab. Tapi kakek dan nenekmu menjodohkan papa dengan mamamu. Saat Aprilia tahu dengan perjodohan ini ia datang dan memohon pada kakek dan nenekmu, tapi sayang mereka tetap tak mengizinkan.”
“ Tanpa sepengetahuan kakek, nenek dan mamamu aku menemuinya. Dan dia bisa mengerti. Akhirnya sampai saat mereka melahirkan. Mereka melahirkan dirumah sakit yang sama, anak pertama mamamu……….”
“ Kenapa pa, anak pertama mama itu aku ‘kan ?”
“ Bukan Fin, bukan kamu. Anak pertama mamamu meninggal, ia lahir tanpa kaki. Dan saat itu pula Aprilia melahirkan bayi mungil. Ia merelakan bayinya kami ambil, tapi setelah ia tahu kalau mamamu melahirkan seorang bayi ia meminta agar anaknya dikembalikan. Tanpa sepengetahuan mamamu, papa mengembalikan bayi mungil itu, tapi ia bersikeras bahwa bayinya adalah perempuan padahal sebenarnya adalah laki-laki yaitu kamu.”
Fino merasa seluruh badannya lemas. Ia tak bisa membayangkan betapa marah dan bencinya Fira pada dirinya.
“ Maafkan papa Fin, papa tidk bermaksud………….”
“ Terima kasih atas penjelasannya pa. salam buat mama.”
“ Fin, Fino ! Tunggu Fin.”

* * * * * * * *

“ Kita kesini mau cari makam siapa Win ?”
“ Makam nyokap gue.”
Setelah cukup lama mencari akhirnya ketemu juga.
“ Sebelum nyokap gue meninggal, beliau berpesan agar aku mencari saudaraku dan ayahku dan jangan sampai aku membenci mereka.”
“ Tapi yang aku tahu selama iini kamu tidak punya saudara. Bukankah kamu sendiri yang bilang dulu, kalau ibu kamu tidak melahirkan lagi dan dan kamu tidak punya kakak.”
“ Itu benar tapi kata ibu, bukan saudara kandung tapi saudara seayah beda ibu.”
Setelah berkata demikian, Wina berdo’a dan menabur bunga dimakam ibunya.

* * * * * * * *

Setelah mendengar penjelasan dari ayahnya, Fino mulai menjauhi Fira. Ia merasa sangat bersalah. Setiap kali diajak jalan, Fino selalu menolak bahkan ia selalu menghindar dari Fira.
“ Fin, Fino !”
Meski Fira terus memanggilnya, Fino tak menghiraukan. Ia pura-pura tak mendengar. Mulanya Fira tak marah atau curiga pada Fino, tapi itu sudah terjadi beberapa kali. Akhirnya Fira sudah tidak kuat, ia merasa gelisah. Firapun menemui Fino. Fira menunggu Fino didepan kelasnya.
“ Fin, “panggil Fira.” Fira, “sahut Fino.
“ Ya, sini aku bicara sebentar.” Fira menarik tangan Fino.”
“ Mau bicara apa lagi ?”
“ Pokoknya aku mau bicara ini penting sekali.”
“ Iya. Tapi lepasin jangan kayak gini.”
Mereka pergi ke taman disamping kampus.
“ Kamu mau bicara apa Fir ?” Tanya Fino sedikit acuh.
“ Kamu bisa-bisanya ngomong kayak gitu Fin. Apa kamu nggak ngerasa bersalah sedikitpun setelah apa yang kamu lakukan selama ini ?”
“ Fira hanya diam dan tertunduk.”
“ Fin, kenapa sih kamu sulit sekali ditemuin, aku resah dan gelisah aku takut kehilanganmu, kamu tak menyapa tak menghubungi bahkan kau menghindar dariku.”
“ Apa maksudmu Fir ?”
“ Kenapa kamu belum mnegerti juga. Aku mencintaimu Fin, apakah kau tak mencintaiku. Katakana Fin, kamu jangan hanya diam saja, jawab Fin, Fino !”
“ Fino berdiri.” Aku juga mencintaimu Fir. Tapi………”
“ Tapi kenapa ?”
“ Karna ……..karna kamu adikku.”
“ Apa maksudmu.”
“ Maafkan aku Fir, seharusnya aku tidak merebut, tidak menggantikan posisimu untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandungmu.”
“ Aku nggak ngerti apa maksudmu Fin.”
“ Kalung yang kamu pakai ini adalah bukti kalau kamu itu adalah saudaraku. Didalam liontin kalung ini ada foto orang tuamu ‘kan dan ayahmu ini adalah ayahku juga.”
“ Kalung ini bukan milikku Fin.”
“ Kamu jangan bohong Fir, kalau bukan kalungmu kenapa kamu merasa sangat kebingungan kehilangan kalung ini.”
“ Duduk dulu Fin. Kalung ini sebenarnya adalah kalung Wina. Wina memberikannya padaku. Dan soal foto yang didalam liontin ini aku nggak tahu karna aku nggak pernah buka liontin ini.”
“ Itu benar kak Fino. Aku memberikannya karna aku merasa dekat dengan Fira. Ia sudah kuanggap seperti saudara, ”ucap Wina yang sudah mendengar pembicaraan mereka.
“ Wina !” ucap Fira dan Fino serempak.
“ Wina, maafkan aku. Sekarang pulanglah tinggallah bersama kami, ayah, ibu sudah menunggu.” Fino memeluk Wina.
“ Tidak kak, aku tidak pantas tinggal bersama kalian.”
“ Kakaklah yang tidak pantas tinggal disana. Kakak telah merebut posisimu dikeluarga itu. Kembalilah Win, biar kakak yang pergi,” Fino melepaskan pelukannya dan membalikan badan.
“ Tidak kak, kita akan kembali bersama-sama.”
“ Wina, kamu tidak membenci kakak.”

“ Kak Fino adalah saudaraku, aku tidak akan membenci saudara sendiri,” mereka berpelukan kembali.
“ Nah sekarang kamu tetep mau jadikan aku saudaramu atau mau jadikan pacarmu.”
“ Ya pacar dong.” Fino melepaskan pelukan dari Wina.
“ Teerus bagaimana nasibku.” Fadli yang dari tadi merasa diacuhkan, angkat bicara.
“ Karna mereka sudah jadian, kita jadian aja.”
Saking bahagianya, Fadli menggandeng Wina. Fira dan Fino tertawa melihat tingkah laku Fadli dan Wina.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS