Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS

mencintai sebuah bayangan

BAB LIMA

Tak teraa waktupun berjalan begitu cepat. Tiga bulan t’lah berlalu. Kisah perjalanan cinta Dastya dan kekasihnya itu dihiasi oleh kecemburuan dan pertengkaran kecil. Namun sayangnya, Dastya yang terlalu polos. Ah ....... tidak mungkin lebih tepatnya bodoh. Menganggap semua itu karna kesalahannya. Hingga ia harus rela menahan sakit dihatinya dan setiap kali yang harus minta maaf atas kesalahan yang tak diperbuatnya.
Karena kepolosannya itulah, ia tak ragu untuk memberikan apapun tentang dirinya. Sedangkan ia sendiri tak mendapat apapun dari Roger. Pernah suatu kali, Dastya berkenalan dengan seorng teman kakaknya.
Hubungan mereka nampak sangat akrab sekali. Namun sayangnya, lagi-lagi Dastya tak mau bertemu dengan kenalannya itu. Entah kenapa sepertinya dia trauma dengan laki-laki atau mungkin takut setiap melihat bayangan berita di TV, yang menampilkan pelecehan dan tindakan kriminal terhadap perempuan.
Hingga akhirnya, justru orangtuanya yang tahu labih dulu kak Rudi – nama teman kakaknya. Dan itu membuat Dastya merasa malu, terlebih ketika kak Rudi menceritakan tentang hubungan mereka pada kakak Dastya. Karena rasa malunya itulah, kini Dastya tak lagi berhubungan dengan kak Rudi.
Sialnya, Airin malahan memanas-manasi Roger atas kejadian ini. Mungkin maksudnya dia hanya ingin Roger lebih perhatian lagi pada Dastya karena menurutnya akhir-akhir ini kakak keponakannya itu suka mikirin makhluk yang satu itu.
Dan tak ayal lagi, Roger pun termakan kata-kata Airin. Pertengkaran dan selisih paham kembali terjadi. Dan lagi dengan tutur lembut Dastya dan rasa bersalahnya, mereka kembali berdamai. Ya ...... hubungan mereka kembali tenang.
”Rin, kamu ngomong apa sama dia ?”
”Dia siapa ?”
”Itu cwoknya mbak.”
”Oh ..... aku bilang aja apa adanya. Kalau mbak dapet kenalan cowok baik banget. Dan gitu perhatian, ganteng, dan juga suka beliin mbak pulsa. Sedangkan dia apa hebatnya ?” dah ga pernah sms, telephon jangankan beli pulsa, lha wong dianya yang malahan minta. Cowok apaan tuh. Ngakunya dah kerja. Tapi kok ya minta-minta.”
Dastya terdiam. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan adiknya itu. ”Tapi ’kan ya nggak harus gitu tho. Aku jadi berantem lagi ma dia.”
”Ya udah putus aja gampang tho ?”
”Nggak mudah Rin buat cari cowok.”
”Kenapa nggak. Lagian, bukannyambak ndiri pernah bilang kalau kita jangan mengejar cinta. Karna cinta akan datang tanpa kita kejar. Terus utamakan belajar karena adanya cowok justru bikin konsentrasi belajar kita pecah.”
Sekali lagi Dastya hanya terdiam, membenarkan ucapan adiknya yang mengulangi kata-katanya dulu.
”Opss ........ sorry, aku dah sok tahu. Tapi benar ’kan.”
”Nggak pa-pa kok. Tapi sudah terlanjur terjadi, dan aku nggak bisa lepas darinya.”
”Ya udah jalanin aja kalau gitu.”

* * *
Ternyata tak berhenti pada Airin, teman-teman Dastyapun kurang menyetujui juga hubungan Dastya dan cowoknya itu.
”Ya ampun ............ Tya, Tya. Mbok ya kamu cari yang ada disini aja. Yang pasti-pasti aja. Daripada kamu pacaran sama orang yang ga jelas itu. Emangnya kamu dah tau benar alamat rumahnya ?”
”Ya tepatnya, ga tau tapi daerahnya dah tau ?”
”Terus dia dah tau apa aja tentangmu ?”
”Semuanya.”
”Ya.”
”Tya, mau aku kenalin ma seorang ya ?”
”Siapa ? temen cowokmu.”
”Ya, itupun kalau kamu mau.”
”Nggak usah dech.”
”kan Cuma temenan, lagian kenapa sich kamu setia banget ma dia. Dia aja belum tentu setia ma kamu. Kenapa juga kamu nggak mau cari cowok sini aja.”
”Kalau disini ’kan, ntar andai aku selingkuh dia tahu dan kalau aku tahu dia selingkuh, aku juga sakit hati. Jadi enakan jauhan gini.”
”Aku nggak pernah bisa ngerti jalan pikiran kamu ya !”
”Ya sich, aku ndiri juga kadang ngerasa aneh.”
Beda lagi dengan orang tuanya yang terlau mengkhawatirkan Dastya. Ya pastinya mereka juga nggak mau anaknya salah pilih.
”Tya, kamu yakin ma dia. Ntar kalau ternyata dia cacat, jelek atau apa gimana ?”
”Nggak taulah, bu.”
”Ibu Cuma nggak mau, kalau ntar kamu ada apa-apa.”
”Tya tahu kok bu.”
Keraguanpun muncul dalam diri Dastya. Kata-kata Airin, teman-teman dan ibunya, selalu terngiang ditelinganya dan mengganggu pikirannya. Ia membenarkan apa kata mereka, tapi ia juga nggak bisa untuk meninggakan ini semua.
Kegelisahan hatinya itu diutarakan pada kekasihnya ........ ah ....... itu terlalu indah untuk sebutan seorang makhluk aneh, yang tak jelas wujudnya. Tak ingin dianggap buruk, Rogerpun mengeluarkan kata-kata manis dan janji-janji palsu untuk membut Dastya kembali yakin pada dirinya. Dan ........ sudah pasti Dastya pun luluh dan kembali merasa yakin pada cowoknya itu.
”Hah ......... Dastya, kamu terlalu baik dan polos atau kamu ini emang bodoh sich, suara hati Dastya suatu ketika.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS