
Asmara Anak Jalanan
Panas, berdebu, bising dan macet begitulah cirri khas jalan-jalan raya dikota-kota besar seperti kota Jakarta. Namun kemacetan itu dimanfaatkan oleh sebagian orang yang oleh pemerintah dijuluki sebagai Gepeng (Gelandangan dan Pengemis). Meskipun begitu mereka tak merasa malu ataupun rendah diri. Keadaan memaksa mereka untuk melakukan hal itu. Daripada mereka harus merasa gengsi lalu tidak makan. Lebih baik malu asal dapat sesuap nasi untuk mengisi perut.
Sama seperti tiga sekawan ini, meski sebenarnya mereka masih muda tapi mereka belum layak bekerja lagi pula mereka juga belum memiliki ketrampilan yang memadai. Maklumlah mereka baru lulus SMP. Masalah biaya selalu menjadi faktor utama kandasnya keinginan mereka melanjutkan pendidikan.
”Capek Wan, istirahat dulu.”
”Iya Wan, istirahat dulu kasihan Rara.”
”Ya udah kita istirahat disini saja. Fer, beli minum, haus nih.”
”Kok aku sih. Kamu aja.”
”Sini biar aku yang beli.”
”Biar aku aja yang beli. Kamu capek ’kan .”
”Tadi katanya nggak mau.”
Meski sedikit malu pada Rara, Ferdi pergi membeli minum. Dari kejauhan ia memperhatikan Rara dan Irwan. Mereka semakin akrab saja. Padahal sejak kecil mereka selalu bersama-sama tapi Rara lebih dekat dengan Irwan daripada Ferdi.
”Ini minumnya.”
”Makasih Fer.”
”Habis ini kita ngamen lagi ’kan ?” tanya Ferdi
”Kayaknya nggak usah deh.”
”Kenapa nggak Wan ?”
”Kamu capek sekali sepertinya hari ini Ra.”
”Rara apa pernah capek.”
”Ferdi benar, aku belum capek kok.”
”Udah hari ini cukup. Kalau kamu nggak capek, kamu nggak mungkin minta istirahat.”
Ferdi yang merasa sudah salah hanya diam.
”Ayo Ra kita pulang.” ajak Irwan sambil memegang tangan Rara. Rara menoleh ke Ferdi.
”Ayo Fer, loe nggak pulang ?”
“Nggak aku disini aja dulu.”
”Ya sudah sampai jumpa nanti malam.”
Ferdi merasa iri melihat kebahagiaan mereka. Ia selalu melamun. Hari-hari berlalu, Rara dan Irwan semakin akrab sedangkan Ferdi merasa diacuhkan.
Siang itu Ferdi melihat Rara duduk melamun. Tak biasanya Rara sedih. Ia selalu tampak ceria. Irwan juga tak bersamanya hari itu.
”Hai Ra, Irwan kemana kok sendirian ?”
Rara tak menjawab ia menangis dan meninggalkan Ferdi.
”Ra ........ Rara. Ada apa Ra, tunggu Ra.”
Rara tak mempedulikan Ferdi. Ia terus berlari dan sebuah motor menabraknya.
”Rara ........!”
Tak lama kemudian Rara sudah berada dirumah sakit.
”Bagaimana dok.”
”Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Untunglah janinnya selamat.”
”Janin ? maksud dokter Rara hamil.”
”Benar, usianya sudah satu bulan.”
”Terima kasih dok.”
Karna sudah tidak apa-apa Ferdi mengajak Rara pulang ke rumah. Ia harus banyak istirahat.
”Kenapa kamu nggak cerita sama aku Ra ?”
Rara tak menjawab, ia menangis.
”Siapa yang melakukannya Ra ?”
Rara tetap saja tak menjawab.
”Sudahlah kalau kamu nggak mau jawab. Aku nggak maksa. Aku tunggu sampai kamu mau cerita.”
Ferdi mengantarkan Rara sampai kerumahnya. Kemudian ia kembali mengamen. Sepulang mengamen, ia kerumah Rara. Tapi Rara masih belum mau bercerita.
Melihat ketulusan dan kebaikan Ferdi, Rara akhirnya bercerita.
”Waktu itu Irwan mengatakan kalau ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Sampai ditempat itu Irwan mengatakan kalau ia mencintaiku. Karna waktu itu sudah larut malam kami memutuskan untuk pulang esok paginya. Tapi ketika bangun aku .....................Rara tak melanjutkan kata-katanya, ia menangis.
”Tega-teganya Irwan berbuat seperti itu padamu. Sekarang dia dimana Ra, biar aku hajar dia.”
”Jangan Fer, jangan sakitin dia sebenarnya aku juga mencintainya. Ia bilang akan pergi ke luar negeri mau jadi TKI agar punya modal untuk pernikahan kami.”
”Tapi Ra, berapa lama ? sedangkan perut kamu dari hari ke hari semakin membesar. Apa kata orang tuamu dan para tetangga nanti.”
”Kamu jangan bilang pada bapak/ibuku. Aku tidak mau mereka cemas.”
Tiga bulan berlalu, perut Rara semakin membesar. Iapun belum juga mendapat kabar dari Irwan. Sedangkan orang tuanya terus memaksanya untuk menggugurkan kandungan Rara.
”Sekarang apa yang harus aku lakukan Fer, orang tuaku terus memaksa menggugurkan kandunganku.”
”Ayo, kita pulang biar aku yang menanggung semua perbuatan Irwan.”
”Jangan Fer, aku .........”
”Kamu mau berbuat dosa untuk kedua kalinya.”
”Tidak Fer, cukup sekali saja.”
”Ya sudah, sekarang ikut aku.”
Dengan terpaka Rara mengikuti Ferdi. Sampai dirumah, Ferdi mengaku pada orang tua Rara kalau ia yang menghamili Rara. Spontan Ferdi mendapat pukulan dari orang tua Rara.
”Jangan pak, Ferdi nggak bersalah.”
”Ampun om aku akanbertanggung jawab.”
”Bagus. Tapi mau kamu kasih makan apa anakku. Buat makan sendiri aja masih sulit mau kasih makan anak orang. Lagian kalian ini masih anak kemarin sore.”
”Saya janji om, saya tidak akan menyengsarakan Rara.”
”Saya pegang janji kamu. Om akan menikahkan kalian karna om tahu kalian sudah berteman sejak kecil.”
”Terima kasih om, saya permisi pulang dulu.”
”Besok kamu kemari lagi, karna besok kita ke penghulu.”
Keesokan harinya mereka sudah resmi menikah, meskipun hanya ijab qobul tapi mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Hari-hari mereka lalui dengan kehidupan yang sederhana walaupun Rara kadang-kadang masih suka melamun memikirkan Irwan.
Ferdi tidak bekerja sebagai pengamen lagi. Sekarang ia mempunyai tanggung jawab yang cukup berat. Orang tua Rara hanya membantu sesekali saja. Mereka menjalani hidup dengan tenang dan bahagia ditambah lagi ketika bayi mereka lahir. Bayi itu diberi nama Nia.
Tahun demi tahun berlalu, Nia yang dulunya gadis mungil yang manis kini sudah berubah menjadi gadis dewa yang cantik.
Siang itu Nia pulang dengan wajah yang ceria.
”Ada apa Nia, ceria sekali hari ini.”
”Ibu, ibu mau tahu aja. Hari ini Firman bilang mau ngenalin aku pada orang tuanya.”
”Firman ? siapa Firman, pacar kamu.”
”Iya donk bu. Sore ini Firman mau jemput Nia, bolh ’kan bu ?”
”Boleh-boleh aja tapi kamu harus hati-hati jangan pulang larut malam.”
”Iya bu, Nia tahu kok. Makasih ya bu ?”
”Sudah sana mandi. Terus bantuin ibu didapur.”
”Ya bu.”
”Semoga kamu tidak mengalami nasib yang sama dengan ibu, Nia.” Pikir Rara dalam hati.
Hubungan Firman dan Nia makin lama makin sulit dipisahkan. Bahkan mereka berencana untuk menikah. Ayah Firman mendatangi rumah Nia. Ibu Firman sudah lama meninggal.
Ibu Nia dan ayah Firman bertemu, mereka terdiam sesaat dan saling berpandangan. Nia dan Firman pergi mencari Ferdi, ayah Nia ditempat kerjanya.
”Mas Irwan, ini kamu mas.”
”Ya Ra, ini aku Irwan. Bagaimana kabarmu.”
”Aku baik ma. Kamu sendiri ?”
”Aku juga baik. Mana suamimu ?”
”Ferdi maksud mas.”
”Jadi kamu menikah dengan Ferdi. Anak kalian cantik.”
”Itu bukan anak Ferdi, tapi dia anak kita mas. Anakku dan anakmu.”
”Apa maksudmu Ra !”
”Saat kamu pergi aku sedang hamil satu bulan. Dan Ferdi menikahiku, karna ia tidak ingin melihat aku jadi bahan ejekan dan hinaan orang-orang. Tapi meskipun aku sudah menikah dengannya, aku masih mencintaimu aku tidak bisa melupakanmu.” Rara memeluk Irwan.
Ferdi datang dan mendengarkan pembicaraan mereka.
”Aku sama sekali tidak mencintai Ferdi.”
Bungkusan makanan yang dibawa Ferdi terjatuh. Ia tertunduk lemas. Rara dan Irwan terkejut.
”Mas Ferdi, ” ucap Rara. ”Ferdi, ”sahut Irwan.
Rara mendatangi Ferdi. Ia menyentuh pundak Ferdi, tapi Nia menghalanginya.
“Jangan sentuh ayah bu, ibu sudah tidak pantas lagi untuk menyentuh ayah. Aku kira selama ini ibu sangat mencintai ayah, tapi apa nyatanya. Padahal ayah sangat mencintai ibu. Ayah rel mengorbankan masa mudanya hanya untuk ibu, tapi apa balasannya.”
Rara hanya menangis. Ia membenarkan apa kata Nia.
”Sudah Nia cukup, ayah tidak apa-apa.”
”Tidak yah, biar wanita ini tahu walaupun dia yang melahirkan dan membesarkanku, tapi kalau wanita yang aku panggil ibu ini yang aku anggap wnita paling baik, paling berjasa dalam hidupku adalah hanya seorang wanita yang telah melakukan dosa besar dan tidak tahu balas budi.”
”Nia ! ” bentak Ferdi, sedangkan Rara terus menangis.
”Ibu anggap apa ayah selama ini, patung atau boneka yang bisa ibu peralat untuk kepentingan ibu sendiri. Selama ini senyuman ibu, tawa ibu, kasih sayang ibu hanya sebuah sandiwara semata padahal ayah sangat bahagia mendapatkannya.”
”Itu tidak benarNia, ibu .........”
”Dan sekarang ibu kembali dengan lelaki yang tidak bertanggung jawab ini. Ibu egois, ibu tidak punya perasaan. Ayo yah kita pergi dari sini, Nia tidak mau bersama wanita seperti dia.” Nia menggandeng tangan ayahnya, tapi Ferdi melepaskan genggaman tangan Nia.
”Tidak Nia, biar ayah yang pergi. Walau bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kandungmu.” ferdi pergi.
”Orang tuaku hanya ayah. Aku iku ayah,” Nia mengejar ayahnya, Ferdi.
”Nia ! Jangan pergi, ibu sangat enyayangimu.”
Nia hanya menoleh.
”Nia ! Nia tunggu, ” Firman mengejar Nia.” Bagaimana denganku, bagaimana dengan pernikahan kita ?”
”Firman kamu sudah dengar sendiri dan tahu semuanya. Hubungan kita sampai disini saja. Lupakan aku dan aku akan melupaknmu.”
”Nia, aku ikut denganmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu, Nia.”
”Jangan Firman. Taxi !”
”Nia, Nia, Nia ..............”
Nia dan ayahnya berlalu bersama taxi yang ditumpnginya. Sedangkan Rara, terus menerus menangis dan memanggil nama Nia. Hingga akhirnya Rara menjadi gila. Firmn dan Irwan tidak terlalu mempedulikan Rara.
Nia dan Ferdi kini tinggal disebuah rumah yang sederhana didaerah Kalimantan Barat. Mereka ikut dengan rombongan transmigran. Hidup mereka sangat bahagia. Mereka tidak mengetahui dan mempedulikan keadaan Rara lagi.
”Nia, besok kamu jenguk ibumu. Kasihan dia.”
”Nggak. Palingan ibu sedang bersenang-senang dengan lelaki itu.”
”Walau bagaimanapun juga dia ibumu. Ayah tidak mau kamu jadi anak durhaka.”
Keesokan harinya Nia berangkat, sesampainya di Jakarta ia sungguh-sungguh terkejut mengetahui ibunya berada dirumah sakit jiwa. Ia merasa sangat sedih dan bersalah melihat kondisi ibunya. Dengan setia Nia merawat ibunya, hingga tak terasa setahun sudah ia meninggalkan ayahnya. Nia mengajak ibunya pulang ke Kalimantan, tapi sesampainya disana Ferdi ayah Nia meninggal dunia karna kecelakaan. Nia dan ibunya langsung kemakam Ferdi. Disana mereka menangis. Rara minta maaf pada Ferdi dan Nia berjanji akan menjadi anak yang berbakti.





