Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS

Ah....Cinta

”Kenapa Gar, dari tadi aku perhatikan kamu nglamun aja.”
”Gue baru putus sama Mona, Raf.”
”Udah jangan dipikirkan. Cewek emang kayak gitu.”
”Padahal gue sangat mencintainya, tapi tapi dengan seenak hatinya dia mesra-mesraan dengan cowok lain.”
”Gue ngerti perasaan loe. Tapi sekarang lebih baik loe tenangin diri dulu. Lupain semuanya. Ok.”
Akhirnya mereka pergi ke kafe. Disana mereka biasa menennangkan diri. Mereka pulang sudah larut malam. Malam itu hujan, jalan-jalan banyak yang tergenang air. Tak sengaja mobil Tegar melewati genangan air dan air itu mengenai beberapa ank kecil dan seorang gadis. Mobil Tegar berhenti dan mundur ke belakang.
”Basah ya. Kasihan nih uang buat beli baju yang baru.”
”Maaf ya mbak, Adik-adik. Teman saya ini lagi mabuk.”
”Mas, klau lewat jalan itu lihat-lihat, pasang itu mata.”
”Ya sekai lagi maaf ya mbak.”
Mobil Tegar yang dikemudikan Raffi meninggalkan Ria dan teman-temannya. Mereka mengambil uang yang diberikan Tegar, tapi untuk dikembalikan bukan dipakai untuk beli baju baru.
Keeokan harinya Tegar dan Raffi pergi ke sebuah rumah makan dan disana mereka bertemu dengan Ria.
”Itu bukannya cewek yang semalam.”
”Ya bener. Ternyata dia kerja disini.”
”Kira-kira di marah nggak ya soal semalam.”
”Tau deh, tapi lebih baik kamu minta maaf.”
”Tapi nanti kalau ..........”
”Asalkan kamu ngomongnya baik-baik, lagi pula selama inikan kamu baik sama orang. Sana minta maaf.”
”Tegar menghampiri Ria yang sedang membersihkan meja.”
”Hai,” sapa Tegar.
Ria menoleh. ”Iya ada yang bis saya bantu ?”
”Saya ....... saya Cuma mau minta maaf soal semalam.”
”Semalam ?”
”Iya yang waktu dijalan itu.”
”O ........ mas yang mabuk dan menghina saya dan adik-adik saya,” sahut Ria dengan sedikit acuh
”Tapi uang ini ’kan ..........”
”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa beli baju dengan uang kami sendiri. Lagipula sebenarnya kami tak perlu baju baru untuk mengganti baju yang semalam. Kami cukup mencuciny tak perlu hambur-hamburkan uang,” ucap Ria tetap acuh sambil melakukan pekerjaannya.
”Ok. Aku ngerti, sekarang kamu mau maafkan aku atau nggak ?” tanya Tegar mulai kesal tapi coba ia tahan.
”Maaf mas saya sedang banyak pekerjaan, Permisi.”
Tegar kembali kemejanya bersama Raffi.
”Gimana Gar ?”
”Entahlah.”
”Lho kok gitu.”
”Tau deh pulang aja yuk.”
”Ada apa sich sebenarnya ?”
”Cewek nyebelin, cewek sombong.”
”Gue nggak ngerti, apa sich maksudmu.”
”Gue harus kasih pelajaran tuh cewek.”
”Lho mau kemana ?”
”Loe tunggu disini aja sampai gue balik.”

* * *
”Ria, dipanggil bu Sum tuh.”
”Ada apa Sil ?”
”Nggak tau, tapi kayaknya bu Sum marah banget.”
”Aku temuin bu Sum dulu ya.”
”Cepetan sana.”
Didepan pintu ruangan bu Sum, dengan sedikit takut Ria mengetuk pintu.
”Masuk.”
”Permisi bu.”
”Duduk.”
”Ibu panggil saya, ada apa bu ?”
”Kamu saya pecat.”
”Pecat bu ?” tanya Ria memastikan.
”Tapi apa salah saya bu.”
”Kamu mengecewakan palanggan. Kamu tidak melayani mereka dengan baik dan sopan. Mereka mengaku kecewa.”
”Tapi bu saya ......... ”sahut Ria ambil menangis.
”Maaf Ria, ini gaji kamu yang tiga minggu.”
”Tolong bu, jangan pecat saya.”
”Silahkan keluar.”
”Tolong bu, jangan pecat saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong saya bu.”
”Saya bilang keluar !”
”Baik bu, permisi.” Dengan perasaan sedih bercampur bingung ia keluar dari ruangan bu Sum. Ia tak mengerti dengan apa yang dilakukan bu Sum. Ia merasa selalu bersikap baik dan sopan pada para pengunjung.
”Hei ! tunggu.”
Ria yang merasa dipanggil berhenti dan menoleh.
”Tolong trima uang ini sebagai permohonan maaf saya.”
”Maaf mas, bukannya tadi sudah saya bilang saya tidak perlu uang mas, Permisi.”
”Tunggu dulu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang kalau kamu tidak punya pekerjaan.”
”O ...... jadi mas yang ........ mau mas apa sih, apa sekarang mas sudah puas. Apa mas belum puas menghina saya dan adik-adik saya semalam. Sebenarnya apa salah kami sama mas. Saya tahu mas orang kaya tapi bukan berarti mas bisa menghina orang-orang kecil seperti kami. Saya ingatkan ya mas uang yang mas hambur-hamburkn itu bukan uang mas sendiri tapi uang orang tua mas yang sudah bekerja keras siang malam.”
Tegar hanya diam tak berkutik mendengar ucapan Ria.
”Masih lebih baik kami yang meskipun tak punya orang tua, kami masih bisa bertahan hidup dengan uang hasil keringat sendiri tanpa harus selalu menengadahkan tangan pada orang tua. Ria pergi berlalu dari hadapan Tegar.

* * *
Dengan peraaan bersalah dan sedih, Ria pulang kerumah gubuknya. Dirumah itu, empat rang adiknya sudah menunggunya.
”Itu kak Ria pulang.”
”Kak Ria, hari ini kok pulang cepat.”
”O ......... tadi bos kakak mau menghadiri pesta.”
”Kakak bawa makanan apa ?”
”Hari ini kita masak mie instant saja ya.”
”Ya ........ kak bosan tiap hari makan mie.”
”Hai adik-adik ini kakak bawakan pizza buat kalian.”
”Dia ! ” Ria tak percaya kalau tegar mengikutinya.
”Kakak yang ketemu dijalan itu ’kan.”
”Iya. Kakak mau minta maaf makanya kakak bawakan makanan untuk kalian, kalian lapar ’kan.”
”Iya kak kami lapar. Kak Ria nggak ikut makan.”
”O ........ namanya kak Ria.”
”Iya kakak belum kenalan. Kakak namanya siapa ?”
”Nama kakak Tegar.”
”O ......... kak Tegar. Trima kasih ya kak.”
”Sama-sama.”
Ria hanya diam saja. Ia hanya memberikan segelas air putih pada Tegar. Saat Tegar berpamitan, Ria memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Tegar.
”Untuk apa ini ?”
”Untuk bayar pizza yang udah kamu bawa.”
”Nggak usah aku ikhlas kok.”
”Maaf, tapi kami tidak terbiasa menerima pemberian dari orang yng kami belum kenal.”
”Lho tadi buknnya udah kenalan ya nggak adik-adik ?”
”Ya kak, namanya kak Tegar.”
”Diam kalian. Kakak kan udah bilang, kita tidak boleh menerima barang apapun dri orang lain.”
”Tapi kak ..........”
”Udah jangan ikut-ikutan. Nih ambil uangnya dan saya mohon mas cepat pergi dari sini.”
”Ok. Uang ini aku ambil tapi kamu masih punya hutang 100.000,-.”
”Apa maksud kamu ?”
”Pizza itu haranya 200.000,- karn waktu itu aku udah buat salah sama kamu, jadi bayar 150.000,- dan aku boleh datang kapn saja aku mau.”
”Aku akan tetap bayar 200.000,-. Itu berarti hutangku masih 150.000,-.”
”Terserah kamu. Aku permisi pulng dulu. Adik-adik kakak pulang dulu.”
”Ya kak. Makasih ya pizznya.”

* * *
Keesokan harinya Tegr datng lagi kerumh Ria.
”Maaf, hari ini aku belum punya uang.”
”Aku kesini bukan untuk nagih hutang tapi mu ngajak adik kamu jalan-jalan.”
”Tolong mas jangan kesini lagi. Saya tidak mau mendapatkan belas kasihan dari mas. Semakin sering mas kesini dan semakin sering mas memberikn kami sesuatu membuat hutang saya kepada mas semakin menumpuk. Dan itu membuat saya semakin susah. Apalagi sekarang saya tidak punya pekerjaan.”
”Aku nggak pernah minta kamu buat bayar semua yang sudah saya berikan. Lagi pula aku ikhlas mau nolong kamu.”
”Trima kasih mas, tapi kami masih bisa hidup tanpa bantuan mas. Sebaiknya mas konsentrasi saja pada kuliah mas. Didunia ini banyak anak yang ingin sekolah jadi mas jangan sia-siakan kesempatan ini, Permisi.”
”Ria, tunggu dulu. Adik-adik kamu ada dirumah ’kan.”
”Mereka tidak ada dirumah. Mereka sedang ngamen.”
”Ngamen ? terus kmu sendiri mau kemana ?”
”Saya mau kerja.”
”Kerja apa ?” tanya Tegar. Ria tak menjawab ia pergi begitu saja.
”Ria tunggu !” dengan setengah berlari Tegar mengejar Ria. Tapi Ria terus saja berjalan.
”Ria, kenapa kamu biarin adik kamu ngamen, bukankah itu sangat berbahaya. Kamu sendiri ’kan yang bilang kita tidak boleh hanya menengadahkan tangan, kita harus berusaha.”
”Apa menurut mas mereka ngemis ? tidak mas, mereka juga nerusaha. Mereka menyanyi, menghibur orang. Dan sebaiknya mas jangan ganggu mereka atau saya laporkan polisi dengan tuduhan penculikan.”
”Ria, mereka masih kecil tidak seharusnya mereka bekerja. Mereka butuh pendidikan !”
Ria berhenti berjalan, ia kembali menghmpiri Tegar.
”Pendidikan ? mas sebenarnya paham dan tahu tau tidk soh dengan keadaan kami. Makan saja sulit plgi mau sekolah. Siapa yang membiayai, pemerintah ? omong kosong. Atau mas yang mau membiayai sekolah adik-adik saya.”
”Kenapa tidak.”
”Dengan uang orang tua mas itu, tidak mas kami tidak mau jadi bahan hinaan orng tu ms jika mereka tahu.”
Ria berjalan meninggalkan Tegar. Tegar mengejarnya, tapi Ria sudah naik angkutan.
* * *
Siang itu dikampus, Tegar dan Raffi sedang membicarakan soal Ria. Tapi kemudian datang Mona, Raffi segera pergi tahu kalau mereka akan membicrakan masalah hubungan mereka.
”Hai Gar, Raf.”
”Hai, gue pergi dulu Gar.”
“Sampai nanti. Jangan lupa jam lima sore.”
”Ok.”
”Mau ada acara apa ini.”
”Bukan urusanmu,” sahut Tegar acuh hendak pergi.
”Gar, aku mu ngomongin soal hubungan kita, kenapa sih, apa salhku kenapa kamu mutusin aku waktu itu.”
Tegar tak menjawab.
”Sekarang kamu juga sulit dihubungi, ada pa sih Gar ?”
”Tegar tetap tak menyahut.”
”Tegar jawab, aku sedang ngomong sama kamu.”
”Mau tahu jawabannya, tanya pada diri loe sendiri.”
”Tegar ! apa maksudmu ? Tegar !”
Tegar msuk kedalam kelas. Sekitar empat jam ia kuliah.
”Tegar,” sapa Mona ketika Tegar keluar kelas.
”Ada apa Mon ?”
”Kamu belum jawab pertanyaanku tadi.”
”Bukankah aku sudah bilang tanya sendiri pada diri loe.”
”Tegar !”
”Hai Raf, kita berangkat sekarang yuk.”
”Hai Gar, yuk.”
”Tegar ! kamu mau kemana ?” teriak Mona.
”Aku harus mengikuti mereka,” pikir Mona.

* * *
”Loe sudah yakin mau ketempat Ria.”
”Ya iyalah. Gue ’kan udah sering kerumahnya.”
”Loe itu aneh, waktu direstaurant aja kamu marah-marah bahkan dia sampai dipecat gara-gara kamu. Tapi sekarang .”
”Entahlah. Aku merasa dia memberikan banyak perubahan dalam hidupku.”
”Loe suka sama Ria ?”
”Kadang-kadang aku sering sebel sama dia, tapi yang paling aku suka dia tetep pada pendiriannya dan lagi dia sering kasih aku nasehat-nasehat.”
”Jadi intinya loe suka ’kan.”
”Bahkan mungkin lebih dari suka.”
Tak lama kemudian mereka sudah sampai dirumah Ria. Mereka tak sadar kalau Mona mengikuti dari belakang.
”Kak Ria, ada kak Tegar nih ?”
”Mau apa lagi. Oh ya ini uang untuk bayar hutang kami yang kemarin.”
”O ....... ya makasih.”
”Sekarang sebaiknya mas-mas pulang saja.”
”Biarin aja kak, kita ’kan mau main sama kak Tegar.”
”Susi, kakak mau kerja kamu dan adik-adik, kamu harus beres-beres rumah.”
”Tapi kak, kasiha kak Tegar dan temannya sudah jauh-jauh datang kesini.”
”Terserah kalian, kakak nggak mau tahu lagi sama kalian. Sekarang kalian sudah nggak mau dengerin kata kakak.”
Ria pergi bekerja. Tegar dan Raffi tetap dirumah Ria.
”Kakak kaian kerja apa ?”
”Kalau pagi kakak kerja ditempatnya bu Isna kirim katering. Terus kalau sore, nyuci baju atau ngerjain pekerjaan rumah tangga yang lain dirumah tingkat diujung jalan. Pulangnya sekitar jam delapan malam. Paginya jam lima kesana lagi sampai jam sembilan terus berangkat kirim katering.”
”Kakakmu kerja keras ya Sus.”
”Iya kak, buat bayar hutang ke kakak. Dari dulu kakak nggak pernah mau menerima bantuan orang lain.”
”Aku punya ide Gar.”
”Ide apa maksudmu Raf.”
”Gimana kalau kita buat Ria mau menerima bantuan dari orang lain.”
Mereka berenam membicarakan suatu hal yang sangat rahasia dan serius. Tetapi mereka juga bercanda.

* * *
Jam delapan malam, seperti biasa Ria pulang dari bekerja. Sesampainya dirumah ia tak menjumpai adik-adiknya. Ia bertanya pada tetangganya.
”Maaf bu, ibu lihat adik-adik saya ?”
”Oh iya tadi dibawa dua anak muda, katanya adik kamu yang paling kecil itu pingsan.”
”Sekarang mereka dimana bu ?”
”Katanya mau diantar kerumah sakit umum.”
”Trima kasih bu.”
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera kerumah sakit. Sesampainya disana ia bertanya pada suster dimana adiknya dirawat. Setelah tahu, Ria segera menuju kamar adiknya.
”Tika !” Ria mendekap adiknya yang terbaring,” kenapa dia sus, kenapa adikmu. Jawab !”
”Kata dokter Tika terkena kanker,” jawab Tegar.
”Kanker ?” ucap Ria lemas.
”Tika harus segera dioperasi, kalau tidak ........”
”Tidak mungkin ! Tidak mungkin, Tika bangun, ini kakak Tik.” Air mata Tika mengalir membasahi pipinya.
”Sudahlah kamu tenang dulu.”
”Bagaimana aku bisa tenang. Sedangkan aku harus membiayai adikku operasi. Dan pasti biayanya bisa puluhan juta. Dari mana aku bisa mendapatkannya.”
”Kamu tidak perlu kuatir, aku yang akan membiayai operasi adikmu.”
”Tidak perlu, saya masih bisa membiayainya.”
”Kamu jangan keras kepala. Sekarang adikmu dalam keadaan antara hidup dan mati. Sampai berapa lama kamu bisa mendapatkan uang itu. Kamu mau adikmu mati.”
Ria terus saja menangis. Ia keluar dari kamar tempat adiknya dirawat. Tampaknya ia sangat sedih, ia merasa kalau ia sudah gagal menjadi kaka yang baik.

* * *
Ria terus saja bekerja, bahkan kini ia semakin rajin. Tapi ia juga tak lupa menjenguk dan menemani adik-adiknya. Hari itu setelah pulang mengantar katering, Ria didatangi seorang wanita.
”Apa kamu yang namanya Ria ?”
”Ya. Ada apa mbak, ada yang bisa saya bantu ?”
”Saya peringatkan sama kamu. Kamu jangan coba-coba deketin Tegar. Dia itu milik gue.”
”Apa maksud mbak.”
”Kalau kamu berani ngrebut dia dari saya, saya tidak akan segan-segan menyakiti adikmu.”
”Asal mbak tahu saja, saya juga tidak mau deketin mas Tegar ? dan jangan coba-coba mbak menykiti adik-adik saya. Kalau tidak ............”
”Kalau tidak apa ?”
”Jaga saja mas Tegar. Jangan biarkan dia menemuiku dan saya akan sangat berterima kasih. Permisi.” ria mencoba untuk berkata sedikit keras. Ria segera menuju kerumah sakit.
”Kak Tegar, sampai kapan kita harus terus bersandiwara. Kasihan kak Ria. Ia pasti bekerja sangat keras.’
”Besok rencananya kita akan operasi, mungkin dua atau tiga hari lagi kamu sabar ya ?”
Tanpa mereka sadari, Ria mendengar semua pembicaraan mereka. Makanan yang dibawanya terjatuh.
”Kak Ria,” ucap Tika.” Ria,” ucap Tegar.
”Apa ini yang disebut kanker, kenapa kalian tega bohongin kakak ? apa begini kakak mendidik kalian, apa kakak mengajari kalian untuk berbohong ? sekarang kalian sudah pandai berbohong. Apa kalian suka melihat kakak menderita dan sedih. Kalian sudah mempermainkan kakak.” Butiran air jernih mengalir dari pelupuk mata Ria. Adik-adiknyapun juga menangis.
”Ria, mereka tidak salah. Aku yang salah.”
”Sudah aku duga memang kamu yang mengajari mereka. Kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku. Sekarang kalian ikut saja dengan kak Tegar. Biar setiap hari bisa hidup enak. Kakak tidak akan mengganggu kalian.”
”Kakak, kak Ria kami ikut kakak.”
”Jika kalian ikut kakak, kalian harus nurut apa kata kakak.”
Ria dan adik-adiknya pulang kerumah. Susi dan adik-adiknya tidak mau menyakiti kakak mereka lagi. Mereka tahu betapa kerasnya kak Ria berusaha keras agar mereka dapat bertahan hidup sampai sekarang tanpa kedua orang tua mereka.

* * *
Sudah beberapa hari ini Tegar tak kerumah Ria. Ria merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia merasa gelisah dan sering duduk melamun didepan pintu.
”Kakak, kenapa ?”
”Susi, kamu belum tidur.”
”Belum kak, kakak kenapa ?”
”Enggak. Kakak Cuma sedikit capek.”
”Ayo kak masuk, nanti kakak masuk angin.”
”Kamu duluan aja. Kakak masih mau disini.”
Keesokan harinya ia mendapat kabar dari Raffi kalau Tegar kecelakaan dan dirawat dirumah sakit.
”Ria, aku mohon temui Tegar. Ia terus menerus memanggil nama kamu.”
”Maaf mas, saya tidak bisa. Itu paling Cuma akal-akalan dia saja. Saya tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya.”
”Tapi ini benar saya tidak bohong.”
”Kakak coba lihat saja.”
”Tika, kamu jangan ikut-ikutan.”
”Saya mohon, temui Tegar.”
”Maaf mas. Saya harus bekerja. Permisi !”
Ria berangkat bekerja. Meski ia merasa sangat sedih.
”Kak Raffi. Kami yang akan kesana.”
”Boleh. Ayo ikut kakak.”
Tak lama mereka sudah sampai dirumah sakit. Tegar memang benar-benar kecelakaan meski lukanya tidak terlalu parah.
Malam harinya Susi menceritakan keadaan Tegar pada kakaknya, Ria. Ria tak begitu menanggapinya. Meski didalam hatinya ia merasakan suatu kesedihan yang sangat mendalam.
”Kak, kakak harus jenguk kak Tegar. Setidaknya untuk menyenangkan hatinya, karna dulu kak Tegar juga pernah menyenangkan hati kami.”
”Tapi, Sus.”
”Kami mohon kak. Lagipula apa kakak tidak suka dengan kak Tegar. Tidak pernah ada orang yang memperhatikan kakak seperti ini bahkan dia sampai mau di maki-maki oleh kakak.”
”Iya. Nanti kakak kesana.”
”Trima kasih ya kak.”

* * *
”Pagi Gar, gimana sudah baikan,” sapa Mona.
Tegar tak menjawab, ia hanya mengangguk
”Ini aku bawakan makanan kesukaan kamu.”
”Trima kasih. Taruh saja disitu.”
”Aku mau kita teruskan pembicaraan yang wktu itu.”
”Kamu belum puas dengan jawabanku. Ok, aku akan bikin kamu puas. Siapa Ivan ?”
”Dia ........ dia .......”
”Dia pacarmu ’kan. Sudah ngaku aja, aku sudah tahu kalau selama ini kamu hanya memanfaatkan aku. Kamu berpura-pura senang, cinta sama aku. Padahal kamu mencintai orang lain dan menggunakan uangku untuk kesenangan kalian.”
”Tidak, itu bohong aku ..........”
”Sudah tidak perlu banyak alasan lagi. Pergi kamu dari sini. Aku tidak mau melihat mukamu lagi. Pergi !”
”Ok. Aku pergi. Lagi pula aku sudah capek harus pura-pura senang, pacaran sama kamu. Aku disini juga mau memberikan undangan jika kamu bersedia, datanglah. Kami ucapkan banyak terima kasih atas uang yang sudah kamu berikan.”
Setelah menyerahkan undangan pernikahannya dengan Ivan, Mona pergi meninggalkan Tegar.
Malamnya Ria datang. Dengan sedikit ragu ia membuka pintu. Tapi ia merasa lega karna saat itu Tegar sedang tidur. Ia duduk dikursi didekat tempat tidur Tegar.
”Aku kesini karna permohonan adik-adikku. Aku juga mau minta maaf karna aku sudah terlalu acuh pada mas Tegar. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin nantinya kami jadi bahan hinaan orang lain.” ”Ria menggenggam tangan Tegar.” Seandainya mas tahu, aku sangat sedih ketika mendengar mas kecelakaan. Dan aku berusaha menghilangkan perasaan itu karna aku takut mas akan membohongiku lagi. Tapi bagaimanapun aku tetap tidak bisa menghilangkannya.” Ria memandang kearah Tegar.
Tegar masih menutup matanya.
”Terkadang aku merasakan kenyamanan dan ketenangan bila ada didekat mas. Apa perasaan seperti ini yang orang-orang sebut dengan cinta. Tapi meskipun ini benar-benar perasaan cinta, aku tidak mungkin bisa mendapatkan dan bersama orang yang aku cinta. Karna mas sudah punya orang yang sangat mencintai mas dan mas pun juga mencintainya. Sudahlah mas, aku hanya akan mengganggu tidur mas. ” Ria mengambil sesuatu didalam tasnya. Ia meletakkan barang itu diatas meja.
”Didalam amplop itu ada uang tiga ratus ribu rupiah. Itu uang untuk mengganti biaya jalan-jalan dan pizza yang sudah mas berikn pada adik-adik saya. Semoga mas cepat sembuh dan mendapatkan kebahagiaan yang mas inginkan.”
Ria menempelkan bibirnya didahi Tegar,” trimakasih atas segala yang sudah mas berikan. Kami tidak akan melupakan kebaikan mas. Saya sadar bahwa hidup didunia ini kita harus bisa menerima bantuan dari orang lain. Karna kita tidak mungkin bisa hidup tanpa bantuan orang lain,” Ria mengambil tasnya, ia hendak pergi.
Tapi tangan kanannya dipegang oleh Tegar. Ria berhenti karna tanagnnya tertahan, ia menoleh. Ia sedikit terkejut dan gugup.
”Jangan pergi, aku mohon kamu jangan pergi.”
”Tapi ku ........”
”Aku sudah mendengar semuanya. Aku juga sangat mencintaimu. Aku salut dengan kesabaran dan keteguhanmu dalam menghadapi cobaan hidup.”
”Tapi .......”
”Duduklah. Kamu tidak perlu bicara lagi. Biar ku yang bicara. Kita pasti akan selau bersama.” Tegar menggenggam tangan Ria.” Karna Mona yang kamu anggap pacarku itu kini sudah bertunangan dan akan segera menikah.”
”Maafkan aku mas Tegar.” Mereka berpelukan.
”Trima kasih. Dan sekarang biarkan aku.” Tegar melepaskan pelukannya dan menempelkan bibirnya didahi Ria.
”Horree .........!!” Adik-adik Ria dan Raffi memberikan sorakan dan tepuk tangan. Ria dan Tegar merasa malu dan tersenyum. Kemudian mereka tertawa bahagia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS