
Kenapa Aku Menangis ?
Andini berlari menuju ke kamarnya dengan mata yang sembab. Sepertinya ia baru saja menangis, ia menjatuhkan dirinya ke kasur. Diraihnya guling bergambar mickey mouse itu untuk membenamkan wajahnya. Mengurangi volume tangisnya. Seragam sekolahnya yang basah oleh keringat masih melekat dibadannya. Tangisannya semakin menjadi.
Ia bangkit dn duduk diatas kasur. Badannya gemetar. Ia melepas sepatunya dengan kasar dan meletakkannya sembarangan. Air matanya pun seolah tak mau berhenti. Berkali-kali ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
”Kenapa ? kenapa harus begini ? kenapa aku harus menangis ? kenapa ?” Andini sesenggukan. ”Aku benci nangis, aku nggak mau nangis. Please behentilah, jangan keluar lagi. Aku mohon.”
Sejenak matanya menatap foto yang ada di meja riasnya, segera ia meraih foto itu. Dan untuk beberapa saat tangisnya mereda, ia tak hentinya memandang foto itu. Tapi kemudian tangisnya kembali pecah. Menggema keseluruh penjuru kamarnya.
Seorang pria tanpa sengaja lewat di depan kamar Andini, ia menjulurkan kepalanya diantara celah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat guratan kecemasan di wajahnya saat melihat apa yng sedang terjadi di dalam kamar itu.
”Andini......”
Andini menoleh ke arah pintu, dan tangisnya tak sedikitpun mereda. ”kakak.....” Andini menghambur menymbut kakaknya yang telh masuk ke dalam kamar. Ia memeluk kakaknya itu dan menangis sesenggukan didalam pelukan kakaknya.
”Ei.... kamu kenapa ?
Andini menjawb ia memeluk erat kakaknya yang tk berhenti menangis
”Andini, kamu kenapa ? ada masalah apa ? crita ma kakak ya..... jangan nangis kayak gini.”ucap kakaknya lebih lembut.
”Aku.... aku..... aku g mau nangis kak, aku nggak mau. Kenapa aku harus nangis kayak gini. aku benci nangis”.
”kalau kamu benci nangis, kenapa kamu nangis ?”
”Aku...... aku sakit kak, sakit sekali. Dia menyakitiku...... aku benci dia, aku.... aku....” Andini masih sesenggukan
”Udah.... kamu tenang dulu ya...... kakak ambilin minum buat kamu dulu ya.”
”Enggak kakak jangan tinggalin aku.”
”kalau nggak mau kakak tinggalin, kmu udahan nangisnya.” Dibelainy rambut adiknya itu dengan lembut. Terliht sekali kalau ia sangat menyayangi Andini. ”Tuh lihat..... baju kakak basah Cuma gara-gara air mata kamu. Udah kamu tenang dulu ya.... ntar kalau udah tenang kamu crita ma kakak apa masalahnya, siapa yang nyakitin kamu ya....”
Andini mengangguk manja
”Kamu mandi dulu ya..... ih...... asam banget bau keringat kamu. Kakak juga mau mandi dulu abis itu kita keluar ya..... kakak ajak kamu jalan-jalan, kita cari makan.”
Sekali lagi Andini hanya mengangguk
”Udah dong, dihapus dulu air matanya.”
Andini menyeka air matanya.
”Nah gitu dong, sekarang senyum yang manis.”
Andini masih belum mau tersenyum.
”Ayo dong, dikit aja, Ntar biar tambah cantik.”
Meski dengn sedikit dipaksakan, Andini akhirnya mau juga tersenyum.
”Ah.... pelit, lebih lebar lagi dong.”
”Hi......” Andini tersenyum dengan memperlihatkan barisan giginya yang putih.
”Tu ’kan tambah cantik.”
”Ya......” Andrie berhenti dari langkahnya untuk keluar kamar
Andini menatap Andrie manja
”Oh.....” nampaknya Andrie tahu apa yang di inginkan adiknya itu. Ia berjalan mendekati Andini dan mengecup adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
Andini tersenyum, senyum sendiri mendapat kecupan sayang dari kakaknya.
”Dasar, manja, ” Andrie mengacak-acak rambut Andini yang mulai kusut.” udah sana mandi.”
”Ntar jadi kan, jalan-jalannya ?”
”Iya..... udah sana cepetan mandi.”
”Kak.”
”Apalagi ?”
Tanpa menjwab pertnyaan kakaknya itu, Andini mengecup pipi Andrie.
”Huh..... dasar.”
* * *
Jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Andini telah bersiap-siap untuk merealisasikan rencana kakaknya. Dengan wajah yang ceria sekali, Andini berjalan ke kamar Andrie. Andini mengetuk pintu kamar kakaknya.
”kak Andrie....” panggil Andini dengan manja.
”iya.... bentar, ” sahut Andrie dari dlam kamar, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia sedikit terkejut melihat adiknya, beda jauh sekli saat i sedang nangis tadi siang.
”kenapa kak, jelek ya.”
”enggak, kamu malah terlihat cantik banget.”
”jadi ’kan jalan-jalannya?”
”maaf ya Din, kayaknya ga’ bisa sekarang dech.”
Wajah Andini yang tadi terlihat sangat cerah ceria kini berubah masam dan kusut. Ia bersungut. ”ya udah kalo gitu.”
”lho... tu ’kan ngambek, ntar ilang lo cantiknya.”
”bodo.” Andini berjalan melenggang ke kamarnya.
”Andini marah ya ma kak Andrie ?”
Andini tak menjawab pertanyaan kakakny itu.
”Andini..... maafin kakak dong ya ? kak Andrie ’kan cuma bercanda.” Andrie masih mengiba di depan pintu kamar Andini.
”aku..... benci kakak..... kakak dah bohongin aku. Kak Andrie ingkar janji.” Andini mulai terisak lagi.
”Din, kamu nangis ? kok kamu jadi cengeng banget gini sich. Iya.... iya..... kakak salah, kakak minta maaf.”
”Kakak jahat, aku benci !” Andini masih terisak di dalam kama.
Terdengar dari luar kamar, suara barang-barang pecah dan terjatuh.
”Andini, kamu ngapain di dalam ? ayolah maafin kakak ya.”
”Nggak, aku benci kakak, aku nggak mau nangis, aku nggak mau jadi anak cengeng.... tapi ..... tapi kakak dah nyakitin aku, kak Andrie.....”
”Andini, maafin kakak..... kakak janji ga’ akan bohongin kamu lagi, kak Andrie janji ga’ akan ingkar janji lagi. Kakak tadi ’kan cuma bercanda.”
”Enggak, kakak bohong.”
”Ya udah...... kita keluar sekarang ya.” Andrie masih merayu.” kita keluar sekarang, kamu jangan nangis lagi, keluar dulu ya.”
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Andini keluar kamar.
”Din, maafin kak Andrie ya.” Andrie memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Ia sadar betul, ia harus menjaga adiknya itu dengan sebaik-baiknya. Makanya, sedikit saja adiknya itu sedih, Andrie bingung sekali.
”Maafin Andini juga ya kak.”
”Iya..... sekarang kita keluar yuk, cari makan.”
”Andini, seneng dech.”
Andrie membonceng Andini dengan sepeda motornya. Mereka menuju kesebuah rumah makan yang terdekt dengan rumah mereka. Mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Andini yang sudah kelas 2 SMA itu terlihat serasi dengan kakaknya yang baru semester 2.
”Nah, dah sampai nich. Kamu mau pesan apa ?”
”Apa ya ?” Andini memperhatikan menu yang tertulis rapi di selembar kertas.
”Kalau kamu bingung, biar kakak yang pesan ya.”
”Ya udah, aku ngikut kak Andrie saja.”
Andrie memanggil waitress, untuk memesan makanan.
”Itu saja, pesnnnya ?”
”Iya.”
”Kalau begitu permisi. Pesanannya akan segera datang.”
”Makasih mbak.” Pelayan perempuan itu meningglkan Andini dan Andrie
”Kak ...........”
”Hemm ...........”
”Gimana tadi ?”
”Apanya ?”
”Tadi lho .........”
”Apa sich ........... kakak nggak ngerti.”
”Tadi lho akting nangisku berhasil ’kan ? kakak aja sampai iku-ikutan nangis. Aku lulus dong ............. aku berhasil.”
”Maksud kamu, tadi kamu nangis Cuma pura-pura ?” Andrie tampaknya tidak suka dengan perbuatan Andini, ia kecewa dan marah mungkin.
”Kakak marah ya, Andini ’kan ........”
Andrie masih bersungut.
”Kak .........” Andini berkata, manja.”kak ........”
Andrie masih belum juga mau merubah mimik wajahnya.
”Iya ....... iya Andini salah .......... abisnya kakak gitu sich. Aku ’kan dah kelas 2 SMA masih juga dimanjain. Aku ’kan ngerasa ga enak banget. Dah gitu kalau Andini ada tugas-tugas keluar rumah kan Andrie selalu aja sibuk ma ceweknya.”
Andrie tak menyahut, ia sepertinya mengacuhkan apa yang dikatakan Andini.
”Kak ....... tu ’kan kakak nyebelin. Kak Andrie nggak ngedukung aku buat bisa lolos tes untuk ikutan drama disekolah.”
”Permisi mbak, mas, pesanannya.”
”Makasih ya mbak.”
”Kak ........ maafin Andini dong, kak ......”
”Udah dimakan makanannya, ntar keburu dingin, ga enak. Kamu pasti dah lpar tho seharian nangis melulu.”
”Nggak, Andini ga’ mau makan kalo kakak ga’ mau maafin Andini.”
”Yakin ? nggak mau makan, ya udah sini biar kakak yang makan. Ini ’kan makanan enak, mahal lagi,” ucap Andrie menggoda Andini.
Andini melihat kakaknya itu makan dengan lahap. Nampaknya memang enak sekali. Dan Andrie memang sengaja mengenak-enakan cara makannya. Ternyata rencana Andrie berhasil, Andini mengambil satu porsi makanan yang dipesannya tadi.
”Eh ........”Andrie tersenyum geli melihat tingkah adiknya itu. Ia membelai rambut adiknya dengan lembut. ”Kakak nggak akan pernah bisa marah ma kamu. Makannya pelan-pelan aja.”
”Makasih ya kak.” Mereka tersenyum bahagia dan menikmati makanannya.
D30492N
07.24 |





