Pengikut

Mengenai Saya

siapa ya aku? aku seorang cewek berusia 18 tahun,seorang siswi di salah satu sekolah negeri di kota ponorogo dah cukup kan ya tentang aku
RSS


Temani Aku, Cinta

Tuhan alangkah senangnya hatiku. Ingin kuucapkan beribu-ribu syukur pada – Mu. Hari ini, akhirnya kudapatkan seorang pria yang sangat menyayangiku. Diberikannya perhatian yang penuh untukku. Bahkan kadang kurasa seperti seorang anak kecil yang mendapat perhatian dari seorang ibunya.
Grandly, nama yang selalu ada dalam memoriku. Wajahnya tak pernah lepas dari ingatanku. Damai hati ini kala dekat dengannya. Apakah seperti ini rasanya cinta ? Cinta, satukan kami. Birlah dia menjadi yang pertama dan terakhir untukku. Tak ingin ku kehilangan dia. Grandly, aku sangat mencintaimu. Tuluskah cintamu padaku ?
” Hai ! nglamun aja. Nggak denger apa da telephone juga”.
” Hah ......... Non, ngagetin aja. Emange telephone dari sapa ?”
” Dari mas grandn”, jawbnya dengan nada menggoda.”
Segera saja kuambil handphone ku dari tangan None, adikku yang paling nakal tapi manis dan mengasyikkan.
” Halo ! ” sapaku.
” Halo, kenapa lama sekali ngangkatnya”.
” Ma’af, tadi tu ........”, belum selesai kujawab, None menyahut.
” Mbak Lucia lagi ngelamunin mas tuh”.
” Nggak ah ........”
” Beneran juga ga’ pa-pa. Ntar malam keluar yuk ?”
” Mau kemana ?”
” Ada deh. Ntar ku jemput jam 7, kamu siap-siap ya”.
” Ya udah deh, ku tunggu”.
” Ku ikut ya Mas...... !”
” Boleh .......”
” Nggak usah ntar gangguin aja”.
” Kenapa sih. Lha wong Mas Grandly aja ngebolehin ye .........”
Terdengar dari seberang suara gelak tawa Grandly. Setelah itu disusul dengan suara” tut ........... tut ..........”
Tanpa pikir panjang lagi segera ku berganti baju. Ku sisir rambut yang hitam nan lurus ini. Pita putih melingkar di kepalaku. Sedikit kupoles wajahku agar terlihat menarik. Sesekali None menggodaku dengan siulan nakalnya.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 7 lebih, tapi Grandly belum juga datang. Ku mulai jenuh menunggunya. Bahkan None telah terlelap dalam dunia mimpinya. Maklumlah memang sudah larut malam. Berkali-kali kucoba tuk menghubunginya, tapi tidak bisa.
” Mbak Luc, dah pagi ni, ayo bangun !”
” Ah .......” akupun menguap, kugerakkan tubuhku, menggeliat.
Ternyata benar, malam tlah berganti menjadi pagi yang cerah. ” Kemana Grandly semalam ? tak biasanya ia ingkar janji ”, pikirku dalam hati. Dengan malas dan masih bertanya-tanya, ku bersiap berangkat sekolah. ” Kemana Grandly, biasanya jam segini dia dah ada didepn pintu ”.
” Mbak Luc, aku berangkat dulu ya ”.
” Aku ikut kamu aja. Takut telat ntar ”.
Entahlah, pikiranku benar-benar kacau hari ini. Perasaankupun tak enak seperti ada sesuatu yang mengganggu. Dan ........... ketika kutiba di sekolah, Monic, teman baikku, menghampiriku dengan wajah kesedihan. Teman-teman yang lain memandangku aneh.
Bagai disambar petir, tubuhku terasa lemas. Air mata ini keluar tak terbendung. Mengalir bebas bagai aliran air sungai yang deras. Dadaku pun terasa sesak. Tak tahu lagi apa yang kurasakan. Semua tercampur, sedih, duka, marah, takut dan rasa tak percaya. Hatiku hancur bagai kaca yang jatuh dari meja. Hancur berkeping- keping.
Benar-benar tak percaya hati ini, Grandly meninggalkanku selamanya. Bahkan tak sempat kulihat senyuman dan tatapan matanay untuk yang terakhirkalinya. Ia membiarkanku menunggu semalaman dan tak terucap kta ma’af darinya. Kini, ia membuatku sedih dan terpaksa mengeuarkan air mata, dan ......... takkan pernah kudengar ucapan ma’af darinya. ” Grandly, dimana kamu. Jangan pergi, jangan kau tinggalkanku ! ”.
Dengan di antar Monic, aku pulang kerumah. Seharian kerjaku hanya menangis, menangis dan menangis memandang foto Grandly. Perlahan suara merdu Grandly memenuhi ruang kamarku dengan iringan musik yang sendu dan mengharukan. Kenangan terindah yang diberikannya disaat ia mengutarakan perasaannya padaku. Ya ..... lewat lagu ini cinta menyatukan kami. Dan takkan ada yang mampu memisahkannya.
Ditengah kesedihan itu kulihat bayangan Grandly. Ia menuntunku menuju kesuatu tempat. Tanpa ku sadari, malam itu ku berada di atap sebuah gedung perbelanjaan. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Aku menurut saja ketika ia mengajakku terbang menuruni gedung. Satu kata yang sempat ia bisikkan padaku ” Temani Aku, Cinta ”. Sesaat tubuhku melayang dan kemudian menyentuh tanah dengan kuatnya. Saat itu kurasakan tubuhku menjadi ringan, bergandengan tangan, bersamanya menuju dunia impian.

by D30492N

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS